Eternity Love

Eternity Love
Menghibur Ananda



"Kenapa muka kamu keliatan murung dari tadi?" tanya Satya begitu kami masuk ke dalam mobil.


"Engga kok, gapapa." Satya menatap wajahku dan tersenyum masam.


"Kamu mau es krim?" tanya Satya menawarkan.


"Kamu kira aku anak kecil yang mau dikasih es krim sama orang dewasa?" sahutku kesal.


"Terus aku harus kasih kamu apa biar kamu ga sedih lagi?" Satya memandang kedua mataku yang berwarna cokelat tua dengan saksama.


"Ga usah kasih apa-apa. Aku gapapa kok," sahutku lirih.


Ga mungkin aku minta uang tiga ratus juta ke dia sekarang, kataku dalam hati.


"Ngomong-ngomong, cowo yang tadi nyapa kamu di rumah sakit itu siapa?" tanya Satya dengan kedua matanya yang disipitkan.


"Mantan aku."


"Kevin? Ngapain dia di rumah sakit?" sahut Satya penasaran.


"Kok kamu tau namanya?" tanyaku bingung.


"Aku 'kan udah selidikin kamu," sahut Satya dengan santainya.


"Oh, iya. Dia Kevin. Tadi dia dateng ke rumah sakit karena mau jenguk saudaranya yang sakit usus buntu," sahutku datar.


"Oh." Satya hanya mengangguk pelan sembari menyetir.


"Dia cinta pertama kamu, 'kan?" tanya Satya yang membuka topik pembicaraan ditengah-tengah macetnya perjalanan malam ini.


"Iya." Ananda segera mengalihkan pandangannya ke kaca jendela mobil.


"Jadi kalian berdua ngobrolin apa aja tadi?" sahut Satya penasaran.


"Aku udah kasih tau ke kamu tadi. Dia mau jenguk saudaranya yang sakit usus buntu," ucapku datar.


"Itu doang?" Satya mengangkat sebelah alisnya sembari menatap ke arahku.


"Kamu pikir aku masih mau ngomong panjang lebar sama dia?" balasku sambil mendengus kesal.


"Ehem, kalau gitu, cinta terakhir kamu siapa?" tanya Satya penasaran. Entah apa tujuannya menanyakan ini, tapi ia cukup percaya diri saat melontarkan pertanyaan ini kepadaku.


"Cinta pertama kamu siapa? Cinta terakhir kamu juga siapa?" Aku sengaja mengalihkan topik pembicaraan Satya barusan.


"Belinda, dia cinta pertama aku. Cinta terakhir aku..." Satya terdiam cukup lama. Ia sepertinya tidak sanggup menjawab pertanyaanku yang terakhir.


"Siapa?" sahutku penasaran.


"Kamu jawab dulu pertanyaan aku yang tadi," jawab Satya datar.


"Kamu dulu yang jawab pertanyaan aku."


"Kamu," kata Satya sambil menatap kedua mataku.


"Kamu duluan yang-"


"Maksud aku, kamu cinta terakhir aku," timpal Satya.


"Kamu bercanda, 'kan? Kamu mau nikah sama aku cuma karena dijodohin sama Papa kamu," ucapku sambil tersenyum kecut.


"Kamu itu Istri aku. Aku harus jadiin kamu cinta terakhir aku. Aku harus cinta sama kamu selamanya sampai maut memisahkan kita, Sayang," sahut Satya sembari mengelus kepalaku dengan lembut.


"Tapi kamu belum bisa cinta sama aku, 'kan?" tanyaku dengan senyuman getir.


"Sekarang memang belum, tapi ke depannya aku bakal pastiin kalau aku cuma cinta sama kamu," jawab Satya sambil tersenyum. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku terus diam sampai Satya memarkirkan mobilnya di parkiran mal.


"Kenapa kita ke mall?" tanyaku bingung.


