CEO Galau

CEO Galau
Episode 28 Buat jadi kapok



Gardin sebetulnya sama sekali nggak takut dengan Lusy, yah bisa dibilang terukurlah kemampuan kognitifnya hingga akan terukur juga kemampuan sepak terjangnya mengganggu kehidupan Gardin dan Maura.  Tapi Gardin sangat takut kalau-kalau Maura berubah fikiran mengurungkan niatnya untuk rujuk dengan Gardin.  Wah repot ini, perjuangan dan kesabarannya selama dua tahun lebih bisa sia-sia.  Bagi Gardin, justru Mauralah yang sangat unpredictable, seperti ke Brisbane dulu, mana kepikiran buat Gardin dalam kondisi putus asa justru Maura memutuskan sekolah lagi.  Dari itu Gardin berjanji pada dirinya dan juga Maura untuk menuntaskan masalahnya dengan Lusy agar ke depannya perempuan itu tidak akan mengganggu kehidupan meraka lagi.


Keesokan harinya Gardin mengumpulkan semua karyawan Maura, meminta


mereka untuk lebih waspada agar kejadian kemarin tidak terulang lagi.  Apabila Lusy datang lagi, yang harus mereka lakukan adalah menelepon polisi agar polisi langsung menangkap perempuan


itu.  Gardin sudah berkoordinasi dengan Polsek Bekasi Barat dengan membuat pelaporan yang terjadi kemarin, yaitu kasus penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan.  Ya iyalah abis makan nggak bayar, itu sudah cukup untuk mempolisikan Lusy kok.  Maura meminta Handi untuk istirahat 3 hari di rumah. Lukanya sebenarnya tidak terlalu serius, tapi Maura yakin pasti masih nyut-nyutan (Bahasa Indonesia bakunya apa ya, nyut-nyutan itu?).  Penjagaan terhadap Maura dan Hiro pun menjadi lebih ketat, biasa deh Gardin kembali menunjukan ke-over protective-an nya.  Hiro sampai bingung, kenapa dia diantar ke sekolah (playgroup) dengan om yang begitu banyak? (Ada empat bodyguard yang kini khusus menjaga Hiro).


“Baiknya gue gimana nih Bang? Kelihatan niat banget tuh perempuan ganggu Maura, bayangin aja rumahnya di Depok, Makan siangnya sampai ke Bekasi Barat coba.”  Gardin sedang berkonsultasi


dengan Jason.  Ketika mereka ada di lobi.  Mereka baru saja pulang meeting dengan client mereka di daerah


TB Simatupang.  Perusahaan Batu bara dari Australia.


“Duit dari elo tuh udah abis kali, makanya lagi nyari perhatian elo.”


“Ah itu sih gue tahu, Ferrari gue udah dijual lagi sama Agung (makelar mobil mewah) kok, apartemen juga udah pindah tangan.  Laporannya udah dateng ke gue semua.  Makanya dia beli rumah kecil di Depok itu.  Dia fikir gue mesin ATM apa, duit abis balik lagi ke gue?”


“Gila tuh perempuan yah, dua tahun doang sebegitu banyaknya yang elo kasih udah abis?”


“Ngabisin uang kan gampang Bang.”  Gardin tersenyum sinis. “Gue nggak perdulilah itu semua, yang penting


dia jangan ganggu Maura dan gue lagi.  Apalagi kalau sampai berani nyentuh Hiro.  Abis tuh orang. Nggak peduli lagi dia perempuan apa nggak deh kalau gitu mah.”


“Ha? Si Lusy ganggu Mbak Maura bang?”  Tiba-tiba Arkan ada di samping mereka berdua.


Gardin sampai kaget tadi, “ada orang manggil bini gue mbak?” Sok akrab banget, eh nggak tahunya Arkan.  Di


samping Arkan pun ada Angga yang menyimak diam-diam.


“Eh elo, gue pikir siapa?” Gardin menyapa Arkan, diapun menatap Angga. “Udah balik dari cuti lo?”  Angga


dua minggu ini memang ngambil cuti untuk nikah, dia menikah di Makasar, karena Dagna berasal dari sana.


