
Mo qi qi memandang hamparan bunga yang berada di taman keluarga Song. Senyumnya mereka ketika mengingat kembali perjuangan Yuehen untuk mendapatkan dirinya beberapa tahun yang lalu. Itu du mulai ketika hari setelah melepas kakek Song dan Tianmo pergi ke pulau pribadi untuk pemulihan kesehatan kakek Song.
Flash Back On.
Setelah kebenaran yang diucapkan Yuehen malam itu di hutan. Mo qi qi berniat untuk menemui Tianmo. Dia sengaja menghubunginya setelah Tianmo tiba di kota ini. Tianmo-pun berjanji akan kembali keesokan harinya.
Mo qi qi masih menunggu kedatangan Tianmo. Dia ingin mendengar penjelasan dari Tianmo langsung. Seandainya memang benar apa yang diucapkan Yuehen maka dengan berat hati dia harus melepaskan pria bergundukan besar itu.
"Haaa sayang juga sich. "
Tianmo adalah nama lain dari hari terbaiknya. Dia memberikan angin segar saat Yuehen memusuhinya. Memberinya limpahan kasih sayang saat Qi qi membutuhkannya. Tianmo adalah perwujudan orang baik. Jadi dia harus mendengar kata-kata darinya sebelum akhirnya mereka berpisah.
"Kau sudah lama menunggu?" Tianmo datang dengan wajah tampannya. Tetapi ia nampak tidak baik-baik saja. Wajahnya kuyu, ada lingkaran hitam di wajahnya. Dia nampak seperti panda jantang yang mencari betina.
"Tidak juga. Justru aku yang harus khawatir karena kau nampak kurang segar. "
Tianmo tersenyum, wajah ramahnya memang tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedih dan tertekan yang ia hadapi.
"Qi qi. Aku harus--"
Ketika Tianmo hendak bicara, salah satu pelayan lewat untuk mengambil sampah daun di dekat kursi panjang tempat Tianmo dan Qi qi duduk. Mau tidak mau Tianmo menghentikan ucapannya untuk berbicara.
Melihat pelayan membungkukkan kepala sekilas pertanda akan pergi, Tianmo menarik nafas untuk mengatakan niatnya kembali.
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?" Qi qi tersenyum padanya.
"Aku hanya ingin mengatakan jika aku sudah memiliki --"
"Permisi nona, tuan ini minuman anda. Silakan. " Pelayan wanita muncul tanpa diundang. Qi qi merasa agak malu karena tidak menawarkan Tianmo minum. Padahal Tianmo terlihat sangat lelah.
"Baiklah, letakkan di meja. "
"Baik. " Pelayan itu menata set ware yang berisi teh dingin. Gerakan pelayan itu sangat lambat sehingga Qi qi merasa jika ada yang janggal di sini.
Tianmo melihat jika minumnya dingin, "Aku ingin kopi hitam-panas. "
"Baik tuan. Saya akan menyiapkan segera. "
Pelayang wanita itu segera pergi. Dia nampak terburu-buru menuju dapur. Alis Qi qi mengkerut memyadari jika pelayan wanita itu berlari padahal sebelumnya ia berjalan cepat.
Tianmo kembali menarik nafas panjang. Dia merasa harus mengatakan isi hatinya meski akan mendapatkan penolakan dari Qi qi.
Tianmo mengambil tangan Qi qi, hati Tianmo merasa tidak berdaya ketika kulitnya tangannya menyentuh kulit Qi qi yang halus. Dia selalu ingin memegang tangan ini selamanya.
"Qi qi, aku--"
"Maaf tuan kopinya sudah siap. "
Pelayan wanita tadi sudah muncul kembali dengan nampan yang diatasnya terdapat segelas cangkir kopi.
"Yah, bawa ke sini. "
"I-iya, ini tadi saya agak keseleo jadi saya akan kesana perlahan-lahan. "
Pelayan wanita yang bernama bibi Liu itu berjalan dengan kecepatan semut. Qi qi bahkan tidak tahan dan ingin membantunya membawakan minuman itu.
"Sini aku bawakan kopinya, bibi Liu kembali dan beristirahat saja. "
"Tidak! "
Glek.
Qi qi dan Tianmo bahkan terkejut dengan teriakan bibi Liu yang diluar ekspetasi mereka. Bibi Liu bahkan memberikan pelototan maut kepada Qi qi. Seolah-olah matanya berbicara 'Jika kau berani mengambil tugasku maka aku akan memberi ikan busuk padamu, jika makan daging aku akan mengosongkan daging itu. '
"Baiklah, tapi hati-hati. Jangan sampai kopi panasnya tumpah ke tangan bibi Liu. "
"Nona tenang saja, bibi Liu ini akan segera menaruh kopi di meja untuk tuan Tianmo. "
Mo qi qi tidak yakin dengan ucapannya. Lihat saja tangannya yang bergetar, kakinya yang berjalan layaknya siput, semua tidak nampak baik-baik saja. Bahkan Qi qi dan Tianmo merasa tegang karena bibi Liu.
fiuh...
