
Sekarang Arumi berada di apartemennya, membuka komputer yang terhubung dengan cctv di rumah sakit. melihatnya sekita 45 menit setelah dia keluar dari sana, tidak ada yang mencurigakan laki laki itu belum sadar. Dan tidak ada pergerakan apapun hanya dokter yang pernah masuk mengganti infus. Felix atau anak buahnya pun tidak kembali lagi. Kemudian Arumi bergilir ke cctv di rumahnya lebih tepatnya di kamar sang ayah. Disitu Arumi melihat Sonia sedang menelfon dengan seseorang, Arumi lansung beralih mengaktifkan penyadap suaambil "Aku sudah, hubungin dan mungkin besok dia bisa datang" ujar Sonia
"Jangan sampai ada yang tau, kecuali kamu termasuk anak-anak mu" tegas Felix
"Kamu tenang aja, itu bukan urusan mereka, dan bukannya Fiko akan segera sadar. Dia hanya tidak di beri perawatan saja di rumah sakit besar" bahas Sonia
"Aku memang sengaja, kita ada
di kandang musuh. Aku tidak mau ada yang tau keadaan adikku saat ini. Dengan membuatnya tetap tertidur memudahkan aku untuk mengaturnya. Bersembunyi di balik kematian dan ini benar benar kesempatan yang bisa kita ambil untuk melawan mereka." Tutur Felix
"Jadi Kamu sengaja melakukan itu, kenapa?" Tanya Sonia kaget
"Karena ini bisa menjadi sebuah alasan kuat untuk melawan mereka, kalau kita tidak bisa melawan denga kekuatan kita bisa lawan dengan hukum. dan Fiko bisa kita jadikan alasan, dan mereka tidak akan bisa mengelak karena ini nyata terjadi dan di lakukan oleh keturunan Gutama" sinis Felix merasa bisa dengan mudah mengalahkan Gutama. Mungkin dia lupa kalau Gutama adalah seorang mafia, memang bisa saja dia mencari cara lain tapi Arumi dia tidak tau kalau Arumi bermain di belakangnya Tampa dia ketahui. Orang yang dia anggap lemah dan tidak ada urusan apa apa justru mungkin akan membuat dia terjatuh.
"Kamu ternyata cerdik juga sayang, dengan begitu kita bisa melawan dan menghancurkan mereka"
"Jadi masalah yang sebenarnya bukan Fiko dan alister tapi Felix dan Gutama. Dan apa, dia sengaja membuat Fiko adiknya tetap tertidur, hmm licik juga ternyata. Tapi mari kita liat siapa yang lebih licik" senyum devil Arumi penuh misterius. "Gue memang ingin menghancurkan Sonia, tapi gue nggak bilang kalau hanya Sonia." Lanjut Arumi tersenyum miring, yang berarti kemungkinan yang akan ikut hancur juga orang orang di sekitar Sonia. Jika orang yang melihat Arumi pasti berfikir Arumi hanya gadis polos dan lemah sama seperti yang di fikirkan oleh orang orang di sekitarnya tapi siapa sangka dia jauh lebih licik dan kejam. Dia bahkan tidak berfikir untuk mengasihani dan terbukti mungkin, Felix tidak ada urusannya dengan Masalah dia dengan Sonia tapi Dia dekat dengan Sonia, bahkan berbuat kejahatan bersama. Dan dia akan sedikit bermain dengan mereka.
"Dan Sonia Let's start the game" senyum miring Arumi "mungkin menurut Lo menyenangkan bisa menyakiti dan menghancurkan orang. Tapi mungkin Lo nggak tau akan jauh lebih menyenangkan sebuah pembalasan" sikap kejam dan tidak punya hati Arumi tidak pernah hilang, hanya saja hukuman yang dia terima kemarin dengan sang ayah cukup membuat rencana yang dia susun sedikit berantakan.
***
"Brayn Lo nggak mau lanjut rencana kita yang dulu, sebelum Lo keluar dari rumah sakit." Tanya salah satu teman brayn.
