
Kepala Yuehen serasa ingin pecah dengan ulah dua putranya yang super aktif. Terlebih di hari Minggu pagi seperti ini, duo Song kecil merengek meminta pergi ke taman bermain kota. Yuehen harus mengawasi mereka yang tidak bisa diam meski satu detik. Mereka seperti memiliki tenaga yang tidak terbatas. Ditambah perutnya yang mual dan pusing membuatnya sangat tersiksa.
"Ibuuu ayo kita pergi ke sana, " ucap Yu sambil menunjuk tempat bermain. Dia menarik tangan Yuehen yang berada di tubuh Mo qi qi.
"I--ya, " jawab Yuehen lemah.
"Tidak, aku ingin kesana, " bantah Yuo. Dia menarik tangan Yuehen satunya.
Akhirnya perdebatan mereka berdua tidak terelakkan. Yuehen merasa ingin meledak marah dan memberikan pukulan pada bokong kedua anaknya.
"Sssth Diam! " ucap Yuehen tegas. Sayangnya tindakannya itu membuat Yu dan Yuo menangis keras.
Para pengunjungpun menoleh pada kedua anak imut yang menangis ini. Yuehen pun merasa ingin ikut menangis juga.
"Cup cup putraku, sayang...jangan menangis okey?"
Mo qi qi yang melihat Yuehen kebingungan masih asyik dengan es krim-nya. Dari jauh dia hanya melihat adegan itu.
"Mengapa dia tidak menyuruh pelayan yang mengurus mereka. Rasakan tuh. "
"Yuehen, ayo kita ke restoran. Anak-anak biar bersama ibunya. " Qingyun mengajak Mo qi qi agar menikmati kopi di taman hiburan. Lagi pula tenaganya tidak dibutuhkan untuk menjaga anak dan istrinya. Qingyun sendiri bingung mengapa Qi qi di sana kebingungan merawat anaknya sedangkan di sampingnya ada dua babby sitter.
Mo qi qi mengangguk. Ketika ia berbalik tanpa sengaja sudah menyenggol Lin yue yang kebetulan berada di sini. Wanita itu terjatuh bersama dengan barang-barangnya.
"Maafkan aku, " Ucap Mo qi qi. Dia terheran-heran saat tau wanita itu adalah Linyue. Jadi Mo qi qi sengaja membiarkan Lin yue bangun sendiri. Setidaknya dia dan Qingyun membantunya mengambil barang yang tercecer.
"Oh, Hen gege. Aku tidak menyangka kita akan sering bertemu. "
Mo qi qi hanya mengangguk dan meninggalkan Linyue sendiri. Ini sudah kedua kalinya mereka secara tidak sengaja bertemu. Mo qi qi agak curiga dengan hal tersebut.
Qingyun mengikuti Mo qi qi mengabaikan Linyue. Dia merasa jika wanita ini memiliki motif tersendiri. Sangat jarang kebetulan seperti ini terjadi, kecuali memang ada unsur kesengajaan.
.
.
.
Sampai di rumah, Mo qi qi segera mandi dan beristirahat. Ia kembali mengabaikan Yuehen yang harus mengurusi kedua putranya. Mo qi qi memang sengaja melakukannya agar Yuehen tau jika wanita tidak hanya bersantai di rumah. Tetapi mereka bekerja tanpa henti mengurus keluarga.
"Qi er... " Yuehen menempel pada Qi qi.
"Suamiku, lebih baik kita berpisah, " ucap Qi qi.
"Apa!? " Yuehen terkejut dengan ucapan Mo qi qi. Dia sama sekali tidak menyangka jika Qi qi meminta cerai.
"Mengapa kau mengatakan hal. konyol seperti itu Qi er apa kau tidak mencintaiku lagi!? " teriak Yuehen.
"Kau yang tidak mencintaiku lagi Yuehen. Kau hanya mencintai tubuhku. Bukan jiwaku. Jika tidak kau tidak akan betah melihat kami berpisah. "
Mo qi qi sudah tidak tahan lagi. Dia turun dari ranjang dan mengambil koper.
