Eternity Love

Eternity Love
Kabar Mengejutkan



"Kamu wangi, aku suka," bisik Satya di telinga kananku.


"Satya, kamu harus tidur sekarang."


Aku mengelus punggung Satya, berharap ia akan segera tidur. Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi orang yang sedang mabuk.


"Sayang, boleh ya?" tanya Satya meminta izin untuk membuka kancing piyamaku.


"Kamu lagi mabuk, Sayang. Kapan-kapan aja ya," sahutku sambil menjauhkan tubuh Satya dari tubuhku.


"Aku ga mabuk, Sayang. Bahkan kalaupun aku mabuk, aku sadar kalau aku mau sentuh kamu," ucap Satya menegaskan.


"Jangan sekarang!" seruku dengan nada lirih.


"Tapi aku maunya sekarang, Sayang," ucap Satya sambil memberikan tanda cinta di leherku.


Satya pasti tersiksa karena pengaruh alkohol dalam wine yang dia minum tadi, ucapku di dalam hati.


"Sayang, sekali ini aja. Please," pinta Satya sembari merapikan rambutku ke belakang kedua telingaku.


"Ok," sahutku sembari menutup kedua mataku. Aku menggigit bibir bawahku saat Satya mulai melancarkan aksinya.


"Ah. Sakit banget, Sayang. Sakit banget perut aku," ucapku setelah Satya selesai melakukan hubungan intim denganku.


"Kamu kenapa, Sayang? Kamu udah mau datang bulan?" tanya Satya kebingungan.


"Engga, perut aku sakit bukan karena datang bulan. Aku ga tau kenapa tapi perut aku sakit banget," jawabku dengan nada tinggi.


"Tahan sebentar ya. Aku telpon dokter dulu," ucap Satya sembari mendekapku. Ia segera mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dan menelepon seseorang.


"Datang ke rumahku sekarang, tolong secepatnya ya," ucap Satya dengan nada tegas.


"Baik, Tuan Muda."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dok, tolong segera periksa istri saya. Perutnya sakit banget katanya," ucap Satya dengan wajah cemas.


Dokter itu segera memeriksa detak jantungku. Wajah sang dokter tampak sangat terkejut begitu ia selesai memeriksa kondisiku.


"Maaf, Tuan Muda. Tapi Anda sebaiknya jangan menyentuh istri Anda saat usia awal kehamilan," ucap sang dokter.


"Apa? Istri saya hamil?" tanya Satya bingung.


"Tuan Muda, selamat. Anda akan segera menjadi ayah," ucap Jason, sang dokter.


"Jadi, Ananda sudah hamil anakku?" tanya Satya dengan wajah kaget.


"Benar, Tuan Muda. Nona Muda hamil anak kembar, Anda akan memiliki dua orang anak," jawab Jason sambil tersenyum.


"Apa? Anak kembar?" tanya Satya setengah berteriak. Ia segera menatap ke arahku dan mencium pipi kananku.


"Terima kasih, Dok," sahut Satya dengan antusias.


"Sama-sama, Tuan Muda. Anda harus mengingatkan Nona Muda untuk meminum obat ini 3 kali sehari. Jangan lupa untuk memberikan vitamin ini kepada Nona Muda seminggu 2 kali," ucap Jason sambil memberikan 2 kantung plastik berisi obat dan vitamin.


"Ok. Apa dokter ada saran makanan apa saja yang sehat untuk ibu hamil?" tanya Satya penasaran.


"Nona Muda bisa memakan makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Bayam, pisang, alpukat, dan lain-lain. Tuan Muda dan Nona Muda bisa kontrol makanan Nona Muda dengan saya setiap bulan," ucap Jason menyarankan.


"Selain itu, ibu hamil harus sering mendengarkan musik klasik supaya bayi yang ada di dalam janin menjadi pintar," imbuh Jason sambil tersenyum.


"Sama-sama, Tuan Muda. Saya pamit dulu," kata Jason sembari bangkit berdiri dan keluar dari kamar.


"Sayang, kamu hamil anak kembar!" seru Satya sembari memeluk tubuhku dengan erat.


"Sayang, perut aku masih sakit," ucapku sembari menjauhkan tubuhku dari tubuh Satya.


"Minum obat ini ya, aku ambilin air dulu buat kamu," ucap Satya sembari memberikan kantung plastik berisi obat kepadaku.


Setelah itu, ia segera turun ke bawah untuk mengambilkan segelas air putih. Lalu, Satya langsung memberikan segelas air putih itu kepadaku.


"Gimana? Udah baikkan?" tanya Satya sambil mengelus kepalaku.


"Udah. Makasih ya," jawabku sambil tersenyum.


"Sayang, makasih ya kamu udah hamil anak kembar. Tapi aku beneran ga nyangka kamu bisa hamil secepat ini."


"Kenapa ga nyangka? Kamu yang bikin anak kembar ini," sahutku bingung.


"Iya, aku tahu. Tapi kita cuma pernah lakuin hubungan intim dua kali, Sayang," ucap Satya sambil mencubit pipi kananku.


"Besok mau ke rumah orang tua aku ga? Mama pasti senang banget kalau tau menantunya udah hamil anak kembar."


"Boleh, tapi jam berapa?" sahutku dengan rasa ingin tahu.


"Hmm... nanti aku tanya ke mama dulu," jawab Satya sambil mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk menghubungi mamanya.


"Kamu besok di kantor sampai malam?" tanyaku penasaran.


"Engga, Sayang. Aku bakal pulang lebih awal buat jemput kamu ke rumah orang tua aku," jawab Satya sambil tersenyum.


"Kenapa muka kamu sedih gitu? Kamu ga senang hamil anak kembar?" tanya Satya bingung.


"Di perjanjian kontrak kita, pernikahan kita akan berlangsung selama 3 tahun. Tapi ga ada perjanjian tentang anak di dalam kontrak. Kamu ga bakal ambil anak ini dari aku kalau kita udah cerai, 'kan?" tanyaku memastikan.


"Sayang, kamu itu pura-pura ga tahu atau benar-benar ga tahu? Kamu udah hamil anak kembar, mana mungkin aku cerai sama kamu? Dan aku lebih ga mungkin ambil anak kita dari kamu karena dua anak kembar itu anak kita berdua, Sayang."


"Beneran?" tanyaku tidak percaya.


Biasanya orang yang menikah kontrak dan memiliki anak pasti anaknya akan dibawa oleh pihak yang lebih kaya saat sudah bercerai nanti.


"Iya, Sayang. Kita bakal urus dan rawat anak-anak kita sampai mereka dewasa. Kita akan melihat mereka sekolah, bekerja, dan menikah. Kita akan terus bersama sampai rambut kita memutih, sampai kita bisa menggendong cucu kita nanti," jawab Satya sambil tersenyum.


"Tapi-"


"Kamu robek aja perjanjian kontrak ini kalau ga percaya," timpal Satya sambil menyodorkan perjanjian kontrak itu kepadaku. Ia sudah mengeluarkan perjanjian kontrak itu dari laci mejanya sejak Jason izin pamit.


Mumpung Satya masih belum berubah pikiran, aku segera merobek semua lembaran kertas berisi perjanjian kontrak itu. Satya tersenyum sambil menggelengkan kepala saat melihatku merobek perjanjian kontrak itu dengan antusias.


Setelah merobek perjanjian kontrak pernikahan kami, Satya menyodorkan sebuah kotak perhiasan dan mengeluarkan gelang berlian yang ada di dalam kotak itu.


"Ngomong-ngomong, kamu dapat gelang ini dari mana?" tanya Satya penasaran.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.