Cool Girls

Cool Girls
#15



"APA YANG KAMJ LAKUKAN DENGAN ANAK SAYA" teriakan murka tuan aksara kepada Arumi sang anak karena telah berani menyakiti anak tirinya.


Plak


Plak


Plak


Tamparan bolak balik yang di layangkan ke wajah Arumi "kamu liat sekarang, Nayla kesakitan LIAT!!!" Marah sang ayah kemudian membanting Arumi ke lantai tepat di bawa kaki Nayla yang baru pulang dari rumah sakit mukanya memerah semua.


"Bangun kamu!!" Tarikan kasar kembali Arumi dapatkan lalu tubuhnya di benturkan di tembok


Brukk


Arumi merosot ke lantai rasanya tulangnya remuk semua kepala dan tangan kanannya terasa sakit karena bagian itu yang terbentur. Belum sempat Arumi menghela nafas dia kembali di tarik dan di paksa membungkuk lalu sebuah cambukan mendarat di atas punggungnya.


Ctas


Ctas


Ctas


Suara gesper dan punggung yang beradu cukup keras, tapi tidak ada raut meringis di wajah Arumi atau air mata dia tetap diam dengan muka datarnya.


Bug


Bug


Tendangan pada perutnya kembali di layangkan oleh sang ayah sedangkan Nayla dan Sonia meliaht itu dengan senyum bahagia tidak ada rasa kasihan sama sekali. Bahkan Nayla dengan santainya memvideokan dari awal.


"Kamu fikir siapa kamu, berani menyakiti anak kesayangan saya"


Plak


Plak


Tamparan di kedua pipinya kembali di layangkan, Tampa belas Kalis sang ayah menarik Arumi lalu membenturkan kepala Arumi berkali kali di meja kaca di ruang tamu itu sampai berdarah darah.


Brug


Brug


Brug


"Rasakan kamu anak sial, anak pembawa sial" emosi meluap lupa tuan Aksara keluarkan. Lalu sekali lagi membanting tubuh Arumi di lantai membuat tangan kanannya kembali terbentur di meja nakas di tembok. Mengabaikan Ponsel Arumi yang sedari tadi berbunyi dan Arumi yakini itu dari Agnes, tapi Arumi tidak ada niatan untuk mengangkatnya.


Krek


Sebagai penutup Nayla menginjak tangan kanan Arumi kemudian pergi dari sana bersama irnag tuanya.


"Pergi dari rumah saya, jangan kembali sebelum anak titah tegas sang ayah lalu pergi dari sana Tampa menoleh ke arah Sang anak. Sedangkan Arumi hanya menatap nanar punggung kokoh sang ayah. Ini adalah kekerasan terparah yang perna arumi alami, padahal yang dia lakukan kepada Nayla tidak separah itu.


"Gue harus kemana" guman Arumi lirih berusaha naik ke atas motornya saat akan menjalankan motornya tangan gemetar seperti tidak berperasaan.


"Ini tangan gue kenapa, kenapa gue ngak bisa rasain apa apa," lirih Arumi hampir frustasi melihat tangannya seperti tidak berfungsi lagi.


"Ngak gue bukan orang lemah gue pasti bisa." Arumi berusaha lagi, sekuat tenaga dia gas motornya keluar dari rumah yang cuma menyimpan luka baginya selama belasan tahun.


Bukannya ke rumah sakit atau ke apotek membeli obat Arumi ke Alfamart membeli beberapa makanan seperti roti dan mie instan lalu dengan perlahan ke kasir untuk membayar, kenapa Arumi tidak dilihat oleh orang orang karena dia tidak membuka helmnya. Selesai.


Membayar Arumi menjalankan motornya bukan ke apartemennya tapi kesebuah hutan yang gelap dan cukup rimbun, satu jam perjalanan Arumi sampai di sebuah gubuk tidak besar 3 kali 2 meter saja. Saat akan turun Arumi kemudian berhenti.


