
"Saya sudah obati, saya hanya tidak ingin ke sekolah dengan penampilan seperti ini" bohong Arumi, dia tidak pernah mengobati lukanya, semoga saja tidak infeksi.
"Anda ingin mengobati saya atau saya akan pergi cari salon yang lain" tanya Arumi yang mulai tidak sabaran, apa lagi sebentar lagi dia akan masuk.
"Eh baik kami akan menutupi luka di wajah kamu" putus wanita itu, kemudian memerintahkan pegawainya untuk memakaikan make up di wajah Arumi.
15 menit berlalu muka Arumi selesai di tutupi dengan make up dan sudah lebih baik, jika di lihat sekilas seperti tidak memakai apa apa, kecuali jika di perhatikan
***
Arumi sampai di sekolah tepat waktu untungnya tangannya tidak gemetar lagi sehinggal dia bisa sampai dengan cepat. Memasuki kelas ternyata guru belum datang, dia menjadi pusat perhatian karena kemarin sempat tidak masuk dan bermasalah dengan Bu sari karena tidak ikut mengerjakan tugas kelompok dan tidak hadir kemarin, jadi dia disuruh menghadap dengan Bu sari.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" teriakan dari dalam membuat Arumi membuka pintu dan masuk.
"Ibu panggil saya" tanya Arumi
datar
"Arumi? Iya silahkan duduk"
"Kenapa kamu tidak ikut mengerjakan tugas kelompok yang ibu kasi dan kamu juga tidak masuk kemarin"
"Saya lupa kalau ada tugas, dan kemarin saya bangun telat" datar Arumi terlihat santai, benar benar tidak terlihat sedang berbohong tatapan dan ekspresi yang sulit di mengerti membuat siapa pun tidak dapat menebaknya.
"Arumi saya tidak bisa menerima alasan kamu, dan itu tidak masuk akal, kecuali kalau kamu memang tidak ingin mengerjakan" tegas sang guru.
"Saya akan kerjakan sendiri" santai Arumi
"Bukan itu masalahnya Arumi, tapi ini adalah kerja kelompok dan kamu adalah murid baru seharusnya awal masuk kamu memberi kesan dengan kami, bukan malah mendapat laporan dari teman kamu" nasehat Bu sari lagi
"Saya tidak akan ulangi lagi" masih tetap santai
Bu sari menghela nafas panjang melihat murid barunya itu "baik karena ibu juga butuh nilai kamu dalam tugas ini sebagai nilai pertama, silahkan kamu kerjakan sendiri di perpustakaan dan kumpul sebelum jam istirahat" perintah Bu sari.
Arumi lansung keluar menuju perpustakaan untuk mengerjakan tugas yang di berikan dengan santai Tampa beban sedikitpun.
Arumi sedang fokus mengerjakan tugas yang di berikan Tampa disadari Algaskar duduk di kursi di depan Arumi.
"Hmm" deheman Algaskar mmebuat Arumi mendongak memicingkan mata bingung melihat Algaskar ada disini.
"Lo kenapa Disini" tanya Algaskar tiba tiba
"Nugas" singkat Arumi
"Lo kenapa ngak datang kemarin" tanya Algaskar penasaran
"Gue lupa ada tugas"
"Sekolah"
"Kesiangan" singkat Arumi lagi kembali mengerjakan tugas.
"Lo fikir gue percaya" senyum miring Algaskar
"Lo ngak percaya juga gue ngak peduli" cuek Arumi tidak peduli dengan algaskar
"Apa yang Lo sembunyiin sebenarnya" ucap tiba tiba Algaskar
Arumi mendongak dengan muka bingung menatap Algaskar " sembunyiin apa, bukannya Lo udah tau semuanya"
"Urusannya sama Lo apa, kita
Kenal aja enggak, ngapain harus peduli urusan gue" tegas Arumi kemudian beranjak pergi dari sana meninggalkan Algaskar yang terdiam.
"Kenapa gue kepo sama dia sih, ngak penting banget" kesal Algaskar pada dirinya sendiri kemudian ikut beranjak dari sana.
Setelah mengumpulkan tugas Arumi lansung ke kantin untuk makan, bukan hal susah mengerjakannya bagi Arumi, dia memiliki otak yang cerdas dan pintar jadi bukan masalah.
