Eternity Love

Eternity Love
Satya Sakit



"Aku bisa berseluncur!" seruku sambil tersenyum bahagia. Saking senangnya, aku mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya aku pun terjatuh di atas es yang licin itu. Seluruh tubuhku terasa sakit, tapi aku berusaha untuk bangkit berdiri.


Satya langsung menghampiriku dan menggenggam kedua tanganku.


"Pelan-pelan," kata Satya sembari membantuku berdiri. Namun, aku tidak terbiasa berdiri di atas arena seluncur es yang licin sehingga tubuhku terjatuh dan menimpa Satya sampai ia juga ikut jatuh bersamaku.


"Maaf, aku malah bikin kamu jatuh." Aku menundukkan kepalaku, merasa bersalah kepada Satya.


"Gapapa Sayang, jatuh di sini itu hal biasa. Semua orang yang jago berseluncur awalnya juga jatuh," sahut Satya sambil tersenyum. Kemudian, kami berdua pun bangun dengan sekuat tenaga sampai kami berhasil berdiri lagi dan kembali berseluncur.


Setelah selesai berseluncur, kami pun memutuskan untuk makan malam karena perut kami terasa lapar. Satya membawaku ke restoran Italia yang ada di dalam mal itu. Ia memesan satu loyang pizza untuk kami makan berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Begitu Satya selesai memarkirkan mobilnya di garasi, ia segera menuju ke kamarnya untuk mandi. Namun, Satya tetap menggaruk tubuhnya meski ia sudah mandi.


"Kenapa kamu garuk-garuk badan terus dari tadi?" tanyaku prihatin.


"Gatel banget," gumam Satya sembari terus menggaruk tubuhnya.


"Ada apa memang?" tanyaku kebingungan.


Aku segera membuka baju Satya untuk memeriksa tubuhnya. Aku sangat terkejut mendapati bahwa adanya bilur di tubuh Satya. Selain itu, warna kulitnya berubah menjadi kemerahan dalam beberapa menit.


"Kenapa kulit kamu jadi merah begini? Mau aku anter ke UGD ga?" tanyaku panik.


"Ga usah. Telpon Dokter Ken aja sekarang. Suruh dia dateng ke sini," sahut Satya yang masih terus menggaruk seluruh bagian tubuhnya dengan kasar.


Aku pun mengambil ponsel Satya dari kantung celananya. Aku cukup terkejut karena ponselnya tidak dikunci. Lalu, aku segera mencari nama Dokter Ken di kontaknya. Setelah itu, aku langsung menelepon Dokter Ken untuk meminta tolong kepadanya.


"Halo, Dokter Ken? Saya Ananda, Istrinya Satya. Boleh ga saya minta tolong Dokter buat dateng ke rumah Satya sekarang? Satya bilang badannya gatel banget," ucapku di telpon.


"Halo, Ananda. Oke, saya dateng ke sana sekarang juga," jawab Ken sembari buru-buru menuju ke pintu keluar rumah sakit. Kemudian, panggilan itu dimatikan oleh Ken karena ia harus menyetir ke rumah Satya sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dokter Ken sedang memeriksa tubuh Satya. Ia menggelengkan kepalanya sambil menatap tajam ke arah Satya.


"Lu keterlaluan, bro. Harusnya lu ga boleh kena udara dingin. Lu ngapain aja tadi?" tanya Ken dengan tatapan menyelidik.


"Gua main seluncur es sama Istri gua," jawab Satya jujur.


"Lain kali jangan main lagi. Gua tau lu suka main seluncur es dari dulu, tapi jangan sampe lu lupa jaga kesehatan." Ken mengingatkan sahabatnya itu.


"Iya, Ken. Makasih," kata Satya sambil tersenyum.


"Gimana, Dok? Satya sakit apa?" tanyaku penasaran.


"Begini, seluruh tubuh Satya gatal karena dia alergi dingin," jawab Ken sambil menghela napas panjang.


