Eternity Love

Eternity Love
Rapat Bersama Klien Penting



Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Satya segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia segera turun ke lantai bawah untuk menyetir mobilnya menuju ke kantor.


Sementara itu, aku baru saja selesai memasak nasi goreng untuk sarapan kami pagi ini.


"Satya, kamu ga mau sarapan dulu?" tanyaku bingung.


"Ga usah. Aku makan di kantor aja ya, Sayang," sahut Satya sembari menutup pintu.


"Kenapa dia buru-buru pergi ke kantor pagi ini?" gumamku penasaran.


Aku pun menuangkan nasi goreng dari teflon ke dalam 2 piring. Aku ingin membagikan porsi sarapan Satya kepada Bi Siti. Aku langsung mencari Bi Siti yang sedang bersih-bersih di ruang tamu.


"Bi Siti, ini ada nasi goreng buat Bibi," ucapku sambil memberikan sepiring berisi nasi goreng kepadanya.


"Wah, makasih banyak ya." Bi Siti tersenyum senang sembari menerima sepiring nasi goreng itu.


"Sama-sama, Bi," balasku sopan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat pagi, Tuan muda," sapa Raka begitu Satya turun di lobi perusahaan.


"Pagi, Raka. Raka, tolong segera beritahu supervisor dari setiap departemen. Lima belas menit lagi kita harus rapat di ruang rapat," perintah Satya sembari berjalan menuju ke arah lift.


"Baik, Tuan muda. Saya akan segera mengurusnya," sahut Raka sembari berinisiatif untuk membawakan tas Satya.


"Tolong belikan saya makanan di kantin perusahaan. Apa pun," ucap Satya meminta tolong. Perutnya sudah keroncongan sejak ia menyetir ke perusahaan tadi.


"Baik, Tuan muda. Saya belikan untuk Bapak sekarang," balas Raka sembari menuju ke arah kantin. Sementara itu, Satya langsung naik menggunakan lift menuju ke ruangannya di lantai 13.


Sekitar 5 menit kemudian, Raka membawakan sarapan untuk Satya, yaitu bubur ayam.


"Sekarang adanya cuma bubur ayam, Tuan muda. Gapapa, 'kan?" tanya Raka ragu.


Biasanya Satya selalu makan di luar perusahaan bersama dengan para klien. Ia tidak pernah menyantap makanan dari kantin perusahaan -- lebih tepatnya dari kantin karyawan. Raka takut kalau seandainya Bosnya itu tidak doyan bubur ayam.


"Hmm, gapapa." Satya langsung melahap bubur itu. Dalam suapan pertama, Satya langsung teringat dengan bubur ayam yang aku buatkan untuknya sewaktu sakit.


Nanti malam aku harus makan masakan Ananda, batin Satya.


Lima menit kemudian, semua supervisor sudah berkumpul di dalam ruang rapat. Begitu Satya dan Raka memasuki ruang rapat, semua orang langsung bangkit berdiri dan menundukkan kepala mereka.


"Tuan muda," panggil para supervisor dengan kompak.


"Silakan duduk, semuanya."


Para supervisor itu segera duduk di tempatnya, sedangkan Satya dan Raka tetap berdiri di ujung meja rapat.


"Siang ini jam 12, para pemimpin perusahaan Kuang Ye Group akan datang ke sini untuk membahas kerja sama dengan perusahaan kita. Tolong pastikan mereka nyaman bekerja sama dengan kita dan jangan lupa siapkan notula untuk rapat hari ini," ucap Satya dengan tegas.


"Baik, Tuan muda," sahut Raka dan para supervisor itu.


"Baiklah. Rapat kali ini sampai di sini saja. Silakan kembali bekerja. Terima kasih semuanya," ucap Satya sambil tersenyum ramah.


Ia segera keluar dari ruang rapat dan menuju ke ruangannya bersama dengan Raka. Kemudian, Satya mengambil sebagian tumpukan dokumen di mejanya dan menyerahkannya kepada Raka.


"Raka, tolong bantu saya kirimkan dokumen-dokumen kerja sama yang sudah saya tanda tangani ini," kata Satya meminta tolong.


