
“Mbak Maura rencananya mau melahirkan di mana?” Angga bertanya ketika mereka telah selesai
menikmati hidangan makan malam di unit Angga dan Arkan. Sudah menjadi kebiasaan buat mereka untuk
makan malam bersama menikmati hidangan buatan Arkan. Kadang-kadang mereka makan di luar juga sih.
“Kalau ngikutin aturan asuransi sih gue harusnya melahirkan di Royal Brisbane Women hospital itu. Tapi itu terlalu jauh. Jadi gue memutuskan untuk melahirkan di Wesley aja.” Maura menyebutkan rumah sakit
swasta yang terletak di Coronation Drive. Memang letaknya lebih dekat dibandingkan RBWH dari tempat mereka tinggal.
“Jangan sungkan ya mbak minta anter sama kita, mumpung mobil omnya
Angga masih sama kita.” Pinta Arkan.
Maura tersenyum penuh terima kasih. Dia memang butuh bantuan dari mereka.
“Ini beneran lho mbak, bukan basa-basi.” Angga pun menegaskan.
“Semenjak gue kenal kalian, kok jadi manja gini ya? Belanja ditemenin, bahkan ke kampus pun selalu sama kalian.” Semenjak mereka sudah merasa akrab, Maura sudah meminta mereka untuk lebih luwes dengan
menggunakan gue-elo dalam komunikasi mereka.
“Lha, memangnya kenapa, kita nggak keberatan kok.”
“Kalian nggak risih apa, mainnya sama perempuan hamil? Kalian kan masih muda, ya mainnya sama yang muda-muda juga lah. Gue nggak pernah lihat lho kalian main sama siapa gitu, selalu aja ngintilin gue.” Kalau inget itu Maura jadi heran.
Waduh, Arkan dan Angga bingung ditanya Maura begitu. Nggak mungkin kan mereka jawab kalau mereka
memang ditugaskan untuk menjaga dirinya.
“Abis main sama elo nyaman mbak, lagi juga kitakan tetangga. Wajar-wajar ajalah kalau maen bareng
terus.” Jawab Arkan sekenanya.
“Kalian nggak kepengen jalan ke mana gitu, Gold coast, atau ke mana kek?”
“Elo udah jalan-jalan mbak?”
“Ya belumlah, masih ribet, dan gue sendirian juga, jadi bingung mau jalan ke mana.”
“Mau kita temenin?”
“Lho kok malah nanya gue, gue kan nanya kalian, nggak tertarik
jalan-jalan?”
“Ya nggak papa, makanya kita aja elo mbak, kalau mau jalan kita anterin. Kalau ke pantai aja sih, kayaknya masih aman deh buat elo.”
Maura jadi kepikiran. “Serius kalian mau ngajak gue jalan.”
“Ya serius lah. Elo mau ke
mana?”
Maura jadi berfikir. “Gimana
kalau kita ke Sunshine coast.”
“Weekend ini? Boleh kenapa
nggak.” Jawab Angga.
“Deal.” Arkan menambahkan.
Maura tersenyum bahagia. Dia begitu bersemangat. Melihat senyum Maura yang bersemangat, Arkan dan Angga menjadi terhenyuh… mereka bisa merasakan kesepiannya Maura di sini. Mereka menjadi sangat ikhlas menjalankan tugas mereka: menjaga dan menemani perempuan cantik
ini.
**
[Bang, Mbak Maura minta diajak ke Sunshine coast weekend ini. Boleh ya bang?] Angga bertanya melalui WA grup mereka.
[Iya bang, kasihan istri lo, selama di sini belum pernah jalan-jalan.] Arkan menambahkan.
Gardin membaca pesan itu, sebenarnya dia sudah tahu percakapan mereka karena sedari tadi dia memang
menonton CCTV, ia kangen sang istri. Dia pun bersedih, harusnya dia yang membawa istrinya jalan-jalan. [Iya gue udah tahu. Pasti bolehlah. Tolong jaga istri gue ya. Tolong buat dia happy ya]. Gardin menjawab dengan mata yang berkaca-kaca.
[Siap bang]. Percakapan pun
Tapi rasa bersalah Gardin justru baru dimulai.
**
Pulang dari Sunshine coast sore itu Maura terlihat lelah tapi juga bahagia. Wajahnya begitu berseri-seri. Menikmati suasana pantai membuat perasaannya begitu rileks. Arkan dan Angga pun menikmati piknik singkat mereka hari itu.
