
Elena kini sedang dihadapkan oleh beberapa pilihan baju yang membuatnya bingung untuk memilih yang mana. Sudah sejak sore tadi ia memilih baju-baju yang ada dilemarinya namun belum ada satu pun yang menjadi pilihannya. Akhirnya Elena pun memutuskan untuk memakai sebuah dress berwarna merah.
Elena berdiri disebuah cermin besar yang berada di kamarnya, ia tersenyum saat melihat dirinya di cermin itu. Dengan olesan make up sederhana yang membuat dirinya terlihat sangat cantik, dan ia pun memilih untuk mengikat rambutnya dengan ditambahkan aksesoris rambut yang membuat rambut itu terlihat sangat indah.
Elena mencoba untuk menguasai dirinya, karena sejak tadi ia merasakan perasaan yang sangat tidak karuan dan juga gugup. Ini kali pertama dalah hidup Elena untuk makan malam bersama seorang pria, karena dulu sebelum ayahnya meninggal ia tidak pernah diizinkan untuk makan malam ataupun keluar bersama dengan pria yang tidak ayahnya kenal.
Elena pun tersenyum saat ibunya masuk kedalam kamar, Hilda tersenyum dan memeluk anak gadisnya itu yang kini sudah beranjak menjadi seorang wanita dewasa. Hilda merasa sangat bersyukur memiliki anak seperti Elena yang tidak pernah mengeluh dengan kehidupan, dan itu yang menguatkan Hilda untuk tetap bekerja keras dengan berjualan kue.
"Cantik sekali anakku!" Ucap Hilda tersenyum.
"Aku cantik karena kau juga cantik bu!" Ucap Elena tersenyum dan memeluk ibunya itu.
"Theo sudah menunggumu diluar! Keluarlah jangan membuatnya menunggu lebih lama!" Ucap Hilda sambil melangkahkan kakinya keluar.
Elena mengangguk dan perasaannya kini semakin gugup, entah mengapa jika ia bertemu dengan Theo di kantor ia merasa biasa saja namun kali ini ia merasa jantungnya berdebar sangat cepat dari biasanya. Apakah mungkin dirinya kini sudah mulai jatuh cinta kepada Theo?
Elena berjalan keluar dan menghampiri Theo yang tengah sibuk mengobrol dengan Hilda, Theo melihatnya tanpa berkedip dan tersenyum saat melihatĀ Elena berjalan menghampiri Theo dan juga Hilda. Elena semakin merasa gugup saat Theo menatapnya dengan serius dan tanpa berkedip, dan itu berhasil membuat Elena menjadi salah tingkah.
Takut waktu semakin larut Theo dan Elena pun segera pamit kepada Hilda. Dan Theo pun berjanji kepada Hilda untuk menjaga Elena dengan sangat baik, Theo tersenyum saat Hilda memberikannya izin untuk mengajak Elena makan malam bersama.
***
Suasana didalam mobil mewah milik Theo pun terasa sangat canggung, hanya keheningan lah yang kini mengiringi mereka. Theo yang sibuk dengan mengemudi, sedangkan Elena yang sibuk dengan menatap indahnya jalanan di ibu kota ini.
Sesekali mereka saling menatap namun kembali lagi pada kesibukan mereka, Elena meletakkan tangannya didada untuk memastikan jika jantungnya masih berada ditempatnya. Karena sampai saat ini ia masih merasa jantungnya berdetak sangat kencang, dan ia khawatir jika Theo sampai mendengar detak jantungnya itu.
"Elena!" Ucap Theo sambil melirik Elena dengan sekilas.
"Ya pak?" Tanya Elena.
"Kau masih saja memanggilku dengan sebutan pak?" Tanya Theo sambil tersenyum.
Elena seperti kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Theo. Lantas ia harus memanggil Theo dengan sebutan apa, jika harus memanggil nama ia terlalu takut karena Theo adalah bosnya dikantor.
"Panggil saja aku dengan Theo!" Ucap Theo dengan sangat tegas.
