Cool Girls

Cool Girls
#18



Arumi kemudian berjalan ke arah motornya menaiki dan mencoba untuk menjalankan dengan algaskar tetap di belakangnya.


"Gimana?bisa" tanya Algaskar melihat Arumi hanya diam saja.


Arumi tidak menjawab karena jujur tangannya masih gemetar dan dia benar benar tidak bisa merasakan apapun "tangan gue kenapa sih" keluh Arumi dalam hati dan tetap berusaha menggerakkan tangannya, Arumi sudah menggapai stir berusaha menjalankan tapi dia hampir terjatuh karena tidak merasakan menyentuh apapun untungnya lansung di tahan oleh Algaskar.


"Gue anterin Lo pulang" putus Algaskar Tampa bantahan


"Gue bisa sendiri" tetap datar


Arumi


Tampa menjawab Algaskar lansung menurunkan Arumi dari motor dan membawanya ke motornya dan Arumi tidak bisa memberontak karena yang di tarik adalah tangan kanannya.


"Naik" ucap Algaskar, kemudian mau tidak mau Arumi naik dan Algaskar melaju pergi dari sana.


Lima belas menit mereka sampai di gedung apartemen Arumi "Lo tau dari mana apartemen gue" tanya Arumi penasaran


"Lo ngak perlu tau" tidak mungkin Algaskar bilang kalau dia perna mengikuti Arumi sampai ke apartemennya.


"Yaudah thanks, Lo boleh pulang" usir Arumi cuek


"Lo ngusir gue" kesal Algaskar


"Trus Lo mau apa" bingung


Arumi


"Gue anterin Lo sampai masuk" bukan tawaran karena tidak ingin di bantah


"Gue ngak papa" kekeh Arumi berjalan menjauh "eh motor gue gimana" tanyanya membalik kembali badannya menghadap Algaskar


"Gue bakal nyuruh orang buat anterin motor Lo" jawab Algaskar


"Oh yaudah makasih" lalu


kembali melanjutkan jalannya dan Algaskar mengikuti dari belakang, Arumi sudah tidak peduli lagi dia tetap melangkah ke arah kamar apartemennya.


Setelah lift sampai Arumi keluar masih dengan Algaskar di belakang."


Tangan Lo kenapa" tanya Algaskar tiba tiba saat melihat sedari tadi Arumi tidak pernah menggunakan tangan kanannya.


"Tangan gue kenapa" tanya balik


Arumi


Algaskar mendengus kesal "gue tanya kenapa balik nanya"


"Ya emang yang Lo liat tangan gue kenapa" Arumi terlihat biasa tidak ingin memperlihatkan kondisi dirinya yang sebenarnya kepada orang lain.


"Sedari tadi Lo ngak perna gunain tangan kanan Lo" ujar Al


"Kata siapa enggak kok" elak Arumi dan berusaha menggunakan tangan kanannya, untungnya saat itu tangannya sudah sembuh tidak lagi gemetar. Pintu terbuka "nih gue pake tangan kanan kan" ujar Arumi


"Gue mau istirahat mending Lo pulang" usir Arumi saat akan masuk


"Yaudah Lo istirahat, gue balik dulu nanti motor Lo bakal di antar" kemudian Algaskar pergi dari sana.


"Gue ngak bisa terus terusan kayak gini, Gue harus periksa kalau gini terus gue udah ngak bisa naik motor lagi" lirih Arumi menatap tangannya bergantian menatap punggung Algaskar yang mulai menjauh entah kenapa Arumi merasa setiap berhadapan dengan Algaskar sikap dingin dan datarnya perlahan berkurang.


Tampa memikirkan hal yang tidak penting Arumi masuk ke dalam apartemen, dia tidak perlu memikirkan orang lain walaupun mungkin Arumi merasa aneh dengan Algaskar tapi tidak membuat dia bisa percaya dengan orang kecuali dirinya sendiri. Arumi tidak mau menunggu lama dia bersiap siap untuk memeriksa tangannya.


"Rumah sakit" datar Arumi setelah memasuki taksi, dan mendengar nada datar Arumi sang sopir pun tidak berkomentar lansung menjalankan mobilnya.


