Eternity Love

Eternity Love
Satya Mabuk



Aku tahu kalau saat ini Jessica mencoba untuk membuatku marah terhadap Satya. Aku yakin jika aku marah maka musuh akan semakin senang karena mereka bisa mengambil keuntungan dari kemarahanku kepada Satya.


Aku pun menghela napas panjang sambil berkata dengan nada tegas, "Bibi, saya tau kalau Satya memang pernah mencintai wanita ini. Namun, saya yakin Satya bukan pria yang tidak punya prinsip. Begitu Satya memutuskan untuk menikahi saya, maka Satya pasti tidak akan kembali bersama dengan mantannya."


"Kamu begitu percaya sama suami kamu?" tanya Jessica dengan senyum liciknya, seolah meragukan rasa percayaku terhadap Satya.


"Aku menikah dengan Satya karena aku percaya sama Satya. Kalau bibi ga percaya, bibi bisa tunggu dan lihat saja nanti," jawabku sambil tersenyum.


"Ok. Hari ini bibi udah kasih tau kamu faktanya. Ke depannya, bibi harap kamu bisa membuktikan bahwa suami kamu tidak berselingkuh di belakangmu dengan mantannya," sahut Jessica menegaskan.


"Bibi ga perlu khawatir soal itu," ucapku sambil tersenyum lebar.


"Ok. Kalau begitu, bibi pergi dulu," sahut Jessica sembari bangkit berdiri dengan wajah masam.


"Wanita yang Satya nikahi itu benar-benar sulit ditipu," gumam Jessica begitu ia keluar dari pintu rumahku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satya dan kedua sepupunya sudah tiba di salah satu ruangan VIP di sebuah restoran yang dikirimkan oleh Jessica kepada mereka bertiga. Namun, Jessica sendiri masih belum tiba hingga saat ini.


"Sudah jam 7, kenapa bibi masih belum datang?" tanya Satya kebingungan. Tidak biasanya bibinya akan telat selama 1 jam.


"Saya juga tidak tahu, Kak," sahut Joanna sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa bibi baru datang jam segini?" tanya Satya heran. Meski Satya kesal, tapi ia tetap menahan ekspresi wajahnya supaya terlihat seperti biasanya.


"Maaf ya, bibi tadi abis dari salon. Blow rambutnya lama, 3 jam baru selesai."


"Silakan duduk, Bi," ucap Satya dengan sopan.


"Jadi, bagaimana menurut bibi tentang produk kita?" tanya Satya sambil mengangkat kedua alisnya.


"Menurut bibi, produknya udah bagus kok. Kita cuma perlu investasi modal di kemasannya aja," jawab Jessica dengan santai.


"Tapi menurut saya, kita harus mengutamakan pelayanan kita kepada para pelanggan. Produk dan kemasan yang bagus memang menarik pelanggan, tapi pelanggan bisa menjadi pelanggan yang setia kalau kita melayani mereka dengan sepenuh hati," ucap Satya mengingatkan.


"Kali ini, saya setuju dengan pendapat Satya," sahut Jonathan sambil tersenyum.


"Menurut saya, kita melakukan inovasi produk memang bagus. Namun, hari natal sudah dekat. Kita bisa merilis produk baru khusus untuk hari natal. Selama kita tahu siapa target market kita, produk baru ini akan laris manis di pasar," ucap Joanna memberikan ide.


"Merilis produk baru khusus untuk hari natal terlalu beresiko. Saya suka semangat Anda, tapi kita juga harus mengelola modal dari para investor dengan baik. Saya memutuskan untuk membuat kemasan yang mengangkat tema natal, namum produknya tidak perlu kita buat lagi," balas Satya menegaskan.


"Kalau begitu, kita bagi tugas saja. Saya akan mengurus 55 cabang perusahaan yang ada di daerah Jakarta. Selebihnya, kalian atur sendiri," ucap Jessica sembari mengambil gelas wine yang ada di depannya.


