CEO Galau

CEO Galau
Episode 13 Frustasi Gardin



Jason dan Gardin sampai airport pukul tujuh tiga puluh.   Karena sudah boarding dan mereka nggak bawa apa-apa, mereka langsung ke imigrasi dan menuju gatenya.  Just right on time, mereka memasuki pintu masuk sesaat pintu hampir ditutup.  Jason dan Gardin pun duduk di kursi mereka dengan perasaan campur aduk.  Sang pramugari pun menyuguhkan welcome drink untuk mereka berupa juice.  Mereka langsung meminumnya sampai tuntas karena mereka memang sangat haus karena sedari tadi berlari kian kemari.  Setelahnya mereka duduk manis di kelas Business dan tak lama pesawat pun mengudara sesuai jadwalnya.


Setelah pesawat aman di udara, telepon genggam mereka bisa diaktifkan lagi.  Mereka memang memakai flight mode tetapi mereka masih bisa online dengan menggunakan wifi pesawat sehingga mereka masih bisa berhubungan dengan Arkan dan Angga.


[Gimana Maura?]


[Kata dokter masih bukaan tiga bang.  Kita nggak boleh masuk bang jadi cuma bisa nunggu kabar aja di luar.]


[Kadang ngintip dikit. Kasihan bang, Mbak Maura kesakitan sendirian.]


Baca itu Gardin benar-benar nangis.  Sama sekali dia tidak lagi menyembunyikan airmatanya.  Membayangi Maura merintih sendirian dia benar-benar hancur.


“Sholat.  Doain bini lo!”  Jason bicara pelan tapi tegas.  Nggak bisa ngapa-ngapain juga sekarang.  Dari pada kacau nggak jelas.


Gardin mengangguk nurut perintah Jason.  Dia pun melakukan tayamum dan kemudian Sholat.  Cukup lama dia memanjatkan doa.


Perjalanan Jakarta-Sydney kurang lebih tujuh jam, setelahnya mereka harus berganti pesawat menuju Brisbane.  Memang semula mereka akan berangkat dengan jet pribadi Gardin, tapi ternyata karena salah koordinasi sang Pilot sudah terlanjur terbang dengan carteran orang lain.  Untuk mencari pilot pengganti kalau mendadak gini ya nggak mudahlah.


Kira-kira kalau di Indonesia pukul tiga pagi, pukul 6 pagi waktu Brisbane.  Arkan memberikan informasi pada


mereka. [Info bang, kayaknya harus dioperasi.]


[Siapa yang tanda tangan persetujuan?] Tanya Gardin.  Dia masih ingin berperan sebenarnya.


[Kalau di sini selama pasien masih sadar, Mbak Maura sendiri yang tanda tangan bang.] Angga memberikan informasi.


[Oh gitu? Ya udah mau gimana lagi.]  Sumpah Gardin kalut banget.  Tapi dia bisa apa?


Jason sebenarnya sempat tertidur, tapi terbangun mendengar Gardin kembali kasak-kusuk.  Diapun membaca


pesan dalam grupnya.  Wajarnya kalau Gardin kembali panik.


“Doain semua baik-baik aja!  Nggak ada yang bisa kita lakukan di sini juga selain berdoa.”


Gardin pun hanya bisa mengangguk.


Begitu landing, Gardin dan Jason keluar dari pesawat setengah berlari, masuk immigrasi Gardin dan Jason


sempat ditahan.  Karena mereka cukup mencurigakan terbang antar benua tapi sama sekali tidak membawa barang.  Tapi akhirnya mereka justru mendapat prioritas ketika Jason dan Gardin menjelaskan bahwa istri Gardin sedang dalam proses melahirkan di Brisbane.  Mereka berdua memang banyak perjalanan bisnis ke Australia dengan track-record yang mereka punya, maka kecurigaan imigrasi dianggap tidak beralasan.


Mereka seharusnya terbang jam delapan pagi, tapi pihak maskapai berhasil membuat mereka terbang jam tujuh pagi ketika mengetahui kondisi mereka yang emergency.  Landing di Brisbane pukul delapan tiga puluh,


mereka pun langsung naik taxi menuju rumah sakit.  Sesampai di rumah sakit, Jason dan Gardin menemui Arkan dan Angga yang terlihat kelelahan dan panik.


“Gimana?”


