Cool Girls

Cool Girls
#19



"bagaimana keadaan kamu" tanya seorang laki laki mudah itu Tapi tidak ada jawaban dari orang yang dia tanyai


"Saya akan balas semua yang terjadi sama kamu" tekat pria itu mengepalkan tangannya. Dia memandangi seorang remaja laki laki yang terbaring lemah tidak sadarkan diri, sudah satu tahun lamanya dia koma tapi tidak ada perubahan apapun.


"Abang tidak akan pernah membiarkan orang yang sudah membuat kamu seperti ini hidup tenang" tegasnya lagi penuh dendam kemudian tersenyum miring. Di pandanginya lagi wajah tirus itu dengan nanar, melihat sang adik seperti ini membuat dia berniat membalas dendam.


"Sekarang saya sudah mulai bergerak, kita cuma perlu memanfaatkan anak bodoh itu" ucapnya sinis.


***


Sampainya di apartemen Arumi lansung membersihkan diri kemudian mengobati luka di mukanya dia tidak menggunakan obat merah hanya salep saja katanya ribet padahal tadi dia sempat beli.


Tin ton


Tin ton


"Siapa sih, perasaan ngak pesan apa apa, gue juga ngak kenal tetangga apartemen gue" gerutunya kesal bercampur bingung siapa yang datang padahal selama dia tinggal disini tidak ada yang tau apartemennya ataupun bertamu.


Tin ton


Arumi lansung berjalan keluar karena orang itu tidak sabaran sampai lupa untuk waspada.


Ceklek


"Iy-" suara Arumi terputus melihat orang di depan apartemennya "Algaskar" guman Arumi lirih melihat Algaskar di depan apartemennya


"Kenapa" tanya Arumi ketus setelah tersadar dari keterkejutan.


Mata Algaskar menajam meneliti setiap inci muka lebam Arumi, dan Algaskar sebagai orang yang berkelahi menjadi makanan sehari hari tau kalau itu bukan luka baru tapi masih cukup parah dan masih sedikit membengkak. Kenapa bisa sedangkan tadinl baik baik saja.


"Hmm" deheman Arumi membuat Algaskar sadar


"Muka Lo kenapa" tanya Algaskar


datar


Arumi mengernyit heran bersiap membuka suara tapi tiba tiba terdiam saat sadar kalau di sudah mencuci muka sedari tadi dan sekarang dia tidak memakai penutup muka apa apa.


"Gue ngak papa, ngak usah kepo, mau apa Lo" tanya Arumi santai, yah Arumi masih dengan sikap cueknya.


"gue cuma anterin makanan buat Lo" Algaskar tidak lagi menanyakan soal luka Arumi dia lebih baik mencari tau sendiri.


"Gue ngak minta"


"Gue cuma mau ngasih"


"Yaudah makasih" ucap Arumi mengambil makanan yang di bawa Algaskar kemudian masuk kembali dan kali ini Algaskar tidak nekat untuk ikut masuk dia lansung pulang setelah Arumi menutup pintu.


Tut


Tut


"Halo, selamat soreh tuan muda"


"Cari tau siapa yang sudah membuat luka di muka Arumi" perintahnya lansung menutup sambungan Tampa menunggu jawaban.


Tut


"Kenapa semakin gue cari tau siapa Lo, semakin banyak hal yang bikin gue penasaran dan semakin banyak rahasia yang Lo sembunyiin" guman Algaskar lalu pergi dari sana, rencananya dia akan ke markas alister dulu.


***


"Gimana" singkat Algaskar


"Apanya" bingung Raka


"Pencarian Lo soal si brayn itu gimana" bukan algaskar tapi Karel yang menjelaskan.


"Si Felix ini ternyata emang nargetin alister terutama si Lo bos, tapi gue ngak bisa dapat motif dia nyincer kita seingat gue kita ngak pernah nyinggung dia atau bermasalah sama dia, kita ngak pernah ada urusan sama dia ataupun kenal sebelumnya"


"Bukan dia tapi orang terdekatnya" ucapan datar Algaskar seolah bisa membaca situasi


"Disini dia hilangin jejak


keluarganya, apa kita harus cari tau juga soal keluarganya"


"Hmm"


***


Sedangkan Arumi saat ini tengah mencari tau soal keluarga Felix, Arumi cerdas dan cepat tanggap seperti Algaskar jadi dia lansung bisa tau apa yang harus dia lakukan.


