Eternity Love

Eternity Love
Ananda dan Sean



Satya memasuki ruangannya bersama dengan Raka begitu mereka selesai rapat dengan Kuang Ye Group. Ia melihat ada nasi goreng di atas meja. Seketika itu juga, Satya tersenyum karena ia tahu bahwa aku yang membawakan makan siangnya.


"Tunggu, makanannya ada tapi orangnya ga ada di sini. Ananda pergi ke mana?" gumam Satya penasaran.


"Raka, tolong tanyakan ke bagian CS, Ananda pergi ke mana?" tanya Satya yang tampak khawatir.


"Baik, Tuan muda," sahut Raka sembari buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menelepon bagian CS. Tidak lama kemudian, Raka mematikan sambungan telpon itu.


"Tuan muda," panggil Raka.


"Iya, jadi Ananda ada di mana sekarang?" sahut Satya dengan perasaan gelisah.


"Ibu Ananda pergi ke restoran Italia di sebrang perusahaan bersama dengan Pak Sean 5 menit yang lalu."


"Apa?" tanya Satya kaget. Ia segera pergi meninggalkan ruangannya dan menyetir mobilnya menuju ke restoran Italia di sebrang.


Begitu sampai, Satya buru-buru memarkirkan mobilnya. Setelah itu, ia masuk dan menelusuri keberadaanku. Namun, ia tidak menemukanku di lantai 1 sehingga ia naik ke lantai 2.


Sayangnya, begitu Satya sampai di lantai 2, ia tetap tidak melihat wajahku. Satya mulai frustasi dan kebingungan.


"Ananda ada di mana?" gumam Satya sembari berpikir keras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sean, aku ga nyangka kamu bisa jadi pemimpin perusahaan Kuang Ye Group. Selamat ya," pujiku dengan sangat antusias.


"Terima kasih, Ananda. Kamu selalu mendukungku sejak kecil sampai saat ini. Aku sungguh terharu," sahut Sean sambil tersenyum senang.


"Ah, itu bukan apa-apa kok. Kapan kamu balik ke Indonesia? Kok tiba-tiba kamu bisa kerja sama dengan perusahaan Satya?" tanyaku penasaran.


"Aku baru balik minggu kemarin. Aku sibuk banget jadi ga bisa hubungin kamu dulu. Maaf ya," kata Sean sambil menundukkan kepala, menunjukkan penyesalannya.


"Gapapa kok. Pasti sibuk banget jadi direktur perusahaan pertambangan," balasku sambil tersenyum.


"Iya, tapi untungnya hari ini aku agak senggang jadi kita bisa ketemuan," balas Sean sambil tersenyum.


"Iya, kapan lagi kita bisa ketemu?" sahutku sambil tersenyum senang.


"Oh, ya. Tadi kamu bilang kamu udah punya suami. Siapa suami kamu?" tanya Sean penasaran.


"Namanya Satya Adiratma," sahutku sembari mendengus kesal.


"Oh, jadi Satya itu suami kamu, ya. Kalian udah menikah berapa lama? Kenal di mana? Kenapa aku ga tau kalau kamu pernah kencan sama dia?" tanya Sean dengan nada mengintrograsi.


Aku malas menjawab pertanyaan Sean satu-satu. Untungnya, seorang waiter baru saja menghidangkan satu loyang pizza dan 2 jus mangga di atas meja.


"Cepetan makan, aku udah laper nih," ucapku sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Oke, kamu juga makan," sahut Sean sembari mengambil satu potong pizza dari loyang dan menyantapnya. Setelah Sean selesai menyantap suapan pertama, aku langsung melahap potongan pizza pertamaku.


"Mereka bagi 1 loyang pizza buat 2 orang?" tanya Satya sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Dulu, setiap kali kita laper abis pulang dari tempat les, kita pasti makan di restoran ini," ucap Sean sembari tersenyum mengingat kenangan manisnya denganku.


"Hahaha, iya. Dulu kamu cerewet, ga bisa makan di restoran yang biasa. Mau ga mau kamu harus traktir aku deh setiap kali kita laper," sahutku sambil tertawa pelan.


