Cheerful Girl And Cold CEO

Cheerful Girl And Cold CEO
Bab 8



Elena terkejut mendengar ucapan yang diberikan oleh Theo, ia sangat kesal karena Theo sangat lancang mengatakan hal kotor seperti itu padanya. Elena kembali mengerjakan pekerjaannya sambil menatap sinis kepada Theo yang sudah melangkah jauh meninggalkan dirinya.


Elena mencoba kembali untuk menenangkan suasana hatinya yang kini sudah dibuat kesal dan kacau oleh Theo, ia memilih untuk bernyanyi sambil mengelap kaca besar yang berada di perusahaan itu.


Elena menghentikan aktivitasnya sejenak, ia tengah terlihat seperti memikirkan sesuatu. Kemudian ia tersenyum sangat lebar seolah sudah menemukan hal yang akan ia lakukan. Ia seperti ingin membuat CEO yang bernama Theo itu kesal, karena pria itu selalu saja berbuat semaunya kepada Elena.


Dirasa pekerjaan mengelap kaca besar itu sudah selesai, ia segera bergegas menuju ruang ganti karyawan. Ia mengeluarkan beberapa peralatan kecantikan seperti bedak dan sebuah lipstik dari dalam tasnya. Ia memoleskan sedikit bedak dan lipstik berwarna nude itu ke wajahnya, karena ia merasa dirinya sudah terlihat sangat berantakan. Ia memoleskan make up agar wajahnya terlihat segar kembali. Kemudian ia menyisir rambutnya dan mengikat rambutnya, ia pun tak lupa untuk menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya.


Elena tersenyum saat melihat dirinya disebuah cermin yang berada diruang ganti tersebut, ia memuji dirinya sendiri bahwa ia mengakui bahwa dirinya memang memiliki wajah yang sangat cantik. Itulah Elena, selalu  percaya diri atas dirinya.


Setelah selesai dengan aktivitasnya diruang ganti, ia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang ganti itu. Ia berniat untuk mendatangi ruang kerja Theo, entah apa yang akan direncanakannya Elena pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat.


Sesampainya didepan ruang kerja Theo, ia segera masuk kedalam tanpa mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu. Ia tidak peduli jika Theo menganggap bahwa dirinya itu tidak memiliki kesopanan. Theo yang sedang duduk di depan komputernya itu terkejut dan terdiam saat melihat Elena yang masuk ke ruangannya tanpa di perintah.


Elena menghampiri Theo yang masih terdiam melihat dirinya dengan tatapan seperti orang yang kebingungan, Elena tersenyum dan mendekatkan dirinya kepada Theo. Yang berhasil membuat Theo semakin kebingungan.


"Apa tuan ingin saya buatkan segelas kopi?" Tanya Elena sambil tersenyum ramah kepada Theo.


"Tidak perlu, saya sudah minuk kopi tadi!" Ucap Theo dengan sangat dingin.


Elena mengangguk dan tersenyum seolah ia mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Theo.


"Jika tuan membutuhkan sesuatu panggil saja saya. Saya akan dengan senang hati untuk membantu Tuan!" Lanjut Elena sambil berjalan keluar meninggalkan Theo.


Theo hanya mengangguk, ia masih seperti orang kebingungan. Theo berpikir ada apa dengan wanita itu, tiba-tiba masuk keruangannya dan menawarkan untuk dibuatkan segelas kopi. Namun Theo segera membuang pikirannya dan kembali fokus ke pekerjaan yang belum ia selesaikan itu.


***


Pukul 20.00


Elena sedang berjalan menuju sebuah halte bus yang jaraknya tidak jauh dari tempat ia bekerja, ia memandangi suasana malam Ibu Kota yang dihiasi dengan lampu-lampu menyala yang membuat suasana Ibu Kota itu menjadi sangat indah dimalam hari. Ia merasakan ketenangan saat melihat suasana malam seperti ini, karena malam hari menjadi hal yang paling ia nantikan.


Elena teringat kembali saat Theo mencium dirinya di ruang kerja milik pria itu. Elena mengutuki dirinya karena telah membiarkan pria bernama Theo itu untuk berbuat lancang kepadanya. Ia kesal kepada dirinya karena ia tidak berontak dan memilih untuk diam saja saat pria itu mencium dirinya tadi.


"Bagaimana ini tidak ada bus yang melintas satu pun!" Lirih Elena sambil menghela nafas dengan kasar.


Elena pun kembali duduk, ia berharap jika ada satu bus saja yang melintas untuk mengantarnya pulang. Karena Elena sudah merasa jika tubuhnya itu sangat lelah karena seharian bekerja. Elena menyandarkan kepalanya di sebuah dinding halte, sambil memainkan ponselnya.


Sudah hampir 20 menit ia menunggu bus di halte tersebut, tapi tetap saja tidak ada satu pun bus yang melintas disana. Ia kembali menghela nafas dengan sangat kasar, ia sudah merasa sangat kesal. Kalau pun ia memilih untuk berjalan kaki itu sangat tidak mungkin. Karena jarak tempat ia bekerja dengan tempat tinggalnya sangat jauh. Ia beranjak dari duduknya dan melihat-lihat ke sekitar halte itu.


Elena menghampiri seorang pria tua yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu, ia berniat untuk menanyakan jadwal bus. Karena hari ini ia lembur jadi ia pulang lebih malam dari biasanya.


"Selamat malam pak, saya ingin bertanya apa masih ada bus yang lewat kesini ya?" Ucap Elena sambil tersenyum ke pria tua itu.


"Aduh neng bus sudah habis, tadi bus terakhir jam tujuh!" Ucap pria tua itu.


Elena mengucapkan terima kasih dan kembali ke tempat duduknya tadi. Ia merasa sangat sial malam ini karena ia ketinggalan bus terakhir, Elena membuka ponselnya berniat untuk memesan transportasi lewat aplikasi, namun sialnya ponselnya itu mati karena kehabisan baterai.


"Aaargghh bagaimana ini?" Ucap Elena yang terdengar mulai frustasi dengan keadaannya sekarang.


Saat Elena sedang meracau tidak jelas, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam menghampirinya. Ia merasa jika mobil itu memang memiliki tujuan untuk membantunya. Dengan senang hati ia melihat siapa yang berada didalam mobil mewah itu, dan ia terkejut ternyata Theo lah yang berada didalam mobil itu.


Theo langsung tersenyum sinis dan mengeluarkan kepalanya ke luar jendela mobil. Elena berharap banyak jika Theo akan menolongnya untuk segera pulang ke rumah, karena sudah semakin larut.


"Apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kau sedang menunggu seorang tamu disini?" Tanya Theo dengan dingin namun terkesan seperti menghina Elena.


Elena kesal mendengar ucapan dari Theo, Elena merasa jika pria itu menghinanya. Ia menyimpan kedua tangannya ke pinggangnya dengan kaki kanannya yang menendang mobil mewah Theo. Pria itu langsung turun dari mobil itu dan menghampiri Elena dengan wajah sangat kesal.


"Kau berani menendang mobilku?" Tanya Theo dengan memeriksa mobilnya, Theo khawatir jika ada lecet pada mobil mewahnya itu.


"Itu salah kau sendiri, karena kau sudah lancang berbicara yang tidak baik kepadaku!" Ucap Elena dengan sangat keras, dan matanya tidak berhenti menatap Theo dengan tajam.


Theo menghela nafas, ia merasa percuma jika banyak bicara dengan Elena. Theo merasa jika seorang wanita pasti selalu merasa paling benar, daripada membuang waktu pria itu memilih untuk mengalah.