Elena pun hanya mengangguk dan tidak berbicara lebih banyak. Ia kembali fokus dengan pemandangan indah yang terlihat dari dalam mobil. Pemandangan ibu kota yang dihiasi dengan gedung-gedung tinggi membuat kota ini serasa bagaikan diluar negeri bagi Elena.
***
Kini Elena disuguhkan dengan suasana yang terlihat sangat indah dan juga mahal, dengan sebuah meja dilengkapi dengan dua buah kursi yang dihiasi dengan bunga-bunga indah dan juga lilin yang berada diatas meja tersebut membuat Elena berpikir jika restoran ini adalah restoran bintang lima.
"Apa kau suka dengan tempat ini Elena?" Tanya Theo sambil meneguk minuman yang berada dihadapannya.
"Aku sangat menyukainya Theo, namun bagiku ini sangat berlebihan. Ini lebih pantas jika kau lakukan bersama kekasihmu bukan bersama karyawanmu seperti aku ini!" Ucap Elena dengan sangat gugup, walaupun ia menikmati suguhan mewah di restoran ini. Namun ia merasa ini sangat berlebihan untuknya karena ia hanyalah karyawan biasa.
"Kau tidak perlu berbicara seperti itu, kau sangat pantas berada disini!" Ucap Theo meraih tangan Elena.
Elena merasa sangat gugup saat Theo meraih tangannya dan menggenggamnya dengan sangat erat, Elena sangat tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Theo terhadap dirinya. Elena menjadi salah tingkah dan Theo pun seperti mengetahuinya.
"Ehmm bukannya kau akan bercerita padaku?" Tanya Elena mencoba untuk mencairkan suasana.
"Aku hampir saja lupa jika kau tidak mengingatkanku!" Ucap theo sambil tertawa.
Theo mulai menceritakan semuanya kepada Elena, dan Elena adalah seorang pendengar yang sangat baik. Ia tidak pernah memotong pembicaraan dari Theo, Elena selalu memperhatikan setiap ucapan yang diberikan oleh Theo. Dan membuat Theo kembali kagum terhadapnya.
"Jadi wanita itu adalah mantan kekasihmu?" Tanya Elena.
Theo hanya mengangguk dan kembali melahap menu makan malam yang telah disediakan oleh seorang pramusaji yang berada direstoran mewah tersebut.
"Elena, apa kau pernah merasakan jatuh cinta?" Tanya Theo.
Elena yang mendengar pertanyaan dari Theo langsung batuk, ia tidak tahu apa yang harus ia jawab. Ia langsung mengambil segelas air putih dan meminunnya untuk membuat kondisinya lebih baik dari sebelumnya.
"Elena?" Lanjut Theo.
"Aku tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta, bahkan untuk melakukan makan malam pun ini kali pertama yang aku lakukan. Dan itu bersamamu bosku sendiri!" Ucap Elena sambil memotong beef yang berada dipiringnya.
Theo cukup terkejut dengan apa yang didengarnya, wanita secantik dan sebaik Elena belum pernah merasakan apa yang dinamakan dengan jatuh cinta. Sungguh bagi Theo wanita seperti Elena sangat jarang untuk ia temukan, rasa kagum dirinya terhadap Elena semakin bertambah.
"Bagaimana bisa?" Tanya Theo.
"Aku pun tidak tahu, tapi jika kau tanya apa pernah aku kagum kepada seorang pria? Aku akan jawab pernah, aku mengagumi seorang pria yang begitu luar biasa!" Ucap Elena sambil tersenyum kepada Theo.
Theo kembali dibuat bingung dan berpikir siapakah pria yang sangat beruntung itu karena ia dikagumi oleh seorang wanita cantik dan baik seperti Elena. Apa ia harus percaya diri bahwa dirinyalah yang dikagumi oleh Elena.
"Siapa pria itu?" Tanya Theo dengan gugup, namun Theo sangat penasaran siapakah pria yang dikagumi oleh Elena.
"Kau!"