Eternity Love

Eternity Love
Konflik dengan Raisa



"Tapi uang Mama kurang buat bayarin biaya kamar rumah sakitnya, Ananda. Boleh ga kamu minta uang lagi ke Satya?" tanya Raisa dengan nada memelas. Kedua tangannya dirapatkan di depan dada dan ia menundukkan kepalanya, memohon kepadaku untuk kembali meminta uang kepada Satya.


"Mama kira dia mesin ATM yang bisa selalu aku ambil uangnya di dalam rekening kalau aku lagi butuh uang?" sahutku dengan nada tinggi. Aku tidak mengerti apa yang membuat wanita di hadapanku ini begitu ingin meminta uang dari suamiku.


"Bukan begitu, Ananda. Mama suruh kamu minta uang ke Satya karena kita sedang kesulitan ekonomi sekarang. Masa kamu tega sih liat Rey sakit tapi kita ga bisa rawatin dia karena ga ada uang?" Raisa terlihat gugup, namun ia bersikeras ingin membuatku meminta uang lagi kepada Satya.


"Uang seratus juta yang dikasih sama Satya kemarin-kemarin hilang ke mana, Ma? Mama pikir aku ga tau kalau biaya operasi Rey itu cuma 60 juta? 40 jutanya lagi Mama pake buat beli apa?" tanyaku kesal. Wajahku memerah dan kedua tanganku mengepal di samping pinggangku. Andai saja Raisa bukan Mamaku, aku pasti sudah menonjok wajah orang yang ada di hadapanku saat ini.


"Sebenernya Mama pake uangnya buat investasi," jawab Raisa sambil menunduk.


"Mama investasi ke mana? Investasi apa? Kapan Mama investasi?" tanyaku penasaran.


"Kenapa kamu curigaan banget sih sama Mama. Mama tuh udah berpengalaman ya. Kamu ga usah sok pinter deh! Dasar anak tiri ga tau diuntung! Udah dibesarin cape-cape tetep aja durhaka!" teriak Raisa sambil menangis dengan suara kencang. Ia sengaja membuatku terlihat seolah-olah akulah orang yang salah saat ini.


"Mama kenapa nangis? Aku 'kan cuma nanya tentang investasi Mama. Mama jangan nangis dong," ucapku sembari memeluk Mama tiriku yang menyebalkan ini. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin dikutuk menjadi batu seperti Malin Kundang.


"Kamu kayaknya ga percaya ya sama Mama. Mama sedih bukan gara-gara kita ga ada uang, tapi karena Mama juga udah berusaha buat investasi. Kamu malah berdiri di sini dan wawancarain Mama kayak Mama ga bisa cari duit! Mama juga ga mau keluarga kita jadi orang susah terus!" teriak Raisa sambil meraung-raung seperti anak balita yang tantrum ketika tidak dibelikan gulali oleh orang tuanya.


"Iya, Ma. Aku yang salah. Aku minta maaf sama Mama," kataku datar.


Aku harus ngalah sama orang tua, batinku.


"Kalau kamu tau salah, kamu tebus dong kesalahan kamu itu" seru Raisa dengan wajah sinisnya.


"Sekarang Mama mau aku ngapain buat tebus kesalahan aku?" sahutku pasrah.


"Minta uang lagi sana sama suami kamu. Tiga ratus juta ya. Transfer ke rekening Mama secepatnya," ucap Raisa tanpa berpikir panjang.


"Kalau dia ga mau kasih uangnya, gimana dong, Ma?" tanyaku ketus.


"Itu urusan kamu buat bikin dia mau kasih uangnya. Terserah kamu mau pake cara apa. Kamu kasih aja semua yang dia mau dari kamu. Pasti nanti juga dia kasih uangnya. Tiga ratus juta buat Satya mah ga ada apa-apanya," kata Raisa dengan seenak jidat. Seolah-olah aku harus menjual harga diriku kepada Satya saja.


"Kalau dia tetep ga mau kasih uangnya, gimana?" sahutku kesal.


