CEO Galau

CEO Galau
Episode 6 Jason



Jason menghela nafas lega ketika mengetahui kalau Gardin sekarang


bermaksud untuk kembali dan mencari Maura.  Dari dulu memang dia kesel banget saat Gardin jatuh cinta dengan


Lusy.  Hadeuh… udah kayak dipelet aja deh, nggak lagi mau dengar masukan dari Jason.  Padahal sebelum kenal sama Lusy, Jason dan Gardin benar-benar seperti kakak beradik.  Gardin selalu mendengar semua pandangan Jason, dan mereka pun saling support satu sama lain.  Jason sudah hafal banget deh dengan gelagat perempuan macam Lusy, iya sih sexy kalau cowok baru nakal sih udah pasti kepincut deh.  Sayangnya Gardin yang


kepincut.  Berkali-kali Jason memperingati kalau perempuan seperti Lusy itu hanya ingin uang aja, tapi saat


itu Gardin bagai sapi dicocok hidupnya.  Dan lusy sepertinya menganggap Jason itu sebuah ancaman.  Berkali-kali ia berusaha membuat hubungan Jason dan Gardin renggang.  Bahkan pernah secara terang-terangan dia mengancam Jason.


“Jangan maen-maen sama yang namanya Lusy ya, Maura saja bisa gue singkirkan apalagi cuma pecundang


kayak elo!”


Pertama kalinya Jason bertemu Lusy, sekitar tiga bulan yang lalu, mereka dikenalkan


Gardin.  Saat itu mereka sedang ada di café, Lusy menyusul bertemu Gardin.  Jason langsung mempertontonkan ketidaksukaannya pada perempuan itu.  Lusy mengerti, maka ketika Gardin pamit keluar sebentar karena menerima telepon karena tempat ini terdapat live music, langsung saja Lusy mengumandangkan ancamannya.


“Kita lihat saja, berapa lama Gardin khilaf.  Orang khilaf itu nggak akan selamanya.  Cinta untuk perempuan seperti kamu nggak akan abadi.”  Jawab Jason sinis, lha buaya dikadalin.  Jason tuh mantan playboy sebelum kenal dengan sang istri Safina.  Perempuan macam Lusy mah santapannya tiap waktu, dulu.


“Kita lihat saja, elo atau gue yang tersingkir.  Gue sudah punya bukti, tuh sih Maura sudah cabut dari rumah, dan sebentar lagi gue yang menggantikan posisinya, elo pikir elo siapa berani-beraninya ngajak gue perang?”


Pembicaraan pun terhenti ketika Gardin kembali.  Setelahnya, Lusy pun sibuk mempertontonkan kemesraannya dengan Gardin pada Jason.


Kejadian yang lalu itu jadi teringat lagi.  Dan Hari ini, ketika Gardin berusaha keras mencari Maura, merupakan pertanda baik kalau Gardin telah kembali seperti yang dulu.  Memang seseorang harus merasakan kehilangan dulu agar ia tahu bahwa mana yang berharga mana yang imitasi.  Mana yang harus diperjuangkan dan mana yang seharusnya tidak ada.


**


Flash back 15-tahun yang lalu.


Pertama kali Gardin mengenal Jason ketika mereka sama-sama menimba ilmu di Columbia University, New


York.  Kala itu Gardin berusia 25 tahun, dan Jason 30 tahun.  Gardin baru saja menyelesaikan Master pertamanya di Trondheim, Norwegia, tempat kelahiran sang bunda sekaligus tempat tinggal oma dan opanya dari pihak sang bunda.  Dan kali ini dia bermaksud memulai masternya yang ke dua di Kota New York.  Sedangkan


Jason, sedang menimba ilmu di bidang hukum.  Dia sudah tiga tahun lebih dulu ada di kota itu.  Jurusan hukum di Amerika memang setara dengan master, berbeda dengan di tempat lain.  Setelah ia empat tahun kuliah hukum, baru setelahnya dia mengambil LLM, Jason mengambil hukum international dan memfokuskan pada tambang dan sumber daya alam.