"Ha?" Arumi cukup terkejut dengan apa yang dia temukan "jadi itu adiknya Felix, dia di kabarkan mati karena tawuran dengan anak alister dan dia di bunuh sama Algaskar" guman Arumi setelah menemukan semua yang dia cari selama ini


"Jadi Felix Handoyo mau balas dendam atas kematian adiknya tapi ternyata adiknya belum mati tapi koma sudah satu tahun dan belum sadar sampai sekarang" monolog Arumi sendiri.


"Fiko Handoyo, dia seangkatan sama gue dia pernah satu sekolah sama inti alister, licik juga ternyata Felix ini memalsukan kematian adiknya untuk menghilangkan jejak agar terkesan semuanya sudah selesai, jadi musuh Felix ini alister" lanjut Arumi lagi semakin penasaran. "Jadi dia jadiin brayn pion balas dendam tapi ngak mau turun tangan sendiri" senyum miring Arumi. "Jadi Disini siapa yang bego"


"Minggu depan gue terapi, gue bakalan cek Fiko ini gue harus terlihat normal karena gue yakin Felix ini cukup cerdik jadi dia akan curigain semua orang orang yang janggal, gue ngak boleh sering kesana kecuali untuk terapi sekalian selidikin. Ada untungnya juga tangan gue sakit dan harus terapi rutin" guman Arumi cukup senang dengan rencana yang sudah di susun.


"Bagus, ayah ada perjalanan bisnis 2 Minggu berarti 2 Minggu ini Sonia bebas bergerak gue harus ke rumah ayah setelah ayah pergi, gue akan pasang cctv buat mantau ke adaan di rumah" perfec rencana Arumi mulus.


***


"Halo"


"Halo sayang kamu dimana Al" tanya seseorang di seberang sana


"Al di markas"


"Kamu pulang sekarang, mama udah ada di rumah sama papa kamu" suara seorang wanita merupakan ibu dari Algaskar


"Iya Al pulang"


"Gue balik" Algaskar lansung keluar membuat pertanyaan teman temannya teredam kembali.


Tiga puluh menit Algaskar sampai di sebuah Mension mewah Gutama seorang wanita paru baya yang masih sangat cantik menyambutnya.


"Sayang mama kangen banget sama kamu" senangnya memeluk sang anak, dia selama ini mengikuti sang suami perjalanan bisnis dan baru bisa pulang setelah dua bulan.


"Al juga kangen sama mama" Algaskar membalas pelukan sang mama


"Gimana keadaan kamu sayang, baik baik ajakan" tanya mama kepada sang putra


100


"Al baik mama sama papa gimana baik baik aja kan" tanya balik Algaskar


"Baik dong sayang"


"Mah kok anaknya di biarin di luar, bawa masuk papa juga kangen" teriakan seorang pria dari dalam yaitu tuan Gutama


"Iya pa, yuk masuk sayang" ajak sang mama membawa Algaskar masuk.


"Gimana kabar kamu son" tanya tuan Gutama memeluk sang putra satu satunya.


"Baik papa gimana" tanyak Algaskar balik membalas pelukan sang papa.


"Papa juga baik, gimana sama alister" tanya papa lagi


"Biasa pa pasti banyak musuh" jawab Al sekenanya


"Kamu itu kuat, pasti bisa


hadapin sebagai pemimpin kamu harus bisa melindungi anggota mu"


Nasehat sang papa


"Iya pah, Al pasti lakuin" jawab Algaskar


"Papa juga sebenarnya balik ke Indonesia dengan cepat karena ingin memberikan kamu tugas" tuan Gutama mulai pembicaraan yang serius


"Tugas apa pah" penasaran


Algaskar


"Pah apa sebaiknya ngak usah libatin Al soal ini" saran nyonya Gutama


"Al mungkin akan lebih mudah menemukan di banding Kita mah" pasti tuan gutama.


Nyonya Gutama hanya membenarkan karena mungkin Al dan teman temannya akan lebih muda untuk menemukannya.