Eternity Love

Eternity Love
Membuatkan Bubur Ayam



"Kamu udah bangun? Badan kamu masih gatel ga?" tanyaku dengan nada lembut.


"Masih," jawab Satya sambil menggaruk-garuk tubuhnya dan meringis kesakitan.


"Kamu ga bisa berangkat ke kantor hari ini?" tanyaku cemas.


"Ga bisa, Sayang. Masih gatel," jawab Satya dengan nada manja.


"Ya udah deh, kamu mau makan apa?" sahutku sambil memegang dahinya. Aku ingin mengecek suhu tubuhnya.


"Bubur ayam."


"Aku beliin ya di luar," ucapku sambil bangkit berdiri.


"Aku maunya bubur ayam buatan kamu." Satya menarik lengan kananku dan merangkul pundakku.


"Emang apa bedanya bubur ayam buatan aku sama bubur ayam yang dibeli di luar?" tanyaku bingung.


"Beda dong. Kalau bubur ayam buatan kamu pasti lebih sehat karena kamu itu Istri aku," jawab Satya sembari mencium keningku.


"Ya udah. Aku buatin dulu ya bubur ayamnya di dapur," ucapku sembari melepaskan diri dari pelukan Satya. Ia mengangguk dan mencium keningku sekali lagi.


Aku pun segera pergi ke dapur dan menanyakan bahan-bahan untuk membuat bubur ayam kepada kepala pembantu di rumah Satya.


"Bi, Satya kena alergi dingin semalem. Dia mau makan bubur ayam buatan aku sekarang. Bahannya ada di mana ya, Bi?" tanyaku kepada Bi Siti.


"Oh, saya siapkan saja ya bahannya. Ibu tunggu sebentar di sini," jawab Bi Siti sambil tersenyum sopan. Aku pun mengangguk dan menunggu Bi Siti mengambilkan bahan-bahan untuk membuat bubur ayam.


"Makasih ya, Bi Siti," ucapku sambil tersenyum ramah.


"Sama-sama, Bu." Bi Siti ikut tersenyum. Kemudian, ia segera pergi dari dapur untuk membersihkan ruang tamu.


Setelah semua alat dan bahan sudah siap, aku langsung menyalakan kompor untuk merebus buburnya. Sembari menunggu buburnya matang, aku segera memotong cakwe dan daging ayam agar bentuknya menjadi kecil. Setelah buburnya matang, aku masukkan cakwe dan ayamnya. Aku juga menambahkan daun bawang dan kecap manis. Lalu, aku menuang bubur itu ke dalam mangkuk dan membawakannya ke kamar Satya.


"Satya, bubur ayamnya udah jadi," ucapku sembari membuka pintu kamar. Aku tidak melihat Satya di atas kasur, jadi aku meletakkan mangkuknya di atas nakas di samping tempat tidur.


"Iya, Sayang. Bentar ya, aku lagi pake baju," sahut Satya dari dalam kamar mandi.


Tidak lama kemudian, ia pun keluar dari kamar mandi sembari mengenakan kaus putih polos dan celana pendek berwarna abu-abu muda.


"Kamu mandi pake air hangat, 'kan?" tanyaku sambil membuka baju Satya sekilas untuk melihat apakah kulitnya masih merah atau tidak.


"Iya, Istriku Sayang. Kamu khawatir ya sama aku?" tanya Satya sembari tersenyum senang.


"Ya khawatirlah. Kulit kamu udah merah semua kayak gini, masa aku ga khawatir?" sahutku sambil mendengus kesal.


"Berarti kamu suka sama aku dong," ucap Satya dengan percaya diri.


"Dasar narsis," gerutuku sembari berjalan menjauh darinya.


"Kamu mau ke mana? Tolong suapin aku dong," kata Satya dengan nada manja.


"Tangan kamu 'kan ga sakit, masa harus aku suapin? Kayak anak kecil aja kamu."


"Please, aku butuh bantuan kamu, Sayang."


