Eternity Love

Eternity Love
Berangkat Bulan Madu



Satu Minggu Kemudian


Waktu pada jam dinding di kamar Satya sudah menunjukkan pukul 11 malam dan mereka harus siap-siap untuk pergi ke bandara saat jam 12 malam.


Satya terbangun karena ia sudah memasang alarm di ponselnya. Sementara itu, aku masih tertidur nyenyak dan Satya membisikkan sesuatu ke telingaku.


“Sayang, ayo mandi,” bisik Satya dengan lembut.


”Hmm,” jawabku sambil mengangguk.


“Berarti kamu setuju ya buat mandi sama aku.”


Begitu mendengar kalimat itu, aku langsung membuka kedua mataku dan mendapati Satya yang sudah duduk dan bertelanjang dada di depanku.


“Hah? Apa?” tanyaku dengan kedua mataku yang terbelalak karena terkejut.


”Tadi kamu udah setuju buat mandi bareng aku,” kata Satya sambil tersenyum licik.


”Engga kok, kapan?” sahutku bingung.


”Barusan.”


Satya menatapku dengan senyuman nakalnya.


“Satya, kamu licik banget ya jadi orang. Aku tuh lagi ngantuk tadi,” balasku tidak terima.


“Oh, ya? Kalau kamu ga mau mandi sama aku, berarti aku aja yang mandiin kamu.”


Satya mendekatkan tubuhnya ke tubuhku sampai tidak ada jarak lagi di antara kami.


“Jangan, ga usah!" teriakku kesal.


Seketika aku memundurkan tubuhku supaya ada jarak di antara aku dan Satya.


“Jadi, kamu mau mandi bareng sama aku?” tawar Satya sambil membisikkannya ke telinga kananku.


“Ga usah, makasih. Nanti kita bisa telat ke bandara,” jawabku sambil tersenyum ramah supaya tetap terlihat tenang di hadapannya.


“Ok, Sayang. Kalau gitu, aku mandi duluan, ya.”


Satya segera bangkit dari kasur dan melangkah pergi ke kamar mandi untuk mandi.


“Untung dia ga maksa aku mandi sama dia,” kataku lega sambil mengelus dadaku.


Tidak lama kemudian, Satya keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Kuakui, dia sangat tampan setiap kali habis mandi.


"Kenapa bengong? Aku terlalu ganteng, 'kan?" tanya Satya sambil tersenyum licik seolah ia bisa membaca pikiranku. Aku langsung bangkit berdiri dari kasur dan memelototinya.


"Apaan sih, pede banget!" seruku sembari berjalan ke kamar mandi. Setelah aku selesai mandi, kami berdua langsung berangkat ke bandara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sayang, bangun.”


Satya menepuk pelan lengan kananku untuk menyadarkanku yang masih berada di alam mimpi selama waktu penerbangan yang sangat lama itu.


“Ananda Sayang, ayo bangun. Kita udah sampe di bandara,” bisik Satya di telinga kananku. Kemudian, ia mencium pipi kananku saat aku baru saja membuka kedua mataku.


”Iya, ayo turun,” ajakku sembari berusaha untuk bersikap biasa saja di depannya. Kami berdua pun turun dari pesawat dan berjalan-jalan di bandara sebelum harus terbang lagi ke Paris.


“Kamu laper ga?” tanya Satya sembari menatap ke arahku.


”Engga kok.”


“Yakin ga laper?” sahutnya sambil tersenyum menggodaku.


“Ga,” jawabku sembari menggelengkan kepala.


“Padahal mau aku beliin roti croissant rasa cokelat-”


“Satya, aku tiba-tiba jadi laper. Tolong beliin, ya?” tanyaku lirih sambil memasang ekspresi wajah memohon. Satya mengangguk dan mengajakku berjalan ke toko roti yang menjual roti croissant rasa cokelat.


“Iya, Sayang. Kamu duduk aja di sini. Aku beli dulu roti croissant-nya,” sahut Satya sambil tersenyum hangat kepadaku.


Ini pertama kalinya aku melihat sisi lain dari Satya yang biasanya datar. Sembari menunggunya membelikanku roti croissant cokelat, aku menonton drama korea ‘Legend of The Blue Sea’ dari ponselku.


