
Elena masih bingung dengan maksud dan tujuan Theo membawanya ke tempat yang terlihat sangat indah ini. Apa yang akan pria itu katakan, dan ada apa dengan tempat ini bagi hidup Theo. Elena melihat Theo yang kini terdiam dan menghela nafas dengan sangat kasar yang membuat Elena semakin bingung dengan Theo.
Elena mencepol asal rambutnya dan kembali fokus ke suasana malam yang terlihat sangat indah ini, ia masih memberi waktu untuk Theo berdiam diri sampai pria itu bersedia untuk menyampaikan semua keluh kesah yang tengah ia rasakan.
Elena pernah berjanji pada Theo bahwa ia akan menjadi pendengar yang baik untuk pria itu. Ia merasa jika pria yang berada tepat disampingnya itu sangat kesepian, walaupun hidupnya yang terlihat bergelimang harta namun tidak bisa menutupi kesepian yang terpancar jelas dari pancaran matanya.
Theo memanglah sangat misterius bagi Elena, pria itu terkadang bersikap baik dan terkadang bersikap dingin seolah tidak peduli pada orang yang berada di sekitarnya. Elena semakin penasaran dengan Theo, dan berharap akan mendapatkan titik terang dari Theo.
"Elena!" Ucap Theo.
Elena bersyukur karena pada akhirnya pria itu mulai berbicara setelah cukup lama pria itu terdiam. Elena langsung merubah posisi duduknya menjadi menghadap Theo, dan Elena terlihat sudah bersedia untuk mendengarkan semua yang akan disampaikan oleh Theo.
"Kau tahu mengapa aku membawamu ke tempat ini?" Tanya Theo, tatapannya masih lurus kedepan. Elena hanya menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Theo.
Theo menghela nafasnya sejenak. "Tempat ini adalah tempat yang penuh dengan kenangan. Kenanganku bersama dengan kedua orang tuaku, saat aku kecil orang tuaku selalu mengajakku kesini dan menikmati pemandangan yang sangat indah ini," Ucap Theo sambil menatap Elena.
Panjang lebar Theo menceritakan masa kecilnya hingga ia beranjak dewasa seperti sekarang. Kedua orang tuanya yang sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga membuat Theo merasa kesepian, hingga akhirnya Theo menemukan seorang wanita yang pernah membuat hari-harinya terasa bahagia. Namun hubungan ia bersama wanita itu pun harus kandas karena wanita itu yang sibuk dengan dunia permodelannya.
Elena mulai mengerti mengapa Theo bersikap dingin kepada setiap orang, siapapun pasti tidak ingin merasakan kesepian seperti Theo. Elena dengan refleks meraih tangan kekar Theo dan mengenggamnya dengan sangat erat. Seolah Elena ingin memberikan sebuah ketenangan dan kenyaman untuk pria yang berada disampingnya itu.
Suasa seketika menjadi hening, tatapan Theo masih tertuju pada tangan Elena yang masih mengenggam tangannya. Ini sebuah hal yang sudah jarang ia dapatkan, mendapat dukungan dan ketenangan selama beberapa tahun ini.
"Kau tidak perlu merasa sendiri lagi. Aku akan selalu ada disini bersamamu!" Ucap Elena meyakinkan Theo dengan tatapannya yang begitu dalam.
Elena terkejut saat tubuh kekar milik Theo memeluknya dengan sangat erat. Elena dapat mendengar suara nafas Theo tepat di telinganya. Elena berjanji untuk membuat hidup Theo menjadi lebih berwarna dari sebelumnya. Ia tidak ingin melihat Theo bersedih kembali.
Theo melepaskan pelukannya dan membuat Elena kini terpaku karena pria itu terus menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Elena merasa gugup dan terlihat salah tingkah pada Theo. Terlihat dari pipinya yang kini sudah berubah warna menjadi kemerahan. Namun pria di hadapannya itu terlihat semakin menggoda Elena dengan tatapan yang semakin dalam.
Elena langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan yang diberikan oleh Theo. Ia tersenyum malu dan kembali memandangi suasana malam hari yang terlihat sangat indah baginya. Keheningan pun kini menyelimuti dua orang itu, mereka seperti terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Karena dirasa sudah semakin larut malam, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Dan seperti biasa Theo akan mengantarkan Elena terlebih dahulu karena pria itu sudah berjanji pada ibu Elena untuk selalu menjaga Elena dengan sangat baik.
