
Aku bangun dan mendapati Satya yang sudah duduk di samping kananku sambil memainkan ponselnya.
"Bonjour, honey. (Selamat pagi, Sayang)."
"Kamu mandi dulu, ya. Nanti kalo udah selesai kita langsung makan di bawah," imbuh Satya sembari mengelus kepalaku dengan lembut.
"Ok," sahutku sambil bangkit berdiri. Aku berjalan dengan langkah tertatih-tatih ke kamar mandi karena tubuhku yang masih terasa perih akibat kejadian semalam.
Begitu aku keluar dari kamar mandi, Satya langsung mencium pipi kiriku dan menuntunku untuk turun ke bawah. Lalu, ia juga membantu mengambilkan makanan dan minuman untukku.
Aneh, dia kadang baik kadang galak, kataku dalam hati.
Aku segera menghabiskan makan pagiku. Setelah kami selesai makan, Satya mengajakku ke lobi hotel untuk pergi ke Eiffel Tower dengan mobil dan supir pribadinya yang sudah memarkirkan mobil di sana.
Kemudian, kami segera bersiap-siap untuk mengambil foto-foto di bawah Eiffel Tower.
"Tolong fotoin aku di sini," kata Satya sembari memberikan kameranya kepadaku. Satya juga membawa kamera polaroid seri terbaru.
"Oke. 1,2,3."
"Makasih, Sayang. Sekarang kamu coba berdiri deh di depan sana," sahut Satya sembari menunjuk ke tangga yang ada di dekat Eiffel Tower karena tidak banyak orang yang berada di sini.
Aku segera pergi ke sana dan Satya langsung mengambil beberapa fotoku. Kemudian, kami berkeliling di sekitar sana setelah puas berfoto. Satya membelikan hot dog dan sandwich di pinggir jalan untuknya dan untukku juga. Setelah itu, ia juga mengajakku untuk meminum kopi bersamanya di sebuah kafe.
Mahal banget, kataku dalam hati setelah membaca menunya.
"Kamu mau minum kopi apa?" tanya Satya sambil menatap ke arahku.
"Yang Americano aja," jawabku sembari tersenyum masam karena hanya itu kopi yang paling murah.
"Kamu yakin? Americano itu bisa bikin kamu ga bisa tidur," sahut Satya sambil mengernyitkan dahinya.
"Terus yang enak apa?" tanyaku bingung.
"Latte atau cappuccino lumayan kok," jawab Satya sembari menatap ke arah menu.
"Yaudah aku pesen latte aja," kataku sambil menatap wajahnya yang sedang tersenyum.
"Oke."
Tidak lama kemudian, waiter yang ada di sana segera mengantarkan pesanan kami. Aku pun meminum kopi latte yang wangi. Rasanya begitu enak untuk diminum pada siang hari ini.
"Kamu suka kopinya?" tanya Satya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Iya, enak."
"Ngomong-ngomong, makasih ya udah bayarin aku hot dog, sandwich sama kopi yang lumayan mahal ini," imbuhku sambil tersenyum senang.
"Sama-sama, Istriku."
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kami mengelilingi kota Paris yang luar biasa ini. Kami berdua membeli lukisan indah yang dijual di pinggir jalan, menghabiskan waktu di museum Louvre untuk berfoto, dan akhirnya kami mengunjungi taman Jardin du Luxembourg pada sore hari.
Hal pertama yang kami lakukan di sini yaitu menunggangi kuda. Setelah itu, aku dan Satya menaiki perahu sampai ke air mancur pusat yang ada di sana. Lalu, kami berdua makan sore sambil menikmati pertunjukan boneka Guignol yang terkenal. Aku dan Satya juga tidak lupa untuk mengabadikan momen-momen ini di ponsel kami.
Terakhir, Satya mengajakku ke Arc de Triomphe yang selalu menjadi spot foto bagi siapa saja yang berkunjung ke kota cinta ini. Kami mengambil beberapa foto yang romantis di sana atas permintaan Satya.
