
Elena melangkahkan kakinya ke ruang kerja Theo untuk segera membersihkan ruangan itu. Tatapannya teetuju pada seorang wanita yang keluar dari ruang kerja CEO tampan itu, wanita yang memiliki wajah sangat cantik, tubuh seksi dan juga rambut panjangnya yang terlihat sangat indah. Elena memuji bahwa wanita itu sangatlah sempurna, ia sebagai wanita saja kagum terhadap wanita itu apalagi pria.
Elena teringat sebuah foto yang berada diatas meja Theo, wanita itu persis dengan foto wanita yang berada diruang kerja Theo. Elena sangat yakin jika wanita itu adalah kekasih Theo, dan ia harus mengubur rapat rencananya untuk membuat Theo jatuh cinta kepadanya.
Elena mempercepat langkahnya saat wanita itu sudah berjalan jauh, ia mengetuk pintu ruang kerja Theo namun tidak ada sahutan sama sekali. Akhirnya Elena memutuskan untuk masuk ke ruangan itu tanpa Theo suruh. Karena sudah menjadi tugasnya untuk membersihkan ruang kerja CEO Wijaya Company itu.
Dilihatnya Theo yang berbeda dari sebelumnya, pria itu terlihat sangat murung dan bersedih. Matanya terlihat sembab seperti sudah menangis, dengan meja kerjanya yang begitu berantakan. Beberapa file terjatuh ke lantai. Pikiran Elena menjadi berlari kemana-mana, ia berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan Theo.
Tanpa Theo suruh Elena langsung mengambil beberapa file yang berada dilantai, hingga tatapannya tertuju pada sebuah kartu undangan. Ia segera meraih kartu undangan itu, dan tertera nama Angel dan Daniel diatas kartu undangan itu. Elena kini mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada Theo. Wanita cantik yang dilihatnya tadi akan menikah dengan seorang pria yang bernama Daniel.
Elena menjadi tidak karuan saat ini, ia khawatir jika kehadirannya disini membuat Theo menjadi semakin kacau. Ia mengerti posisi Theo saat ini meskipun ia sendiri tidak pernah merasakan patah hati itu seperti apa. Namun Elena tetap harus profesional dalam bekerja, walaupun bosnya itu sedang patah hati ia tetap harus bekerja untuk membersihkan ruang kerja Theo itu.
Elena mencoba menghampiri Theo, ia berharap untuk dapat menghibur Theo dan membuat pria itu merasa lebih tenang dari sebelumnya. Walaupun Elena bingung harus dengan cara apa yang harus dilakukannya untuk menghibur pria dingin yang ada dihadapannya itu.
"Selamat pagi pak! Apa bapak mau minum kopi?" Tanya Elena dengan sangat berhati-hati.
Namun tidak ada jawaban dari Theo, pria itu hanya meliriknya dengan sekilas. Dan hanya memberikan jawaban dengan menggelengkan kepalanya, yang seolah mengartikan bahwa pria itu menolak tawaran dari Elena. Elena pun hanya mengangguk, ia tidak ingin membuat pria itu semakin kacau.
Daripada ia harus membuang waktunya untuk Theo, Elena memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya ia segera merapihkan file-file yang berada di meja Theo. Dan juga mulai mengelap lemari-lemari kaca yang terlihat sangat mewah itu.
Tatapan Elena tertuju pada sebuah sapu yang tersimpan dekat tempat sampah, ia berpikir untuk menjadikan sapu itu sebagai alat untuk menghibur Theo. Ia segera meraih sapu itu dan mulai memainkan sapu itu layaknya seperti sebuah gitar.
Elena mulai bernyanyi dengan diiringi sebuah sapu yang kini tengah ia mainkan, ia tidak peduli jika Theo menganggapnya sebagai orang aneh. Tujuan ia melakukan hal ini hanya untuk menghibur Theo. Ia bernyanyi dengan sangat serius, suara Elena tidak perlu diragukan lagi. Karena ia memang memiliki suara bagus sejak ia masih kecil.
Why, should you care, what they think of you
When you're all alone, by yourself, do you like you?
Do you like you?