***
Sesampainya dirumah Elena tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Ia menatap dirinya di cermin yang berada di kamarnya. Ia menatap kagum dirinya karena kini ia mampu menaklukan pria dingin seperti Theo. Namun ia merasa jika rencananya gagal karena kini ia pun mulai merasa jatuh cinta pada bos nya sendiri.
"Ah bagaimana bisa ini terjadi! Aku yang berencana untuk membuatnya jatuh cinta padaku tapi kini aku merasa iika aku pun sudah jatuh cinta padanya!" Lirih Elena sambil membaringkan badannya diatas kasur.
Ternyata pria itu mengajaknya untuk pergi ke pernikahan mantan kekasih Theo yang bernama Angel. Wanita yang pernah ia temui di tempat ia bekerja saat wanita itu keluar dari ruang kerja Theo. Dan juga ia pernah melihat sebuah foto wanita itu di meja kerja Theo.
Elena kini merasa bimbang, sepertinya ia mulai ragu jika Theo benar jatuh cinta padanya. Buktinya saja pria itu terlihat sangat hancur saat mendengar kabar bahwa wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu akan segera menikah. Lagi pula mantan kekasih Theo pun seorang model dan sangat jauh dengan dirinya yang hanya seorang office girl.
Elena kini berpikir jika ia tidak boleh berlebihan mengharapkan Theo. Pria itu adalah orang kaya dan pasti banyak digemari oleh wanita-wanita yang selevel dengannya. Elena kini mengutuki dirinya karena sudah berani lancang untuk jatuh cinta pada Theo.
"Sudahlah aku hanya akan membantunya saja!" Lirih Elena dan akhirnya memutuskan untuk segera memejamkan matanya.
***
Sinar matahari kini berhasil menembus lewat jendela dari kamar Elena. Namun wanita itu masih saja nyaman dengan posisi tidurnya meskipun jam disampingnya terus berbunyi. Ia seakan tidak mempedulikan itu, ia hanya bergerak untuk mematikan jam yang menganggunya itu dan kembali melanjutkan tidurnya.
Sang ibu pun masuk kedalam kamar Elena karena sampai saat ini ia masih saja belum bangun. Ibunya pun mulai membangunkan Elena dengan memanggil nama wanita itu dan juga menggoyangkan tubuh Elena dengan pelan.
Elena dengan susah payah mencoba untuk membuka matanya. Akhirnya ia pun terbangun saat ia melihat wajah ibunya yang sudah memanggil namanya berulang kali. Ia pun langsung bangkit dari tidurnya dan segera menghampiri ibunya yang kini sudah melipatkan kedua tangannya diatas dadanya.
"Akhirnya kau bangun juga! Kau tahu ibu membangunkanmu dengan susah payah!" Ucap Ibu Elena yang terlihat kesal karena anak perempuannya itu baru bangun.
"Maafkan Elena bu!" Lirih Elena dengan pelan dan memeluk ibunya. Itulah cara yang selalu Elena lakukan agar ibunya tidak marah.
Ibunya hanya tersenyum kecil dengan perlakuan Elena. Ia sudah semakin dewasa tapi masih saja terlihat menggemaskan bagi ibunya. Ibunya pun langsung memeluk Elena dan mencium kening Elena dengan penuh kelembutan.
"Tadi ada yang mengirimkan barang ini, katanya untukmu nak!" Ucap Ibunya sambil memberikan sebuah box yang dihiasi dengan pita berwarna merah.
"Dari siapa bu?" Tanya Elena sambil memegang box yang itu.
"Ibu tidak tahu!" Ucap ibunya sambil melangkahkan kaki dan keluar dari kamar Elena.
Elena yang penasaran dengan box itu pun langsung membukanya dengan sangat antusias. Elena terkejut dan tersenyum saat melihat isi yang ada didalam box itu. Sebuah gaun cantik berwarna merah dan juga sepatu heels berwarna gold. Dan ia pun segera meraih surat yang ada di box itu.
'Ini sengaja ku kirimkan untukmu agar kau pakai ini saat kita pergi menghadiri pernikahan Angel. Ku harap kau suka dengan apa yang kuberi. Maaf aku tidak tahu warna kesukaanmu dan selera pakaianmu seperti apa'
Elena tersenyum dan berlari kecil karena sudah tidak sabar untuk menggunakan gaun yang telah diberikan oleh Theo padanya.
"Romantis!" Lirih Elena.