"Apa? Ada penyakit alergi dingin?" sahutku tidak percaya.


"Iya. Sekarang Satya baik-baik aja kok. Dia cuma perlu istirahat dan Anda harus bisa memastikan agar Satya ga kena udara dingin lagi. Selain itu, jangan sampe dia makan atau mengonsumsi minuman yang dingin. Mandi juga harus pake air hangat," ucap Ken mengingatkan.


Aku pun mengangguk dan berkata, "Oke, makasih, Dok."


"Obatnya udah saya taruh di atas meja. Satya harus minum obat itu secara rutin supaya cepat sembuh dari alerginya," kata Ken sambil tersenyum.


"Makasih, Dokter. Maaf sudah mengganggu Anda malam-malam begini."


"Biar saya anter, Dok," tawarku sambil membukakan pintu kamar agar kami bisa keluar dari kamar.


"Satya sebenernya ga bisa kena udara dingin. Dia memang ada alergi dingin sejak lahir," kata Ken menjelaskan.


"Ok, Dok. Terima kasih ya," sahutku sambil tersenyum ramah.


"Sama-sama, jaga Satya baik-baik ya. Aku ga pernah liat dia mau kena dingin demi seorang wanita. Dia pasti cinta banget sama kamu, Ananda," kata Ken sambil tersenyum.


Aku hanya bisa tersenyum kecut setelah mendengar penjelasan dari Ken. Setelah itu, Ken pun pergi dan dia menolak untuk diantar ke bawah olehku. Lalu, Satya langsung berteriak memanggil namaku.


"Ananda!" seru Satya.


"Apa?" sahutku sembari berjalan memasuki kamar.


"Kamu lama banget sih di depan. Kamu ngobrolin apa aja sama Ken?" tanya Satya dengan kedua matanya yang menatap tajam ke arahku.


"Dia kasih tau aku kalau kamu ga bisa kena udara dingin,"


"Oh, itu doang?"


"Satya!" seruku kesal.


"Ada apa, Sayang?" tanya Satya sambil tersenyum. Ia mengira aku sengaja ingin menggodanya.


"Kalau kamu udah tau kamu ga bisa kena dingin, kenapa masih main seluncur es kemarin?" sahutku sambil menatap tajam ke arahnya.


"Karena udah lama banget aku ga main seluncur es. Kalau bukan sama kamu, aku juga pasti udah ga bisa main lagi," jawab Satya lirih.


"Terserah." Aku pun mengabaikannya sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


"Sayang, kamu mau ke mana? Kamu marah sama aku?" tanya Satya khawatir.


"Pikir aja sendiri," ucapku sinis.


"Maafin aku, Sayang. Aku janji ga bakal main seluncur es lagi." Satya menundukkan kepalanya, menunjukkan penyesalan.


"Ngapain minta maaf sama aku? Harusnya kamu minta maaf ke diri kamu sendiri. Gara-gara kamu maksain diri buat main seluncur es badan kamu jadi gatel," ucapku sambil menggelengkan kepala.


"Kamu khawatir 'kan sama aku?" tanya Satya sambil tersenyum senang.


"Engga kok, aku sebel sama kamu. Kamu udah jelas-jelas tau kalau kamu main seluncur es kamu bakal sakit, tapi kamu tetep aja main," sahutku sambil mendengus kesal.


"Masalah main seluncur es memang aku yang salah. Tolong maafin aku, ya?" tanya Satya sambil memohon.


"Iya, tapi kamu jangan ulangin lagi ya," jawabku sambil mengangguk. Aku pun segera mempersiapkan pakaian baru yang akan kupakai setelah mandi.


"Iya, Sayang. Aku janji ga akan ulangin lagi. Kalau kamu ga percaya, kamu boleh cium aku sekarang." Satya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum licik.


"Dasar modus!" seruku sembari buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi itu agar Satya tidak bisa menggodaku lagi.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.