“Kamu lagi liatin apa?” tanya Satya yang entah sejak kapan sudah berdiri di depanku.


“Seru dramanya?” tanya Satya setelah kami selesai makan.


“Iya, seru banget. Cowonya sama cewenya saling cinta walaupun cewenya putri duyung. Aku bener-bener terharu nontonnya,” jawabku sambil menjelaskan kepada Satya dengan heboh.


“Memangnya alurnya kayak gimana?” Satya bertanya supaya pembicaraan kami tetap berlanjut.


“Jadi, cewe ini putri duyung dan cowonya manusia biasa. Mereka ga sengaja ketemu pas si cowo liburan ke hotel yang dekat sama lautan. Kisah cinta mereka terus berlanjut walaupun banyak tantangannya sampe akhirnya mereka bisa bersatu dan hidup bahagia selamanya,” kataku sembari menatap ke arahnya.


“Oh, menarik juga," sahut Satya sembari mengangguk pelan.


“Kamu harusnya ga suka nonton drama, ‘kan? Kenapa penasaran sama alur ceritanya?” tanyaku penasaran.


“Karena aku mau diperhatiin juga sama kamu,” jawab Satya dengan jujur sambil menatapku dengan tatapan seriusnya.


Sejenak aku terdiam dan memikirkan harus memberikan jawaban apa kepadanya yang begitu terang-terangan kali ini.


“Satya, makasih udah mau terbuka sama aku. Aku bakal perhatiin kamu mulai sekarang,” sahutku sambil tersenyum. Tak terasa, sudah waktunya kami harus menaiki pesawat lagi untuk terbang ke destinasi liburan kami, yaitu Paris.


“Ayo pergi,” ajak Satya sambil tersenyum. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan kiriku selama berjalan menuju ke pesawat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tubuhku mulai menggigil karena tidak terbiasa dengan suhu dingin di luar negeri. Satya yang sedang menelepon seseorang segera mengakhiri panggilan itu dan melepaskan jaketnya serta sepasang sarung tangannya untuk diberikan kepadaku.


"Makasih, tapi kamu ga kedinginan?" tanyaku bingung.


"Dingin," jawab Satya datar seperti biasanya.


"Terus kenapa kasih jaket sama sarung tangan kamu ke aku?" sahutku penasaran.


"Ga usah banyak nanya, pake aja. Supirnya belum sampe, nanti kalo kamu pingsan, aku yang repot."


"Iya, Sayang," kataku sembari mencium pipi kanannya.


"Kamu sengaja godain aku?" Satya mengangkat kedua alisnya sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.


"Engga, kamu yang bilang mau diperhatiin sama aku," jawabku sambil tersenyum.


"Jadi, cium aku termasuk perhatian buat kamu?" sahut Satya sembari mendekatkan wajahnya ke bibirku.


"Bukan gitu-"


Mobil yang akan menjemput kami ke hotel sudah sampai.


"Ayo masuk, Istriku sayang," ajak Satya sambil menggenggam tangan kananku. Kemudian, aku mengikutinya untuk masuk ke mobil.


Aku ga salah denger, 'kan? Dia manggil aku 'Istriku sayang'? tanyaku dalam hati.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Satya yang langsung membuyarkan pikiranku.


"Hah? Engga kok, siapa yang melamun?" balasku sambil mengalihkan pandanganku ke kaca mobil.


"Kamu lucu banget deh, aku suka."


Tanpa aba-aba, Satya langsung mencium pipi kiriku di depan supir yang senyum-senyum sendiri melihat kami berdua dari kaca tengah mobil.


"Apaan sih kamu?" sahutku sembari mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.


Satya hanya tersenyum senang membayangkan ekspresi kagetku saat dicium olehnya tadi.


Beberapa menit kemudian, kami sampai di Pullman Hotel. Dari balkon kamar hotel, kami bisa langsung menyaksikan Eiffel Tower.


"Wah, cantik banget Eiffel Tower kalo diliat dari sini."


Aku takjub melihat pemandangan yang luar biasa pada malam hari ini.


"Cantikan kamu malam ini, Sayang," kata Satya sambil tersenyum tulus.


Bersambung……


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.