
Arumi tetap melanggar perintah dokter. Dengan tetap menggunakan motor, padahal dia dimintai untuk sementara waktu tidak menggunakan tangannya untuk hal hal berat. Tapi yang namanya Arumi mana peduli. Sampai di sekolah sudah banyak yang berdatangan, parkiran dan gerbang sedang ramai oleh murid murid. Arumi tetap menjadi pusat perhatian, tapi Arumi tidak perduli setelah membuka helm semuanya tetap memperhatikan seolah Arumi adalah murid baru. Arumi terlampau misterius untuk mereka, mereka bisa merasakan Arumi tidak mudah untuk di sentuh. Makanya sejauh ini hanya Nayla yang berani dengan Arumi itu pun masih menjual ayahnya, jika tidak mungkin sudah lama Nayla tidak bebas melihat dunia. Bagi mereka aura dan wajah Arumi sangat berbeda. Jika dari wajah Arumi terlihat polos dan anak yang lemah lembut, tapi jika merasakan auranya bagi mereka Arumi ini hampir sama dengan Algaskar bedanya Arumi versi perempuannya.
Tampa peduli dengan tatapan mereka, Arumi tetap berjalan menyusuri koridor sekolah untuk menuju kelasnya Tampa sadar Tiba tiba seseorang ada di depannya dan
Bruk
"****!" Umpat Arumi hampir terjatuh untungnya seseorang menahan tubuhnya. Setelah Arumi tidak merasakan apa apa dia membuka mata dan hal pertama adalah dia di suguhi tatapan datar oleh orang yang mendekap tubuhnya. Seakan tersadar kembali Arumi lansung berdiri tegak dan agak menjauh.
"Makasih" ucap singkat dan datar Arumi lalu berlalu dari sana. Sedangkan Algaskar sebagai orang yang menolong Arumi. hanya menatap datar Punggung Arumi yang perlahan menghilang di balik pintu kelas. Tampa berkata Algaskar pergi dari sana menyusul Arumi masuk kelas.
Tring
Tring
Bel tanda masuk untuk jam pertama sudah berbunyi yang artinya sebentar lagi guru untuk mapa pelajaran pertama akan segera masuk. Dan benar saja tak lama sang guru sudah masuk.
"Selamat pagi anak anak" sapa guru sambil memasuki kelas.
"Pagi Buu" jawab serentak murid
di kelas.
"Jadi begini, Karena guru akan mengadakan rapat pagi ini jadi, ibu hanya akan memberi tugas untuk kalian. Nah tugasnya adalah membuat sebuah karya seni. tapi ibu mau hasil kerja kalian sendiri bukan di beli ok, setuju?" Tanya sang guru
"Setuju" persetujuan serempak kembali menggema di dalam kelas ini.
"Tapi ibu juga akan buat berpasangan, bukan sendiri sendiri." Ucap sang guru lagi.
"Pasangannya pilih sendiri Bu?" Tanya salah satu murid di kelas.
"Tidak, ibu akan undi. Jadi disini ibu akan tulis nomor, dan yang nomornya sama akan berpasangan. Sebentar ya" sang guru lansung mengerjakan.
"Oke silakan, ini ibu sudah kocok sesuai dengan nomor absen yah maju ambil satu. Ayo silahkan nomor urut pertama trus berikutnya" pinta sang guru lansung di laksanakan oleh yang bersangkutan.
"Sudah selesai yah, nah ibu akan sebutin nomor disini dan yang merasa nomornya ibu sebut, silahkan berdiri ok"
"Oke Bu"
"Nomor 1" sebutnya kemudian berdiri 2 siswi yang artinya mereka berpasangan. Begitu selanjutnya sampai nomor terakhir.
"Baik Algaskar dan Arumi, silahkan kalian duduk bersama, siapa yang akan pindah?" Algaskar diam saja dan kembali duduk yang artinya Arumi yang harus pindah.
"Emm Arumi kamu saja yang pindah yah" minta sang guru dan Arumi dengan santai dan muka datar berjalan dan duduk di samping Algaskar.
