Eternity Love

Eternity Love
Operasi



Aku segera bangkit berdiri dari kasurku karena teringat bahwa hari ini sudah hari Jumat, hari di mana adikku akan menjalani operasi. Aku pun segera mandi dan membuat sarapan untuk diriku dan Satya. Setelah itu, aku harus meminta izin kepada Satya untuk pergi ke rumah sakit.


"Sayang, aku harus pergi ke rumah sakit dari pagi sampe malem buat nemenin adik aku. Kamu bisa beli makan siang diluar, 'kan?" tanyaku sembari menyodorkan piring berisi sarapan pagi untuk Satya.


"Bisa. Tapi aku yang anter kamu ke rumah sakit, ya?" sahut Satya menawarkan.


"Ok, Sayang."


Satya pun menyantap sarapannya dengan lahap dan segera mengenakan sepatu fantovelnya untuk bersiap-siap berangkat ke perusahaannya, The Cloud Group. Kemudian, aku pergi bersamanya menuju ke salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta, tempat di mana adikku dirawat.


Satya langsung menurunkanku di lobi rumah sakit. Aku segera berterima kasih kepadanya dan buru-buru naik ke kamar rumah sakit adikku. Begitu aku membuka pintu kamar itu, aku melihat wajah adikku yang sedang dibius oleh perawat karena ia akan segera menjalani operasi.


Operasi berlangsung selama beberapa jam hari ini. Aku dan Raisa menunggu di depan ruang operasi dengan keadaan cemas. Setelah operasinya selesai, dokter langsung menjelaskan keadaan adikku, dan ia mempersilakan kami untuk bertemu dengan adikku yang sudah dipindahkan ke kamar pasien.


"Rey, Kakak kangen banget sama kamu." Aku langsung berlari memeluk adik laki-lakiku satu-satunya di dunia ini, meski ia adalah adik tiriku.


"Kakak!" seru Rey dengan girang. Bocah berusia 8 tahun tidak akan mengerti berapa khawatirnya orang-orang dewasa di sekitarnya saat tahu bahwa anak sekecil dirinya harus dioperasi.


"Kakak ke mana aja? Kok Kakak ga jagain aku di rumah sakit?" tanya Rey dengan wajah polosnya.


"Kakak udah menikah, Rey. Tapi sekarang Kakak bakal temenin kamu sampe malem."


"Menikah sama siapa, Kak? Kapan Kakak menikah?"


"Kakakmu menikah sama CEO perusahaan The Cloud Group, perusahaan terbaik di seluruh Asia. Mama yang atur pernikahan mereka," celetuk Raisa dengan ketus.


"Apa maksud Mama?" Kedua mataku membelalak mendengar pernyataan Raisa barusan.


"Kamu ga denger? Mama kerja sama dengan Papanya Satya untuk menikahkan kalian berdua."


Hatiku langsung berasa seperti diiris oleh pisau. Bahkan mungkin rasa sakitnya lebih parah daripada diiris oleh pisau.


"Tapi kenapa, Ma?" tanyaku tidak mengerti.


"Kamu juga udah tau alesannya. Mama butuh uang banyak buat bayar tagihan rumah sakit adik kamu," jawab Raisa dengan ketus.


"Jadi Mama jual anak Mama sendiri demi uang?" balasku sambil menahan air mataku.


"Enak aja, kamu tuh jangan ngomong sembarangan ya sama Mama! Mama ga jual kamu ya. Mama udah rawatin kamu dari kecil sampe besar. Mama masakkin kamu setiap hari, kasih duit jajan setiap hari, emang belum cukup buat kamu? Anggep aja kali ini Mama nikahin kamu sama Satya sebagai bentuk bakti kamu ke Mama," sahut Raisa sambil mendengus.


"Ok, Ma." Aku pun segera keluar dari kamar itu dan memilih untuk keluar dari rumah sakit agar aku bisa menghirup udara segar.