“Masih di ruang operasi bang, baru masuk tadi jam 8 kurang.”


Mereka hanya bisa duduk menanti.


Lima belas menit kemudian, seorang suster keluar dengan membawa kereta bayi.  Di dalamnya seorang bayi laki-laki anak dari Gardin dan Maura.


Keempatnya langsung melongok melihat bayi yang baru lahir itu.


Sang bayi pun menatap mereka dengan dahi berkerut.  Dia tidak menangis terlihat curius menatap mereka.


Jason pun bertanya pada suster apakah Gardin bisa mengadzankan anak itu.


Sang suster pun tersenyum mengangguk.  Karena bayi itu memang dibawa ke ruangan perawatan ibu dan anak.  Maura akan masuk ke dalam ruang perawatan VIP sehingga hanya dia sendiri dalam ruangan.  Keempatnya pun mengikuti suster yang membawa sang bayi ke ruang perawatan.  Setelahnya sang suster meninggalkan sang bayi bersama mereka.


Setelah cuci tangan, dan memastikan semua bersih, Gardin pun diijinkan untuk menggendong anaknya.  Dia


pun mulai mengadzankan bayi laki-laki itu.  Rasanya begitu haru buat Gardin. Akhirnya bisa melakukan peristiwa sakral antara ayah dan anak itu.


Jason mengabadikan peristiwa yang pastinya akan menjadi sejarah bagi kelurga Gardin.  Jason, Angga dan Arkan


pun jadi ikut terharu melihat pemandangan Gardin menangis tersedu-sedu.  Setelahnya, Gardin mencium anaknya dengan penuh sayang.


Setelahnya Gardin pun menitipkan anaknya kepada ketiganya, karena ia ingin mengetahui kabar Maura


dari sang dokter.  Menanti dengan gelisah dia depan ruang operasi, akhirnya seorang dokter senior pun keluar dari ruangan operasi. Menjelaskan bahwa operasi berjalan lancar, bayi dan ibu dalam keadaan


baik dan selamat. Saat ini Maura sedang dalam keadaan tidur dan masih di ruang pemulihan sampai dia siuman.


Gardin langsung meminta ijin bertemu Maura sebelum Maura terbangun.


Sang dokter hanya tersenyum, sepertinya suami Maura sudah tidak sabar.  Maka diijinkannya Gardin masuk,


Gardin pun memasuki lorong dingin dan sepi itu, nggak jauh… dia pun melihat istrinya terbaring di satu tempat tidur.


Gardin memakai jubbah berwarna hijau, diapun menutup wajahnya dengan masker.  Menghampiri Maura diapun mencium kening sang Istri. “Terima kasih banyak sayang.  Maafin aku nggak mendampingi kamu dari awal.”  Dibelai juga rambut Maura dengan sayang. Dia pun mencium kening Maura.  Ditatap perempuannya itu dengan perasaan campur aduk, Haru, Merasa bersalah, bahagia atas kelahiran anak mereka, tapi ada juga kerinduan yang mendalam.


Ingin rasanya untuk tinggal lebih lama di samping Maura, tapi Gardin takut, dia nggak tahu reaksi Maura ketika mengetahui dia ada di sana.  Akhirnya Gardin memutuskan untuk keluar ruangan sebelum Maura bangun.


Gardin pun kembali ke ruangan VIP menghampiri mereka bertiga untuk kembali melihat bayinya.


“Kayak gue ya gantengnya?”  Gardin bangga banget dengan anak laki-lakinya yang baru datang ke dunia.


Ketiganya hanya melirik pada ayah baru itu.  Kembali fokus melihat bayi itu.  Mereka kebingungan memperlakukan sang bayi, ingin menggendongnya lagi, tapi kok mereka ketakutan, membayangkan mahluk rentan itu akan bermasalah setelah mereka menggendongnya.  Tapi nggak gendong kok gemes.  Akhirnya keempatnya hanya membiarkan sang bayi tergeletak di keranjang bayi saja.  Toh sang bayi nggak nangis kok.


“Namanya siapa bang?”  Tanya Angga.


“Terserah Maura aja. Gimana caranya coba kalau gue yang namain, gue aja masih nggak yakin kalau gue boleh ada di sini.”


“Elo bisa kasih tahu kita, nanti kita sampein ke Mbak Maura gimana caranya lah.”


