Cool Girls

Cool Girls
#16



Dulu Arumi pernah di Buang oleh Sonia di sebuah pinggiran hutan di tengah jalan di tengah malam, dan dia ditemukan oleh seorang nenek, lalu membawanya ke tempat tinggalnya Di sebuah gubuk di tengah hutan dan setelah ke esokan paginya Arumi di antar kembali ke tempat semula dia temukan dan di sana di jemput kembali oleh Sonia. Sejak saat itu setiap Arumi di pukuli oleh ayahnya dia selalu datang di tempat ini untuk di obati oleh nenek asih, tapi nenek asih sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, walaupun Arumi juga bersikap dingin dengan nenek asih sama seperti kepada orang lain tapi Arumi sayang dengannya, dan semenjak nenek asih meninggal, disitulah Arumi mulai jauh berubah sikat dinginnya yang dulu semakin bertambah, sering balapan, bela diri dan lain lain hidup sendiri membuat Arumi harus mandiri.


"Aduh ini muka gue bengkak semua lagi, gue ngak bisa sekolah besok kalau gini" keluh Arumi, semua badannya remuk, kepalanya penuh darah, mukanya bengkak, perutnya memar, dan punggungnya terdapat luka cambuk.


Arumi kemudian mematikan total ponselnya lalu berbaring di kursi bambu tua itu, Berjam jam Arumi berbaring di sana tidak ada niatan untuk mengobati lukanya atau sekedar makan malam, hari sudah sangat larut lilin yang di hidupkan hampir padam, tak lama lilin pun padam bersamaan dengan yang terlelap bersama luka.


***


Pagi hari Arumi terbangun dan rasanya dia tidak bisa bergerak, luka luka di tubuhnya belum mengering, mukanya tambah membengkak dan tangannya gemetar tidak berasa.


"Aaah ini gimana gue bangunnya gue ngak punya tenaga lagi" lemah Arumi, tapi tetap berusaha bangun dengan sedikit meringis. Dia meraih plastik yang dibawanya tadi malam membuka isinya yang terdapat beberapa roti dan minuman kemudian memakannya, dia belum makan sedari kemarin siang membuat perutnya keroncongan.


"Bunda" guman lirih Tampa sadar di selah makannya, untuk pertama kalinya dia memanggil seseorang yang melahirkannya. Arumi tidak pernah tau siapa yang melahirkan dirinya, namanya pun tidak dia ketahui, begitupun dengan wajahnya.


"Kenapa gue manggil seseorang yang bahkan gue sendiri tidak tau siapa"


"Kenapa takdir gue harus kayak gini sih, rasanya capek tuhan gue pengen nyerah tapi gue lebih ngak pengen mereka yang mengharapkan kematian gue bahagia atas kepergian gue" frustasi Arumi menahan segala kesakitan yang tiada henti. kian menghantam


Arumi kembali berbaring setelah makan, dia butuh istirahat agar bisa kembali setidaknya ke apartemennya dulu.


***


"Kok Arumi ngak masuk yah" tanyak Agnes pada yang lain


"Tau, mungkin ngak berani kali karena kemaren ngak ikut kerja kelompok" ketus Romeo


"Kok Lo gitu sih, kita kan satu kelompok jadi harus bareng dong ngumpulin tugas"


"Ngapain orang dia kemarin ngak ngerjain kok, disini tu dia ngak ada bagian jadi kalau mau dapat nilai harus kerja sendiri" kekeh Romeo


"Bisa diem ngak, ngak usah berantem mending kita kumpulin nih sebelum ntar ngak di terima" lerai


Karel


"yaudah yok" ajak raka, lalu mereka pergi kecuali Algaskar


"Al Lo ngak pergi" tanya Karel


"Ngak" singkat Algaskar


"Yaudah, kita aja yang pergi" ucap Karel.


***


"Halo tuan muda" ucap orang di


sebrang sana


"Gue mau Lo cari tau keberadaan seseorang"


"Siap tuan muda, siapa yang harus saya cari"


"Arumi aksara"


"Baik tuan"


Tut


***


Soreh harinya Arumi sudah lebih baik, Arumi termasuk perempuan yang kuat dalam hal fisik dia siap siap untuk untuk kembali ke apartemennya dan untuk sementara mungkin dia tidak akan kembali dulu ke rumah sang ayah. Arumi keluar dari gubuk dengan pelan jujur badannya saat ini sakit diantidaj yakin kalau tidak ada tulang yang patah, saat akan bersiap melajukan motornya tiba tiba tangan kanannya gemetar tidak bisa merasakan apapun.


