Cool Girls

Cool Girls
#5



***


Jam sudah menunjukka waktu pulang sekolah seluruh murid sudah Berhamburan keluar kelas menuju parkiran begitu pun Arumi dia keluar paling belakang karena tidak ingin berdesakan. Tapi saat keluar dia menunduk Karena memperbaiki hoodie yang dia pakai saat dia di depan pintu tiba tiba


Bruk


Hampir saja Arumi terjatu jika saja tidak ada yang menahannya dia mendongak melihat orang memeluk pinggangnya ternyata dia algaskar yang baru masuk kelas untuk mengambil tasnya karena memang dia tadi tidak masuk di jam terakhir.


Tatapan mereka bertemu tapi tidak ada kesan karena mereka malah saling adu tatapan tajam dan datar, Arumi yang tersadar dengan posisi mereka lansung bangun.


"Sorry" ucapnya singkat lalu pergi dari sana Tampa pamitan, algaskar hanya diam saja dengan muka datar dan tatapan tajam yang mengikuti langkah Arumi yang semakin menjauh sedangkan teman temannya kecuali bara hanya melongo melihat sepasang manusia datar dan dingin berbeda jenis itu mereka pikir akan ada adegan uwu uwu tapi mereka lansung sadar, mustahil manusia kutub macam mereka bisa menciptakan ke uwuan.


"Yahh ekspektasi gue lansung terjun bebas" desah Romeo sedih, mendengar itu algaskar lansung menoleh ke arah Romeo sedangkan


Romeo lansung nyengir.


"Hehehe piss bos, becanda doang" Romeo tidak mau jadi sasaran singa galak. Algaskar menoleh kembali tapi Arumi sudah menghilang di telan belokan koridor.


Algaskar masuk kelas mengambil tas lalu pulang Tampa mempedulikan teman temannya.


Arumi pulang ke apartemennya bukan kerumah karena nanti malam dia ada balapan rencananya dia akan pulang setelah balapan Karena Arumi tidak ingin saat pergi balapan nanti dia malah mendapat luka di tubuhnya. Sampai di apartemen Arumi lansung membersihkan tubuhnya makan siang lalu istirahat sebentar sebelum nanti balapan.


Jam 5 soreh Arumi terbangun lansung cuci muka "gue laper" setelah cuci muka tadi Arumi duduk sambil nonton tapi tiba-tiba dia lapar sedangkan Persediaan makanan di kulkasnya habis biasanya dia hanya mengisi stok mie instan saja tapi sudah dia makan tadi siang sebelum tidur, berarti Arumi harus keluar membeli makan mumpun masih soreh.


Arumi segera bersiap untuk keluar memkalai celana trenin hitam polos dengan Hoodie over size mengambil kunci motor sport, turun ke basemant menghidupkan motor lalu keluar dari gedung apartemen membela jalanan soreh yang padat karena hanyak yang baru pulang kerja.


Hanya sekitar tiga puluh menit Arumi sampai di sebuah restoranmodern yang banyak di datangi anak mudah tersebut, Arumi hanya berniat membungkus saja dia tidak ingin makan di sana, Arumi tipe orang yang tidak suka keramaian.


Arumi duduk di salah satu meja restoran dengan menghadap pintu masuk jadi dia bisa melihat orang yang masuk restoran tersebut lama dia menunggu sambil memainkan ponselnya dia mendengar pintu di buka, Arumi mengangkat kepala untuk melihat dan tiba tiba matanya menangkap sosok yang familiar di matanya seorang wanita paru baya dengan gaya glamor yang masih terlihat mudah di usianya sekarang tapi bukan penampilan yang menarik perhatiannya melainkan orang yang datang bersamanya seorang laki-laki mudah sekitar umur 25 tahun mereka saling bergandengan terlihat mesra,Arumi tidak tau laki laki itu tapi mereka terlihat sangat dekat, saat mereka akan melewati Arumi, Arumi lansung menutup kepadanya dengan tudung hoodienya samar samar dia mendengar percakapan mereka


"Kamu mau makan apa honey" laki laki itu bertanya


"Aku terserah kamu aja sayang, pesen aja nanti aku yang bayar"


"Kamu memang pacar aku yang paling pengertian" puji laki laki itu


Arumi yang mendengar semua percakapan itu tersenyum miring di balik tudung hoodienya dia mengerti sekarang, ternyata dua manusia berbeda umur itu ada hubungan.