"Gue ngapain kesini, nenek kan udah ngak ada gue bisa mati mengenaskan Disini" gumannya tapi sesaat kemudian dia tetap turun karena merasakan rasa sakit kembali pada seluruh badannya, dia bahkan lupa sedang di tunggu oleh teman kelompoknya.


Sedangkan di tempat lain beberapa jam sebelum"Arumi belum datang gue hubungin dulu" ucap Agnes setelah mereka semua sampai di sebuah cafe untuk kerja kelompok.


"Kemana sih tu anak dibilangin cuma pulang ganti baju" gerutu Romeo


"Sabar ini gue telfon dulu" Agnes menghubungi Arumi tapi tidak di angkat


"Ngak di angkat" ucap Agnes


"Tidur kali tu anak" ucap Raka


"Parah sih kalau tidur, enak enakan lah kita harus kerja tugas" omel Romeo


"Tunggu aja dulu" saran Karel


Algaskar sendiri sedari tadi melihat ke arah pintu cafe menunggu seseorang datang, jujur saja algaskar bukan kesal dan capek menunggu tapi dia merasakan hal berbeda dia merasa ada yang ngak beres tapi tidak tau apa, entahlah semenjak bertemu dengan Arumi Algaskar merasa berbeda dengan dirinya dia selalu memikirkan Arumi, dia hanya berusaha cuek selama ini, bahkan dia juga tidak pernah bilang ke teman temannya tentang pertemuannya dengan Arumi yang menolongnya dan sudah mengetahui semua kalau queen itu adalah Arumi.


Satu jam mereka menunggu Arumi belum datang juga Agnes kembali menelfon tapi tetap sama tidak ada jawaban. "Masih belum di angkat" ucap Agnes menatap semua teman temannya.


"Yaudah lah kita kerjain aja ngak usah nunggu dia, udah soreh ni" saran Karel yang di setujui semuanya.


Mereka mengerjakan tugas sambail menunggu Arumi, tapi sampai tugas itu hampir selesai Arumi belum juga datang, yang paling santai dan datar di sana adalah Algaskar tapi tidak ada yang tau yang paling gusar menunggu Arumi adalah dirinya. Sedari tadi dia tidak fokus tapi untungnya dia bisa menyembunyikan itu sehingga teman temannya tidak curiga. Akhirnya tugas itu selesai saat hari menjelang malam.


"Akhirnya selesai juga" keluh Romeo.


"Iya, tapi Arumi belum Dateng juga sampai sekarang" cemas Agnes karena Arumi tidak bisa di hubungi.


"Udahlah ngak usah di fikirin Yang jelas dia ngak ikut ngerjain tugas, jadi dia ngak masuk nilai" ujar romeo.


***


Arumi masuk di dalam gubuk tua itu dengan tertatih mendudukkan tubuhnya dengan pelan di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu yang sudah usam dan hampir roboh, dia merasakan getaran pada ponselnya di dalam saku celananya dia yakini itu adalah sebuah pesan, Arumi membuka room chat banyak chat dari nomor baru yang di yakini Arumi adalah Agnes karena beranda di liat isi pesannya bertanya soal Arumi yang tidak datang kerja kelompok, tapi Arumi abaikan toh sudah lewat juga Dan tidak mungkin


dia datang ke sana dengan ke adaan seperti ini, badan remuk dan muka hancur dengan lebam dan darah Bahkan mukanya sudah membengkak. Arumi kembali fokus pada room chat yang terdapat pesan baru itu dari Nayla sebuah video yang Arumi lansung buka, memutar sebuah video yang Arumi bisa liat dirinya yang disiksa bagaikan binatang oleh ayahnya sendiri, bukannya sedih atau menghentikan video itu dia malah menontonnya bagaikan sebuah film yang sangat seruh.


Setelah video selesai tidak ada tanggapan apapun dari Arumi, dia beranjak dari duduknya berjalan ke arah kantong plastik mengeluarkan lilin dan pemantik menghidupkan lilin Karena hari sudah malam menyimpan lilin itu di atas meja kecil lalu kembali duduk.


"Andai aja nenek masih ada, pasti udah obatin gue" guman Arumi mengenang masa masa dulu.