
Hari ini Arumi bangun kesiangan Mungkin karena dia tidur saat menjelang subuh, dia lansung ke kamar mandi hanya kurang dari 10 menit dia sudah selesai mandi dan lansung memakai seragamnya tidak sarapan, dia lansung memakai masker Mengambil kunci motor turun ke basemant lalu melajukan motornya ke arah sekolah tidak terburu-buru, Arumi tidak takut di hukum, 15 menit di jalan Arumi sampai di sekolah tapi gerbang sudah tutup.
"Aduh neng telat lagi?" Ucap satpam sekolah tersebut geleng geleng kepala, Arumi bukan sekali dua kali telat justru jika mau di hitung jari tepat waktunya lebih bisa di hitung jari di bandingkan telatnya ya karena hampir setiap hari dia telat.
"Hm bukain pak" datar Arumi
"Aduh neng ngak bisa atu ini udah ngak ada toleransi lagi" ucap satpam lagi
"Yaudah" datar Arumi kemudian menaiki motornya pergi dari gerbang sekolah, kalau kalian fikir Arumi akan mencari jalan untuk masuk, memanjak tembok seperti kebanyakan murid kalian salah Arumi tidak se effort itu. Sedangkan satpam hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arumi.
***
Kini Arumi berada di sebuah hutan yang terdapat rumah kosong atau bisa dibilang gudang terbengkalai seperti sebelumnya Arumi berbeda dari kebanyakan anak muda apa lagi gadis gadis jaman sekarang mana ada seorang
Menyendiri ke gudang terbangkalai di hutan pula. Arumi tertidur di kursi kayu di dalam gudang dia tidak takut dengan penjahat atau hewan buas sekali pun dia bahkan tertidur nyenyak sampai soreh, dia baru terbangun saat dering handphone nya berbunyi.
Ayah is calling...
"Hmm" ucapnya dingin
"PULANG!!" teriak sang ayah
"Iya" datar Arumi
"Anak kurang ajar, pulang sekarang juga Arum" bentak sang ayah lagi
"Iya Arum Uda di jalan" ucapnya santai kemudian menutup sambungan teelpon, bukannya
Lansung beranjak buru buru masih sempat dia keluar bagian teras gudang itu melihat lihat langit senja. Setelah senja berganti malam baru dia beranjak keluar untuk pulang, satu jam perjalanan dari tempat itu ke rumah tapi masih sempat-sempatnya makan dulu di jalan jadi perjalanan memakan waktu lebih sejam.
Kini Arumi sudah sampai di rumah pukul Sembilan malam baru menginjak kaki di dalam rumah.
Plakk
"Dari mana kamu jam segini baru pulang dasar perempuan liar, anak sialan," murka tuan aksara, sedangkan Arumi hanya diam saja kini muka yang belum benar-benar sembuh setelah tamparan kemarin kembali membekas.
"Apa ini ha!! Mau jadi apa kamu tidak berguna, kenapa kamu hidup kalau hanya untuk menjadi sampah" maki sang ayah, melemparkan surat dari sekolah, tapi sungguh tidak menyakitkan sama sekali Bagi Arumi sekali lagi dia sudah terbiasa.
"Kamu seperti perempuan tidak punya didikan, anak jalanan," makinya lagi.
"Jelaskan apa maksud surat itu" tegasnya, "kenapa kamu diam anak sialan, jelaskan Arum" murka sang ayah
"Arum tidak tau"
Plak
Sekali lagi sebuah tamparan yang sama "mulai sekarang kamu pindah ke sekolah brayn dan Nayla biar kaucap
Punya sedikit didikan bukan di sekolah sampah yang isinya hanya anak berandalan"
"Yah Nayla ngak mau satu sekolah Sama dia, apa kata teman teman aku kalau tau aku punya saudara kayak dia," ucap Nayla
"Kalian tidak perlu khawatir dia masuk tidak akan membawa nama aksara" ucap tuan aksara lalu pergi dari sana. Di ikuti brayn dan istrinya.
"Awas aja yah Lo ngaku ngaku jadi sodara gue" ancam Nayla di balas tatapan tajam dan dingin oleh Arumi
"Kita kan emang ngak sodara, Lo cuma anak tiri bawaan mama lo" ucap
Datar Arumi dengan santai lalu berlalu ke kamarnya.
