Cool Girls

Cool Girls
#14



Arumi memasuki pintu kantin yang penuh oleh murid murid yang kelaparan, dan Arumi salah satu di antara mereka dia terlebih dahulu memesan makanan baru mencari tempat duduk. Setelah memesan bakso Arumi mencari tempat dan dia menemukan kursi yang cukup agak di tengah kantin Arumi sebenarnya tidak ingin duduk di sana tapi tidak ada tempat yang kosong lagi.


Dan Tampa Arumi sadari saat pertama masuk kantin dia di perhatikan segerombolan siswi bisa di bilang mereka cukup populer karena berasal dari keluarga terpandang.


"Kita punya mangsa baru" celetuk salah satu dari mereka yang berpenampilan glamor, tapi bukannya terlihat keren atau berkelas tapi malah kelihatan norak.


"Lo yakin nay?" Tanya salah satu temannya


"Yakin lah," jawab remeh Nayla, Nayla dan teman temannya adalah sekelompok pembully suka merundung siswi yang lebih renda di dari mereka.


"Tapi liat tampangnya dia kek serem gitu, dingin banget kayak Algaskar, gue takut" gidik salah satu dari mereka


"Dia emang keliatannya aja kayak


gitu, kalau udah di bully udah lemah"


yakin Nayla, dia lupa kalau Arumi


tidak pernah kalah dan tunduk sama


dia.


"Ayo" lanjut Nayla berdiri dari tempatnya di ikuti teman temannya berjalan ke arah kursi Arumi, semua penghuni kantin melihat melihat ke arah mereka, mereka sudah tau kalau Nayla seperti itu pasti akan membully lagi, dan itu terjadi setiap ada murid baru.


Brak


Gebrakan meja Arumi membuatnya mendongak ingin melihat siapa yang berani mengganggu acara makannya, saat tau ternyata Nayla dkk dia lansung tersenyum miring kemudian melanjutkan makannya.


"Heh Lo beliin gue makanan" perintah Nayla angkuh tidak membuat Arumi beranjak atau sekedar melihat ke arah mereka.


"Lo denger gak Nayla bilang apa" ucap salah satu dari mereka mencoba berani


"Pesenin gue makanan sekarang atau Lo gue bikin malu disini" gertak Nayla tetap tidak membuat Arumi beranjak dari tempatnya masih memakan makanannya dengan pelan karena masih cukup panas di tambah sambal yang banyak.


Karena tidak sabaran dan emosi Nayla lansung menarik tangan Arumi berdiri. "Lo denger gue nyuruh pesen makan, Lo bisu?" Emosi Nayla


"Punya tangan kan? Pesen sendiri" datar Arumi berniat kembali duduk tapi Nayla lansung menariknya dan mendorong Arumi untung saja Arumi bisa seimbang sehingga tidak terjatuh.


"Lo berani lawan gue" Nayla


yakin kalau Arumi tidak akan melawannya karena takut dengan sang ayah.


"Lo ngak tau siapa gue, Lo mau gue keluarin Lo dari sekolah ini" ancam Nayla seolah dia tidak kenal dengan Arumi, sedangkan Arumi tidak peduli, Nayla tidak tau saja Arumi tidak akan peduli dengan kemarahan sang ayah asal dia merasa terganggu maka akan dia lawan.


"Lo mau makan? Mau gue pesenin?" Setelah mengatakan itu Arumi lansung mengambil mangkok bakso yang isinya masih lumayan banyak dan menyiram ke kepala Nayla.


Byurr


"Aaaaa panas panassss" histeris Nayla "Arumi sialan" murka Nayla


"Mau gue pesenin minum juga" Arumi lansung mengambil minumannya dan kembali menyiram ke kepala Nayla.


"Udah gue pesenin tuh" santai Arumi lalu pergi dari kantin dengan mood yang buruk karena acara makannya di ganggu sama nenek lampir itu, dan Dia yakin nanti akan ada panggilan pulang lagi karna Nayla pasti akan mengadu dan melebih lebihkan. "Dasar anak manja" geram Arumi dengan tatapn tajam di sepanjang jalan di koridor. Sesampainya di Kelas dia lansung di sambut dengan Agnes beserta ke 5 pengawalnya siapa lagi kalau bukan alister.