"Ya udah, buruan duduk," sahutku sambil menghela napas panjang. Aku pun meraih mangkuk itu dan meniup buburnya. Setelah itu, aku menyuapi Satya pelan-pelan.


"Enak ga?" tanyaku setelah Satya menyantap setengah porsi bubur ayam buatanku.


"Enak banget, Sayang. Aku suka banget sama masakkan kamu," jawab Satya sambil tersenyum senang. Ia terlihat sangat tampan saat sedang tersenyum seperti ini.


"Kenapa liatin aku kayak gitu? Suami kamu ganteng, 'kan?" tanya Satya sambil tersenyum lebar.


"Pede banget kamu." Aku pun segera mengalihkan pandanganku ke arah lain.


"Tapi emang beneran ganteng, 'kan?" sahut Satya dengan santainya.


"Iya. Kamu pasti ganteng di mata cewe lain."


"Kalau di mata kamu gimana?" tanya Satya penasaran.


"Biasa aja," ucapku datar.


"Oh, gitu." Satya langsung mengalihkan pandangannya dariku. Ia pun mengambil mangkuk di tanganku dan menghabiskan bubur ayamku dengan sangat cepat. Kemudian, Satya turun ke dapur dan mencuci mangkuk itu sendiri.


Aku segera mengambil obat di atas nakas dan menyusul langkahnya ke dapur. Setelah itu, aku segera memberikan obat dan segelas air kepada Satya. Ia langsung meminum obat itu dan meneguk air putih di dalam gelas itu.


"Makasih, Sayang," kata Satya setelah meminum obat itu. Ia pun memelukku dengan erat dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.


"Satya, kita lagi di dapur. Nanti kalau Bi Siti sama yang lain liat gimana?" tanyaku dengan perasaan cemas.


"Kenapa emangnya? Kita 'kan udah menikah, Sayang." Satya memajukan kepalanya. Ia hendak mencium bibirku saat ini juga.


"Jangan di sini juga," ucapku dengan nada tegas. Satya pun melepaskan pelukannya dan menuntun tanganku sampai ke dalam kamarnya. Kemudian, ia mengunci pintu kamarnya sambil tersenyum licik.


"Kenapa pintunya dikunci?" tanyaku sambil menatap tajam ke arahnya. Satya tidak menjawab, ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat gigi. Setelah itu, ia kembali berbaring di atas kasurnya.


"Kamu mau tidur lagi?" tanyaku sambil membelalakkan kedua mataku karena heran.


"Engga, aku mau bermesraan sama kamu di sini," sahut Satya sambil menggodaku dengan mengedipkan mata kirinya.


"Tapi-"


"Tadi kamu ga mau dicium di dapur karena takut diliat orang lain. Di sini ga ada orang lain selain kita, Sayang." Satya langsung bangkit berdiri dari kasur.


"Kamu mau ngapain?" tanyaku sembari melangkah mundur perlahan-lahan.


"Aku mau berduaan sama kamu seharian, Sayang," jawab Satya sambil menghampiriku.


Aku terus mundur sampai tubuhku menabrak tembok kamarnya. Sementara itu, Satya meletakkan kedua tangannya di samping kepalaku. Ia menahan tubuhku agar tidak bisa lari darinya.


"Kamu ga bisa ke mana-mana lagi, Sayang." Satya memegang pipi kananku dengan lembut.


"Kamu mau apa?" tanyaku lirih.


"Aku mau kamu," jawab Satya sembari mendekatkan bibirnya ke bibirku. Aku tidak bisa berkutik di hadapannya. Aku juga membiarkan Satya mencium bibirku begitu saja.


Tunggu, kenapa kamu diem aja? Harusnya kamu dorong dia sekarang! seruku di dalam hati.


Aku pun segera mendorong tubuh Satya agar ia menjauh dari tubuhku. Namun, bukannya menjauh, Satya malah memegang tengkukku dan ia kembali menciumku dengan agresif.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.