Kami pun segera masuk ke dalam mal dan Satya menggandeng tanganku menuju ke gerai yang menjual es krim.


Aku dan Satya berhenti tepat di depan gerai itu. "Kamu beneran mau beliin aku es krim?"


"Kalau soal es krim, aku ga bercanda sama kamu," jawab Satya sambil tersenyum. Satya pun membelikanku es krim sundae rasa cokelat, sedangkan ia sendiri membeli es krim cone rasa vanilla.


"Kamu suka rasa vanilla?" tanyaku penasaran.


"Hmm... engga juga sih. Aku ga gitu suka makanan yang manis," kata Satya saat ia hendak memakan es krimnya.


"Terus kenapa kamu tawarin es krim ke aku?" balasku sambil menyantap es krim itu. Satya pun menatap ke arahku sambil menghela napas panjang.


"Kamu keliatan sedih dari tadi," sahut Satya dengan wajahnya yang datar.


"Suamiku." Ia langsung menatap ke arahku begitu aku memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kenapa, Istriku?" sahutnya sambil menatap wajahku dengan senyuman lebar.


"Makasih ya buat hari ini, tapi..." Aku sengaja ingin menggodanya kali ini.


"Tapi apa, Istriku?" tanya Satya penasaran.


"Tapi kamu ga usah peduliin Kevin," jawabku sambil tersenyum senang karena godaanku kali ini berhasil membuatnya cemburu. Napas Satya langsung membara saat mendengarku menyebut nama Kevin.


"Siapa yang peduli sama dia?" tanya Satya, wajahnya memerah karena cemburu.


"Kamu tadi nanya-nanyain aku di mobil," ucapku mengingatkan.


"Ya memang, tapi aku pedulinya sama kamu. Aku ga peduli sama dia."


"Oh, ya? Yaudah deh kalau gitu," sahutku sambil melangkah menjauh darinya.


"Apa maksud kamu yaudah?" tanya Satya dengan wajah kebingungan.


"Ga ada. Gapapa."


Satya langsung menyusul langkahku dan menarik tanganku. Ia menggenggam tanganku sampai ke depan arena seluncur es.


"Kenapa ajak aku ke sini? Aku ga bisa berseluncur di atas es," ucapku sambil menghela napas panjang.


"Aku tau. Makanya aku mau ajarin kamu cara mainnya," balas Satya sambil menggenggam tangan kananku dengan erat.


"Tapi aku takut jatuh," sahutku dengan nada memelas.


"Tenang aja, Sayang. Ada suami kamu yang temenin kamu di sini," ucap Satya dengan rasa bangga.


Kemudian, ia segera membeli tiket untuk kami berdua. Setelah itu, kami menaruh barang-barang kami di dalam loker dan mengganti sepatu kami dengan sepatu khusus berseluncur. Lalu, kami mulai memasuki arena seluncur es yang licin itu.


"Ini licin banget! Aku takut jatuh," ucapku dengan nada tinggi.


"Pelan-pelan ya, Istriku. Nanti kalau kamu udah bisa, main seluncuran es itu seru kok. Kamu pasti bakal seneng kalau udah bisa."


Satya memegang tangan kiriku, sedangkan tangan kananku memegang pegangan yang ada di pinggir. Ia juga merangkul bahuku dan menyeimbangkan langkahnya dengan langkahku saat kami mulai berseluncur di atas es.


Tidak lama kemudian, aku mampu menyeimbangkan tubuhku untuk berdiri tanpa berpegangan pada apa pun. Setelah itu, berkat Satya yang mendorong tubuhku dengan perlahan-lahan, aku mampu berseluncur di atas es.


"Aku bisa berseluncur!" seruku sambil tersenyum bahagia. Saking senangnya, aku mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya aku pun terjatuh di atas es yang licin itu. Seluruh tubuhku terasa sakit, tapi aku berusaha untuk bangkit berdiri.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.