
Sekarang di kelas Arumi dan Algaskar sedang jam kosong, tidak ada guru yang masuk. Semua berkeliaran di dalam kelas dan luar kelas termasuk algaskar dan sahabatnya, entah dimana mereka sekarang. Dari jam istirahat saja mereka sudah keluar kelas dan belum Kembali sampai sekarang, tapi yang jelas mereka tidak pulang karena tasnya masih ada semua di bangku masing masing. Arumi sendiri hanya diam di kursinya sambil bermain ponsel, sebenarnya Arumi ingin mengecek keadaan dimana dia memasang cctv tapi dia tidak ingin gegabah. Memeriksa di tempat sembarangan apalagi ini di kelas banyak orang. Dan besok merupakan hari kepulangan sang ayah, jika mengikuti jadwalnya berarti besok waktunya, tapi entahlah apakah besok benar benar pulang atau tidak, akan di liat saat dia sudah ada di rumah. Dan Arumi tidak akan datang kerumah itu dulu setelah sang ayah pulang.
Tring
Tring
Bel pulang berbunyi semua murid yang tadinya santai santai di kelas lansung berhamburan keluar, Arumi membereskan bukunya memasukkan di dalam tas. Tapi tidak lansung keluar dia akan menunggu sepih dulu. Seperti wataknya Arumi tidak suka keramaian serta menjadi pusat perhatian, walaupun dia tidak akan peduli tapi kalau terus-terusan secara intens akan membuatnya risih juga.
Sekitar lima belas menunggu. Arumi sudah akan bersiap untuk keluar kelas, saat di ambang pintu dia berpapasan dengan Algaskar dan sahabat sahabatnya yang hendak masuk. Mungkin mau mengambil tasnya.
"Tungguin gue di parkiran, lansung ke rumah gue" pinta Algaskar dan berlalu masuk, Arumi hanya acuh melangkah keluar. Dia tau kalau algaskar tadi berbicara dengannya jadi dia ikuti saja, menunggu di parkiran. Arumi sudah sampai di dekat motornya dia masih berdiri sambil menunggu Algaskar, parkiran sudah sepih hanya beberapa motor saja yang mungkin memang pemiliknya masih tinggal, beserta motor Algaskar dan para sahabatnya.
***
"Kok gue kayak familiar yah sama tu motor Deket Arumi" celetuk Romeo tiba tiba saat berjalan menuju parkiran, dari tempat mereka sekarang memang bisa melihat ke parkiran.
"Kayak motor queen ngak sih" ujar Raka.
"Eh iya, jangan jangan si Arumi memang queen"
"Al" panggil bara, melihat ekspresi Algaskar seolah tau sesuatu.
"Hmm dia memang queen" jawab datar Algaskar lalu pergi dari sana, menghampiri Arumi yang menunggunya.
Sedangkan para sahabatnya melotot "jadi bener dia queen itu" syok Romeo lebay
"Kalau Al bilang iya, berarti bener. Nggak mungkin bohong kan dia"
"Iya sih" angguk Romeo "kalau dari postur dan wataknya, emang cocok"
"Udah cantik, dingin dingin datar gitu, pembalap lagi" puji Raka keluar sisi playboynya
"Lo kalau cewek kapan sih nggak cantik di mata Lo" kesal Romeo melihat penyakit sahabatnya kambuh lagi.
"Lo kenapa sih iri banget kalau gue banyak cewek" balas Raka
"Iri pala Lo, ngapain gue iri sama kandang cewek kayak Lo" ngegas Romeo menggeplak kepala Raka, kemudian pergi dari sana menuju parkiran dan melajukan motornya bersama Karel dan bara yang sedari tadi hanya memperhatikan adu bacot keduanya dengan jengah. Bahkan Arumi dan Algaskar sudah pergi dari sana.
***
Kini kedua motor sport itu sudah terparkir di depan sebuah Mension mewah milik keluarga Gutama. Arumi
< 25. sedari tadi diam. Bukan karena kagum dengan Mension mewah melebihi Mension sang ayah di depannya ini. Tapi entah mengapa perasaan Arumi sedikit aneh, seolah dia akan mengetahui sesuatu tapi tidak tau apa. Arumi menarik nafas dan mencoba mengabaikan perasaan aneh yang hinggap. Kemudian turun mengikuti Algaskar masih dengan wajah datar dan dinginnya.