“Udah bang, dari kemarin kok udah masuk kantor lagi.”  Jawab Angga sopan.


“Ya udahlah kita omongin dia atas aja, elo berdua ikut deh, udah tahu semua juga kan tentang ini!” Jason yang bicara kali ini.


Mereka pun memasuki lift menuju ruangan Gardin di lantai 25.


“Eh ngomong-ngomong Maura udah tahu tuh kalau kalian anak buah gue.”


Ketiganya kaget mendengar itu.


“Kok bisa? Acting kita kurang bagus ya bang?”  Tanya Angga.


“Nggak, Maura aja yang memang udah kenal gue banget.  Makanya dia bisa tahu.”  Gardin sama sekali nggak menyalahkan dua anak mudah itu.


“Ya udah, weekend ini elo pada dateng deh ke restorannya Maura, minta maaplah bohongin dia, sekalian elo


mau ngasih undangan kawinan elo kan Ngga?”


“Kan gue udah ngasih undangan ke elo bang,” Angga bingung.


“Ya udah, ntar elo bawa lagi deh tuh undangan, kasih ke Maura.”


Ketika pintu lift terbuka, mereka pun memasuki ruangan Gardin.


Ketika mereka melintas ruangannya Mia, Arkan dan Angga pun menyapa Mia.  Mia pun tersenyum sambil menggoda, cie cie… makin akrab nih sama pak bos.


Ketika semuanya duduk manis.


“Jadi gue mesti gimana baiknya nih?”


“Elo telepon deh, ajak ketemu.  Tapi jangan berdua, ntar elo khilaf lagi.”  Jawab Jason.


“Gue juga ogah.” Jawab Gardin. “Males sebenernya gue nih nanggepin, udah sering banget dia neleponin gue, gue cuekin selama ini.  Sekarang malah gue nelepon dia.”


“Biar cepet tuntas.  Bilang sama dia sekalian suruh dia bawa pengacara, code aja buat dia kalau elo nggak


akan datang sendiri untuk nemuin dia.”


Gardin pun menelepon Lusy di hadapan ketiganya.  Dia pun menggunakan loudspeaker agar semuanya bisa mendengar pembicaraan itu.  Disepakati bahwa mereka akan bertemu nanti sore pukul lima di salah satu restorant mewah di hotel yang ada di jalan jend. Soedirman.  Setelah menemukan kesepakatan tempat Gardin pun menutup pembicaraan.  Terlihat nada bicara Gardin dari tadi sangat dingin.


Jason pun menatap kedua stafnya.  “Sekarang gue minta tolong sama kalian untuk mencari tahu


sebanyak-banyakan aktivitas Lusy melalui social media yang dia punya, tracking sebisa mungkin.  Kita masih punya waktu nih sekitar dua jam.  Gue buat surat perjanjian dulu ya.  Ya udah kita ketemu lagi satu setengah jam lagi deh.”


Merekapun membubarkan diri.


Pukul Lima sore:


Ternyata Lusy berbuat konyol lagi.  Dia memberitahukan pada wartawan tentang pertemuan mereka itu.  Jadilah para wartawan berkumpul di lobi hotel tempat mereka bertemu, karena mereka tentunya tidak diijinkan masuk oleh pihak hotel.  Ini konyol banget sih, Lusy kan artis tanpa kualitas, kok ya beginian dikejar wartawan. Gardin sampai nggak habis fikir.  Untungnya kedatangannya tidak tercium, dia memasuki hotel itu melalui parkiran bukan lobi.


Katika Gardin dan tim memasuki restoran yang dimaksud, Lusy sudah menunggu dirinya.  Dia bersama dua orang


yang kesemuanya perempuan.  Lucu pemandangannya, tiga perempuan berhadapan dengan empat laki-laki.  Sumpah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan issue gender.


Lusy duduk membelakangi pintu masuk, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Gardin dan tim.


“Si Maura cantik juga ya, kalau dilihat photonya.”  Salah satu teman Lusy berkomentar. “Kelihatan lembut, ya beda sih sama elo.”


“Eh jangan elo samain dong, nggak level ya.”  Jawab Lusy.