"Sial awas Lo Arumi" murka
Nayla
Ya Arumi hanya akan diam dengan ayah dan sang kakak tapi tidak dengan Nayla dan ibu tirinya dia akan melawan, Arumi itu bukanlah gadis yang lemah dia jago dalam segala jenis bela diri, memanah, menembak, balapan dia tidak segampang itu di tindas dia tidak akan mengusik tapi sekali di usik makanya hidupnya akan kelar, jika terdapat bekas luka di muka atau badan itu semata mata dari sang ayah, bahkan di sekolah lamanya pun tidak ada yang berani dengannya semua segan dari perempuan sampai laki laki bahkan kakak kelasnya dulu pun segan padanya itu lah salah satu
Perbedaan Arumi dia bisa jadi iblis dengan orang lain tapi jika dengan sang ayah dia seperti bayi yang tidak bisa apa apa.
Sampai di kamar Luna lansung masuk ke kamar mandi, ganti baju lalu tidur, tidak ada istilah susah tidur, sedih, atau mengingat kenangan dengan sang ayah atau bunda kandungnya Karena memang dia tidak memiliki kenangan apapun, karena sang bunda meninggal di hari dimana setelah dia di lahirkan sedangkan ayahnya sebelum lahir pun dia sudah di benci, bahkan dia tidak pernah tau bagaiman muka sang bunda, makamnya di dimana, namanya pun bahkan dia tidak tau. Bukan karna dia durhaka atau tidak ingin tau tapi dia tidak pernah berbicara dengan sang ayah dengan jenis pertanyaan hanya kata "iyague
yang bisa dia bilang.
***
Pagi menjelang kali ini Arumi bangun pagi karena dia tidur di rumah sang ayah dia tetap sama tidak ingin membantah sang ayah dia lansung siap siap untuk sekolah memakai seragam lalu ke meja makan duduk di kursi samping sang ayah.
"Ngapain Lo duduk disini, gue ngak sudih satu meja sama Lo" hina Nayla
"Iya kamu ngapain duduk disini mending sekarang kamu pindah ke dapur" usir mama Nayla, tapi Arumi tidak bergeming sedikit pun dia hanya melanjutkan sarapannya.
"Lo budeg yah, ngak denger mama gue ngomong apa, pindah gue
ngak sudih semeja makan sama Lo" sentak Nayla menimbulkan keributan di meja makan pagi ini.
"Nayla kenapa kamu harus teriak teriak di meja makan pagi pagi?" Ucap tuan aksara
"Yah aku ngak mau makan satu meja dengan cewek sialan ini" adu Nayla pada tuan aksara
"Iya mas aku juga ngak mau sarapan kalau ada dia disini, mending suruh dia ke dapur aja makan sama para pembantu" ucap mama Nayla dengan menatap sinis ke arah Arumi.
"Yah mending dia suruh ke belakang aja makannya, brayn mau makan ntar telat kesekolah udah siang ni pake ribut ribut segala" saran Brayn mulai kesal karena acara sarapannya tergalansung
"Arum kamu pindah ke belakang sarapannya" ucap sang ayah, Tampa membantah Arumi berdiri membawa piringnya kebelakang sarapan bersama para maid. Para maid disana merasa kasian dengan nona mudanya selalu di siksa oleh ayahnya sendiri tapi muka nona mudahnya tidak terlihat seperti orang tersakiti tetap dengan aura dingin, muka datar dan tatapan tajam yang di tunjukkan kepada orang yang di anggap orang lain, semuanya orang lain yang dia anggap keluarga atau orang dekat hanya ayah dan kakakNya.
Selesai sarapan Arumi berjalan keluar berniat berangkat sekolah tapi saat melewati ruang keluarga dia lansung di panggil oleh sang ayah.
"Arum saya mau ngomong" ucapan datar sang ayah yang lansung
Di turuti Arumi, berjalan menuju sang ayah dan berdiri di samping.
"Saya sudah daftar kan kamu kesekolah Nayla dan brayn hari ini juga kamu lansung masuk, tapi ingat jangan perna membawa nama aksara dan mengaku kenal dengan brayn dan Nayla disana" tegas sang ayah. Nayla lansung berjalan keluar rumah menuju sekolah barunya yang tadinya ingin ke sekolahnya tidak jadi, dia berbelok ke sekolah barunya.