"Tidak. Kau tidak boleh pergi kemana-mana! "
"Sudah kubilang aku ingin berpisah. Jadi kau tidak berhak mengaturku, tidak dengan tubuhku. "
Mo qi qi selesai mengepak pakaiannya. Dan setelah dia sadari ternyata dia mengepak baju perempuan. Mendesah frustrasi Mo qi qi meninggalkan rumah Yuehen menuju apartemen. Dia juga terpaksa mengabaikan benda yang menghalangi jalannya yang berada diantara kedua pahanya. Dia benar-benar tidak terbiasa dengan ini.
"Qi er!"
Mo qi qi tidak memperdulikan teriakan Yuehen. Dia masih terus berjalan keluar pintu rumah.
.
.
.
"Qi er, " desah Yuehen.
"Aku tidak ingin seperti ini. Bukan ini yang aku inginkan. "
Yuehen merasakan emosi luar biasa di dadanya. Untuk pertama kali dia merasa ketakutan.
"Aku tidak ingin berada di tubuh ini lagi. Sudah cukup aku bermain-main. "
Keesokan harinya, Yuehen terbangun di tempat yang ia kenal. Ini adalah Villa mereka di pinggir danau.
Yuehen menyadari jika dirinya kembali lagi ke tubuh aslinya.
"Astaga tubuhku menjadi berat. Pasti Qi qi tidak pernah olah raga. "
Tetapi ia terkejut melihat Linyue berada di sampingnya.
"Apa yang dilakukan Mo qi qi tadi malam!? " Yuehen segera bangun. Dia melihat tubuhnya telanjang.
"Selamat pagi Hen gege, " sapa Linyue sambil tersenyum.
Plak!
Sebuah tamparan melayang di pipi Linyue. Wanita itu sangat terkejut dengan perlakuan Yuehen.
.
.
.
Sementara itu Mo qi qi yang terbangun di tubuh aslinya berteriak senang. Sayangnya samar-samar dia mendapatkan ingatan jika Linyue muncul di depannya pada saat menuju villanya di tepi danau. Kemudian dirinya yang tidak curiga apapun diserang oleh sesuatu yang mengakibatkan dirinya pingsan.
"Ini gawat!! " Mo qi qi segera beranjak dari ranjang. Pada saat selimut terjatuh dari tubuhnya Mo qi qi sangat terkejut dengan kondisi tubuhnya yang hanya memakai lingeria tembus pandang.
"Dasar mesum. "
Tapi Mo qi qi tau jika bukan saatnya menguruk kemesuman Yuehen. Dirinya tau jika Linyue sedang melakukan skema licik. Dia harus segera menemukan Yuehen agar tidak terjatuh pada skema Linyue.
"Aku akan membunuh wanita itu! "
Mo qi qi mengambil kimono tidurnya dan menuju mobil di garasi. Dia mengabaikan tatapan penjaga yang terkejut melihatnya keluar pada dini hari.
.
.
.
Linyue memegangi pipi bekas tamparan Yuehen. Namun dirinya tidak menangis justru menyeringai.
"Hen gege sebaiknya kau tidak membuatku marah atau aku akan membocorkan malam ini pada istrimu, " ancam Linyue.
Wanita ini nampak menjijikkan di mata Yuehen.
"Dasar kau wanita hina!!! " Teriakan dari pintu kamar di susul sebuah bogem mendarat di tubuh Linyue. Mo qi qi menjambak wanita itu. Akhirnya terjadi aksi pertengkaran antar ibu-ibu di kamar villa tepi danau Mo qi qi.
"Kalian lanjutkan, Qi er jangan bunuh dia. Kita tidak ingin melanggar hukum.
"Tentu saja, aku hanya akan mematahkan tangannya. "
Linyue sungguh terkejut melihat Mo qi qi yang memiliki tenaga badak.
tbc.