Gardin tersenyum tapi sekaligus ia sedih “Dulu banget, waktu sebelum Maura beberapa kali keguguran, kita udah merancang nama untuk anak-anak kita.  Semoga Maura ingat itu.”


Jason menepuk bahu Gardin, “sebentar lagi Maura keluar nih dari ruang pemulihan.  Kita pergi yuk!”


Gardin kaget. Harus banget pergi sekarang?


“Kabarin kita begitu Maura masuk kamar ya.” Pinta Jason pada Angga


dan Arkan.


Jason pun menyeret Gardin untuk keluar dari rumah sakit itu.


Ketika mereka baru keluar dari lift, Angga sudah memberi kabar bahwa Maura sudah siuman, masuk ke ruangan perawatan, bahkan sudah bisa meminta Angga dan Arkan pulang saja untuk istirahat, tahu banget kalau sejak semalam mereka belum tidur.


Jason menelepon Angga. “Ya sudah, kita makan bareng dulu deh, kalian belum makankan? Kita tunggu di bawah ya!”


Setelah Jason menutup sambungan teleponnya dia pun melangkah bersama Gardin.


Tiba-tiba Gardin berhenti ketika mereka berada di lobi luar rumah sakit.  “Kenapa gue harus begini bang?”


Jason heran. Maksudnya?


“Kenapa gue nggak boleh lebih lama deket anak dan istri gue?”  Gardin begitu frustasi. “Gue pengen gendong


anak gue lebih lama, gue pengen jagain Maura yang masih lemah.  Sepuluh tahun gue nunggu peristiwa ini, tapi Kenapa sekarang gue nggak boleh bahagia lebih lama?”


Jason bingung kok jadi dia yang disalahkan?  Dia hanya membiarkan Gardin meluapkan emosinya.


“Sebegini beratnya konsekwensi yang harus gue tanggung karena nyakitin Maura?”  Gardin nangis lagi,


kali ini bukan karena terharu.


“Jangan cengeng, elo laki-laki!”  Jason sangat serius. “Dari awal gue udah bilang elo membuang berlian dan


justru mempertahankan perempuan yang salah. “


“Apa gue nggak punya kesempatan untuk memperbaikinya? Gue sayang banget sama Maura.  Gue belum


terlambatkan?”


“Pelan-pelan, kita ikutin maunya Maura.  Kasih dia waktu untuk bisa nerima elo


lagi.  Kita ikutin prosedur yang diminta Pak Mochtar.  You are a man with honor, tepatin janji elo sama Pak Mochtar.”  Jason menepuk pundak Gardin.  Memintanya untuk tenang.


Nggak lama, begitu Arkan dan Angga pun menghampiri mereka, Gardin langsung menghapus airmatanya.  Arkan dan Angga lihat sih, tapi mereka pura-pura nggak tahu. Setelahnya mereka berempat sarapan di café terdekat.


Setelah sarapan yang kesiangan alias brunch, keempatnya berpisah.  Gardin dan Jason naik taxi menuju satu hotel di City, sedangkan Angga dan Arkan naik mobil yang sebenarnya milik Gardin pulang ke unit mereka.  Tadinya mereka hendak mengantar kedua bos mereka itu ke hotel tapi Gardin menolak.  Tahu banget dua anak muda itu lelah karena semalaman mereka begadang menemani istrinya.  Gardin sangat berterima kasih untuk itu.  Makanya,


kalau sekedar ke hotel aja sih, bisa naik taxi kok.


Gardin dan Jason check in di salah satu hotel berbintang maximal di tengah kota.  Mereka hanya memesan satu kamar saja yang bertempat tidur dua.  Benar-benar tidur layaknya orang pingsan.  Menjelang malam


mereka ke boutique ternama terdekat untuk membeli pakaian ganti, dan pukul delapan malam sudah kembali ada di airport, berangkat menuju Jakarta via Singapura tepat tengah malam.  Huh… benar-benar hari yang padat.  Perjalanan yang diawali dengan sport Jantung, tapi akhirnya mampu memberikan rasa lega bagi Gardin.  Walaupun kebahagiaannya nggak maximal, paling tidak ia cukup lega bisa menyaksikan dengan langsung kehadiran


anaknya ke dunia, dan bisa tenang mengetahui Maura baik-baik saja.  Itu sudah lebih dari cukup saat ini.