Eternity Love

Eternity Love
Fakta Mengenai Raisa



"Kamu lebih suka sendirian atau sama aku?" sahut Satya sambil tersenyum senang.


"Sendirian. Walaupun kita udah nikah, kita tetep harus hidup masing-masing. Kamu selesaiin masalah kamu dan aku selesaiin masalah aku sendiri."


Aku langsung naik ke atas kasur dan berbaring di situ.


"Masalah apa yang harus kamu selesaiin sendiri? Mama tiri kamu minta uang lagi?" tanya Satya sembari berbaring di sebelahku.


"Kamu tau dari mana?" sahutku sambil membelalakkan kedua mataku karena terkejut.


"Sayang, kamu itu Istri aku. Harusnya kamu cerita sama aku kalau kamu ada masalah," ucap Satya sembari menatap kedua mataku.


Aku menghela napasku dalam-dalam sembari berkata, "Tapi dia Mama aku... Tadi kamu bilang apa? Mama tiri?"


"Iya, emangnya kamu ga tau kalau dia itu Mama tiri kamu?" sahut Satya bingung.


"Ga tau. Aku cuma tau kalau Rey itu adik tiri aku," jawabku lirih. Mataku mulai merah dan air mataku pun menetes dari pelupuk mataku.


"Maaf, Sayang. Aku ga tau kalau ternyata kamu belum tau soal Mama kamu." Satya langsung menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


"Gapapa. Aku nangis bukan karena itu," ucapku sambil menghela napas panjang.


"Terus karena apa?" tanya Satya dengan lembut.


"Karena selama ini dia terus-terusan siksa aku," balasku dengan nada memelas.


"Dia jadiin aku pembantu di rumah. Dia selalu alesan semua itu sebagai balasan karena dia udah merawat dan membesarkan aku dari kecil. Ternyata dia bukan Mama kandung aku. Pantesan aja dia selalu kasar sama aku selama ini," imbuhku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin Satya melihatku menangis saat ini.


"Sayang, aku..."


"Gapapa kok. Kamu ga perlu hibur aku sekarang," ucapku lirih.


"Ananda, aku memang baru kenal sama kamu. Tapi setelah aku selidikin kamu, aku tau kamu orang yang kuat dan baik hati. Kamu orang yang sabar banget," kata Satya sambil merangkul tubuhku dengan erat.


"Aku tau ucapanku sekarang ga membantu, tapi aku tetep mau kamu tau kalau kamu itu wanita paling hebat yang pernah aku temuin seumur hidup aku. Kamu ga salah, tapi dunia emang ga adil buat semua orang. Makasih ya udah bertahan selama ini," imbuh Satya dengan nada lembut. Ia mengusap pundakku dan mencium keningku beberapa kali untuk membuatku merasa lebih baik.


"Satya," panggilku setelah aku selesai menangis.


"Iya, Sayang." Satya kembali menghapus sisa air mata di kedua pipiku.


"Makasih ya udah mau temenin aku di sini. Kalimat kamu membantu banget buat aku," ucapku sambil menatap kedua matanya.


"Oh, Honey. I will always be here for you," balas Satya sambil mendekapku ke pelukannya.


"Are you sure?" sahutku sambil menatap wajahnya yang tampan.


Satya mengangguk dan tersenyum hangat kepadaku. Kemudian, ia berkata, "Kamu tenang aja, Sayang. Aku bakal selalu ada buat kamu."


"Tapi kenapa?" tanyaku penasaran.


"Karena kamu Istri aku," jawab Satya sambil mengelus kepalaku.


"Tapi kamu ga cinta sama aku," ucapku lirih. Satya pun menatap wajahku dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah ia menatapku dengan wajah kasihan atau kebingungan.


"Kata siapa aku ga cinta sama kamu?" tanya Satya bingung.


"Tapi-"


"Mama aku suruh aku minta uang ke kamu, tapi aku ga mau minta. Boleh ga aku pinjem dulu uang kamu? Aku pasti ganti kok," ucapku dengan nada memelas.


"Berapa yang dia minta?" tanya Satya mengangkat alis kanannya.


"300 juta," sahutku sambil menundukkan kepalaku. Aku merasa tidak enak jika terus meminjam uang kepada Saya seperti sekarang ini.


Satya pun tersenyum masam, namun ia tetap bergerak mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia segera menghubungi seseorang di telpon.


"Halo, tolong transfer dana sosial 300 juta ke rekening Ibu Raisa Martha Wijaya sekarang ya," ucap Satya di telpon.


"Baik, Tuan muda," sahut asisten pribadi Satya.


Satya pun menutup panggilan telpon itu dan kembali menaruh ponselnya di atas nakas.


"Uangnya masuk ke rekening Mama kamu paling lambat besok pagi. Ga usah diganti uangnya," kata Satya sambil menaruh ponselnya di atas meja di samping tempat tidurnya.


"Tapi-"


"Udah ga usah dipikirin lagi," sela Satya sambil tersenyum.


"Makasih, Sayang. Maaf aku jadi repotin kamu lagi," ucapku sambil menundukkan kepala.


"Iya, sama-sama."


Tidak lama kemudian, aku pun tertidur lelap. Setelah itu, Satya menatap wajahku sambil tersenyum.


"Kamu cantik banget kalau lagi tidur," ucap Satya sambil merapikan anak rambutku yang berantakkan sehingga menutupi sebagian wajahku.


Lalu, Satya menyelimutiku dan ia segera mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur. Kemudian, ia berjalan keluar dari kamar dan beranjak pergi ke ruang kerjanya. Satya langsung menyalakan laptopnya sembari menandatangani beberapa dokumen penting yang membutuhkan persetujuan darinya. Namun, ia berhenti menandatangi dokumen-dokumen itu ketika ia membuka surel di laptopnya.


Kedua mata Satya terpaku pada sebuah kiriman surel dari perusahaan lain yang bergerak di bidang pertambangan. CEO dari perusahaan itu menawarkan kerja sama dengan perusahaan Satya. Sebagai imbalannya, Satya akan diberikan saham sebesar 30% di perusahaan tersebut.


"Ini menarik, dia meminta waktu untuk rapat besok siang di perusahaan," gumam Satya.


Satya ingin menelepon asisten pribadinya, Raka, untuk mempersiapkan diri besok pagi. Namun, waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 sehingga Satya hanya mengirim pesan singkat melalui teks kepada Raka. Ia meminta Raka untuk mempersiapkan diri dan notula rapat untuk besok pagi.


Saat Satya ingin mematikan laptopnya, ia penasaran dengan jejak kehidupan Raisa. Ia kembali membuka dokumen tentang Raisa dan mulai membacanya pelan-pelan agar ia dapat mengetahui dengan jelas mengenai latar belakang Raisa.


"Dia benar-benar Mama tiri yang keterlaluan," ucap Satya sambil menggelengkan kepalanya.


Satya mendapati bahwa sebelum Papaku meninggal, Raisa meminta uang bulanan sebesar 50 juta dengan alasan penyakit Rey serta biaya pendidikanku. Namun, Raisa malah memakai uang itu untuk membiayai Rey dan membelanjakan sisanya untuk membeli barang-barang yang mahal serta sosialita dengan teman-temannya.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.