
Ya orang yang balapan melawan Arumi, yang mencelakai Arumi dan juga yang di hajar habis habisan oleh Algaskar adalah brayn kakak Arumi, Arumi tadi tidak lansung menolong dia membiarkan saja sang kakak di hajar habis habisan oleh orang mungkin sebagai pelajaran atau biarkan dia membalas keburukan sang kakak selama ini dari orang lain karena jika dia membalas sendiri itu tidak mungkin bukan karna tidak bisa tapi sama alasannya dengan sang ayah bukan karna dia tidak mampu tapi atas dasar keluarga, dia memang tidak bisa membalas tapi bukan berarti orang lain tidak, jadi waktu tadi sang kakak di hajar habis habisan dia tidak melerai dia biarkan saja sampai sang kakak tidak berdaya tidak sampai mati karena dia pun harus masih hidup sampai sekarang, dia tadi memang menolong sang kakak tapi tidak sampai menghakimi algaskar karena diam diam dia berterima kasih dalam hati kepada algaskar untuk pelajaran yang di dapat snag kakak, tidak ada rasa kasian, biarlah toh dia memang sudah mati rasa dengan kakak dan sang ayah sejak dia mulai mengerti arti dari perlakuan mereka dulu, harusnya perlu mereka ketahui Arumi Diam dan tidak melawan selama ini karena masih tersisa rasa hormat karena hanya mereka keluarga Arumi tidak lebih.
"Oh yauda, makasih bi" setelah mengatakan itu Arumi lansung berjalan menuju kamarnya di lantai atas paling pojok jauh dari kamar kamar yang lain.
Setelah sampai di kamar Arumi lansung membersihkan badan dan Lansung istirahat jam menujukka pukul 2 malam dia sudah mengantuk jadi dia lansung tidur, dia juga tidak ada niatan untuk menjenguk sang kakak atau sekedar mendengar kabar, dia tidak peduli apa yang terjadi lagian dia juga tidak di anggap oleh mereka Jadi kenapa harus peduli dia hanya akan mengikuti alurnya sampai mana kisah menyedihkan hidupnya berakhir, karna terkadang dengan dirinya sendiri pun tidak dia pedulikan.
***
Ke esokan paginya Arumi bangun terlambat dan dia memutuskan untuk tidak ke sekolah apa lagi dia baru merasakan rasa sakit terjatuh kemarin walaupun sebenarnya rasa sakit itu tidak ada apa apanya tapi dia anaknya cukup santai dan agak malas, dia lebih tertarik untuk mengusuk tentang sang ibu tiri, dia memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini biarkan saja kalau dia notabennya murid baru lagian tidak ada orang di rumah jadi siapa yang mau marah.
"Mending gue mandi abis itu nyari tau siapa orang itu" guman Arumi kemudian masuk kamar mandi membersihkan diri. Lalu turun ke bawa untuk sarapan
"Non ngak masuk sekolah" tanya bibi melihat Arumi turun dengan memakai baju tidur
"Ngak Bi kesiangan" datar Arumi
"Oh iya non, sarapan" ini bibi udah siapin
"Iya" singkat Arumi lalu sarapan,itu Selesai sarapan. Arumi diam diam masuk ke kamar orang tuanya
Ceklek
"Untung ngak di kunci" guman Arumi kecil, lalu masuk dan mulai mengobrak Abrik kamar orang tuanya tapi kemudian di perbaiki lagi.
"CK, kok ngak ada sih. Dimana ya gue bisa dapat petunjuk biar gue tau siapa selingkuhan tu nenek lampir,"
"Gue harus kerja Manuel biar ngak ketahuan, gue ngak mau sampai ada yang tau" gerutu Arumi sambil merapikan kembali baju baju sang ibu tiri tapi tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari salah satu lipatan baju,
"Ini apaan" ucapnya memungut
benda itu
"Kartu nama" Arumi membolak balik kartu itu sampai dia menemukan sebuah nama,
"Felix Handoyo, fotografer" gumannya membaca kartu nama itu. " Jangan jangan ini pacarnya Tante Sonia" "gue harus selidikin dulu, gue ambil aja deh" Arumi lansung memasukkan kartu nama itu di saku baju tidurnya. Saat akan berjalan keluar kamar terdengar suara mobil dari luar, Arumi buru buru keluar dari kamar itu kalau naik ke kamarnya sendiri menyimpan kartu nama itu di tempat yang aman.