"Oke semuanya sudah lengkap. Tadi ibu juga sudah menjelaskan tugas kalian, jadi silahkan diskusi ingin membuat apa. Jika belum selesai dan waktunya sudah habis bisa di kumpulkan besok. Ibu cuma kasih waktu sampai besok jadi ingat kumpul besok paling lambat jam istirahat pertama." Tegas sang guru"Ibu keruang rapat dulu, untuk ketua kelas nanti kalau jam pelajaran ibu sudah selesai. Tolong antar buku ibu ke ruangan ibu." Lanjutnya.
"Iya Bu" jawab snag ketua kelas. Setelahnya kelas kembali heboh setelah guru keluar. Mereka sibuk diskusi tentang apa yang akan mereka buat. Begitupun dengan sahabat Algaskar yang masing masing mereka mendapat perempuan.
Sedangkan sang duo datar dan dingin hanya diam saja tidak ada obrola atau diskusi. Bahkan mereka tidak ada memiliki ide apa pun. Algaskar tidak ada niat ingin memulai diskusi atau sekedar membuka suara hanya sibuk bermain ponsel. sedangkan Arumi bodo amat dia hanya merebahkan kepalanya di atas meja, seperti orang tidur, atau mungkin tidur beneran.
"Lah kalian berdua kenapa kayak orang musuhan" celetuk Raka tiba tiba, dan semuanya mengalihkan pandangan ke arah mereka. Algaskar hanya mendongak sebentar kemudian kembali menunduk bermain ponsel, Arumi perlahan mengangkat kepalanya dengan tatapan datar Arumi melihat mereka yang memperhatikan dirinya dan Algaskar.
"Hmm" deheman Arumi membuat mereka lansung membalik badan dan melanjutkan tugas, dan Arumi lanjut merebahkan kepalanya. Tapi belum sempat kepala Arumi menyentuh meja suara Algaskar membuatnya mendongak kembali.
"Nggak kerja" singkat dan tetap
datar.
"Lo sendiri" sindir Arumi
"Mau buat apa" tanya Algaskar entah sebuah diskusi atau apa, tapi mereka Seolah tidak ingin mengeluarkan suara yang banyak, hanya terkesan singkat singkat dan datar, untungnya mereka satu spesies jadi walaupun singkat mereka mengerti dan tetap bisa mengobrol.
"Lo?" Balas Arumi seadanya.
"Serah" ucapan Algaskar. Arumi hanya mengangguk mengerti.
Sedangkan sahabat Algaskar yang duduk di depan mereka melongo Tampa menoleh tapi masih bisa mendengar percakapan mereka.
Mereka itu ceritanya diskusi gitu? Fikir mereka
Bisa bisanya obrolan mereka sesingkat itu dan masalahnya mereka ngerti masing masing ngomongin apa, mereka tidak bisa membayangkan seandainya satu kelompok dengan mereka. Apa nggak pusing terjemahin apa yang mereka obrolin. Kalau seandainya mereka ngomong rahasia, mereka yakin tidak akan ada yang tau rahasia itu.
Algaskar menghela nafas sebentar. "Kerjain di rumah gue nanti" putus Algaskar merasa malas kerja tugas di sekolah.
"Hmm" setuju arumi. Dia mah terserah, jadi dia kembali tiduran di atas meja toh tidak mengerjakan sekarang. Dari pada tidak ngapa ngapain mending tiduran aja, dia memang mengantuk tidurnya akhir akhir ini kurang, gara gara masalah Sonia itu Arumi bukan orang yang kepo sebenarnya dan bukti yang dia dapat tentang Sonia sudah lebih dari cukup dia gunakan untuk menghancurkan Sonia, dia pun awalnya hanya akan sampai disini. Tapi sesuatu yang dia dapat kemarin di rumah sakit, tidak bisa dia abaikan begitu saja. Walaupun dia bisa saja bodo amat seperti sebelum sebelumnya. Tapi entah kenapa mencari tau lebih dalam soal selingkuhan Sonia itu membuat dia merasa dia harus menyelidiki lebih dalam lagi, bukan hanya tentang hubungannya dengan Sonia tapi ada yang lain hanya saja Arumi tidak tau. Lebih tepatnya belum dan dia akan tau nanti. Dan mungkin akan berefek besar dalam kehidupan Arumi.