“Betul sekali, istri saya memang nggak level dengan anda.”  Gardin pun langsung menimpali.


Ketiga perempuan itu terkejut mendengar suara Gardin, mereka langsung mendongak dari pandangan mereka ke telepon genggamnya.  Ternyata ada empat orang laki-laki di hadapan mereka.


Tanpa dipersilahkan keempatnya duduk di hadapan mereka.  “Istri saya itu perempuan yang sangat tahu


etika dan punya pandangan sangat maju.  Ketika Tuhan memberikan cobaan berat bagi dia di saat saya khilaf, istri


saya justru mendapatkan gelar Master of Business  dari Queensland university, dan sekarang mampu menjalani usahanya yang dia bangun sendiri tanpa kontribusi saya sama sekali, dan di saat yang sama dia mampu membesarkan anak kami dengan baik.  Terima kasih lho ya kalau anda menyadari kalau anda sangat tidak selevel dengan istri saya.”


Lusy sangat kaget dengan penjelasan dan kehadiran Gardin.  Kedua temannya pun begitu terpana dengan gaya


Gardin yang sangat angkuh.


“Kita langsung pada pointnya ya, maksud anda apa ya membuat keributan di restoran istri saya dan mengaku-ngaku kalau kita menikah?”  Gardin langsung pada pointnya.


“Bang, kok kayak gini sih? Akukan kangen kamu, kamu nggak kangen aku?” Lusy pun bangkit dan berusaha menghampiri untuk memeluk Gardin.


Dengan sigap Angga dan Arkan langsung menghadang.


“Maaf bu, untuk mencegah fitnah, sebaiknya kita bicara sambil duduk saja.  Nggak usah menghampiri Pak


Gardin!” Angga bicara dengan sangat tegas.


“Jangan kurang ajar kamu ya!” Lusy sudah mulai bersikap kasar.  Siap menyerang Angga.


“Anda nggak malu, itu di jendela banyak wartawan yang sedang merekam gambar kita lho.” Jason yang kini bicara.


Lusy dan dua temannya pun kaget dan menyadari apa yang ada di sekelilingnya.


“Bukan pihak saya lho yang mengundang mereka.”


Lusy diam.  Ya memang dia kok yang memberi tahu tentang pertemuan ini.


“Kita kembali ke point ya, maksud anda apa datang ke restoran istri saya dan mengaku-ngaku sebagai pemilik restoran, dan lebih jauh mengaku istri saya.  Maaf ya, saya nggak punya surat nikah dengan anda, yang saya punya akta cerai.”


“Aku hanya ingin bertemu abang, aku kangen.”


“Kita nggak ada urusan lagi.  Semua kewajiban saya sudah saya penuhi.”


Gardin sangat mengenal Lusy, perempuan ini begitu berambisi untuk melakukan aktifitas medical di rumah sakit luar negeri.  Begitu terobsesi sepertinya.  Kayaknya indikator pencapaian menjadi orang kaya itu adalah punya banyak tas mewah, mobil sport mahal, jalan-jalan naik pesawat jet pribadi, dan kalau sakit atau melahirkan ya harus di luar negeri. Hm… difinisi yang dangkal yah.


Gardin, Jason, Arkan dan Angga saling pandang.


Akhirnya Gardin pun melakukan inisiatif, dia mengeluarkan telepon genggamnya, dan menelepon seseorang dengan menggunakan loudspeaker.


“AssalamualaikumNak Gardin.”  Seorang laki-laki menjawab telepon dari Gardin.


Ke semuanya menyimak.


“Walaikumsalampak, bapak apa kabar?”


“Alhamdulilahbaik nak. Nak Gardin apa kabar?”


“Saya baik pak.  Saya dengar bapak sakit?”


“Ah siapa bilang? Bapak baik-baik saja kok nak.  Sejak operasi dua tahun yang lalu Alhamdulilah bapak baik.”


“Syukurlah pak, soalnya ada yang bilang bapak harus dioperasi di Singapura.”


“Ya Allah nak, kalau bapak harus di operasi mah di Jakarta ajalah,


Dokter di sini nggak kalah hebat kok.  Pasti itu Lusy ya yang ngomong?”