"Gue kira Lo ngak bakal masuk sekolah dengan muka luka Lo itu ternyata Lo cukup pintar yah buat nutupin" bisikan tiba tiba di telinga Arumi
"Lebih tepatnya gue bukan orang yang lemah, luka kecil doang lansung masuk rumah sakit" sinis Arumi kemudian mendongak melihat Nayla.
"Lo ngak usah macam macam luka Lo belum sembuh jangan sampai gue bikin nambah" senyum mengejek Nayla
"Lo fikir gue peduli" santai Arumi, kemudian beranjak dari sana tidak peduli dengan Nayla yang emosi di sana.
Entah kenapa kali ini Arumi cukup emosi tidak seperti biasanya yang bisa menahan emosinya dia merasa ada sedikit getaran di hatinya walau hanya sedikit tapi dia bisa merasakan tidak seperti dulu yang seolah mati, apa Arumi mulai mengharapkan sosok seorang ayah atau membutuhkan seseorang untuk bersandar?
Arumi merasa setelah kejadian kemarin dia merasa lemah dia merasa bisa merasakan sakit bukan fisik tapi hati "apa yang terjadi sama gue, ngak mungkin sesuatu yang sudah mati, hidup kembali" lirih Arumi. Berbeda dengan dulu, sekarang Arumi sudah banyak berinteraksi dengan orang-orang dia merasa energinya terkuras tapi disisi lain dirinya juga perlahan mulai berubah.
"Arumi Lo kemana aja kemarin, gue udah hubungin Lo tapi ngak Lo angkat, trus Lo juga ngak masuk sekolah?" Pertanyaan beruntu dari Agnes ke Arumi saat Arumi memasuki kelas.
Arumi hanya terdiam, dia cukup berusaha mati Matian untuk menahan emosi, jangan sampai dia berurusan kembali dengan inti alister.
"Sorry gue lupa" pelan Arumi tapi masih terdengar datar
"Yaudah ngak papa, Lo kan baru pertama jadi mungkin Lo belum terbiasa" maklum Agnes tersenyum manis ke arah Arumi, Agnes ingin sekali berteman dengan Arumi, dia merasa Arumi tulus dan apa adanya tidak fake seperti temannya yang lain.
"Hmm" Arumi berjalan ke kursinya untuk duduk, dan di perhatikan oleh inti alister sedari tadi.
***
Sekarang sudah waktunya pulang semua murid sudah pulang kecuali Arumi yang masih berjalan di koridor sekolah dia tampak sengaja pulang paling akhir. Dia berjalan menuju motornya untungnya saat ini tangannya tidak gemetar lagi jadi dia bisa bawa motor pulang.
"Karena kejadian kemarin gue ngak lanjutin perncarian soal Sonia dan Felix" guman Arumi dalam hati.
Saat di pertengahan jalan tiba tiba tangan Arumi gemetar lagi dan tidak merasakan apa apa "**** ini tangan gue kenapa lagi" kesal Arumi juga was was karena jalanan ramai dan dia tidak bisa mengendalikan motornya, dan sialnya di depan lampu merah dengan sekuat tenaga dia membelok motornya hingga menabrak trotoar jalan.
BRAKK
Semua pengendara jalan melihat ke arahnya dan hanya ada beberapa pejalan kaki yang berusaha membantu, sedangkan sedari tadi Algaskar juga ada di sana memperhatikan Arumi sedari Arumi mulai tidak bisa mengendalikan motornya, saat Arumi jatuh dia kaget dan segera menghampiri untuk membantu.
"Mbak ngak papa, mau di bawa ke rumah sakit" tanya salah satu pejalan kaki di sana
"Ngak usah pak"
"Mbak bisa bawa motornya" tanyanya lagi
"Bisa kok pak"
"Yaudah hati hati yah" lalu mereka pergi dari sana setelah melihat Arumi sudah berdiri.
"Lo ngak papa" ujar tiba tiba seseorang membuat Arumi menoleh
"Algaskar, Lo Ngapain disini" bingung Arumi
"Gue ngak sengaja liat Lo jatuh" jawab Algaskar "gue anterin Lo ke rumah sakit" lanjutnya
"Ngak usah, gue udah ngak papa" tolak Arumi
"Lo yakin bisa" ragu Algaskar
"Bisa"