Tiga puluh menit perjalanan Arumi sampai di sebuah rumah sakit tidak besar juga tidak kecil ini adalah rumah sakit cabang, dan Arumi sengaja datang kesini karena kemungkinan tidak ada yang mengenalnya beda jika kerumah sakit besar, pasti ada saja orang tau Arumi.


"Ada yang bisa di bantu" sapa resepsionis di lobi rumah sakit


"Saya mau cek up" masih dengan nada dingin dan datar.


"Baik tunggu sebentar, jadwal cek up hari ini adalah dokter ana saya hubungi Dulu apa ada pasien"


"Apa sudah ada janji terlebih dahulu" tanya resepsionis setelah menghubungi dokter ana


"Tidak" singkat Arumi


"Kebetulan lagi kosong, silahkan masuk ke lantai 2 disitu ada ruangan


Dokter ana" arah resepsionis itu.


"Hmm" Arumi lansung pergi dari sana menaiki lantai dua, menyusuri koridor rumah sakit di lantai dua mencari cari ruangan dokter ana, tiba tiba Arumi bersembunyi di tembok saat melihat seseorang yang dia kenal masuk ke sebuah ruangan yang di tebak Arumi adalah ruangan inap.


"Woow ada yang gue lewatin" guman Arumi dingin melihat orang itu, tapi bukan dulu itu yang harus urus setidaknya dia tau ruangan yang akan di la selidiki selagi mereka tidak melihat Arumi mereka tidak akan pindah. Setelah orang itu benar benar masuk baru Arumi keluar dari persembunyiannya kemudian berjalan ke ruangan dokter ana.


Tok tok tok


"Masuk" intruksi dari dalam membuat Arumi lansung masuk.


"Permisi" sapanya tapi tetap dengan nada datar


"Iya, jadi ada yang bisa di bantu" ramah dokter cantik yang bernama ana


"Saya mau cek up" jawab Arumi


"Ada keluhan apa"


"Tangan saya pernah terbentur dan semenjak itu terkadang tangan saya gemetar dan tidak bisa merasakan apapun" jelas Arumi


"Baik saya periksa dulu silahkan" persilahkan sang dokter.


Arumi mengikut dokter untuk diperiksa dia berbaring di atas brangkar dam kemudian di periksa oleh dokter. "Silahkan duduk" pinta sang dokter setelah selesai memeriksa


"Jadi gimana" penasaran Arumi.


Dokter ana tersenyum "ini terjadi karena sebuah benturan yang keras awalnya saya kira Penyakit Parkinson tapi saya menemukan memar dan pembengkakan di lengan kamu, juga terjadi retakan kecil yang menyebabkan rasa kebas, tapi ini tidak bisa di remehkan untuk menyembuhkan kamu tidak boleh beraktifitas berat dan tetap harus terapi, untuk sementara juga hindari menyetir mobil dan motor" kemudian seorang suster masuk membawa berkas hasil cek up


"Ini hasil cek up kamu dan untuk jadwal terapi kamu bisa datang Minggu depan, dan ini resep yang harus kamu tebus" jelas sang dokter hanya di angguki oleh Arumi.


"Kalau gitu saya permisi" pamit Arumi lansung keluar dari ruangan sang dokter. Saat di luar Arumi memperhatikan ruangan yang di masuki seseorang tidak ada tanda tanda pergerakan, Arumi kemudian lansung pulang tidak ingin gegabah dulu dia akan susun rencana sebelum menyelidiki ini.


***


"Saya mau tebus obat" ucap Arumi pada petugas apotik


"Baik tunggu sebentar" sang petugas kemudian menyiapkan obatnya karena tidak ramai jadi tidak perlu antri.


"Saya juga mau obat merah" ucap Arumi lagi


"Baik, totalnya 250 ribu"


Arumi lansung menyerahkan uangnya lalu pergi dari sana sebelum dia dilihat orang itu. Ada untungnya juga Arumi kesini walaupun dia kesini karena tidak ingin ada yang melihatnya atau mengenalnya tapi jika melihat orang tadi Arumi merasa bersyukur karena dia bisa mendapatkan tambahan informasi lagi.