
Disepakat pernikahan mereka berlangsung dua minggu kemudian. Walaupun sebenarnya secara administrasi tidak
ada yang perlu mereka urus, karena memang secara hukum mereka tidak pernah
bercerai. Maura tetap menginginkan
prosesi pernikahan ini dilakukan oleh petugas KUA. Karena memang mereka membutuhkan wali
hakim. Mengingat ayah Maura telah
meninggal dunia, dan dia tidak mengenal saudara dari sang ayah yang bisa
menjadi wali.
Maura pun masih mengajukan satu syarat lagi ke Gardin. Ha, syarat lagi? Iya, tapi sebenarnya nggak
berat kok. Maura minta maharnya
seperangkat perhiasan yang dipilih Gardin. Bukan siapa-siapa, bukan juga Mia
atau orang suruhan Gardin lainnya. Tapi
ternyata syarat itu cukup membuat Gardin pusing lho. Serius ini membuat Gardin pusing banget.
Pernah mencoba dengan mencari clue, apakah Maura ingin perhiasannya branded
dengan merk tertentu, Bulgari atau Cartier mungkin? Maksudnya Gardinkan agar
memudahkannya untuk menemukan apa yang diinginka Maura. Tapi Maura hanya tersenyum misterius. Dan menjawab dengan kalimat yang begitu
mengambang.
“Perhiasan branded aku sudah begitu banyak sayang. Aku nggak perduli dengan brand atau
harganya. Aku hanya ingin kamu mengikuti
instingmu. Biarlah cinta kita menemukan
jalannya?”
Ha? Berfilosofi atau malah buat Gardin puyeng inih… sama sekali
tidak membantu jawaban itu.
Berhari-hari Gardin pusing kepala memikirkan apa yang diharapkan
Maura dari dirinya. Menghabiskan waktu
dengan browshing di internet, Gardin masih juga belum mampu menemukan apa yang
diinginkan Maura.
Gardin tuh ribet amat ya, padahal Maura sama sekali nggak perduli
lho perhiasan macam apa yang akan dibelikan Gardin untuknya. Dia hanya ingin perhiasan itu Gardin pribadi
yang pilih bukan seperti biasanya sang asisten yang membelikan. Maura hanya ingin merasa bahwa Gardin
bersedia meluangkan waktu untuk memikirkan dirinya.
Halah Maura juga lebay yah… apa kurangnya coba selama ini Gardin
memikirkan dirinya. Bela-belain terbang
ke Brisbane tiap tiga bulan sekali demi menjenguk Maura dan Hiro, apa itu bukan
memikirkannya?
“Apa Din?” Ini sudah
kesepuluh kalinya Gardin menelepon Maura dalam satu jam terakhir. Maura sedang ditemani Mia meeting dengan wedding organizer di kantor Gardin. Mereka akan menikah besok, dan WO baru dihubungi lima hari yang lalu,
makanya WO nya pusing bukan kepalang.
“Ra, seperangkat itu artinya cincin, kalung dan anting ya?” Seberang telepon bertanya pada Maura.
“Iya sayang.” sambungan pun tertutup.
Baru mau bicara dengan pihak WO, telepon berbunyi lagi.
“Kenapa lagi sayang?”
“Kamu maunya berlian kan aku belinya di Sensi aja ya?”
“Terserah kamu aja. Kamu mau beli emas di Melawai juga nggak papa.” Maura hendak memutuskan
hubungan teleponnya.
“Oh kamu mau aku beli di Melawai?”
“Nggak harus sayang, di pasar Uler sekalipun juga nggak papa.” Maura
sudah mulai gemes.
Terdengar Gardin kebingungan dan bertanya dengan orang yang ada di sana,
“Pasar Uler di mana?”
Maura tertawa dan menutup sambungan teleponnya.
Mereka pun melanjutkan meetingnya.
Kali ini telepon Mia yang berbunyi. “Ya pak?” Mia bicara begitu
pelan takut Maura mendengar.
“Mi, ukuran cincin istri saya nomer berapa?” Gardin jadi ikut
berbisik.
“Sembilan pak.”
“Oh, ok.”
Maura mulai melirik Mia.
Pihak WO mulai menjelaskan lagi, sentuhan akhir dari
dekorasinya. Ketika telepon Maura
“Kenapa lagi?” Maura sudah
mulai kesal nih.
