
Satu Minggu berlalu setelah pemasangan cctv di rumah sang ayah, sekarang jadwal Arumi untuk cek up dan terapi, Arumi sudah jarang gemetar kalau meminum obatnya tepat waktu, tapi bukan itu yang membuat Arumi semangat untuk cek up tapi karena dia akan menyelidiki soal Fiko adik Felix.
"Dokter ana ada" tanya Arumi to the poin
"Apa sudah ada janji sebelumnya"
"Saya ada jadwal cek up dari Minggu lalu" jelas Arumi pada resepsionis itu
"Baik silahkan ke ruangan dokter ana, beliau sudah datang dan menunggu anda" persilahkan resepsionis itu.
Arumi berjalan pergi menuju ruangan dokter ana, tapi tetap menutupi wajahnya, dia takut nanti ada Felix atau anak buahnya yang melihatnya.
Tok tok tok
"Masuk" sahutan dari dalam, membuat Arumi lansung masuk.
"Silahkan duduk, oiyah ada jadwal cek up yah" ramah dokter ana
"Iya" jawab Arumi seadanya
"Silahkan, saya akan periksa" persihlakan dokter ana, lalu lanjut cek up.
"Gimana, apa masih ada keluhan" tanya dokter ana
"Udah jarang, kalau teratur minum obat" jelas adumi seadanya
"Sudah tidak separah sebelumnya, tapi kamu masih tergantung dengan obat, jadi masih butuh terapi agar bisa sembuh total. Tidak perlu menkonsumsi obat lagi." Terang dokter ana. "Mari kita keruang terapi, hanya sekita lima belas menit" lanjut dokter ana, menuntun Arumi ke luar ruangannya menuju ruang terapi. Arumi mengikuti dengan tetap waspada takut takut ada yang mengenalinya.
Selama lima belas menit Arumi terapi, dia tidak mengeluh apa apa karena pada dasarnya Arumi anak yang kuat. Dia hanya tidak sabar ingin mencari tau soal Fiko. Setelah selesai terapi Arumi keluar lebih dulu, melihat situasi yang ternyata sepi mendukung penyelidikan Arumi. Arumi berjalan pelan tetapi tetap normal agar tidak mencurigakan. Sampainya di depan ruangan di seolah berhenti karena ponselnya berbunyi, padahal tidak ada yang menghubungi. Dari ekor matanya Arumi bisa melihat ada orang di dalam. Dan sayup sayup Arumi mendengar pembicaraan mereka.
"Gimana dengan mereka" tanya laki laki yang bisa Arumi tangkap, itu Felix
"Setelah anak itu keluar dari rumah sakit, saya liat tidak ada pergerakan lagi bos." Lapor anak buahnya
"Kurang ajar!! Jadi, dia mengabaikan perintahku" emosi Felix merasa di bodohi. Dia sudah membantu tapi ternyata mendengar perintahnya.
"Jadi apa rencana anda selanjutnya?" Tanya anak buahnya
"Saya akan temui anak itu, akan saya suruh dia lagi, kalau tidak mau, kita bikin rencana lain." Putus Felix
"Bos apa tidak sebaiknya, kita tunggu Fiko sadar dulu" saran anak buahnya
"Kita tidak tau kapan dia akan sadar," jawab Felix memandangi Fiko yang terbaring lemah.
"Bukannya wanita itu, ingin menghadirkan dokter dari luar, untuk Fiko"
"Iya, tapi itu tidak menjamin. Kita harus tetap bergerak atau mereka akan curiga dengan kita" ujar Felix " nanti akan saya hubungi wanita itu lagi soal dokter untuk Fiko" lanjut Felix lagi
"Kamu boleh keluar" perintah Felix yang dj angguki Sanga anggota
"Saya pamit bos" pamit sang bawahan, kemudian keluar dari ruangan itu. Arumi yang melihat itu lansung pergi dari sana untuk bersembunyi. Saat orang itu sudah menjauh Arumi keluar dari persembunyiannya tapi tidak mendekat, dia hanya memantau dari jarak yang agak jauh, tapi masih bisa terlihat dari tempatnya sekarang.