Mo qi qi menyeka keringat di keningnya ketika bibi Liu dengan sukses menaruh secangkir kopi itu di meja. Dia kemudian melambai pada Liu agar segera meninggalkan mereka berdua. Bibi Liu-pun segera pamit. Awalnya dia menawarkan untuk beberapa cemilan.
"Saya baru memasak kue otmathus, bagaimana jika --"
"Tidak! " Qi qi dan Tianmo langsung berteriak bersamaan. Sudah cukup ketegangan yang mereka rasakan beberapa menit yang lalu. Mereka masih sayang jantung sehingga tidak berani mengalami aksi mengerikan bibi Liu.
"Baiklah. Saya akan meninggalkan tuan. "
.
.
.
Di balik tembok yang membatasi taman dengan ruang tengah, Yuehen dan para pelayan diam-diam bersembunyi. Mereka menutup mulutnya untuk menahan diri agar tidak tertawa keras. Para pelayan itu dengan senang hati membantu tuannya untuk mengacau hubungan Qi qi dan Tianmo. Jadi mereka berusaha melaksanakan dengan baik segala sesuatu yang direncanakan oleh Yuehen.
Sekarang ini mereka curiga jika Tianmo berniat meminta tangan (melamar) Qi qi. Para pelayan itu sudah terbiasa dengan Mo qi qi sebagai nyonya masa depan Mojia. Mana mungkin mereka membiarkan nyonya masa depan mereka diambil orang lain.
"Kalian hebat... terima kasih banyak. "
Bibi Liu sedikit terkejut dengan ucapan Yuehen. Pria dingin yang selalu mengeluarkan aura iblis itu saat ini mengucapkan terima kasih. Apakah dia sedang bermimpi. Ah, cinta memang mampu mengubah orang.
"Serahkan pada kami, tuan muda. "
"Benar, " jawab paman Tang.
"Sekarang giliranku. " Yuehen merapikan diri dan bersiap menuju ke arah mereka. Dia membuka kaos dan mengambil barbel.
'Baiklah, pura-pura olah raga tidak buruk untuk mengganggu mereka. '
Dari seberang, Mo qi qi bisa melihat Yuehen berolah raga. Pria itu tampak cuek dan bersikap seolah - olah tidak ada orang. Lekukan otot lengan dan punggungnya yang tegas dan menggembung setiap kali berkontraksi mengingatkan Mo qi qi malam itu.
Rona perlahan merayap memenuhi wajahnya. 'Ini memalukan, bagaimana aku membayangkan hal-hal cabul itu. ' Suara nurani Qi qi berbicara.
'Bagaimana lagi, dia memiliki sesuatu yang tidak kalah besar dari Tianmo. ' Iblis di hati Qi qi bicara.
'Alihkan pandanganmu. Kau tidak boleh memelototi otot-otot itu, ' kembali nurani Qi qi bicara.
'Ini adalah rejeki dari Dewa, jadi tidak boleh disia-siakan. Lagi pula tidak ada yang protes. ' Iblis di hati Qi qi tidak mau kalah.
'Baiklah aku mengalah. Aku sebenarnya juga ingin melihatnya. ' Akhirnya hati nurani qi qi mengalah.
Alhasil, Mo qi qi semakin bersemangat melihat setiap gerakan Yuehen. Bahkan dalam imaginasinya, Yuehen sedang melakukan pertunjukan seperti seorang binaragawan.
'Oh betapa seksi. '
Tianmo berusaha mencerna situasi saat ini. Dia menyadari jika Mo qi qi sedari tadi tidak melepas pandangannya dari Yuehen. Wajah gadis itu juga memerah melihat Yuehen yang sedang berolah raga.
"Qi er, lain kali kita lanjutkan percakapan tadi. Hari ini aku ada jadwal praktek. Jaga dirimu, " ucap Tianmo. Hancur sudah rencananya untuk berbicara dari hati ke hati.
"Baiklah. Aku menunggumu. "
Dari seberang Yuehen menyeringai lebar. Tianmo akhirnya pergi dari sini. Andai saja dia bukan dokter sekaligus sahabatnya maka dia tidak akan sungkan.
'Ini bukan saatnya senang, aku harus melanjutkan aksi tebar pesona pada Qi qi. '
Di sisi lain Mo qi qi kembali mengalami ketegangan. Kali ini bukan karena bibi Liu atau pelayan lainnya. Tetapi karena Yuehen melakukan sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh seseorang yang sedang berolah raga.
'MENGAPA DIA OLAH RAGA HANYA DENGAN MENGGUNAKAN HANDUK! ' jerit Mo qi qi dalam hati. 'INI SIKSAAN BATIN NAMANYA! 'lanjutnya.
Tubuh Qi qi membeku dengan keringat dingin membasahinya. Hatinya bergejolak dengan perasaan yang bertolak belakang. Nurani dan iblis dalam hatinya seolah saling serang hanya karena handuk yang dikenakan Yuehen.
'Jatuh jatuh ayo jatuh! ' iblis dalam diri Mo qi qi berteriak histeris. Dia berharap handuk itu terjatuh. Iblis mesum itu bahkan mengucapkan matra-matra agar handuk itu jatuh.
