
Elena menggaruk tangannya yang tidak gatal itu, tatapannya yang begitu berbinar seperti ia sedang mengharapkan sesuatu. Benar saja Elena berharap jika Theo akan menyukai menu sarapan yang telah dibuatnya tadi pagi.
Tangannya tidak berhenti untuk memegang ponselnya dan mengeceknya dengan terus-menerus, tapi raut wajahnya langsung berubah menjadi sangat kesal karena tidak ada satu pun pesan dari pria yang sedang ia tunggu itu.
Elena kembali menyimpan ponselnya itu kedalam saku celana hitamnya, dengan perasaan yang sangat kesal ia segera menghampiri ruang kerja Theo. Ia sangat penasaran sedang apakah pria itu, akankah pria itu sedang sibuk dengan pekeejaannya atau sibuk dengan menghubungi Angel kembali.
Wanita itu langsung berhenti sejenak dan berpikir mengapa ia sangat kesal jika Theo tidak menghubunginya, dan apa urusannya jika Theo kembali menghubungi Angel. Elena sadar betul karena hanya Angel lah satu-satunya wanita yang sangat dicintai oleh Theo. Elena pun langsung membalikan badannya dan mengurung niatnya untuk tidak jadi bergegas menuju ruang kerja Theo.
Saat Elena sedang berjalan, ia mendengar suara yang sangat ia kenali itu memanggil namanya. Suara yang khas dan terdengar sangat seksi di telingan Elena, ia sangat yakin jika pemilik dari suara itu adalah pria yang sejak tadi ia tunggu untuk menghubunginya.
Elena segera menoleh ke arah suara pria itu, dan benar saja pria yang memanggilnya itu adalah Theo. Pria itu segera menghampiri Elena yang masih saja berdiri mematung tepat di depan pintu ruang kerja milik Theo. Pria itu tersenyuk sangat manis yang membuat Elena semakin terhanyut dalam senyuman manis itu.
"Kau tidak jadi ke ruanganku?" Tanya Theo sambil tersenyum.
Elena hanya menggelengkan kepalanya, seakan menjelaskan pada Theo bahwa dirinya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam ruang kerja Theo.
"Aku sudah menunggumu didalam!" Lanjut Theo merapihkan rambutnya yang membuat Elena semakin menikmati keindah yang telah Tuhan ciptakan.
"Menungguku untuk apa?" Tanya Elena mencoba untuk membuyarkan pikiranya yang tergoda oleh ketampanan yang di miliki oleh pria yang kino berdiri tepat dihadapannya.
Elena terkejut saat Theo meraih tangannya dan segera membawanya untuk masuk kedalam ruangan kerja. Jantung Elena kini semakin berdegup dengan sangat cepat dengan perlakuan Theo, lalu Theo memintanya untuk duduk di sofa.
"Duduklah!" Perintah Theo. Elena pun menuruti perintah Theo, karena ia sadar bahwa pria itu adalah atasannya di kantor dan ia tidak berhak untuk menolak perintah dari Theo.
"Terima kasih atas menu sarapan yang kau buat untukku. Dan aku sangat menyukainya, rasa dari nasi gorengmu itu sangat cocok dilidahku!" Ucap Theo sambil menunjukan kotak nasi kosong yang tadi pagi diberikan oleh Elena.
Wanita itu kini tersenyum dengan sangat manis, dalam hatinya ia merasa lega karena Theo mau menghabiskan nasi goreng yang telah dibuatnya khusus untuk Theo. Elena tertawa kecil saat melihat Theo menunjukan kotak nasi kosong itu kepadanya.
"Syukurlah kalau kau suka!" Ucap Elena sambil meraih kotak nasi itu.
"Aku harap kau akan membuatkanku setiap hari!" Kekeh Theo dengan menatap hangat manik mata berwarna cokelat karamel milik Elena.
Tatapan pria itu kini berhasil membuat Elena menjadi salah tingkah untuk kesekian kalinya, mata indah yang berwarna cokelat karamel sama persis dengan mata miliknya. Tatapan yang diberikan oleh Theo seakan sulit untuk Elena tebak, entah apa maksud dari tatapan mata pria itu kini.
