
Waktu pun berjalan dengan begitu cepat, kini Elena dan Theo semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama kemana pun dan dimana pun. Elena yang masih terasa seperti mimpi karena ia kini semakin dekat dengan bosnya sendiri.
Dan banyak karyawan di perusahaan tempat ia bekerja yang selalu menghina Elena karena merasa ia tidak pantas untuk dekat dengan Theo. Orang-orang itu selalu berkata jika Elena harus sadar diri karena ia hanyalah seorang office girl sedangkan Theo adalah seorang CEO ternama. Elena selalu mencoba menghindari dari Theo agar tidak terus dihina oleh para karyawan lain, namun Theo selalu berkata jika ia tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan.
Elena sudah terlihat rapih dengan seragam kerjanya, ia mengikat rambutnya dan memoleskan sedikit make up di wajahnya supaya terlihat cantik di mata Theo. Elena merasa seperti diberi harapan kosong oleh Theo karena sampai saat ini pria itu masih belum memberikan penjelasan tentang hubungan mereka. Namun pria itu selalu menolak saat Elena mencoba menghindari pria itu dengan alasan bahwa Theo sudah mulai jatuh cinta padanya.
"Aku harap ia mencintaiku dengan tulus!" Lirih Elena dengan sangat lembut.
***
Theo kini sudah sampai di kantor, dan ia melihat ke sekitar untuk mencari Elena. Namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan wanita itu di setiap sudut perusahaan ini. Ada perasaan khawatir saat ia belum melihat Elena tepat dihadapannya.
Theo yang masih tidak tenang karena masih menunggu kehadiran Elena mencoba untuk menghubungi wanita itu. Namun tidak ada jawaban sama sekali, dan Theo terlihat semakin khawatir karena sebelumnya Elena menghubungi Theo dan mengatakan jika ia sudah berangkat menuju perusahaan Theo.
Tatapan Theo tertuju pada seorang wanita yang kini berada di pintu utama kantor, wanita itu yang berjalan dan mendekat pada Theo dengan senyumannya yang selalu terukir manis di bibirnya. Perasaan Theo menjadi cukup tenang saat sudah melihat Elena yang kini berdiri tepat dihadapannya.
"Kau membuatku khawatir!" Ucap Theo sambil menatap dalam mata milik Elena.
"Mengapa kau begitu mengkhawatirkanku?" Tanya Elena dengan memasang wajah yang terlihat seperti kebingungan.
Bukannya menjawab, Theo justru pergi meninggalkan Elena yang masih terlihat bingung. Theo tidak mengerti pada dirinya sendiri, mengapa ia bisa sampai seperti ini saat jatuh cinta pada Elena. Selalu menghawatirkan Elena saat wanita itu jauh darinya.
"Mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak merasakan yang namanya jatuh cinta!" Ucap Theo sambil menyimpan tas kerjanya di meja kerjanya.
Theo kini sedang menatap serius layar laptop yang berada dihadapannya, ia harus menyelesaikan beberapa file yang sempat tertunda karena akhir-akhir ini ia membiarkan pekerjaannya menumpuk. Dan jika ia tidak segera menyelesaikan pekerjaannya itu maka ia harus bersedia kehilangan proyek-proyek besar dari para investornya. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Theo merinding, susah payah ia membangun perusahaannya ini dan ia tidak akan membiarkan semuanya hancur begitu saja.
Satu demi persatu semua file yang menumpuk telah ia selesaikan, tak butuh waktu yang lama untuk Theo mengerjakan itu semua. Ya kita tahu bahwa pria itu memang sangat cerdas dan juga pekerja keras. Hanya saja dalam beberapa waktu ini ia merasa kewalahan karena Anton, asistennya memutuskan untuk mengundurkan diri dan kembali ke kampung halamannya.
Meskipun Theo sudah berusaha untuk menolaknya, tetap saja Anton teguh pada keputusannya untuk kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan usaha dari ayahnya. Theo pun tidak bisa menghalangi sahabatnya itu, karena bagaimana pun Anton akan memiliki kehidupannya sendiri dan tidak selamanya hidup Anton bergantung pada dirinya.