"Oh, ya. Kita berempat akan melakukan riset produk ke Cina tiga hari lagi. Persiapkan diri kalian dengan baik," imbuh Jessica sembari tersenyum.


Jessica pun menyalami semua orang yang duduk bersama dengannya. Setelah itu, ia segera meninggalkan restoran itu.


"Kak, apa saya boleh memegang cabang perusahaan kita yang ada di Bandung?" tanya Jonathan meminta izin.


"Tentu saja boleh," sahut Satya sembari mengambil gelas wine miliknya. Ia pun meneguk segelas wine itu dengan cepat.


"Apa yang bisa saya bantu, Kak?" tanya Joanna dengan antusias.


"Mau, tapi kenapa kakak kadang bicara santai dan kadang bicara serius dan sopan sekali?" tanya Joanna bingung.


"Ingat, di dalam setiap obrolan saat kita membicarakan bisnis, kita sebaiknya berbicara memakai bahasa formal."


"Iya, Kak. Aku udah ingat kok," sahut Joanna sambil tertawa.


"Kak, kita udah lama ga bisa kumpul bertiga kayak sekarang. Gimana kalau kita minum dulu sempai puas?" tanya Jonathan menawarkan.


"Kamu tahu 'kan kalau aku ga kuat minum?" sahut Satya sembari menatap tajam ke arah adik sepupunya itu.


"Ayolah, Kak. Lagian, mama juga udah pergi. Kapan lagi kita boleh minum wine sepuasnya?" bujuk Jonathan dengan nada serius.


"Tolong keluarin wine yang paling mahal di sini," ucap Jonathan sembari menekan tombol yang ada di atas meja untuk memesan makanan dan minuman.


Beberapa menit kemudian, seorang waitress datang membawakan sebotol wine dan beberapa gelas. Ia segera membukakan tutup botol wine itu dan menaruh gelas-gelasnya di atas meja.


"Ini wine dari California ya?" tanya Joanna penasaran.


"Iya, Kak. Ini wine paling mahal yang kami impor langsung dari California," jawab waitress itu sambil tersenyum ramah.


"Ok, terima kasih," ucap Joanna sambil tersenyum.


"Sama-sama, Kak," sahut waitress itu. Kemudian, waitress itu langsung pergi dari situ.


Jonathan pun segera menuangkan wine di dalam botol itu ke dalam gelas setiap orang sambil berkata, "Kita habisin satu botol ini bertiga. Kali ini saja, Kak. Anggap saja untuk kesuksesan rencana produk kita yang akan segera kita pasarkan kepada para pelanggan."


"Ok. Kamu udah tuang wine ke dalam gelasku, aku harus meminumnya," sahut Satya sembari mengambil gelas itu.


Mereka pun bersulang dan menghabiskan satu botol wine itu bersama-sama. Satya merasa kepalanya begitu pusing karena ia memang tidak kuat minum. Untungnya, Raka segera menuntun Satya keluar dari restoran itu. Raka juga mengantarkan Satya pulang ke rumah bahkan sampai ke kamar.


"Nona Muda, Tuan Muda tadi minum wine sama kedua sepupunya. Tuan Muda agak mabuk sekarang. Tolong jaga Tuan Muda ya," ucap Raka sembari menyerahkan tubuh Satya kepadaku.


"Sayang, kenapa kamu cantik banget hari ini?" tanya Satya sambil memeluk erat tubuhku.


"Kamu lagi mabuk, ya?" sahutku penasaran. Aku mencium bau wine yang memabukkan dari tubuh Satya.


"Engga, Sayang. Aku sadar banget sekarang," jawab Satya mengelak.


"Kamu istirahat dulu aja," ucapku sembari menuntun Satya ke atas ranjang.


Begitu Satya naik ke atas ranjang, ia langsung menciumku dengan penuh hasrat. Ciumannya mulai turun ke leherku dan akhirnya Satya ingin melakukan hubungan suami-istri denganku.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.