“Ah nggak pak.  Tapi bagaimana kabar di rumah pak?”


“Alhamdulillah semua baik nak, ibu dan bapak sehat.  Berkat bantuan Nak Gardin, Bagas dan Bagus pun sudah jadi sarjana.  Modal yang dikasih nak Gardin bikin usaha bapak makin lancar.  Sekarang bapak udah punya dua warung sate nak, yang di lebak bulus diurus Bagas, yang di Pamulang Bagus yang ngurus.  Bapak jadi tinggal


mantau dari rumah saja.  Anak-anak itu begitu jadi sarjana nggak mau kerja malah mau bantu bapak saja katanya.”


“Lusy apa kabar pak?”  Gardin mencoba memancing keterangan.


“Ah bapak dan ibu sudah tidak perduli dengan dia nak.  Bapak dan ibu malu banget sama dia.  Terakhir bertemu dia itu lebih dari dua tahun yang lalu, datang ke rumah saat rumah kosong, eh nggak tahunya dia malah buat


mesum di rumah bapak, hampir mereka digebukin warga sekampung.  Bapak malu banget nak, Surat cerai dengan nak Gardin saja belum terbit, eh sudah berani-berani dia bawa laki-laki ke rumah.”


Gardin menatap Lusy dengan senyum sinis.  Lusy pun tertunduk malu.


“Sejak itu nggak pernah datang lagi pak?”


“Boro-boro dateng nak, waktu bapak mau dioperasi aja ditelepon sama Bagus nggak pernah diangkat.  Makanya


dulu Bagas menghubungi nak Gardin, karena dia panik nggak tahu harus bagaimana.  Bapak jadi ngerepotin nak


Gardin dulu.  Maaf ya nak.”


“Bapak jangan bilang begitu, itu kewajiban saya sebagai anak pak.”


“Terima kasih banyak Nak Gardin.  Walau sudah nggak jadi menantu bapak, masih perhatian dengan keluarga


bapak.  Bapak doakan semoga Nah Gardin, Nak Maura dan cucu bapak Hiro selalu sehat dan bahagia ya, nggak ada lagi yang ganggu keutuhan keluarga kalian lagi.”


“Terima kasih banyak pak.  Bapak dan ibu sehat selalu ya.”


“Iya nak terima kasih.  Bapak mohon maaf ya nak, kalau Lusy dulu mengganggu nak Gardin.”


“Iya pak, salam buat Bagas dan Bagus ya pak.”  Gardin pun menutup sambungan telepon itu.  Diapun menutup hubungan telepon itu.  “Masih mau ngomong ayah anda sakit?”


Lusy hanya terdiam tertunduk.


“Saya dulu begitu khilaf, menzalimi istri saya Maura, karena selingkuh dengan anda.  Pada akhirnya saya menikahi


anda karena saya ingin taubat, tapi ternyata anda yang selingkuh.  Saya menceraikan anda baik-baik, memberikan


tunjangan dengan sangat layak, dan tanpa anda tahu saya mendatangai kedua orang tua anda untuk minta maaf dan mengembalikan anda.  Yang saya inginkan saat ini adalah saya mau sepenuhnya taubat dan kembali pada Maura.  Saya mohon jangan ganggu saya lagi, kami nggak pernah ganggu anda atau membuat anda menderita.  Saya juga bukan mesin ATM anda.  Urusan kita telah selesai.”


“Aku nggak punya siapa-siapa lagi bang, begitu uangku habis pacarku ninggalin aku.  Sekarang aku bingung.”  Lusy pun menangis manja, sepertinya masih berharap Gardin iba padanya.


“Anda masih punya orang tua, kembalilah pada mereka.  Berbaktilah seperti dua adik kembarmu  itu.  Kamu tuh beruntung masih punya orang tua.  Nggak seperti saya dan Maura.  Kami itu dua orang yatim piatu yang ingin bersatu, saya mohon jangan ganggu kami lagi.”  Gardin bicara dengan nada yang agak melunak.


Gardin melirik Jason untuk meminta surat perjanjian.