"Kenapa semuanya jadi begini? Apa salahku, Tuhan? Kenapa Mama bisa kerja sama dengan Papanya Satya?"


Aku bertanya kepada diriku sendiri sambil menangis sekencang-kencangnya diluar pintu lobi rumah sakit. Angin bertiup dengan kencang dan awannya mendung, menandakan langit akan segera menurunkan hujan. Namun, suasana hatiku yang buruk membuatku tetap ingin berada di luar sekalipun aku tahu akan kehujanan.


"Hei, ini hujan tau! Ayo masuk ke mobil," ajak Satya yang entah sejak kapan sudah memberhentikan mobilnya di depanku. Aku pun mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya yang tampak cemas dengan keadaanku yang sudah basah kuyup saat ini.


"Satya? Kamu ngapain di sini?"


"Kamu yang ngapain berdiri sendirian di luar padahal udah tau bakal kehujanan?" tanya Satya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo cepet masuk!" serunya sambil menatap tajam ke arahku. Aku langsung membuka pintu mobil dan duduk di kursi di sebelahnya.


"Aku lagi sedih tau! Kenapa kamu harus teriak-teriak?" tanyaku kesal.


"Maaf, aku takut kamu sakit kalau kehujanan terus di luar."


"Kamu flu," kata Satya sembari memutar stir mobil menuju ke parkiran basement di rumah sakit. Ia segera memarkirkan mobil sedan hitamnya.


"Kamu tunggu di sini aja. Aku beli obat dulu ke apotek yang ada di sebelah rumah sakit ini."


Begitu Satya masuk ke dalam apotek, ia langsung berpapasan dengan seorang dokter yang ia kenal sebagai teman SMA-nya dulu.


"Satya, kenapa lu dateng ke sini?" tanya Ken, seorang dokter tampan, tinggi, dan putih yang baru saja selesai menuliskan sebuah resep obat.


"Gua mau beli obat flu, Ken."


"Oh, kebetulan gua barusan resepin obat flu buat pasien gua."


"Tolong kasih obat ini ke Satya ya," kata Ken.


"Baik, Dok."


"Ini obat flunya ya, Pak. Jangan lupa dikonsumsi 3 kali sehari sesuai ketentuannya."


"Baik. Makasih," kata Satya sembari mengambil obat itu dan mengeluarkan kartu debitnya.


"Ga usah. Udah gua bayarin," kata Ken sembari menepuk pundak Satya.


"Jangan, Ken. Biar gua aja yang bayar," sahut Satya sambil menyodorkan kartu debitnya ke arah kasir.


"Udahlah, obat flunya buat Istri lu, 'kan? Ambil aja."


"Makasih, tapi kok lu tau obatnya buat Istri gua?" tanya Satya bingung.


"Dari tadi muka lu keliatan panik. Muka lu keringetan terus telinga lu merah. Lu pasti khawatir banget sama Istri lu," jawab Ken menjelaskan. Satya hanya tersenyum tipis dan segera kembali ke mobil.


"Nanti kalau udah sampe di rumah langsung minum ya obatnya," kata Satya datar.


"Iya, makasih ya Sayang. Maaf tadi aku bentak kamu," sahutku dengan perasaan menyesal.


"Aku juga mau minta maaf. Tadi aku yang udah teriak duluan ke kamu."


"Iya, aku maafin," kataku sambil mengangguk.


Apa aku bener-bener khawatir sama dia? tanya Satya di dalam hati.


Kami pun segera pulang ke rumah karena langit sudah gelap. Begitu kami sampai di rumah, Satya langsung menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikan gelas itu kepadaku.


"Makasih," kataku sembari menerima gelas itu. Kemudian, Satya membukakan bungkus obatnya untukku. Aku segera meminum obat flu itu.


"Kamu udah merasa lebih baik, Sayang?" tanya Satya dengan perasaan khawatir.


"Udah kok. Makasih ya," jawabku sambil tersenyum lega karena akhirnya tubuhku terasa lebih baik.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.