"Masuk" ajak Algaskar kemudian masuk ke dalam Mension di ikuti Arumi. Sampai di ruang tamu yang sangat mewah. "Lo duduk dulu" persilahkan Algaskar
"Mama dimana" tanya Algaskar kepada asisten rumah tangga yang kebetulan melintas di sana "Nyonya di kamar tuan muda"
"Bikinin minum buat dia" suruh Algaskar pada sang asisten rumah tangga. Membuat minum untuk Arumi.
"Apa aja," jawab Algaskar Tampa bertanya dulu dengan Arumi, Arumi sendiri yang mendengar itu hanya acuh. Dia tidak milih dalam minuman kecuali alkohol. Lagian kalau dia mau ya dia akan meminum kalau tidak yah tidak. Kemudian Algaskar pergi menuju kamarnya Tampa berpamitan dengan Arumi.
Saat akan masuk kamar seseorang memanggil nama Algaskar.
"Al udah pulang sayang" tanya sang mama melihat Algaskar akan masuk.
"Iya mah" jawab Algaskar
Kepada sang mama.
"Oiyah, tumben kerja kelompok di rumah"
"Pengen aja"
"Yaudah gih ganti baju trus makan siang dulu baru kerja tugas" suruh sang mama yang lansung di laksanakan oleh Algaskar. Sedangkan sang mama turun akan menemui teman sang anak.
Deg
Deg
Masih di pertengahan tangga Kinan atau nyonya Gutama terdiam terpaku di tempatnya, melihat sosok gadis cantik yang duduk di sofa ruang tamu. Walaupun duduk menyamping tapi dia bisa melihat jelas wajah gadis itu.
"Am-"
"Mah" panggil Algaskar sudah ada di samping sang mama. "Mama ngapain di sini" tanya Algaskar heran melihat sang mama terpaku di anak tangga.
"A- Al itu, teman kamu" terbata sang mama bertanya.
"Iya, dia teman kelas Al, kenapa mah" tanya Algaskar penasaran melihat ekspresi sang mama.
"Eng gak papa, Em kamu ajak gih
temen kamu makan siang dulu, mama mau kekamar dulu" Tampa menunggu respon sang anak Kinan pergi meninggalkan Algaskar yang bingung dengan tingkah sang mama.
Sedangkan sang mama lansung masuk kekamar menutup pintu lalu menguncinya. "Apa itu dia, wajahnya sangat mirip. Ya Tuhan apa ini petunjuk mu, aku harus apa" Isak tangis Kinan mulai keluar, dia tau Algaskar tadi penasaran dengan sikapnya, tapi dia tidak bisa berkata kata. Dia tidak mau mengatakan dulu dengan Algaskar dia harus mencari tau dulu, setidaknya dia sudah dapat petunjuk.
Sedangkan Algaskar yang melihat sang mama merasa aneh tapi melihat mamanya baik baik saja dia tidak menyusul. Dia yakin mamanya akan bicara nanti, jadi dia meneruskan langkahnya menuju ke arah Arumi.
"Tuan muda, makan siang sudah siap" lapor maid kepada algaskar yang sedang menuju ke arah Arumi.
"Hmm" lalu menakutkan langkahnya.
"Kita makan dulu" ucap Algaskar tiba tiba mengagetkan Arumi. Arumi menoleh ke arah Algaskar mengerutkan alis bingung.
"Kita makan siang dulu, baru kerja tugas" bukan tawaran tapi seperti perintah mutlak membuat Arumi kesal. Dia ingin cepat cepat pulang untuk memeriksa sesuatu, dia tadi sedang mengecek cctv rumah sakit, tapi belum mendengar apa apa Algaskar sudah datang. Dan dia penasaran Tapi dia harus selesaikan tugas karena tidak ingin dihukum lagi seperti kemarin yang kerja tugas sendiri. Bukan masalah memang tapi kalau bisa kerja berdua kenapa harus sendiri. Arumi bukan murid yang bodoh di kelas bahkan di sekolah lamanya dia juara satu umum dan kelas, hanya saja dia anaknya tidak ingin ribet dan di atur, jadi tidak pernah ikut olimpiade.