Cheerful Girl And Cold CEO

Cheerful Girl And Cold CEO
Bab 10



Elena memulai paginya dengan tersenyum sangat ceria, ia sudah sampai di tempat kerjanya dan bersiap untuk memulai pekerjaannya. Hari ini tampilan Elena sangat berbeda, ia terlihat lebih cantik dari biasanya. Meskipun ia sudah terlihat cantik tanpa menggunakan make up, tapi hari ini ia memilih untuk berdandan yang berbeda dari biasanya agar menarik perhatian dari Theo, karena itu yang sudah direncanakan olehnya sejak Theo mulai berani menciumnya.


Elena mulai mengambil sapu untuk membersihkan lobby kantor itu, seperti biasa ketika ia melakukan pekerjaannya ia selalu bernyanyi dan membuat semua karyawan yang berada disini kagum kepada Elena karena memiliki kepribadian yang sangat ceria. Elena selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang melewat dihadapannya.


Hingga pandangannya terhenti pada seseorang yang baru saja datang ke kantor itu, Elena langsung merapihkan rambutnya agar terlihat cantik di mata pria itu. Siapa lagi jika bukan CEO dari Wijaya Company itu, Theo lah yang saat ini menjadi pusat perhatian dari Elena. Elena tersenyum ramah kepada Theo. Dan kemudian ia menyapa Theo saat pria itu lewat dihadapannya.


Namun Elena langsung berdecak kesal karena Theo hanya melewat tanpa menghiraukan dirinya yang sedang menyapa pria itu. Elena langsung melemparkan kain lap yang berada di tangan sebelahnya ke lantai dan menjatuhkan sapu. Elena melihat ke sekitarnya, untung saja di lobby sedang sepi dan tidak ada seorang pun selain dirinya dan Theo yang sudah berlalu menuju ruang kerjanya.


"Pria menyebalkan!" Ucap Elena dengan sangat kesal.


***


Theo menyimpan tas yang ia bawa ke sofa, ia tidak langsung menuju meja kerjanya melainkan memilih untuk bersandar santai di sofa. Ia merasa sangat malas untuk bekerja hari ini karena ia pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia merasa sangat tidak enak hati dan perasaannya seperti tidak karuan.


Theo pun segera bangkit dan menuju meja kerjanya, karena jika ia tidak bekerja keras maka perusahaan yang sudah ia rintis dari nol akan berantakan, daripada ia mengambil resiko seperti itu ia lebih memilih untuk melawan rasa malasnya hari ini dan mulai mengerjakan beberapa file pentingnya.


Theo pun yang sedang duduk didepan komputernya itu tiba-tiba memikirkan Elena, office girl baru yang bekerja diperusahaannya. Ia pun sangat tidak mengerti mengapa ia sampai berani untuk mencium wanita itu, sehingga membuat wanita itu menjadi aneh dan berani menyapanya, berbeda dengan hari-hari sebelumnya wanita itu tidak pernah tersenyum kepadanya bahkan wanita itu seperti membenci dirinya.


Terdengar suara ketukan pintu yang menyadarkan Theo dari lamunannya, Theo pun seperti bingung siapa yang datang menemuinya diruang kerjanya selain Anton dan juga Elena. Theo berpikir tidak mungkin Anton karena pria itu sekarang sedang pergi ke luar kota karena mewakilkan dirinya disalah satu cabang perusahan miliknya. Sedangkan Elena, wanita itu masih sibuk untuk membersihkan lobby dan biasanya ia akan masuk ke ruang kerjanya untuk membersihkan ruangan itu sebelum jam makan siang.


Theo pun mulai melangkahkan kakinya dan mulai mendekat ke arah pintu, ia segera membuka pintu itu. Ia terlihat sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, seorang wanita yang terlihat sangat cantik dengan penampilannya yang begitu sempurna dimata Theo. Dan wanita itu adalah seseorang yang sangat ia nantikan selama beberapa tahun ini, betapa senangnya hati Theo karena wanita itu kini kembali dan berada tepat dihadapannya.


