
Theo sudah kembali ke rumah mewahnya setelah sebelumnya ia mengantarkan Elena pulang ke rumahnya dan berpamitan pada ibunya Elena. Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan segera mengganti pakaiannya yang sudah terasa sangat panas dan membuatnya berkeringat.
Theo melangkahkan kakinya dan duduk di sofa yang berada dikamarnya, ia kembali teringat saat melihat Angel yang terlihat sangat cantik dan sempurna dengan balutan gaun pengantin. Wanita itu terlihat seperti bahagia bersanding dengan Daniel, suaminya. Harapan Theo untuk bersanding dan menatap wajah Angel yang cantik dengan balutan gaun pengantin pupus seketika.
Air matanya sudah tak dapat ia tahan, ia membiarkan air mata itu lolos membasahi pipinya. Rasa sakitnya yang begitu luar biasa dengan menyaksikan wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain. Ia mengacak rambutnya dengan kasar, ia merasa sangat hancur dan rapuh sekarang.
Ia bangkit dan berjalan menuju lemari kecil yang berada disamping tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah album foto dan beberapa foto yang tersimpan rapih di meja kerjanya. Ia membawa semua foto itu dan berjalan keluar menuju halaman rumah.
Satu-persatu ia masukan foto Angel ke dalam sebuah wadah dan kemudian ia membakar foto-foto Angel. Ia sudah tidak ingin lagi mengingat Angel dan dia harus bertekad untuk bisa melupakan Angel, wanita yang pernah membuat hari-harinya terasa bahagia.
"Aku harus bisa melupakan dan mengikhlaskanmu untuk bahagia bersama pria yang telah kau pilih untuk menjadi suamimu. Dan aku disini akan berusaha tegar dan menguatkan hatiku, Angel!" Lirih Theo sambil melemparkan satu foto terakhir ke kobaran api yang telah ia buat.
Air matanya lagi-lagi turun membasahi pipinya, terlalu banyak kenangan indah yang telah ia ukir bersama dengan Angel. Perjuangannya untuk dapat membantu Angel menjadi seorang model ternama hanyalah sia-sia. Wanita itu dengan tega memilih pria lain untuk menjadi suaminya dan meninggalkan Theo yang selama ini sudah berjuang dan mencintainya dengan sangat tulus.
Angin malam berhembus dan menusuk ke kulit Theo, pria itu memilih untuk kembali masuk kedalam rumahnya karena angin diluar semakin kencang dan tidak baik untuk kesehatan tubuhnya. Biarkan hatinya saja yang sakit tetapi jangan sampai tubuhnya juga sakit karena kebodohan yang ia lakukan.
Theo berjalan menuju tempat tidurnya dan segera mengambil ponsel yang tersimpan rapih diatas kasur. Ia langsung membuka ponselnya dan melihat ada sebuah pesan, yang terlihat adalah nama Elena. Theo pun langsung membuka isi pesan yang telah dikirim oleh Elena.
'Hey pria dingin! Sudahlah kau jangan terus bersedih karena mantan kekasihmu menikah dengan pria lain. Kau jangan menjadi pria yang lemah hanya karena seorang wanita!'
Theo tertawa kecil saat membaca pesan dari Elena, ia kembali teringat saat ia mencium bibir wanita itu di acara pernikahan Angel. Tidak dapat di pungkiri, Theo mengakui jika Elena terlihat sangat cantik. Dan bisa dibilang lebih cantik daripada Angel, namun sampai saat ini ia masih belum bisa melupakan Angel sepenuhnya dan mencintai Elena sepenuh hati. Theo memang sudah jatuh cinta pada Elena namun ia belum bisa mencintai wanita itu dengan sepenuh hatinya. Ia takut jika harus menyakitin Elena, dan ia berharap agar waktu dapat membuatnya cepat melupakan Angel dan mencintai Elena dengan sepenuhnya.