Jason yang bersuku non-pribumi asal Medan, saat itu memeluk agama yang berbeda dengan


Gardin. Tapi sejak pertama kali bertemu mereka memang sudah saling klik untuk bersahabat dan mereka pun saling dukung satu sama lain.  Mengenal Gardin membuat Jason sedikit banyak berubah ke arah yang lebih baik.  Gardin memang anak manis yang senang menuntut ilmu kala itu.  S1 nya lulusan perminyakan ITB, masternya di


Norwegia jurusan Management Natural Resources, mengambil MBA di Columbia atas permintaan sang ayah, karena ia pun harus tahu cara mengelola perusahaan bukan hanya mengelola alam. Nah kalau


Jason, He loves work hard and play harder.  Sebelum mengenal Gardin, hampir tiap malam ia clubbing, walaupun setelahnya dia mampu pergi kuliah dalam kondisi sedikit mabuk dan kurang tidur.  Nilainya, ya tetap aja bagus.  Jason anak konglomerat asal Medan, jadi untuk hidup dan bersenang-senang di New York awalnya sama sekali tidak ada kendala.


Pertama kali mengenal Gardin, karena jaringan pertemanan sesama orang di Indonesia


mengabarkan bahwa ada seorang mahasiswa baru yang butuh bantuan tempat tinggal


sementara, sampai ia menemukan tempat tinggal permanen.  Jason lah yang menawarkan untuk sang


mahasiswa baru tinggal di apartementnya sementara waktu.  Dan mahasiswa baru itu adalah Gardin.  Awalnya memang Gardin bermaksud hanya tinggal sementara saja, tapi karena mereka saling nyaman satu sama lain, akhirnya sepakatlah mereka untuk berbagi apartemen mewah itu.  Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus, dan


semua fasilitas tersedia dengan baik.  Sebagai teman baik, mereka memang saling menghargai privasi satu sama lain.  Gardin sesekali memang suka ikut Jason clubbing, tapi mungkin hanya sekali dalam seminggu.  Selebihnya ia membiarkan Jason pergi dengan teman-temannya.  Gardin sama sekali tidak pernah sekali pun menasehati, memberi tahu atau bahkan melarang Jason untuk menjalani hobinya, tapi Gardin pun sama sekali tidak terpengaruh.  Ya masing-masing saja.  Pada akhirnya, melihat Gardin yang bisa santai tanpa harus berhura-hura, Jason jadi berfikir sendiri, dan mulai mengurangi kebiasaan clubbingnya.  Kalau nggak ada aktivitas kampus, lebih


memilih ada di rumah mereka, sekedar ngobrol, nonton football di TV, atau sekedar main game.  Ternyata banyak hal yang menyenangkan bisa dilakukan, nggak selalu harus clubbing dan alcohol.


Satu hal lagi yang membuat Jason takjub pada Gardin: walaupun Gardin bukanlah orang yang fanatik, tapi dia nggak pernah sekalipun meninggalkan sholatnya.  Jason pun menghormati kegiatan ritual Gardin,


bahkan sering kali, ketika ia masih senang clubbing sampai pagi, sebelum Jason tidur, ia membangunkan Gardin untuk sholat Subuh, setelahnya ia pun pergi tidur.


Keadaan Jason semakin berubah begitu drastis ketika ia jatuh cinta setengah mati dengan


seorang perempuan muda bernama Safina.  Usianya sepuluh tahun lebih muda dari Jason.  Walau begitu, pandangannya sangat dewasa dan cerdas.  Safina adalah putri diplomat Indonesia asal Aceh.  Ayah Safina pernah menjabat konjen di New York sebelum dipindahkan ke London.