“Ra, mau emas putih atau kuning?”
“Terserah Gardin, kalau kamu kasih emas hitam juga aku terima.” Maura langsung menutup teleponnya. Mulai emosi.
Berselang satu menit, telepon Mia yang berbunyi.
“Jangan dibantu ya Mi.” Pinta Maura
“Baik bu.” Mia pun mengangkat teleponnya. “Iya pak?”
“Mi, istri saya biasanya suka berlian yang kecil-kecil kayak pasir,
atau yang besar sekalian?”
“Pak saya nggak boleh bantuin bapak, kata ibu.”
“Mia, bos kamu saya atau istri saya sih?”
“Pak, yang namanya istri bos itu, kedudukannya lebih tinggi dari
bos.” Mia pun langsung menutup teleponnya melihat Maura mulai melotot.
Mia pun langsung berusaha fokus dengan pembicaraan dari pihak WO
yang bawel banget itu. Nih orang ngomong
kok nggak abis-abis sih? Ada aja yang diomongin sih?
Tapi lama kelamaan Mia jadi nggak fokus dengan pembicaraan pihak WO
itu. Dia membayangkan bagaimana sang bos
kebingungan memilih perhiasan untuk sang istri. Mia bisa membayangkan itu, karena selama ini kan dirinya yang selalu
mendapat delegasi untuk pekerjaan yang satu itu. Lama memikirkan, pun akhirnya dia jadi nggak
tega dengan bosnya, akhirnya dia pun mengambil satu majalah wedding, yang
memperlihatkan iklan toko berlian yang mengiklankan seperangkat perhiasan
berlian. Bermerk Cartier, Ini selera bu Maura banget modelnya: Simple, cantik,
dan elegant. Mia pun langsung memphoto
lembaran itu dan mengirimnya ke Arkan. Dia tahu kalau Arkan dan Angga sedang menemani Gardin membelikan Mas
kawin untuk Maura.
“Mia, jangan dibantu!” Pinta Maura sekali lagi.
“Nggak bu, ini Arkan nanya meeting bapak kapan.”
Setelah meeting selesai, dan
pihak WO sudah pamit pulang, Maura pun mendekati Mia. “Kamu kirim gambar yang mana?”
Eh ketahuan… Mia cengengesan. “Yang ini bu.” Dia pun menunjukan gambar yang dimaksud.
Maura pun mengamati. “Hm… bagus juga.” Cuma itu responnya.
**
Di Senayan city.
Gardin mengangkat telepon dari Jason. “Kenapa bang?”
“Woy, anak buah gue kenapa elo angkut?” Jason kebingungan Ketika menyadari Arkan dan
Angga tidak ada di ruangan mereka. Dia tahu
bahwa dua anak buahnya itu bukan sedang nakal terlambat Kembali dari makan
siang. Pasti diculik ini.
“Lha, elo nggak mau bantuin gue.”
“Kalau gue juga ikut ngurusin elo beli mahar, kantor elo siapa yang
ngurus.” Jason mulai sewot.
“Ya ela bang, nggak akan bangkrut kantor gue kalau elo bantuin gue
sehari aja sih.” Jawab Gardin enteng.
Nih orang, kalau deket udah dijitak deh. “Itu si Arkan ama Angga
cepet suruh balik ke kantor! Kasihan Fendi ini bikin MOU sendirian, stafnya elo
angkut semua.”
“Sabar bang, bentar lagi juga selesai nih.”
“Lagi juga Maura tuh nyuruh elo yang milih sendiri, kenapa harus
bawa orang sih.”
“Gue pusing bang, bantuin kek. Paling nggak jangan bawel ah.” Gardin pun menutup teleponnya.
Meninggalkan Jason yang sewot. “Ini Kantor punya siapa sih? Kok Jadi gue sendirian yang pusing gini?”
Jason kebingungan sendiri.
“Bang, Mbak Mia ngasih gambar nih Bang, sekalian nama tokonya.”
Arkan memberi tahu Gardin.
“Oh ya? Ya udah kita beli ini aja.”
Mereka bertiga pun langsung ngacir mencari toko yang dimaksud.
Sumpah ini tiga orang cowok sibuk belanja di mall di jam kerja udah kayak tiga
anak SMA yang lagi bolos sekolah demi beli game PS yang mereka inginkan. Ribut dan ribet banget.