"Emm Arumi kita kan satu kelompok"


"Hmm" jawab datar Arumi, dia berusaha menekan emosinya


"Atur aja"


"Gue boleh minta nomor hp Lo ngak" minta Agnes pelan pelan "biar nanti kita bisa hubungin Lo tempat buat kerja kelompoknya di mana" lanjut Agnes cepat sebelum dia mendapat penolakan dari Arumi.


Arumi menghela nafas pelan mengatur emosi berusaha meredakan "hp Lo" minta Arumi lansung di berikan oleh Agnes, Arumi mengetik nomornya di sana lalu mengembalikan ponsel Agnes


"Makasih"


"Hmm"


Arumi duduk di kursinya menunggu bel sebentar lagi akan masuk, sedangkan inti alister sedari tadi hanya memperhatikan Agnes dan Arumi takut takut Arumi akan menyakiti Agnes dengan penolakan Arumi.


***


Bel waktu pulang sudha berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas begitu pun kelas Arumi dan aruminya sendiri pun sedang berjalan keluar untuk pulang.


"Arumi" panggil seseorang membuat Arumi menoleh dan menemukan Agnes berjalan ke arahnya dan jangan lupakan Ke 5 pengawalnya


"Nanti ingat ya kita kerja kelompok nanti gue hubungin tempat sama jamnya" peringat Agnes sambil tersenyum yang di balas Arumi dengan muka datar


"Hmm" hanya itu ucapan Arumi lalu berlalu dari sana meninggal kan mereka yang diam menatapnya.


"CK tu orang ya, dingin bener" celetuk Romeo tiba tiba, dia cukup keki menghadapi sikap Arumi. Walaupun sudah terbiasa menghadapi orang seperti itu karena sang ketua juga sama sebelas dua belas tapi ini cukup Algaskar saja kenapa harus nambah satu lagi.


"Yaudah yuk balik ngak usah di pikirin" ujar Karel membuat mereka mengangguk lalu pergi dari sana.


"Al, woii kok bengong" ucap Raka menyadarkan algaskar yang sedari tadi melamun bahkan matanya tertuju ke arah tempat menghilangnya Arumi.


"Lo mikirin apa" tanya Raka lagi


bingung


"Ngak" datar Algaskar lalu meninggalkan raka yang bengong ditinggal begitu saja.


"CK punya ketua gitu banget" decakan kesal raka menyusul teman temannya.


***


karena arumi tidak membawa motor dia berjalan ke arah halte bus, saat sedang menunggu bus ponselnya berbunyi dia liat ternyata sang ayah, dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


"Hal-"


"APA YANG KAMU LAKUKAN ANAK KURANG AJAR, PULANG KAMU!!!" teriakan murka sang ayah memotong ucapan Arumi, dia tidak kaget lagi dia sudah perkirakan Ini akan terjadi.


"Hmm" ucap Arumi kemudian sambungan terputus.


"Huuuf" helaan nafas lelah Arumi "trus gue gimana kerja kelompoknya sama mereka, gue ngak mungkin keluar dari rumah dengan


Ke adaan baik baik aja, gue juga yakin ini ngak akan sesingkat sebelumnya" monolog Arumi, ini untuk pertama kalinya dia melawan Nayla menggunkan fisik, karena Nayla pun melakukan fisik, sebelum sebelumnya mereka hanya adu mulu, itu karena Arumi jarang di rumah dan dulu mereka tidak satu sekolah jadi jarang bertemu. Meskipun Arumi bingung tapi dia tidak akan mengabaikan sang ayah dia tidak peduli kalau Agnes dan inti alister marah.


Setelag bus datang Arumi lansung masuk dia akan ke apartemennya dulu untuk mengambil motor baru setelahnya pulang menemui sang ayah dan menerima hukuman yang Arumi yakini tidak jauh dari kekerasan.


***


Arumi sudah di dalam apartemennya dia ganti baju dan siap siap untuk ke rumah sang ayah dia tidak berniat makan siang terlebih dahulu.