"Lo nggak liat gimana gue hampir mati gara gara Algaskar, belum lagi harus hadapin seluruh anak alister" sungut brayn. Dia cukup menciut jika membayangkan dia hampir mati di hajar Algaskar.
"Trus gimana sama perintah bos Felix?" Tanya Rio
"CK gue nggak tau. Untuk sekarang kalau dia nyari gue jangan bilang gue dimana" brayn akan menghindari Felix untuk saat ini, dia masih belum berani menghadapi alister. Dia tidak tau saja kalau Felix adalah selingkuhan ibu tirinya. Dan ibu tirinya yang menawarkan Felix untuk menjadikan dia pion balas dendam.
Saat ini brayn ada di markas lion. Setelah kecelakaan itu dia sudah jarang berkeliaran, dia lebih banyak tinggal di apartemen salah satu temannya. Dia takut ketemu alister atau Felix dan anggotanya. Brayn takut di hajar lagi oleh Algaskar dan Felix karena setelah gagal mencelakai Algaskar dia malah kabur.
"Emang Lo mau sembunyi di mana, dia bakal cari Lo, gue yakin" ucap teman brayn lagi.
"Gue nggak tau, bingung gue. Bokap gue lagi keluar kota gue ngak tau mau minta tolong siapa lagi." Frustasi brayn. Dia awalnya tergiur dengan tawaran Felix karena di janjikan akan memperkuat gengnya dan akan di bantu dalam segala hal, kalau dia bersedia menghancurkan alister. Tampa pikir panjang dia lansung terima, bahkan dia sudah menerima bayaran.
"Kita juga nggak mau Lo bawa bawa sama masalah yang Lo timbulin sendiri" kesal anggota brayn yang lain.
"Nggak usah sok iye lu, Lo juga nikmatin bayarannya" emosi brayn karena semua anggotanya seolah menyalahkan dirinya. Padahal mereka menikmati bersama.
"Udah nggak usah ribut, mending kita cari solusi bareng" lerai Rian salah satu anggota lion.
"Dahla gue cabut" brayn langsung pergi dari sana. Tampa menghiraukan temannya.
***
"Lo cari apaan" tanya Karel bingung.
"Temen mama" singkat Algaskar. Dia akan menyelidiki dulu soal rumah sakit itu.
"Ibu itu ngak ada namanya?" Tanya Raka
"Namanya Amira" singkat
Algaskar
"Ok gue cari dulu" kemudian Raka hanya fokus pada komputernya mencari informasi soal Amira, Sahabat nyonya Gutama.
"Kenapa Lo mau cari tau" tanya bara cukup penasaran, laki laki dingin dan irit bicara itu, cukup penasaran dengan apa yang di sampaikan Algaskar itu.
"Dia temen nyokap gue, tapi meninggal setelah melahirkan" Algaskar menjelaskan secara garis keras.
"Trus kenapa Lo mau cari tau kalau udah meninggal" tanya Romeo ikutan kepo.
"Anaknya masih hidup, tapi nggak tau dia dimana" jelas Algaskar dengan muka datarnya.
"Mungkin di bawa sama bapaknya" cetus Raka tiba tiba tapi masih fokus dengan komputer di depannya. Tidak menoleh sama sekali.
"Iya bener!" Seru Romeo heboh seperti mendapa sebuah ide brilian.
"Gue nggak tau" bingung Algaskar
"Mending Lo tanyak dulu sama nyokap Lo. Mungkin dia tau, siapa tau juga suaminya masih hidup kan. Kita bisa cari tau. Mungkin dia tau dimana anaknya atau bahkan dia yang rawat" saran Karel memberi solusi.
"Iya!! Al. Lo cari tau dulu soal suaminya" setuju bara dengan saran Karel.
"Nanti gue tanya sama nyokap gue"
"Gimana Raka" tanyak datar
Algaskar.
"Gue nemu data data ibu melahirkan 17 tahun yang lalu, cuma ini belum dapet nama Amira".