"Kamu itu Istrinya atau pembantunya sih? Kamu 'kan Istri sahnya, jadi kamu punya hak buat dapet harta dari dia."


"Tapi dia 'kan ga cinta sama aku, Ma!" seruku mengingatkan Raisa.


"Cinta ga cinta itu urusan dia, bukan urusan Mama. Pokoknya kamu harus kasih Mama tiga ratus juta. Paling lama hari Senin minggu depan!" perintah Raisa sambil tersenyum licik.


Aku tidak merespon perintahnya. Aku pun menatap ke arah Rey yang sedang tertidur dengan wajahnya yang menggemaskan.


Demi kamu, Rey, Kakak bakal berjuang buat bayarin biaya kamar rumah sakit ini. Kamu harus cepet sembuh, ya. Kakak sayang banget sama Rey, ucapku dalam hati. Entah kenapa setelah itu, tubuh Rey langsung gerak-gerak di atas kasur meski kedua matanya masih tertutup. Bibirnya juga tersenyum.


Kemudian, aku keluar dari kamar dan pergi ke kantin rumah sakit di lantai dasar. Di sana, aku memesan jus stroberi untuk menenangkan diriku. Setelah meminum jus itu, aku kembali naik ke atas dan duduk di kursi yang ada di samping kamar Rey.


"Hai, Ananda. Aku Kevin, kamu masih inget ga sama aku?" sapa seorang pria yang berkulit putih, berkacamata, dan tingginya sekitar 175 cm.


"Hai, Kevin," sahut Ananda dengan suara serak.


"Kamu ngapain duduk sendirian di sini? Mau aku temenin?"


"Engga, ga usah. Aku lagi nunggu dijemput," jawabku datar.


"Oh, ok. Aku di sini karena barusan aku jengukin saudara aku yang sakit usus buntu."


Perasaan aku ga nanya alesan dia dateng ke sini deh, ucapku dalam hati.


"Hmm... yaudah deh, aku pulang duluan, ya. Bye, Ananda." Kevin melambaikan tangan kanannya dengan kaku. Kemudian, ia segera pergi dari hadapanku karena ia tahu bahwa aku masih kesal dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 saat ini. Satya pun datang ke rumah sakit. Ia segera memarkirkan mobilnya di depan lobi karena ia berniat untuk menjenguk Rey.


"Hei, kenapa duduk sendirian di depan kamar?" tanya Satya dengan ekspresi kebingungan.


"Akhirnya kamu dateng juga," ucapku lega.


"Kamu nungguin di sini?" sahut Satya sambil tersenyum.


"Ya... anggep aja begitu." Aku menghembuskan napas kasar.


"Ya udah, aku mau jenguk Rey dulu," kata Satya.


"Kamu... mau masuk ke dalem kamar?" tanyaku bingung.


"Memangnya kenapa? Ga boleh?" balas Satya sembari mengetuk pintu kamar. Lalu, ia menarik lengan kananku untuk melangkah masuk ke dalam bersamanya.


"Permisi, Ma."


"Satya, ayo duduk, Nak," sahut Raisa dengan senyuman teramahnya.


"Halo, Rey," sapa Satya ramah.


"Kakak, dia siapa?" tanya Rey bingung.


"Dia suami Kakak, Rey. Namanya Satya," jawabku sambil tersenyum.


"Kakak menikah sama orang ini?" sahut Rey sambil membelalakkan kedua matanya.


"Iya, Rey. Kenapa memang?" Aku bingung mengamati kedua mata Rey yang mendadak membelalak begitu melihat wajah Satya.


"Dia ganteng, Kak," jawab Rey dengan polosnya.


"Makasih. Rey juga ganteng kok." Satya mengelus kepala Rey dengan lembut. Aura seorang Papa terpancar dari tindakan Satya kali ini. Satya terus mengobrol dengan adik tiriku. Sementara itu, aku dan Raisa tetap diam.


"Ma, aku sama Ananda pulang dulu ya," kata Satya sambil menyalami tangan Raisa.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya," sahut Raisa sambil tersenyum senang. Ia bahkan melambaikan tangan kanannya ke arahku dan Satya.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.