"Ananda bisa ketawa sampe ga sadar ada aku di sini," ucap Satya sembari terus menatap tajam ke arahku dan Sean yang sedang asik mengobrol.


"Permisi, Pak. Mau pesan apa?" tanya salah satu waitress sembari menaruh menu makanan di atas meja Satya.


"Saya pesan satu porsi spaghetti carbonara. Tolong dibungkus, ya," pinta Satya.


"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar," ucap waitress itu sambil tersenyum ramah.


"Iya, kenapa?" jawab Sean sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Orang itu Satya?" tanyaku penasaran. Aku ingin berjalan menghampirinya, tetapi aku tidak enak dengan Sean.


"Memang mirip sih, tapi mungkin cuma mirip aja," jawab Sean datar.


"Oh, oke." Aku pun mengangguk dan kembali memakan pizza-ku.


5 menit kemudian, sebungkus spaghetti carbonara sudah Satya genggam di tangan kirinya. Setelah itu, ia berjalan menghampiriku dan menarik lengan kananku.


"Sayang, kamu lupa kita harus makan siang bareng di perusahaan? Ayo pergi," ajak Satya sambil tersenyum ramah.


"Pak Sean, maaf mengganggu kalian. Tapi Ananda harus ikut denganku," imbuh Satya sebelum membawaku pergi dari situ.


Setelah aku pergi, Sean tersenyum masam sembari memakan pizza sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu bilang ke Sean kalau kita harus makan siang bareng di perusahaan?" protesku saat kami berdua baru saja masuk ke dalam ruangan Satya.


"Nih, spaghetti carbonara buat kamu." Bukannya menjawab pertanyaanku, Satya malah menyodorkan sebuah plastik berisi seporsi spaghetti carbonara ke hadapanku.


"Kenapa kamu beliin ini buat aku?" tanyaku bingung.


"Aku mau makan nasi goreng buatan kamu, jadi itu buat kamu aja," jawab Satya datar. Ia segera menuju ke sofa dan membuka kotak makannya. Kemudian, Satya langsung menyantap nasi goreng buatanku dengan lahap.


"Enak ga nasi gorengnya?" tanyaku penasaran.


"Enak banget, gimana cara kamu masaknya?" sahut Satya setelah selesai mengunyah nasi goreng di mulutnya.


"Aku masaknya ikutin resep dari restoran Papa aku," jawabku jujur.


"Oh." Satya melanjutkan menyantap nasi goreng buatanku.


Aku pun duduk di sebelah kanan Satya dan memakan spaghetti carbonara kesukaanku yang dibelikan oleh Satya di restoran sebrang tadi.


"Kamu suka spaghetti carbonara, 'kan?" tanya Satya sambil tersenyum.


"Iya. Kamu sengaja beliin ini buat aku?" sahutku sambil menatap wajah tampan Satya yang juga sedang menatap ke arahku.


"Aku cuma ga mau kamu makan siang berdua sama pria lain, apalagi sampai 1 loyang pizza untuk dimakan berdua dengan pria lain," ucap Satya dengan nada tegas.


"Kamu cemburu ya sama Sean?" tanyaku sambil tersenyum.


"Engga kok, ngapain kamu senyum begitu? Percaya diri banget jadi orang." Meski Satya menyangkal bahwa ia tidak cemburu, namun wajahnya mulai memerah.


"Heh, itu harusnya aku yang ngomong tau. Kamu yang percaya diri banget jadi orang," sahutku dengan wajah kesal.


"Sean itu sahabat aku dari SMA. Dia kuliah dan berbisnis di Taiwan. Sekarang Sean baru sempet pulang ke Indonesia, makanya tadi pas dia selesai rapat dia ngajak aku ketemuan di restoran Italia di sebrang," ucapku yang berinisiatif untuk menjelaskan hubunganku dengan Sean meski Satya tidak menanyakannya padaku. Aku tidak ingin Satya jadi salah paham tentang hubungan kami.


"Aku ga peduli ada hubungan apa antara kamu sama Sean," sahut Satya ketus.


"Oh, ya udah terserah kamu aja. Aku mau balik ke rumah dulu." Aku langsung bangkit berdiri dan membalikkan tubuhku ke arah pintu ruangan Satya.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.