Elena yang merasa jika Theo mengetahui bahwa dirinya kini sedang terpesona dengan ketampanan milik pria itu, Elena langsung bangkit dari duduknya berniat untuk pergi keluar dan melanjutkan kerjanya. Kalau hanya berdiam di ruang kerja Theo dan berhadapan langsung dengan Theo hanya akan membuat hatinya semakin tidak karuan karena begitu terhanyut dengan keindahan yang Tuhan ciptakan pada pria bernama Theo itu.
"Ada apa lagi tuan?" Tanya Elena.
"Aku tunggu kau di parkiran, aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Theo sambil berjalan menuju meja kerjanya.
Perasaan Elena kali ini seperti dihiasi oleh bunga-bunga indah, ia tidak bisa berhenti tersenyum karena pria dingin itu mengajaknya untuk pulang bersama malam ini. Dengan langkah yang begitu ceria, Elena pun kembali melakukan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ia terlalu lama diam di ruang kerja Theo.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 dan Elena kini sedang sibuk membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk segera pulang. Elena sangat penasaran apa benar Theo akan menunggunya di parkiran, jika pria itu berbohong akan dipastikan Elena akan menerkam pria itu.
Elena kembali menyadarkan pikirannya, ia tidak ingin berharap terlalu jauh kepada Theo. Ia menyadari jika Theo adalah seorang CEO muda yang sangat kaya raya, sedangkan dirinya hanyalah seorang cleaning service yang bekerja di perusahaan milik Theo. Itu sudah menjadi bukti bahwa perbedaan dirinya dengan Theo sangatlah jauh. Dan jika Elena mengingat Angel, mantan kekasih Theo adalah seorang model yang sangat cantik dan sempurna, dan dirinya hanya berpenampilan sederhana yang tidak mungkin bisa membuat Theo terpikat olehnya.
Ia berjalan menyusuri lobby kantor itu, hingga langkahnya terhenti di sebuah parkiran. Ia terkejut dengan apa yang dilihat tepat dihadapannya. Theo, pria itu kini berdiri di depannya sambil memberikan seutas senyuman yang mampu membuatnya terpikat oleh senyuman pria itu.
"Kau membuatku lama menunggu Elena!" Keluh Theo dengan memasang wajah cemberutnya.
"Maafkan aku, tadi aku membereskan barang-barangku terlebih dahulu!" Ucap Elena mencoba untuk menjelaskan kepada Theo.
Pria itu hanya tersenyum dan membuat Elena terkejut karena pria itu kembali meraihnya untuk segera masuk ke dalam mobil mewah milik Elena. Elena merasa seluruh tubuhnya di basahi oleh keringat dingin yang menandakan jika kini ia tengah merasakan gugup yang sangat luar biasa.
Hanya keheningan lah yang kini mengiringi suasana di dalam mobil itu. Tidak ada sedikit pun percakapan yang keluar dari mulut mereka yang berada dalam mobil itu. Elena yang masih mencoba untuk membuat hatinya menjadi tenang karena sejak ia berada di dekat Theo jantungnya terasa berdetak begitu cepat.
"Apa kau bersedia jika aku membawamu ke suatu tempat?" Tanya Theo mencoba untuk mencairkan keheningan yang kini tengah melanda mereka berdua.
"Kemana?" Tanya Elena dengan memasang wajah bingungnya.
"Nanti akan ku ceritakan saat kita tiba disana!" Ucap Theo kembali fokus kepada jalanan.
"Baiklah!" Ucap Elena hanya menjawab dengan singkat.
Kini Elena dan Theo sudah berada di suatu tempat yang terlihat sangat indah. Dengan dihiasi lampu-lampu taman yang membuat pemandangan ditempat itu semakin terlihat indah. Elena sangat takjub dengan tempat yang ia datangi ini, banyak pertanyaan yang kini terlintas dalam benak Elena. Ada apa sebenarnya dengan tempat ini, dan apa alasan Theo untuk membawanya ke tempat ini.
"Indah sekali!" Lirih Elena sambil melihat sekitar.