You don't have to try so hard
You don't have to, give it all away
You just have to get up, get up, get up, get up
You don't have to change a single thing.
"Kau ini gila!" Ucap Theo sambil tertawa dan memukul meja kerjanya.
Elena hanya tersenyum dengan reaksi yang diberikan oleh Theo. Ia merasa sedikit lega jika kini Theo bisa tertawa dengan apa yang dilakukannya. Elena menghampiri Theo dan meraih tangan pria itu untuk segera berdiri dari duduknya. Ia mengajak pria itu untuk bernyanyi bersama.
Pria itu terlihat sangat pasrah dan menuruti keinginan Elena, ia berdiri dengan gagah dan memposisikan tubuhnya tepat disamping Elena. Pria itu terlihat sangat tenang dari sebelumnya dan mulai bernyanyi bersama dengan Elena.
Suasana ruang kerja Theo kini menjadi sangat ramai dengan canda tawa yang dilakukan oleh kedua orang tersebut. Elena tidak berhenti untuk mencoba menghibur Theo, dan Theo yang tidak pernah berhenti tertawa karena perilaku Elena yang sangat menghibur dirinya.
***
Theo merasa jika Elena mengetahui apa yang terjadi padanya setelah Elena membaca kartu undangan yang diberikan oleh Angel tadi. Theo merasa sangat bersyukur karena Elena bersedia untuk menghibur dirinya yang kini sedang patah hati itu.
Sesekali Theo melirik Elena yang masih tertawa, wanita itu terlihat sangat cantik saat ia tertawa ceria seperti itu. Bukan hal langka bagi Theo jika melihat Elena ceria, namun baru kali ini ia bisa melihat langsung saat Elena tertawa dengan sangat keras, ia pun ikut tertawa karena terpancing oleh Elena.
Theo pun merasa jika Elena adalah seorang wanita yang sangat baik hati, dan juga ia selalu terlihat tulus dalam membantu setiap orang. Wanita seperti itu yang kini sudah sulit untuk ia temukan diluar sana, seketika Theo langsung menaruh rasa kagum terhadap wanita yang ada dihadapannya ini.
"Elena!" Ucap Theo yang berhasil membuat Elena berhenti untuk memainkan gitar yang terbuat dari sapu itu.
"Iya pak?" Tanya Elena sambil menyimpan sapu itu ke tempatnya kembali.
"Terima kasih kau sudah bersedia untuk menghiburku!" Ucap Theo sambil tersenyum.
"Tidak masalah pak! Jika kau membutuhkan seseorang untuk bisa kau ajak bicara dan mendengarkan semua keluh kesah yang terjadi padamu, aku bersedia untuk mendengarkannya pak! Dan aku bersedia untuk menjadi badut yang akan selalu menghiburmu!" Ucap Elena dengan tersenyum.
Theo pun kembalu tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Elena, wanita itu benar-benar membuatnya untuk tidak bisa berhenti tertawa. Bahkan saat ia sedang berbicara serius pun ada saja candaan yang dikeluarkan dari mulut wanita itu.
"Apa kau bersedia untuk mendengarkan ceritaku Elena?" Tanya Theo.
Elena hanya mengangguk dan tersenyum, seolah mengiyakan pertanyaan yang disampaikan oleh Theo.
"Kalau begitu aku akan bercerita padamu. Tapi apa kau bersedia untuk menemaniku makan malam? Dan aku akan menceritakan semua keluh kesahku padamu dan mungkin aku akan menjadi sedikit lebih tenang jika aku sudah menceritakannya padamu!" Ucap Theo sambil menatap serius Elena.
"Baiklah!" Ucap Elena sambil tersenyum.
Theo kini merasa sedikit lega karena akan ada seseorang yang bersedia untuk mendengar ceritanya. Ia masih menatap langkah Elena yang sudah keluar dari ruangannya. Walaupun Theo masih merasakan patah hati yang begitu luar biasa, namun disatu sisi ia merasa cukup senang karena Elena dengan repot bersedia untuk menghiburnya seperti tadi. Dan oleh sebab itu ia menaruh rasa kagum kepada Elena si Cleaning Service yang bekerja diperusahaannya itu.