Di usia 20 tahun Safina telah lulus S1nya jurusan Political sciences dari NYU, sekarang dia


sedang menjalani masternya di kampus yang sama dengan Gardin dan Jason.  Safina banyak diskusi dengan Jason karena dia mengambil satu mata kuliah di fakultas hukum saat itu, tentang hukum


international.  Setelah tiga bulan mengenal kehebatan dan kecerdasan Safina, Jason blingsatan.  Dia mendadak nggak lagi tertarik dengan perempuan-perempuan cantik lain: baik teman clubbingnya ataupun teman-teman di


kampus, fokusnya hanya pada Safina.  Nggak tahan, akhirnya di bulan keenam ia menyatakan cintanya pada


perempuan berhijab itu.


Safina hanya tersenyum sopan dan menjawab. “Saya nggak bisa ko.”


Hanya Safina yang berani panggil Jason koko, karena Jason lebih suka dipanggil bang.  Tapi Safina kekeuh manggil Jason koko.  Akhirnya Jason menerima panggilan itu, anggap aja panggilan sayang Safina pada Jason.  Tapi begitu mengetahui Safina menolak cinta Jason.  Jason begitu frustasi.  Dua hal yang membuat Safina nggak bisa menerima cinta Jason: pertama karena memang ia tidak tertarik dengan yang


namanya pacaran.  Dan yang kedua unsurnya tambahan tapi penting ya karena mereka beda agama.  Issue ini bagaimanapun sangat fundamental untuk masyarakat Indonesia. Di luar semua itu sebenarnya Safina sangat


mengagumi Ko Jason, baginya Jason adalah orang yang begitu jenius dan hangat.


Ketika mengetahui permasalahan yang dihadapinya, Jason mengerti bukan dia yang tidak disukai oleh


“Kasih tahu gue tentang Islam!”


Gardin kebingungan.


“Kalau memang gue menemukan jalan hidup gue di sini gue akan jalanin, tapi kalau memang ini


petunjuk gue untuk menjauh dari Safina, maka gue akan berlapang dada.”


Gardin sangat ragu.  Pengetahuan dia tentang agama sangat pas-pasan, agama yang dimilikinya adalah agama warisan, dia merasa bukan orang yang berkompeten untuk menjawab keingin tahuan Jason tentang Islam.  Akhirnya Gardin pun membawa Jason ke Masjid yang terletak di Queens.  Nggak jauh sih dari tempat mereka tinggal.


Masih belum puas, akhirnya Jason terbang ke Inggris, dia mencari Yusuf Islam untuk mendalami Islam.  Lima minggu Jason ada di Inggris.  Setelahnya dia kembali ke New York.


“Gue sudah Islam, tapi gue masih galau.  Kita umrah yuk!”  Ajaknya pada Gardin.


Gardin kaget.  Tapi diikuti juga keinginan sang sahabat.  Maka pada summer break mereka pun umrah selama 11 hari.  Pulang dari umrah, Jason begitu mantap dengan apa yang diyakininya.  Akhirnya dia pun memberitahukan keluarganya di Medan.


Sontak keluarganya di Medan begitu marah.  Sang ayah langsung menghentikan bantuannya secara financial untuk Jason hidup dan kuliah di New York. Sang ibu menangis berhari-hari.  Tapi sepertinya Jason sudah mantap dengan


keputusannya.


“Elo yakin bang?”  Gardin jadi nggak enak.  Kalau ia dalam posisi Jason pasti nggak mudah juga.


“Mau gimana lagi, sudah terlanjur terjun.”


“Apa semua ini karena Safina?”


“Awalnya iya, tapi setelah gue jalanin ya ini memang mau gue.”


Masih terlihat Jason begitu sedih karena kedua orang tuanya tidak merestui.


“Orang tua elo gimana?”


“Ya udahlah, mau gimana lagi, semoga mereka mau mengerti keputusan gue. Toh gue juga udah gede, udah


pantes nentuin jalan hidup gue sendiri.”


Tapi terlihat kalau Jason masih bingung.


“Terus sekarang apa yang elo fikirkan?”