Theo sudah berusaha untuk mencari asisten baru yang bisa menggantikan Anton, namun semua yang melamar pekerjaan sebagai asisten itu tidak ada satu pun yang menarik bagi Theo. Jadi ia memilih untuk menghandle pekerjaan ini sendiri tanpa seorang asisten.
Tatapan Theo kini tertuju pada pintu yang terbuka lebar dan terlihatlah Elena yang kini membawa sebuah nampan berisi segelas kopi untuknya. Wanita itu tersenyum dengan sangat ramah dan berjalan menghampiri Theo setelah menutup pintu.
"Selamat pagi Elena sayang!" Jawab Theo sambil tertawa kecil.
Akhir-akhir ini Theo berubah menjadi seseorang yang lebih ceria dari sebelumnya. Pria itu selalu memberikan candaan-candaan yang membuat Elena tertawa saat mendengarnya. Dan kini Theo tertawa kecil saat melihat Elena yang masih tertunduk karena malu di panggil sayang.
"Kenapa wajahmu merah seperti itu?" Tanya Theo menggoda Elena.
"Berhentilah menggodaku seperti itu!" Ucap Elena yang sudah merasa sangat malu karena Theo selalu saja menggodanya dengan candaan-candaan.
"Baiklah aku berhenti. Oh ya Elena nanti pulang kerja kau akan ku antar!" Ucap Theo sambil menyeruput kopi yang telah dibuat oleh Elena.
Bukannya menjawab, Elena hanya mengangguk dengan pelan dan membenarkan rambutnya agar terlihat lebih rapih. Dan hal itu membuat Theo semakin gemas pada Elena, karena Theo sangat menyukai ketika Elena membenarkan rambutnya ataupun sedang mengikat rambutnya.
"Yasudah kalau begitu aku keluar dan melanjutkan pekerjaanku!" Ucap Elena sambil tersenyum ramah pada Theo.
***
Saat Elena akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang kerja Theo, tiba-tiba sebuah tangan kekar menyentuh tangannya. Pria itu membalikan badan Elena dan mencium kening dan juga bibir Elena dengan sekilas. Elena yang masih terkejut hanya bisa terdiam dan menutup matanya.
"Semangat bekerjanya Elena!" Ucap Theo kembali duduk di kursi kerjanya dan tersenyum sangat manis pada Elena.
"Kau ini selalu saja menciumku tanpa izin. Baiklah aku keluar!" Jawab Elena terlihat mengerucutkan bibirnya namun terlihat sangat cantik.
Saat Elena berjalan di lorong perusahaan itu ia bertemu dengan beberapa karyawan lainnya. Ia mencoba untuk tersenyum ramah pada mereka semua, namun para karyawan itu sama sekali tidak membalas senyuman Elena. Melainkan menghina Elena dengan kata-kata yang sangat kasar.
"Kalau bukan karena ia bersedia tidur bersama Tuan Theo, tidak mungkin CEO kita itu dekat dengan wanita seperti dia!" Ucap salah satu karyawan pada temannya.
Elena yang mendengar hinaan itu hanya tersenyum dan tidak berniat untuk melawan mereka. Walaupun dalam hatinya merasa sangat sakit karena hampir setiap hari ia dihina oleh semua karyawan di tempat ia bekerja, namun ia tidak ingin membalas mereka semua. Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang tidak mempunyai etika seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang di perusahaan ini.
Elena kembali berjalan dan melanjutkan pekerjaannya. Ia merapihkan patung-patung kecil yang tertata rapih di sebuah lemari yang berada di lobby perusahaan itu. Ia kembali bernyanyi saat bekerja, agar tidak ada satu pun orang yang melihat dirinya yang sedang tidak baik-baik saja karena terus dihina.
"Aku adalah wanita yang ceria dan kuat!" Lirih Elena tersenyum sambil menata patung-patuny kecil itu.