Guman Arumi masih memperhatikan ruangan Fiko. Sampai 30 menit berlalu Arumi melihat Felix keluar dari ruangan itu, Arumi kembali bersembunyi sampai Felix Melewati tempatnya sembunyi. Setelah menjauh Arumi keluar dan berjalan ke arah ruangan Fiko. Dengan perlahan Arumi membuka pintu, dia juga harus hati hati takutnya ada cctv atau jebakan.
Arumi memperhatikan seluruh ruangan Fiko, meneliti setiap sudut mencari cctv atau semacamnya. Setelah merasa aman dia menoleh kearah brangkar dan dilihatnya terdapat seorang laki laki yang kira kira seumuran dengannya. Dia terbaring tidak sadarkan diri terdapat banyak alat alat di tubuhya. Arumi berjalan dengan pelan ke arahnya.
"Jadi ini dibilang Fiko" guman Arumi sambil memperhatikan sekitar takut takut ada orang yang masuk.
"Waktu gue ngak banyak, jangan sampai ada yang curiga." Arumi kemudian mengeluarkan cctv dari saku jaketnya kemudian mencari tempat untuk menyimpannya. Arumi berjalan ke arah pintu memperhatikan lalu kemudian tersenyum miring. Dia menempel kan di atas pintu dengan hati hati, cctv itu tidak akan terlihat jika tidak di perhatikan dengan jelas karena tranparan, berbeda dengan yang di pasang di rumah sang ayah. Setelah selesai memasang Arumi berjalan keluar dari ruangan itu, setelah sampai di parkiran Arumi memesan taksi. Memang Arumi tidak perna memakai motor setiap akan kerumah sakit.
***
"Dimana gue harus cari orang itu, mama aja ngak pernah liat. Dan sekarang pasti dia udah besar" bingung Algaskar dengan permintaan sang mama. Algaskar saat ini ada di balkon kamarnya, setelah tadi di rumah, dia malah di larang keluar oleh mamanya katanya masih kangen. Jadi dengan terpaksa Algaskar hanya tinggal di rumah saja.
Drrtt
Drrtt
"Hmm" kata pertama yang keluar setelah mengankmenoleh
"Lo ngak ke markas" tanya orang di sebrang
"Nggak" jawab singkat Algaskar
"Kenapa"
"Ada nyokap gue"
"Oh ok deh kalau gitu, ini sebenarnya ada yang mau kita bahas tapi kalau Lo nggak bisa kesini. Besok aja" jelas orang itu, yang tidak lain adalah Karel.
"Hmm" Tut, sambungan di matikan sepihak oleh Algaskar yang membuat orang di sebrang ingin mengumpat.
"Al kamu ngapain sayang Disini" nyonya Gutama tiba tiba muncul, membuat algaskar menoleh
"Nggak papa mah, cari angin segar" jawab Algaskar sekenanya.
"Yuk makan malam dulu, cari anginnya lanjut nanti" ajak sang mama, Algaskar mengikuti sang mama untuk makan malam. Untuk pertama kalinya setelah dulu orang tuanya di luar negri Algaskar tidak pernah makan malam di rumah. Hanya di markas kalau tidak di apartemen.
Di meja makan sudah ada mama, papa, dan Algaskar.
"Al mau makan apa sayang" tanya sang mama
"Apa aja mah" ujar Algaskar, kemudian sang mama mengambilkan nasi beserta lauk lalu di berikan kepada anak satu satunya.
"Ayo sayang di makan, ini pertama kalinya Lo kita makan bersama" ujar sang mama
"Iya mah, ini Al makan" ucap Al seadanya, dia sebenarnya tidak suka di manja seperti anak kecil begini, apa lagi Algaskar di kenal sebagai orang yang dingin dan datar, tapi dari pada sang ibu kecewa jadi Algaskar terima terima saja asal tidak banyak orang.
"Gitu dong sayang, mama seneng banget. Kamu kan jarang di rumah jadi kapan lagi" antusias sang nyonya Gutama.