Theo langsung memeluk wanita itu sehingga membuat wanita itu terkejut dan tersenyum kepadanya. Theo menarik tangan wanita itu dan membawa wanita itu masuk kedalam ruangannya, ia mempersilahkan wanita itu untuk duduk disofa. Wanita itu adalah Angel, wanita yang sangat ia cintai. Dan selama beberapa tahun ini Theo harus tersiksa dengan rasa rindu yang begitu besar karena tidak pernah mendapatkan kabar lagi dari Angel. Dan kini Theo merasa bahagia karena ia bisa kembali melihat Angel wanita yang sangat dicintainya.


"Angel!" Lirih Theo dengan tatapan mata yang begitu berbinar.


"Theo bagaimana kabarmu?" Tanya Angel sambil tersenyum sangat manis.


Wanita itu kini hanya tersenyum tipis mendengar ucapan dari Theo, ia menatap wajah Theo dengan penuh rasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan meninggalkan Theo tanpa kabar sedikit pun.


Theo terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh wanita itu, ia terkejut saat ia menerima sebuah kertu undangan yang diberikan oleh Angel. Ia meraih kartu undangan itu dengan sangat lemas, nama Angel dan seorang pria tertera jelas di kartu undangan itu.


Hati Theo bagaikan disambar petir hancur berkeping-keping dengan sekejap. Baru saja ia merasakan kebahagiaan dengan kedatangan Angel, wanita yang selama ia nantikan. Tapi kini ia harus menelan kepahitan karena wanita yang sangat ia cintai itu akan menikah sebentar lagi.


Tangisan Theo semakin menjadi karena Angel kini memeluknya, ia merasa semakin hancur saat wanita itu memeluknya tapi dengan pelukan yang berbeda dari dulu, bukan lagi pelukan cinta yang ia rasa dari Angel, melainkan pelukan rasa bersalah yang diungkapkan oleh wanita itu secara tidak langsung.


"Aku minta maaf padamu Theo, aku akan menikah dengan pria yang selama ini menemaniku di luar sana. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, sekali lagi aku minta maaf!" Ucap Angel sambil menunduk tidak berani untuk menatap Theo.


"Kau bilang pria itu yang sudah menemanimu Angel? Lalu bagaimana denganku? Kau melupakan semua perjuanganku untuk membantumu menjadi seorang model, seperti impianmu. Dan kini kau bilang bahwa pria itu lah yang menemanimu? Kau membuatku tersiksa selama beberapa tahun ini karena kau tidak pernah memberiku kabar, lalu kau datang membuatku senang tapi kau langsung menghancurkanku dengan kabar pernikahanmu itu!" Ucap Theo mengacak rambutnya dengan sangat kasar. Ia tidak percaya bahwa wanita yang berada dihadapannya ini menyakitinya untuk kesekian kali.


Angel hanya menunduk dan menangis saat mendengar ucapan Theo. Dalam hatinya ia tidak bermaksud untuk menyakitinya, namun itulah takdir yang tidak dapat mereka ubah dengan semaunya. Dan Angel pun sudah tidak memiliki rasa sedikit pun kepada Theo. Terdengar sangat jahat bukan?


"Maafkan aku Theo!" Lirih Angel yang tidak dihiraukan oleh Theo.


"Keluarlah dari ruanganku Angel!" Perintah Theo yang terdengar sangat marah sambil memukul meja dengan sangat keras dan membuat wanita itu ketakutan.


"Aku harap kau menghadiri pernikahanku dan mengenalkan calon istrimu padaku Theo!" Ucap Angel sambil berjalan dan meninggalkan Theo yang masih terlihat sangat hancur itu.


Setelah wanita itu keluar dari ruang kerjanya, Theo tidak bisa lagi menahan air matanya. Rasa cintanya kepada Angel sangatlah besar, dan banyak impian yang selalu ia harapkan untuk bersama Angel. Namun kini harapannya harus ia lupakan karena wanita yang dicintainya itu kini akan segera menikah.


'Mengapa kau selalu tega untuk menyakitiku Angel?'