“Arkan, Angga makasih banyak ya jalan-jalannya. Gue happy banget…” Maura tersenyum sumringah sambil menaiki tangga perlahan menuju unitnya. Lelah sangat, waktunya untuk istirahat.
“Sama-sama mbak. Istirahat ya.” Jawab Arkan.
“OK deh, Good night.” Baru saja bicara dengan riang, ternyata Maura salah menapak, diapun terjatuh dengan kaki terputar dan jatuh sedikit berguling menuruni dua anak tangga.
Astaga… Arkan dan Angga panik bukan kepalang. “MasyaAllah Mbak.” Angga berusaha menangkap Maura
yang terjatuh berguling.
Arkan dan Angga langsung membopong Maura yang merigis kesakitan.
“Ke rumah sakit Ngga!”
Angga pun mengangguk. Mereka berdua langsung membopong Maura kembali ke mobil menuju rumah sakit yang
terletak di Coronation Drive itu.
**
Angga Begitu panik, dia agak ngebut membawa mobilnya. Arkan juga mendukung Angga karena panik. Maura justru jadi ketakutan.
“Angga nggak usah ngebut. Rumah sakitnya nggak terlalu jauh, dan ini juga bukan jam sibuk. Tenang… gue nggak sebegitu gawatnya kok.” Walaupun Maura juga sebenarnya panik kalau-kalau janinnya kenapa-napa. Dia nggak mau terjadi apa-apa dengan anak ini, sudah berjanji bahwa ia akan menjaga anak ini
bahkan dengan nyawanya sekali pun. Tapi Angga yang ngebut malah justru membuatnya semakin ketakutan.
Angga pun memberi kode untuk Angga menuruni kecepatannya.
“Maaf mbak gue panik lihat mbak jatuh berguling begitu.”
Maura di bangku belakang tersenyum sedikit. “Gue juga Ngga, sakit juga malah.”
“Hehehe iya ya mbak.” Angga pun berusaha untuk tenang. Tapi memang dia tidak membiarkan mobil itu
berjalan lambat. Secepatan standar lah.
Lima belas menit kemudian mereka pun sampai di rumah sakit yang
dimaksud.
**
Empat jam kemudian.
[Bang, tadi mbak Maura jatuh dari tangga. Maaf bang.] Dengan banyak pertimbangan dan diskusi
akhirnya Angga dan Arkan sepakat melaporkan kejadian itu pada Gardin.
[Astagfirullah… gimana bisa?] Gardin panik setengah mati. Tapi dia nggak bisa keras pada dua stafnya,
takutnya malah mereka jadi ketakutan untuk melaporkan lagi.
[Kayaknya Mbak Maura kecapean pulang dari Sunshine coast, jadi nggak hati-hati naik tangganya.]
[Gimana keadaannya?]
[Nggak papa bang, tadi udah kita bawa ke UGD, kata dokter, ibu dan janin baik-baik aja, tadi sempet dipantau dua jam.]
[Maaf bang]
[Lain kali tolong jaga istri gue lebih baik lagi ya]
[Siap bang. Tapi ada hikmahnya bang. Mbak Maura setuju untuk tinggal bareng kita, biar nggak usah naik tangga lagi.]
[Iya bang, besok kita akan bantuin dia pindahan ke unit kita. Ini aja sekarang dia tidur di kamar yang elo
siapin. Kayaknya dia agak trauma liat tangga.]
Begitu membaca WA itu, Gardin langsung menyalakan CCTV yang terhubung pada kamar yang dimaksud, benar adanya Maura sedang berbaring di tempat tidur seorang diri. Gardin begitu terpana melihat Maura yang sedang tertidur. “Halo sayang, apa kabar? Mana yang sakit” Tanyanya lembut, Gardin begitu merasa prihatin, dia juga ngilu melihat perut sang istri yang semakin membesar. Dia bicara seorang diri. Membayangkan istrinya jatuh tanpa dia bisa menolongnya rasanya begitu frustasi. “Kamu tinggal di situ aja ya, nggak usah naik
lagi ke unit kamu. Biar nanti Angga dan Arkan yang bawain barang-barang kamu.” Gardin pun membelai layar CCTV itu seakan ia sedang membelai Maura. Kerinduannya benar-benar memuncak.