Eternity Love

Eternity Love
Nona Muda Adiratma



Pagi hari saat aku menyantap sarapan di meja makan, Satya baru saja keluar dari pintu lift yang terbuka. Dengan wajah yang mengantuk, Satya berjalan mendekat ke meja makan.


"Makan paginya apa?" tanya Satya sambil menatap ke arahku.


Aku masih terus mengunyah makanan di mulutku sampai habis. Kemudian, aku baru sadar bahwa Satya sudah menatapku sejak tadi.


"Makan paginya... sandwich," jawabku gugup.


"Oke," sahut Satya sembari mengambil dua potong sandwich di atas meja makan. Kemudian, ia duduk di kursi yang ada di depanku. Lalu, ia segera menyantap sarapannya itu dengan lahap.


Aku pun mengamati raut wajah Satya yang tampak murung. Aku yakin Satya tidak bisa tidur dengan nyenyak kemarin malam. Aku tiba-tiba langsung merasa bersalah padanya.


Andai aja kemarin malam aku ga nangis, mungkin Satya ga bakal murung sekarang, ucapku dalam hati.


"Kamu langsung berangkat ke kantor abis ini?" tanyaku penasaran.


Satya menatap kedua mataku sambil berkata, "Engga, satu jam lagi."


"Sayang," panggilku saat Satya bangkit berdiri untuk menaruh piringnya di dapur.


"Kenapa, Sayang?"


Satya langsung menatap kedua mataku sambil tersenyum.


Apa lagi yang dia mau kali ini sampai dia manggil aku Sayang pagi-pagi begini? tanya Satya dalam hati.


"Kamu ga kesel 'kan sama aku?" tanyaku pelan.


"Engga. Kenapa aku harus kesel sama kamu? Emangnya kamu ngapain?" sahut Satya bingung.


Satya pun mencoba untuk mengingat perbuatanku kemarin, tapi sepertinya ia tidak kesal sama sekali walaupun ia harus tidur di kamar lain karenaku.


"Kamu keliatan cape. Kalau kemarin aku ga nangis, kamu pasti bisa tidur nyenyak di kamar," jawabku sambil menundukkan kepala.


Aku tidak ingin melihat kedua mata Satya yang mungkin saja sudah melotot ke arahku saat ini. Namun, Satya malah menyentuh daguku dan tersenyum nakal.


"Kamu ga perlu merasa bersalah. Kamu udah resmi jadi Nona muda Adiratma sejak kita bulan madu di Eropa," kata Satya sambil menaikkan kedua alisnya.


Begitu aku sadar apa maksud perkataan Satya barusan, aku langsung memukul lengan kanan Satya yang memegang daguku. Kemudian, aku segera berlari sambil membawa piring kotor milikku ke dapur.


"Dia lucu kalau lagi malu," ucap Satya pelan.


Satya pun menyusul langkahku ke dapur. Aku sudah menaruh piring kotorku di tempat cuci piring sehingga aku langsung balik badan untuk segera naik ke kamar.


Aku langsung kaget saat melihat Satya sudah berdiri di belakangku, jadi aku segera naik ke lantai atas menggunakan tangga melingkar dan masuk ke kamar dengan langkah yang terburu-buru.


Harusnya aku ga naik tangga tadi. Naik tangga di rumah orang kaya bener-bener bikin ngos-ngosan, batinku.


Aku pun langsung menuju ke kamar mandi untuk berkaca di depan cermin. Dan... ya, wajahku sangat merah saat ini.


Akhirnya aku memutuskan untuk menyikat gigiku. Tidak lama kemudian, Satya membuka pintu kamar mandi untuk sikat gigi.


"Maaf, pintunya ga dikunci," kata Satya yang langsung menutup pintu kamar mandi. Wajahku pun semakin merah saat ini.


Setelah aku selesai menyikat gigi, aku langsung keluar dan menyalakan laptopku. Setelah itu, aku mulai melanjutkan cerita di novelku di platform novel kesukaanku.


"Kamu nulis cerita apa?" tanya Satya penasaran.


"Ada deh," jawabku sambil terus mengetik di keyboard laptopku.


"Kok kamu bisa tau? Kamu selidikin aku sampai sedetail itu?" balasku bingung.


"Iya dong, status kamu sebagai Nona muda Adiratma itu perlu aku selidikin sampai ke hal kecil kayak judul novel kamu," jawab Satya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Heh, novel aku bukan hal kecil, ya! Novel ini udah kayak anak kebanggaan aku tau!" gerutuku kesal.


"Pasti karena pembaca kamu udah nembus ke angka satu juta makanya kamu mau berkarier sebagai penulis novel online."


"Emang," sahutku bangga.


"Emangnya ceritanya tentang apa sih sampai sejuta pembaca kamu bisa baca cerita kamu yang masih on-going itu?" tanya Satya penasaran.


"Kamu jangan ngeremehin aku, ya! Ini tuh ceritanya tentang seorang wanita yang terpaksa menikah sama direktur yang kejam karena Mamanya berhutang ke anggota keluarga dari direktur itu," jawabku menjelaskan.


"Oh, jadi kamu nulis cerita tentang hubungan kita buat pembaca kamu. Tapi kamu harus inget kalau aku bukan direktur yang kejam ya," kata Satya mengingatkan.


"Terus menurut kamu, kamu itu direktur yang baik, pinter, ganteng, dan kaya gitu?" tanyaku penasaran.


Satya langsung tersenyum dan berkata, "Itu mah udah jelas."


"Dasar narsis!" seruku kesal. Kemudian, aku kembali fokus ke layar laptop untuk menulis bab yang baru.


"Kamu jangan kesel, nanti muka kamu cepet keriput," sahut Satya mengingatkan.


"Kamu jangan bawel, nanti ga ada orang yang mau dengerin kamu."


Satya pun tersenyum sambil berkata, "Gapapa kalau ga ada orang yang mau dengerin aku karena aku udah punya Istri yang mau dengerin aku."


"Siapa bilang aku mau dengerin kamu? Dasar geer!" seruku dengan wajah sinis.


"Geer itu bagus tau," sahut Satya sambil tersenyum. Kemudian, ia segera pergi ke kamar mandi untuk menyikat giginya.


Begitu Satya keluar dari kamar mandi, ia langsung meraih ponselnya yang ada di atas nakas dan mulai menelpon seseorang.


"Halo. Ada apa, Tuan muda? Apa saya harus menjemput Anda ke perusahaan?" tanya Raka dengan nada kebingungan.


"Tidak usah jemput. Mulai sekarang, semua orang harus manggil Nona muda ke Istri saya," perintah Satya dengan nada tegas.


"Baik, Tuan muda," sahut Raka. Satya langsung mematikan panggilan telpon itu.


"Kenapa kamu kasih perintah itu?" tanyaku bingung. Satya menatap ke arahku sebentar sambil mengeluarkan jam tangannya dari rak kaca di meja yang ada di samping kirinya.


"Aku pemimpinnya, aku bebas kasih perintah itu ke mereka. Lagian, mereka emang udah seharusnya sopan ke kamu," jawab Satya sambil memakai jam tangan mewahnya di tangan kiri.


"Kamu mau berangkat ke kantor sekarang?" tanyaku penasaran.


"Iya, tolong bantuin aku pake dasi dong," pinta Satya sambil menyodorkan dasi birunya kepadaku.


"Sebelum kamu menikah sama aku, siapa yang pakein dasi kamu setiap hari?" tanyaku sambil memakaikan dasi itu.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.