Theo pun tersenyum dan membalas pesan Elena dengan penuh semangat. Rasa sakitnya bisa hilang seketika saat ia bersama dengan Elena, dan untuk saat ini hanya Elena lah yang mampu mengerti setiap kondisinya saat ini.
Elena tersenyum setelah mengirim pesan pada Theo, ada perasaan gugup saat ia menunggu balasan dari Theo. Ia takut dan khawatir jika Theo tidak membalas pesannya dan menghiraukannya begitu saja. Ia terus menerus mengecek ponselnya namun masih saja tidak ada balasan dari Theo.
Ia sudah mengira jika Theo tidak akan membalas pesannya, ia pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya dan berbaring di tempat tidurnya. Namun tak lama ponselnya pun berbunyi dan dilihat ada sebuah pesan yang dikirimkan oleh Theo.
Elena pun langsung bangkit dan beranjak untuk duduk dan segera membaca pesan yang telah dikirimkan oleh Theo. Ada perasaan gugup saat ia akan membaca pesan dari Theo itu.
'Kau tidak perlu khawatir padaku! Aku tidak merasa bersedih karena ada kau sekarang yang berada disisiku. Aku berterima kasih karena kau selalu mengerti di setiap kondisiku sekarang'. Balasan Theo.
Elena tersenyum dan masih tidak bisa percaya bahwa Theo akan berkata seperti ini. Lagi-lagi ia dibuat salah tingkah oleh pria yang tak lain adalah seorang bos ditempat ia bekerja. Elena merubah posisi duduknya berubah menjadi tengkurap sambil tersenyum karena masih fokus membaca pesan yang telah dikirim oleh Theo.
Elena meraih buku diary yang tersimpan rapih diatas meja yang berada disamping tempat tidurnya. Ia segera menulis tentang apa yang ia rasakan di buku itu, namun baru kali ini ia menulis di buku itu soal perasaannya yang mulai jatuh cinta pada seorang pria. Karena biasanya ia hanya menuliskan tentang kesehariannya saat bekerja ataupun saat membantu ibunya membuat kue.
'Ini pertama kalinya aku bercerita soal cinta disini. Ya, aku seperti sedang jatuh cinta pada seorang pria tampan dan dia adalah bosku di tempat aku bekerja. Namanya Theo, pria yang kukenal sebelumnya sangat dingin. Namun setelah aku mengenalnya ternyata pria itu terlihat sangat baik. Tapi yang aku sedihkan, ia masih sangat mencintai wanita yang kini menjadi masa lalunya. Dan apakah aku bisa untuk membuatnya mencintaiku? Apa aku pantas mendapatkan cinta dari bosku sendiri? Biarlah waktu yang menjawabnya dan biarkan Tuhan yang memberi jalan. Jika kita berjodoh Tuhan akan memberikanku jalan untuk bisa membuka hati Theo'
Setelah selesai menulis perasaannya lewat buku diary, ia pun memutuskan untuk berbaring dan mencoba memejamkan matanya. Saat ia memejamkan matanya ia teringat pada Theo yang tadi memeluknya dengan begitu hangat bahkan pria itu menciumnya dengan penuh kelembutan.
Wanita mana pun pasti akan terbawa perasaan jika diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Dan lagi Elena dibuat bimbang oleh Theo, pria itu memperlakukannya seolah pria itu mencintainya. Namun kenyataannya pria itu masih sangat mencintai mantan kekasihnya dan tidak bisa melupakan wanita itu.
Elena mengutuki dirinya sendiri karena terlalu memikirkan Theo. Ternyata jatuh cinta tidak semudah yang ia bayangkan, ketika kita memilih untuk jatuh cinta itu artinya kita harus siap jika kita harus terjatuh dan terluka. Tapi bagi Elena ia tidak ingin sampai terjatuh dan terluka, kisah cintanya harus berakhir bahagia seperti cerita di novel yang selalu ia baca.