
Elena berdiri di depan cermin besar dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang membuatnya terlihat sangat cantik dan sempurna. Rambut panjangnya yang disanggul dengan hiasan mahkota ditengah membuatnya terlihat seperti seorang ratu. Ia tersenyum sambil melihat dirinya dicermin, hari ini ia merasa sangat bahagia. Karena yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dimana ia dan Theo akan melangsungkan pernikahan yang selama ini ia impikan.
Elena selalu meminta pada Theo agar mereka menikah sederhana, namun Theo dan kedua orang tuanya menolak karena pernikahan mereka adalah suatu kabar bahagia yang harus disampaikan kepada semua orang dan kerabat mereka. Jantung Elena berdebar sangat kencang dari biasanya, perasaannya kini tengah bercampur aduk antara bahagia dan juga gugup.
Ibunya yang memperhatikannya sejak tadi hanya tersenyum dan memeluk Elena dengan sangat erat, wanita paruh baya itu seakan sulit untuk melepaskan anak satu-satunya terlihat dari matanya yang kini seperti menahan cairan bening yang sebentar lagi akan turun membasahi pipinya yang mulai keriput.
"Ibu jangan menangis seperti ini!" Ucap Elena sambil memeluk ibunya yang terlihat menangis.
"Ibu hanya menangis bahagia karena kau akan menikah dengan pria yang kau cintai sayang," Ucap Ibu Elena sambil memegang kedua tangan Elena dan memeluknya dengan sangat erat.
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan terlihat seorang wanita menyampaikan jika pengantin pria sudah menunggu Elena dibawah, dan Elena diminta untuk cepat turun agar acara pernikahan Elena dan Theo segera dilangsungkan karena sudah banyak tamu undangan yang hadir.
Elena melangkahkan kakinya menuruni anak tangga gedung mewah itu dengan diiringi oleh ibunya, tatapan Elena tertuju pada seorang pria tampan yang sedang berdiri menatapnya dengan menggunakan jas pengantin berwarna putih, membuat pria itu terlihat semakin tampan dan juga badannya yang semakin terlihat gagah.
Theo menyambut tangan Elena dengan lembut dan membawanya ke tempat pemberkatan, ditatapnya mata Elena dengan penuh rasa kagum dan rasa cinta yang terpancar dari manik mata milik Theo. Pria itu seakan tidak percaya jika hari ini ia menikah dengan seorang wanita yang sangat dicintainya, wanita yang menyembuhkan luka hatinya yang sempat ia ragukan tidak dapat disembuhkan. Namun Elena hadir pada hidupnya, dan memberikan warna dan memberikan semangat lagi di dalam kehidupan Theo.
Setelah selesai acara pemberkatan dan saling mengucapkan janji suci pernikahan mereka, Theo meraih tubuh Elena untuk mendekat dengan dirinya. Theo mengecup kening Elena lalu kemudian mencium bibir Elena dengan penuh kelembutan. Wanita yang kini menjadi istrinya seperti terhanyut dalam kelembutan yang telah diciptakan oleh Theo, Elena langsung memeluk tubuh Theo dengan sangat erat.
Terdengar suara gemuruh para tamu yang hadir memberikan tepuk tangan dan satu persatu tamu mulai berjalan menuju pelaminan untuk memberikan selamat pada kedua pengantin yang sedang berbahagia. Elena dan Theo tidak pernah berhenti untuk tersenyum saat para tamu mengucapkan selamat pada mereka.
"Selamat ya kalian berdua! Aku harap kalian berdua bahagia selalu! Dan aku minta maaf atas kesalahan yang pernah aku lakukan pada kalian berdua!" Ucap Angel sambil memeluk Elena dengan lembut.
"Kami sudah memaafkanmu Angel! Aku dan Elena juga berharap iika kau akan bahagia selalu!" Sambung Theo sambil merangkul Elena yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
***
Elena dan Theo kini tengah duduk di sebuah kursi taman yang berada di halaman depan rumah mewah mereka, lebih tepatnya rumah mewah milik Theo. Setelah selesai acara pernikahan mereka beberapa hari yang lalu, Elena dan Theo langsung memutuskan untuk tinggal di rumah mewah Theo.
Theo tidak berhenti untuk menggenggam tangan Elena, ia merasa sangat bahagia saat berdua bersama wanita yang sangat dicintainya. Theo merasa sangat bersyukur dan beruntung karena memiliki istri seperti Elena, selain cantik ia juga sangat mandiri dan tidak selalu bergantung pada suami. Bahkan Elena juga menolak saat Theo memberi saran untuk memakai beberapa pelayan untuk membantu pekerjaan Elena dirumah, namun Elena selalu menolaknya dan memberi alasan jika ia mampu untuk melakukannya sendiri, dan itu yang membuat Theo selalu kagum dengan kesederhanaan istrinya itu.
"Sayang kau tahu aku sangat bahagia menikah denganmu. Dan aku berjanji untuk selalu setia padamu dan tidak akan mengecewakanmu. Aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu dan juga ayah yang baik untuk calon anak kita nanti!" Ucap Theo sambil memeluk Elena dengan erat.
"Aku juga akan selalu berusaha jadi yang terbaik untukmu dan calon anak kita nanti sayang. Aku sangat mencintaimu!" Ucap Elena sambil membalas pelukan Theo.
"Aku juga sangat mencintamu!"