"Tangan gue kenapa" bingung Arumi memperhatikan tangannya yang gemetar dan tidak berperasaan saat dia mencoba memegang stir motornya dia tidak bertenaga.


"Tangan gue kenapa sih" Arumi sudah mulai frustasi dia berusaha menggerakkan tangannya tapi seperti mati rasa, Arumi mencoba mengepalkan tangannya tapi gemetar. Dia diam sejenak menghela nafas mengatur tenaga dan keseimbangan tubuhnya, tangannya perlahan dia gerakkan dengan pelan. Hingga tak lama kembali seperti semula lagi.


"Eh itu bukannya queen itu yah"


"mana?"


"Itu yang di lampu merah sebelah kiri, motornya sama"


"Eh iya, dia tu ngapain ya"


"Ngak tau" acuhnya lalu tidak peduli lagi, berbeda dengan sang ketua terus memperhatikan Arumi sampai lampu berganti warna.


"Kalian duluan gue ada urusan" kemudian melaju pergi tanpa peduli teriakan teman temannya.


***


Setelah sampai di apartemen Arumi lansung naik Tampa membuka helmnya, sedari tadi dia sadar kalau sedang di ikuti tapi dia tidak peduli karena menurutnya itu bukan berbahaya, yang dia pedulikan sekarang harus sampai di kamarnya segera untuk istirahat, sedari semalam ponselnya tidak dia aktifkan lagian tidak akan ada yang mencarinya.


Setelah masuk baru Arumi membuka helm menuju kamar membersihkan diri dan mengganti baju "kayaknya gue harus ke rumah sakit buat periksa tangan gue" gumangan Arumi


Sementara Algaskar saat ini sedang berada di bawah, tepat di gedung apartemen Arumi, ternyata yang sedari tadi yang mengikuti Arumi adalah Algaskar.


"Jadi dia tinggal disini" guman algaskar.


Drrtt


Drrtt


"Halo"


"Halo, tuan muda saya hanya menemukan alamat rumah dan apartemen yang di tempati nona Arumi, alamatnya sudah saya kirim die anda"


"Hmm apa lagi"


"Untuk sekarang hanya itu tuan, tapi saya merasa ada yang janggal dengan keluarga mereka"


"Kalau tentang itu saya sudah tau, cari tau lagi"


"Baik tuan saya laksanakan"


Tut


"Siapa sebenarnya dia, kenapa identitasnya susah di tembus bahkan orang kepercayaan bokap gue sekali pun"


***


Sebuah motor sport yang di kendarai Arumi memasuki sebuah parkiran salon yang cukup terkenal, Arumi masuk Tampa membuka helm.


"Silahkan masuk kak, ada yang bisa di bantu" ramah pegawai salon tersebut.


"Hmm, saya mau di make over"


"Baik silahkan masuk, kakak ingin seperti apa" tanya pegawai itu lagi.


Arumi membuka helm dan terlihat lah muka lebamnya yang sudah tidak terlalu bengkak tapi lukanya masih basah "saya mau tutupin luka saya" datar Arumi lansung duduk di kursi salon.


Pegawai itu cukup terkejut dengan kondisi wajah Arumi "ba-baik kak, tunggu sebentar saya siapin dulu" pegawai itu lansung pergi dari sana, tak lama keluar seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik, sepertinya dia owner salon ini.


"Ada yang bisa di bantu" ucapnya ramah kepada Arumi.


Arumi mendongak melihat orang itu kemudian menjawab "saya mau nutupin luka di wajah saya" ucap dingin Arumi


"Tapi saya liat luka kamu masih basah dan cukup parah, apa tidak di obati dulu saya takutnya akan tambah parah kalau di make up" saran wanita itu, merasa kasihan dengan Arumi, entah apa yang terjadi dengan gadis yang dia yakini sangat cantik ini walaupun wajahnya penuh lukan dan lebam.