"Baik, Tuan muda. Saya kirimkan sekarang." Raka langsung keluar dari ruangan Satya untuk membawa dokumen-dokumen itu ke pihak yang bersangkutan.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11:50. Satya segera merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya dan bersiap-siap untuk menuju ke ruang rapat dan menyambut calon kliennya dari perusahaan Kuang Ye Group.


Sementara itu, aku baru saja tiba di perusahaan untuk mengantar makan siang Satya hari ini. Aku terkejut begitu melihat ada sekelompok pemimpin yang sedang menuju ke arah lift.


"Ananda," panggil seorang pria dari belakang. Aku segera melihat ke belakang untuk mengetahui sosok orang yang memanggil namaku.


"Sean, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku kaget. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di sini.


"Aku ada rapat sama pemimpin perusahaan ini jam 12. Kenapa kamu ada di sini?" sahut Sean penasaran.


"Um... aku ke sini buat bawain makan siangnya Suami aku," jawabku pelan.


"Oh, kamu udah punya Suami, ya? Siapa dia?" tanya Sean dengan raut wajahnya yang menunjukkan kekecewaan.


"Maaf menyela pembicaraan kalian. Tuan muda, sepertinya kita sudah harus naik ke atas. Pemimpin yang lain sudah berkumpul di dalam ruang rapat," kata asisten pribadi Sean.


"Aku harus naik ke atas sekarang," ucap Sean kepadaku.


"Pergilah," sahutku sambil tersenyum.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Hati-hati."


Sean langsung membalikkan badannya dan naik ke lantai atas menggunakan lift bersama dengan asisten wanitanya yang menyela pembicaraan kami barusan.


"Nona Ananda, Tuan muda sedang ada rapat bersama dengan tamu penting sekarang. Nanti Nona bisa tunggu Tuan muda di ruangannya ya," kata salah satu customer service kepadaku.


"Oh, oke. Makasih ya," sahutku sambil tersenyum.


Aku langsung naik ke lantai atas dan menuju ke ruangan Satya. Aku pun meletakkan makan siangnya di atas meja di depan sofa. Setelah itu, aku mengelilingi ruangan Satya beberapa kali karena bosan menunggu Satya.


Aku melihat beberapa kalimat motivasi tertempel di dinding ruangan ini. Selain itu, ada foto-foto sewaktu Satya meraih prestasi sebagai pemimpin termuda yang memimpin perusahaan The Cloud Group.


"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah mengizinkan Kuang Ye Group untuk rapat bersama dengan kalian semua di sini. Perkenalkan saya Dela, asisten pribadi Tuan Sean. Saya akan mewakili Tuan Sean untuk mempresentasikan perusahaan Kuang Ye Group."


Dela pun menjelaskan visi dan misi perusahaan hingga tujuan kerja sama dan profit yang akan didapatkan oleh kedua belah pihak jika menjalin hubungan kerja sama.


"Sekian presentasi dari perusahaan kami. Apa ada yang ingin bertanya?" tanya Dela sopan.


"Tidak ada, kami sudah mengerti maksud Anda. Bagaimana dengan surat kontraknya? Kapan kami harus menandatanganinya?" sahut Raka penasaran.


"Jika Tuan Satya tidak keberatan untuk menandatanganinya sekarang, silakan saja," ucap Sean sembari memberikan aba-aba kepada Dela. Dela pun mengeluarkan surat kontrak dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja Satya.


Satya langsung membaca surat kontrak itu dengan saksama. Ia memastikan isi di dalam surat tersebut sesuai dengan harapannya. Setelah itu, Satya pun menandatangani surat kontrak itu dan memberikannya kepada Dela. Dengan demikian, kerja sama antar Kuang Ye Group dan The Cloud Group resmi terjalin mulai dari sekarang.


Selanjutnya, kedua belah pihak berjabat tangan dan bertepuk tangan untuk keberhasilan kerja sama kali ini.


"Semoga Tuan Satya dapat terus mendukung dan mempromosikan Kuang Ye Group ke depannya," ucap Sean sambil tersenyum ramah.


"Tenang saja, aku akan memastikan perusahaan Kuang Ye Group dikenal oleh masyarakat baik di Indonesia maupun di manca negara," sahut Satya sembari membalas senyuman dari Sean.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.