“Sebenarnya saya sudah melaporkan anda ke polsek Bekasi Barat karena menyerang stafnya Maura. Cukup bisa membuat anda dipenjara enam bulanlah. Belum lagi kasus penyerangan anda pada maura tiga tahun yang lalu. Kira-kira bisalah membuat anda dipenjara cukup lama.  Berapa lama bang?”  Gardin melirik Jason.


“Ya, satu-dua tahunlah.”  Jawab Jason santai.


Terlihat wajah Lusy memucat.  Dalam hati Gardin bingung, ini dua orang perempuan yang bersama Lusy siapa sih? Kalau pengacara kok nggak ada niat sedikitpun membela Lusy.


“Anda pengacara Lusy?”  Gardin akhirnya bertanya juga.


Kedua perempuan itu saling pandang, mereka pun menggelang. “Kami hanya teman saja, Lusy bilang dia mau neraktir kamu di restorant mewah.”


Gardin pun tersenyum. “Biar saya yang traktir.  Silahkan pesan apa yang anda inginkan, nanti saya yang akan bayar semuanya.”


Jason pun memberikan map pada Gardin yang sedari tadi dipegang Arkan.  Gardin pun menerima dan menyodorkannya pada Lusy.  “Saya akan mencabut semua laporan saya di polisi apabila anda berjanji untuk tidak mengganggu kami lagi.”


Lusy melihat ke surat perjanjiannya dengan ragu. “Apakah aku akan mendapatkan uang?”


Gardin tertawa sinis. “Kalau mau uang itu kerja halal, bukan memeras orang. Makanya kalau dikasih uang itu kelola dengan baik, bukannya foya-foya liburan ke Eropa, Korea, Jepang, pakai sewa jet segala.” Gardin menyindir Lusy


atas upload-annya di media sosialnya.  Hasil searching Angga dan Arkan tadi siang.


Mendengar itu semua Lusy hanya bisa diam.


Gardin pun kemudian menggeleng. “Surat ini hanya akan menyelamatkan anda dari penjara, bukan untuk


mendapatkan uang. Jadi terserah anda.”


Lusy ragu. Keinginannya tidak tercapai.  Tapi sepertinya ia cukup ketakutan kalau sampai Gardin mengirimnya ke penjara.  Maka ditanda tanganilah surat perjanjian itu.


Gardin tersenyum puas. “Saya akan memberikan anda sedikit uang, apabila anda menguncapkan permohonan maaf anda pada Maura dan mengklarifikasi status anda yang bukan lagi istri saya melalui mereka.” Gardin pun melirik para wartawan yang masih setia mengamati mereka dari jendela restorant. “Saya akan


kirim ke rekening anda besok.  Apabila berita itu telah tayang.”


“Ok.”  Lusy setuju.  Sepertinya dia akan melakukan apapun demi uang.


Gardin dan Jason pun bangkit.  Meninggalkan Angga dan Arkan.


“Bu, ini ada sedikit uang taxi untuk ibu dari Pak Gardin.”  Arkan memberikan sebuah amplop putih pada Lusy.


Lusy membuka amplop kecil itu.  Isinya lima juta rupiah.


“Yang benar aja.” Lusy pun marah dan melempar amplop itu ke meja.


“Itu diluar dari tagihan restoran dan apa yang dijanjikan besok, kalau ibu melakukan klarifikasi.” Angga pun memberikan keterangan.


“Tapi kalau ibu nggak mau nggak papa, nanti saya sampaikan ke Pak Gardin.” Arkan pun siap mengambil amplop itu lagi.


“Hei, siapa yang menyuruh kamu mengambilnya lagi?”  Tanya Lusy marah.


“Oh, baiklah.” Arkan pun nggak jadi ngambil amplop putih itu lagi.


Angga dan Arkan pun pamit dengan sopan, setelah itu mereka ke kasir untuk membayar semua tagihan sesuai yang dijanjikan Gardin.


“Ngarepin miliyaran, eh lima juta juga disikat cuy…” Angga tertawa pada Arkan.


“Sapu bersih bos.” Arkan pun menimpali.


Keduanya pun meninggalkan tempat itu menuju parkiran mobil, di mana Gardin dan Jason telah menanti mereka.