"Arum!!! Arum! Keluar kamu" teriakan memanggil nama Arumi membuat Arumi bangkit dari duduknya berjalan keluar dari kamar
"Arum dimana kamu, keluar Arumi Arumi turun dari lantai dua berjalan ke arah sang ayah yang sedari tadi meneriakinya sambil menunduk. Seolah anak polos yang lemah.
"Iya" ucapnya singkat
Plak
Sebuah tamparan keras lagi " kenapa kamu tidak masuk sekolah, mau jadi apa kamu baru satu hari masuk sudah berani bolos" teriakan menggema di dalam rumah itu,
"Arum telat" datarnya
"Memangnya apa yang kalau lakukan di malam hari, jual diri" sentak sang ayah, Arumi hanya diam.
Sedangkan sang ibu tiri Sonia tersenyum mengejek ke arahnya.
"Rasakan kamu, ngak sia sia aku nyuruh bibi tidak membangunkan dia saat tau dia pulang larut tadi malam, silahkan pergi dari rumah ini, kalau bisa tidak usah kembali" guman dalam hati Sonia.
"Iya" "kamu bisa menang sekarang tapi tunggu sampai saya buat kamu tidak akan bisa menginjakkan kaki lagi di rumah ini"
Arumi berjalan ke arah kamarnya mengganti baju lalu keluar dan pergi dari rumah itu, sudah sering seperti ini bahkan hampir setiap hari itulah kenapa Arumi membeli apartemen karena sang ayah akan sering menyuruhnya pergi ketika marah atau setelah menyakitinya maka diseperti Pergi dan kembali apa bila lukanya sudah sembuh, kembali untuk di sakiti lagi.
Kali ini Arumi tidak lansung pulang ke apartemennya dia mengingat kartu Nama yang di temukan di kamar orang tuanya dia akan mendatangi alamat yang tertera di kartu itu.
"Lumayan jauh kalau dari sini bisa makan watu satu jam" guman Arumi tapi tidak mengurungkan niatnya untuk tetap ke sana.
Satu jam berlalu Arumi sampai di sebuah studio yang tidak besar juga tidak kecil sederhana tapi mewah, lumayanlah untuk ukuran studio fotografer. Arumi turun dari motor dan berjalan masuk ke dalam di dalam terdapat sebuah kursi seperti kursi tunggu dia duduk, tapi tidak lama seseorang menghampirinya
"Maaf mbak ada yang bisa di bantu" tanyanya sopan, sepertinya dia pegawai di studio ini.
"Hmm, iya saya boleh bertanya" tanya Arumi
"Boleh mbak mau tanya apa"
"Fotografer disini kalau boleh tau siapa yah"
"Fotografer disini ada 3 orang mbak" jawab pegawai itu
"Kalau boleh tau namanya siapa aja" Arumi berusaha bertanya Tampa terlihat kalau dia sedang mencari seseorang dengan bertanya seperti ini orang tidak akan curiga kalau ternyata dia bertanya tentang seseorang.
200
"Ada Ardi, Adit, sama Felix" ucap pegawai itu
"Oh iya mbak, Felix Handoyo bukan yang tadi" tanya Arumi seolah dia familiar dengan nama itu, padahal dia memang tidak tau tapi dia berusaha memancing
"Iya mbak bener"
"Oh iy-"
"Itu mbak orangnya yang baru keluar, yang pake baju putih itu Felix" jelas pegawai itu sambil menunjuk Felix
"Kalau dua yang mbak sebutin tadi orangnya yang mana" tanya Arumi basa basi agar tidak terlihat kalau dia memang mencari Felix
"Itu mereka bertiga mbak, yang biru itu Ardi dan yang hitam itu Adit" jelasnya lagi
"Oh yaudah mbak makasih yah"
"Iya mbak" ucap pegawai itu lalu pergi dari sana.