Escape From You

Escape From You
Well Done.



Hari ini, Mo qi qi bertekad untuk membalas Yuehen yang membuatnya terlihat konyol. Dia ingin mencari ide dan menyiapkan rencana untuk Yuehen.


"Bibi Liu, apa kau memiliki buah pisang? " Mo qi qi muncul di dapur. Di sana bibi Liu tengah memasak makanan.


Bibi Liu dengan senang hati mengambil pisang yang baru ia beli dari swalayan.


"Bibi baru beli tadi pagi. Ini masih segar dan jenis pisang yang manis. " Bibi Liu menyodorkan pisang berukuran sedang pada Mo qi qi, tetapi gadis itu menolaknya.


"Tidak bibi, aku menginginkan pisang yang berukuran besar. Lebih besar lebih baik. "


Mata Mo qi qi menyapu meja yang dipenuhi bahan belanja bibi Liu. Akhirnya ia menemukan pisang yang berukuran cukup besar dan membawanya.


"Aku ambil yang ini, Bi. "


"I-iya, silakan. "


'Ternyata nona Mo suka yang besar-besar ya,' batin bibi Liu.


"Em, apakah nona Mo ingin memakan pisang itu sendiri?" tanya bibi Liu.


"Bukan, ini untuk Yuehen. Kurasa ia menyukai ini sama sepertiku. " Setelah Qi qi menjawab, ia segera meninggalkan dapur dan menuju ke tempat lain.


Paman Tang tiba di dapur, ia menaruh beberapa buah yang baru di petik dari kebun belakang rumah. Melihat bibi Liu melamun, paman Tang bertanya padanya, "Apa yang kau lamunkan, Bibi Liu? "


"Oh, ah tidak. Aku baru tau jika nona Mo menyukai pisang yang besar," jawab bibi Liu.


Paman Tang tercengang oleh ucapan yang dilontarkan oleh bibi Liu. Dia awalnya ingin menanyakan lebih lanjut masalah tadi tapi ia urungkan. Bagaimanapun orang bisa salah paham dengan ucapan bibi Liu jika terdengar orang lain.


'Semoga tidak ada bencana yang muncul karena pisang,' batin paman Tang.


Di sisi lain, Mo qi qi menaruh pisang itu di meja makan. Ia ingin mengambil satu pisang dan memakannya lagi pula sisa pisang yang lain masih cukup untuk Yuehen. Jadi Mo qi qi kembali ke dapur dan mencari pisau dan garbu.


Rupanya bibi Liu tidak berada di dapur, di situ hanya ada bibi Shu dan pengurus rumah, paman Chen.


"Anda membutuhkan sesuatu, Nona? "


"Benar, aku ingin mengambil pisau. "


Bibi Shu dan paman Chen saling berpandangan. Mereka tentu berpikir negatif mengingat hubungan nona Mo dan Yuehen tidak baik.


'Jangan-jangan pisau itu digunakan untuk menyakiti tuan muda Song, ' batin mereka berdua.


"Kalau boleh tau untuk apa nona Mo mengambil pisau itu?"


"Oh, aku membutuhkannya untuk memotong pisang Yuehen, " jawab Qi qi santai. Dia tidak menyadari jika kedua orang yang berada di dapur memucat mendengar ucapan Mo qi qi.


'Ini bahaya, keturunan keluarga Song bisa berakhir di tangan nona Mo, ' batin paman Chen.


'Aku tidak menyangka jika nona Mo begitu kejam hingga berniat memotong pisang tuan muda Song,' batin bibi Shu.


"Kalau pisaunya sekecil ini maka aku harus memotongnya dua kali, lebih baik aku mencari pisau yang lebih besar, " guman Mo qi qi. Tetapi suaranya masih bisa didengar oleh pengurus Chen. Dia semakin memucat.


"No-nona Mo, semuanya masih bisa dibicarakan. Ada baiknya tidak terbawa emosi sesaat," ucap pengurus Chen.


"Maksud paman Chen aku harus ijin Yuehen? Kalau itu masalahnya paman bisa tenang. Aku jamin dia tidak akan keberatan. "


Mo qi qi akhirnya mendapatkan pisau yang cocok untuk memotong pisang. Dia meninggalkan dapur dan berpikir skema apa yang akan ia buat untuk membalas Yuehen.


Sebelum Mo qi qi terlalu jauh meninggalkan dapur, samar-samar ia mendengar pengurus Chen menghubungi sekertaris Sin mei mei.


"Halo, nona Sin. "


"..."


"Sampaikan pada tuan muda Song agar berhati-hati. Nona Mo sepertinya sedang kesal sehingga berniat memotong pisang tuan muda Song. "


"..."


"Iya, itu akan memutuskan garis keluarga Song. Baiklah, aku tutup teleponnya. "


Mo qi qi yang sedang bersembunyi di balik tembok menyeringai lebar. Kini ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk membalas Yuehen. Ini semua berkat paman Chen.


Yuehen, bersiaplah...


.


.


.


Di Song ltd. Yuehen mengernyitkan alisnya melihat wajah Sin mei mei memucat setelah menerima telepon.


"Apa ada yang salah? "


Sin mei mei nampak ragu mengatakan apa yang baru saja ia dengar dari pengurus Chen. Bisa saja ia terkena amarah Yuehen setelah menyampaikan apa yang ia dengar. Demi sang bos akhirnya Sin mei mei bersedia menelan resikonya dan mengatakan apa yang ia dengar dari pengurus Chen.


"Nona Mo berniat memotong pisang anda, dia bahkan menyiapkan pisau untuk melakukan rencananya itu, " ujar Sin mei mei.


Yuehen tertegun hingga tanpa sadar menjatuhkan pena yang ia pegang.