Sedangkan nurani Mo qi qi tidak bisa berbuat banyak. Dia sendiri juga menginginkan handuk itu terjatuh.
Sementara itu, pria yang sedang berolah raga sama sekali tidak menyadari jika wanita yang ia coba tarik perhatiannya sedang menghadapi dilema. Yuehen masih terus menggerakkan barbel di tangannya. Dia sendiri bahkan lupa jika handuk putihnya melingkar di pinggang. Oleh karena itu tanpa rasa berdosa ia melirik ke arah Qi qi yang membatu menatapnya.
'Ternyata Qi qi terpesona denganku. Aku harus berolah raga lebih keras lagi, 'batin Yuehen.
"Satu. Dua. Satu. Dua... " Yuehen mengangkat barbel dengan gerakan ke atas ke bawah. Tak lama kemudian handuk yang melilit pinggangnya perlahan longgar. Akhirnya keinginan iblis dalam diri Qi qi mendapatkan keinginannya.
Pluk.
"Ah handukku jatuh."
Bruk!
Suara jatuh dari arah seberang menarik perhatian Yuehen.
"Wah, Qi qi!" teriak Yuehen tanpa menghiraukan handuknya yang jatuh. Dia mendekat ke arah Mo qi qi yang pingsan juga mimisan.
"Wajahnya merah dan mimisan. Memangnya apa yang ia lihat sehingga bisa mimisan? "
Yuehen menepuk jidadnya ketika ingat jika handuknya jatuh.
"Meskipun handukku jatuh tapi akukan memakai celana pendek berwarna kulit. Kau bahkan belum melihat milikku, mengapa sudah pingsan duluan! "
"He he he ternyata kau mesum juga. "
Yuehen tidak bisa membiarkan wanitanya pingsan di kursi taman. Dia mengangkat Mo qi qi ke kamar.
Sedang para pelayan yang mengintip mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya.
'Siapapun akan salah paham jika anda hanya memakai handuk ke tempat berolah raga, tuan muda. Apalagi celana yang anda pakai berwarna kulit, ' batin para pelayan serentak.
"Ada gambar singa lagi, ' batin bibi Liu.
"Untung gambarnya bukan gajah, " guman paman Tang.
Merekapun pergi ke tempat masing-masing. Masih ada banyak rencana yang ada dipikiran mereka untuk membantu tuan mudanya memenangkan hati nona Mo qi qi. Yah, bagaimana lagi. Andai tuan mudanya dulu tidak menunjukkan sikap bermusuhan pada nona Mo, pasti mereka sekarang sudah bersanding dengan bahagia. Sekarang dia harus berusaha keras untuk mendapatkan nona Mo yang terlanjut menutup hatinya dari Yuehen.
"Bibi Liu, apa yang akan kita lakukan setelah ini? kurasa menganggu pertemuan tuan Tianmo dan nona Mo tidak bisa dilakukan terus meneruskan? "
"Aku berencana memasukkan obat pencahar buat nona Tianmo agar dia tidak menyatakan lamarannya pada nona Mo. "
"Wah itu terlalu kejam. "
Ehem.
Deg.
Yuehen muncul dari balik dinding kamar Qi qi. Dia mendengar obrolan mereka.
"Bibi Liu, apa yang dikatakan paman Tang memang benar. Itu sangat kejam bagi Tianmo, namun..." Yuehen mendekat pada bibi Liu, ia menundukkan kepalanya dan berbisik pada bibi Liu.
"Aku mendukungmu."
Gubrak.
"Baiklah kalian berdua. Ini rahasia kita, aku pergi dulu. "
.
.
.
Mo qi qi terbangun dari pingsannya. Dia tersentak dengan ingatan handuk Yuehen.
"Ah melorot! ""
"Apanya yang melorot? " Yuehen ingin menepuk jidad wanita ini. Bagaimana bisa gadis ini pingsan namun masih teringat handuknya yang jatuh ketika bangun.
"Yuehen? "
Mo qi qi memperhatikan penampilan Yuehen. Dia bersandar di dinding kamar dan hanya mengenakan handuk putih yang tadi jatuh.
"Kau mengapa tidak tahu malu?! "
"Apa yang salah denganku? " tanya Yuehen tanpa rasa berdosa.
Mo qi qi menunjuk handuknya sambil memerah. "Mengapa kau ke kamarku hanya dengan handuk! bagaimana kalau itu melorot?"
"Oh... maksudmu seperti ini? "
Yuehen menarik handuknya hingga terlepas. Hampir rambut Mo qi qi rontok karena terkejut.
"Aku memakai celana pendek kok, " ucap Yuehen santai. Dia melempar handuk itu ke arah Mo qi qi yang shok.
"Hahaha ternyata kau mesum juga. "
"..."
"Padahal kau sudah pernah merasakannya. "
"Diam, kau yang mesum. "
Mo qi qi mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Yuehen. Yuehen menggerakkan tubuhnya dan keluar pintu sambil tertawa.
"Menyebalkan. Aku tidak menyangka akan digoda Yuehen. "
Mo qi qi mengigit bantal kesal. Dia bersumpah akan membalas hari ini.
Tbc.