"Selingkuh heh?" Senyum devil Arumi entah apa yang dia rencanakan tapi melihat senyumnya sepertinya bukan hal yang bagus untuk orang itu.


Tak lama pesanan Arumi di antar oleh pelayan dia lansung membayar lalu keluar dari sana Tampa menoleh ke arah dua orang yang duduk tepat di belakang mejanya tadi. Diluar Arumi membuka tudung hoodienya masih memperhatikan orang yang sedang makan berdua di dalam karena dinding resto itu hanya kaca transparan jadi jika di luar bisa di liat yang di dalam begitu pun yang di dalam bisa di lihat yang di luar, walaupun Arumi sedang melihat mereka dengan tatapan tajam, mereka tidak menyadari Karen asik bermesraan. Diam diam Arumi


Merekam aksi mesra mereka memang dia tidak akan lansung memperlihatkan bukti ini kepada sang ayah tapi sesuai dengan sifatnya Arumi tidak akan membalas orang yang menyakitinya dengan ringan tapi akan jauh lebih menyakitkan dan Arumi memiliki rencana licik di otaknya.


Tampa Arumi sadari di ujung parkiran Resto itu seseorang memperhatikan Arumi sedari dia keluar dari restoran memperhatikan orang di dalam dan aksi merekamnya.


"Apa yang dia lakukan dan sebenarnya siapa orang yang sedang di rekam" gumangan penasaran orang itu


Dia terus memperhatikan Arumi saat tersenyum misterius dan saatselesai mereka kemudian mengemudikan motornya kembali, orang itu masih memperhatikan sampai dering ponselnya menarik dirinya dari aksi memperhatikan Arumi.


"Hmm"


"Lo udah di mana Al" tanya orang di sebrang sana


"Luar" Mematikan sambungan lalu masuk, ya orang itu adalah algaskar dia datang kesini untuk nongkrong bersama teman temannya tapi pada saat dia memarkirkan motornya bersamaan dengan Arumi keluar dari restoran dan algaskar memperhatikan semua yang di lakukan Arumi sampai Arumi pergi dan itu membuat algaskar penasaran, sebelumnya dia tidak pernah se penasaran itu dengan urusan seseorang tapi ini dia malah kepo dengan urusan yang notabennya adalah murid baru di kelasnya.


Dia tepis pikiran itu dia berjalan masuk mencari keberadaan teman temannya yang ada di lantai dua, algaskar melewati meja ke dua pasangan yang di rekam Arumi tadi, dia memperhatikan dua orang yang terlihat mesra itu, dia berusaha menebak pikirannya sendiri


"Apa dia nyokapnya yah" guman dalam hati


"Tapi kalau dia nyokapnya kenapa dia kayak senyum seolah dapat sesuatu yang berharga bukannya marah" tepisnya lagi,


"Ah bodo, ngapain gue ngurusin urusan orang lain" kemudian berjalan ke arah meja teman temannya


"Lo kenapa Al, kenapa muka Lo gitu amat" tanya Karel


"Ngak"


"Oh gue kirain Lo lagi ada masalah, cerita aja sama kita siapa tau kita bisa bantu" nasehat Karel tapi algaskar hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak ada masalah yang lain mengangguk tand amengerti, mereka juga sadar kalau seandainya algaskar punya masalah dia pasti akan cerita kalau dia tidak cerita mungkin dia punya alasan atau dia bisa menyelesaikan sendiri mereka tidak ingin memaksa.