'Mo qi qi begitu marah padaku hingga nekat ingin memutus garis keturunanku. Apa aku terlalu berlebihan dalam menggodanya,' batin Yuehen.


Melihat aura mendung seolah sekumpulan awan hitam berada di atas kepala Yuehen, Sin mei mei segera pamit. Dia masih sayang nyawa dan tidak ingin tenggelam dalam gelombang kemarahan Yuehen.


"Saya permisi, " pamit Sin mei mei segera.


'Semoga Dewa melindunginya,'batin Sin mei mei.


.


.


.


"Kau butuh seratus kali reinkarnasi untuk bisa menang dariku, Yuehen. Fufufu. "


Mo qi qi memperhatikan pisang, gunting besar--lebih tepatnya sangat besar dan juga tanaman bonsai.


"Beruntung aku mendengar percakapan pengurus Chen dengan sekretaris Yuehen, Kak Sin. Dengan demikian aku tidak perlu repot mencari ide bagaimana cara membalas Yuehen. " Mo qi qi masih mondar mandir menunggu kedatangan Yuehen. Jika dia sampai tidak datang maka jangan salahkan dirinya yang nekat datang ke kantor. "


Suara mobil akhirnya terdengar. Mo qi qi menyeringai lebar dengan kedatangan Yuehen.


'Dia pasti tidak tau jika aku berada di sini. '


Pemikiran Mo qi qi tidak meleset sama sekali. Yuehen sebenarnya berniat menuju ruang kerja agar menghindari Mo qi qi yang marah. Tanpa di duga, ketika dia membuka pintu justru Mo qi qi berada di ruang kerjanya bersama gunting dan bonsai kecil. Dia tidak memperhatikan buah-buahan yang terletak di meja dekat pintu masuk.


Glek.


'Pisangku dalam bahaya? ' batin Yuehen.


"Qi er,  kau disini? " tanya Yuehen pura-pura terkejut meski aktingnya sangat buruk. "A-apa kau merindukanku hehehe? "


Mo qi qi ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Dia sungguh tidak menyangka dewa iblis ini bertingkah konyol. Lihatlah sikapnya yang berusaha tentang padahal keningnya sudah basah dengan keringat.


Mo qi qi berdiri dari tempat duduknya. Dia mengambil gunting yang besar itu dan dengan kejam memotong bonsai yang berada di sampingnya.


Kres.


Kres.


"Ah, rupanya gunting ini cukup tajam untuk memotong sesuatu... contohnya seperti memotong pisang," guman Qi qi pada dirinya sendiri.


Keringat Yuehen semakin mengucur deras. Terlebih Mo qi qi memutar matanya yang sejernih bintang di langit ke arahnya.


"Aku ingin memotong pisangmu, " ucap Mo qi qi.


"Qi er, kita bisa bicarakan ini, " rayu Yuehen.


Mo qi qi perlahan mendekat ke arah Yuehen. Seperti gadis yang penuh dendam, dia memainkan gunting di tangannya itu.


Crek, crek, crek.


"Aku bersumpah pada langit tidak akan menggodamu lagi. Jadi turunkan gunting itu, Okey? "


Mo qi qi masih berjalan mendekat, ia memperlakukan ucapan Yuehen seperti angin.


"Aku akan melakukan apapun agar kau tidak marah lagi. Jadi mari kita berdamai, " ucap Yuehen.


"Apa kompensasi buatku? selama ini kau sering menindasku, " tanya Mo qi qi. Meskipun begitu dia masih mengacungkan gunting itu ke arah Yuehen.


"Apapun, mintalah apapun. Aku, Yuehen pasti akan menurutimu. ''


'Wah, tawaran yang cukup menarik, ' batin Mo qi qi. 'Sebaiknya aku berhenti mempermainkannya. Dari pada nanti tidak mendapatkan apapun, ' lanjutnya dalam hati.


"Huh, baiklah, " dengus Mo qi qi. Dia segera menuju Yuehen dan melewatinya. Mo qi qi menuju mangkok buah yang di dalamnya tertata pisang yang sudah ia potong tadi.


Saat Mo qi qi mendekat, jiwa Yuehen hampir seperti ditarik dari raganya. Wajahnya seolah tidak memiliki darah setetespun.


Cekrek, cekrek.


"Nah, aku sudah selesai memotong pisangmu. Apa kamu mau? "tanya Mo qi qi dengan wajah polos tanpa dosa.


"Apa? "


"Kalau tidak mau ya sudah, biar aku saja yang makan. " Mo qi qi mengambil mangkok buah itu. Dia berniat menuju pintu, "Ingat janjimu, Okey? "


Blam.


Qi qi pun menghilang dari balik pintu ruang kerja Yuehen.


"..."


Jiwa Yuehen akhirnya kembali.


"Sepertinya ada yang salah, " gumannya dalam mode berpikir.


Sesaat kemudian, "Mo qi qi! Kau mempermainkan aku... "


Yuehen menjatuhkan dirinya di sofa ruang kerja. Dia mengusap wajahnya dan terkekeh.


"Jika begini terus, bagaimana aku bisa mendapatkan hatinya? "


"Hati seorang wanita memang sangat sulit ditebak. "


Di kamar, Mo qi qi melompat ke ranjang dan tertawa cekikikan. Hatinya sangat puas karena berhasil menuntun Yuehen dengan hidungnya (mempermainkan ).


"Aku benar-benar puas hihihi... sekarang tinggal memikirkan permintaan apa yang aku ajukan buat Yuehen. "


Qi qi turun dari ranjang untuk mendekat pada mangkok yang berisi pisang.


"Sebelum itu, aku harus menghabiskan pisang-pisang ini."


"Oh pisang, aku berhutang padamu. Muah. "


Tbc