“Gimana gue hidup, kuliah gue masih setahun lagi.  Elo tahu sendiri US visa kita sama sekali nggak mengijinkan kita untuk kerja.  Gue orang hukum, masa gue harus kerja illegal?”


Gardin pun tersenyum. “Gue ada jalan keluar kalau elo mau bang.”  Dia pun menepuk pundak Jason yang ada di


sampingnya.


Raut wajah Jason menunjukan ia bertanya tanpa harus berkata.


“Gue udah ngomongin masalah elo ini sama bokap.  Bokap nawarin beasiswa ke elo.  Tapi ikatan dinas, abis selesai kuliah elo kerja di kantor bokap lima tahun.  Gimana?”


Jason kaget, tapi dia senang. “Serius?”


“Tapi lima tahun bang, gue udah coba nawar tiga tahun aja, nggak bisa.  Menurut bokap tutition fee and biaya hidup di US gede banget, beda ceritanya kalau kita kuliah di Eropa atau Australia.”


“Nggak papa Din.  Lima taon, lima taon dah… gue jalanin.”  Jason pun memeluk Gardin kerena begitu bahagia.


Jason begitu bahagia masalahnya selesai.  Bulan depannya ia langsung melamar Safina, dia pun diterima kali ini, tapi ya memang mereka harus terbang ke London untuk meminta restu kedua orang tua Safina.  Mereka pun menikah di London dua bulan kemudian.  Setelahnya mereka tinggal bertiga di satu apartement di Manhattan.  Gardin tadinya mau pisah aja, nggak enaklah masa pengantin baru direcokin.  Tapi Jason dan Safina


berkeras meminta Gardin untuk tetap tinggal bersama mereka. Sharring apartment sangat membantu secara


financial dikondisi nggak tajir lagi buat Jason.


Setelah lulus kuliah ketiganya tinggal di Jakarta.  Sesuai perjanjian, Jason bekerja di kantor Pak Handoko ayah Gardin di bagian legal, saat itu ia anak buah Pak Mochtar.  Pak Mochtar memang saat itu menjabat direktur


legal, sudah lama ia menyampaikan keinginannya untuk resign karena ingin punya Law


firm sendiri.  Makanya ia begitu bahagia Jason bergabung di perusahaan itu.  Dia mendidik Jason agar bisa menjadi penggantinya di perusahaan itu.  Lima tahun kemudian Jason menggantikan posisi Pak Mochtar hingga sekarang.


Hubungan dengan keluarganya akhirnya membaik kok, setelah Jason dan Safina mendapatkan seorang


anak.  Ya biasa deh, orang tuakan kalau udah lihat cucu luluh.  Selain itu memang  Jason dan Safina berusaha keras agar keluarga Jason menerima mereka.  Karena pada dasarnya Safina anak yang baik, akhirnya keluarga Jason pun mulai saling menghargai perbedaan dan perjalanan hidup yang dipilih sang anak.  Walau begitu, Jason memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta dan bekerja di perusahaan Gardin.  Perusahaan keluarganya dikelola sang adik ketika sang ayah pensiun.


Mengenai saham 5%, Gardin sudah lama meminta sang ayah agar memberikan Jason saham di


perusahaan itu karena sudah menganggapnya sebagai abangnya.  Tapi Handoko meminta Gardin bersabar.  Mereka harus melihat loyalitas dan integritas Jason pada perusahaan mereka.  Dari itu, baru setelah sepuluh tahun bergabung, Gardin pun menghadiahkan Jason saham perusahaan itu.  Sebagai simbol persaudaraan Gardin pada Jason.


Peran Jason pada hubungan Gardin dan Maura juga sebenarnya besar kok. Jason yang berusaha keras


meyakinkan Maura dan sang ayah bahwa Gardin adalah laki-laki yang baik dan pantas menyayangi dan menjaga Maura.  Makanya Jason tuh kesel banget waktu Gardin selingkuh, kan dia nggak enak jugalah dengan almarhum ayahnya Maura.