Tiba-tiba, langit mulai gelap dan akhirnya turun hujan. Satya segera melepaskan mantelnya untuk menutupi kepalaku dan kepalanya. Setelah itu, ia membeli payung transparan yang dijual di dekat sini dan ia juga memayungiku untuk berjalan bersama menuju ke LV Exhibition Center.
Di dalam tempat itu ada Art Gallery. Satya mengamati lukisan-lukisan yang dipajang di sana dan memotret beberapa lukisan yang menurutnya menarik. Sementara itu, aku juga mengambil beberapa foto selfie di tempat yang indah ini.
Kemudian, Satya mengajakku untuk mampir ke kafe. Kami membeli beberapa roti dan kopi di sana. Meski semua makanan yang dijual di dalam tempat ini harganya lumayan mahal, namun pengalamanku bersama Satya hari ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagiku.
"Satya."
"Hmm, kenapa?" sahut Satya sembari menaruh ponselnya ke atas meja, lalu ia menatap ke arahku.
"Sebenernya, aku selalu mimpi bisa ke kota Paris sama pasangan aku," jawab Satya lirih. Sorot matanya terlihat sedih sehingga aku tidak berani bertanya lagi kepadanya.
"Sekarang kamu yang jadi pasangan aku. Makanya kamu yang aku ajak ke Paris," kata Satya sambil tersenyum.
"Oh, ok."
Aku pun kembali menyeruput kopiku setelah mendengar jawaban Satya.
"Udah ga hujan tuh diluar, ayo kita balik ke hotel," ajak Satya.
"Oke, ayo balik."
"Tunggu, kamu ga mau belanja dulu?" tanya Satya sembari menatap toko barang-barang branded yang ada di sekitar tempat kami berdiri.
"Belanja apa?" sahutku bingung.
"Oh, maksud kamu, oleh-oleh?" imbuhku dengan wajah senang.
"Iya, itu ada toko Louis Vuitton, Givenchy sama Chanel. Ayo kita belanja di sana," ajak Satya sembari memeluk pundakku dan mengajakku melihat-lihat ke dalam toko
Kami akhirnya kembali ke hotel bersama dengan supir yang mengantar kami ke Eiffel Tower tadi pagi.
"Merci (Terima kasih)," kata Satya kepada supir itu.
"Avec plaisir (Dengan senang hati)," balas sang supir sambil tersenyum ramah.
"Kamu bisa bahasa Prancis?" tanyaku takjub.
"Bisa, sedikit." Satya tersenyum dan menggenggam tanganku sampai ke kamar hotel.
"Puas belanjanya?" tanya Satya sembari mencubit kedua pipiku.
"Puas banget, makasih ya Sayang," balasku sembari meletakkan barang-barang belanjaan kami ke atas meja. Aku pun tersenyum dan langsung mencium pipi kanannya. Satya segera mengalihkan pandangannya dari wajahku karena malu akan wajahnya yang memerah setelah dicium olehku.
"Kenapa salting begitu? Biasa aja kali," kataku sengaja menggodanya.
"Siapa yang salting?" sahutnya mengelak pernyataanku.
"Kamulah, siapa lagi?" tanyaku sambil tersenyum senang.
"Aku mandi dulu, abis itu kamu buruan mandi," kata Satya yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh, kenapa aku harus buru-buru mandi abis kamu?" sahutku bingung.
"Supaya kita bisa itu," jawab Satya sembari mengangkat kedua alisnya dan tersenyum licik.
"Itu apa?" tanyaku polos.
"Kayak kemarin malam, Sayang," jawab Satya sembari mencium keningku.
"Apa? Lagi?" sahutku kaget.
"Iya dong." Satya segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi, Satya duduk di atas ranjang dan memainkan ponselnya sembari menungguku selesai mandi. Kemudian, kami kembali melakukannya lagi malam ini sebanyak dua ronde. Lalu, kami berdua tidur dengan tubuh yang kelelahan, namun dengan hati yang bahagia.
Bersambung......
Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤
Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.
Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.