
Maura agak ragu untuk memasuki kelas tutorialnya, karena dia membawa Hiro, bayi berusia tiga bulan. Semula
dia mau bolos aja dari kelas tutorial ini, tapi kelas ini begitu penting, mengingat dia tidak terlalu mengerti dengan penjelasan sang dosen kemarin dan selain itu tugas juga akan diberikan dan dijelaskan pada kelas tutorial ini, Yah
mau nggak mau deh harus masuk. Maura nggak tega banget menitipkan Hiro pada Arkan dan Angga saat ini. Mereka berdua sudah tiga hari kemarin ngelembur ngerjain asigment, baru hari ini mereka bisa tidur dengan baik, setelah tiga hari kemarin itu mereka bergadang di perpusatakaan.
Kira-kira ada dua puluh mahasiswa yang datang termasuk Maura, dan seorang mentor tentunya. Mereka sudah
duduk manis menanti kelas dimulai. Ya memang kedatangan Maura dengan seorang bayi agak menjadi perhatian sih. Maura memasuki ruangan dengan wajah agak merasa bersalah, dilihatin semua mahasiswa, tapi sepertinya mereka semua maklum kok, mereka semua tersenyum pada Maura dan sedikit melirik ke Hiro. Maura pun
mendorong stroller Hiro, di dalamnya Hiro dalam kondisi tidur. “Bobo dulu ya nak, Cuma 50 menit kok.” Pinta Maura pada Hiro pelan, ketika dia duduk di kursi paling belakang. Jaga-jaga aja kalau mendadak Hiro bangun. Semoga nggak mengganggu proses tutorial ini.
Alhamdulilah aman, Maura bernafas lega. Hiro tertidur lelap sampai proses tutorial selesai. Sekarang waktunya untuk pulang. Maura pun kembali mendorong stroller Hiro, Sampai…
“Maura, is it ok if we have a group meeting now, because I have only available today for this week?” Melisa bertanya pada Maura, sebelahnya ada Megan juga. Mereka bertiga memang tergabung dalam satu kelompok untuk mengerjakan satu assignment mata pelajaran ini.
Mati gue. Maura kebingungan. Anak gue mau diapain ini? “Is it ok if I bring my son with us?”
“Kalau Mbak Maura nggak keberatan titip sama saya aja nggak papa kok.” Tiba-tiba di belakang Maura, Mas
Arifin sang tutor menyapa Maura.
“Serius?” Maura kaget.
“Sesama orang Indonesia harus saling menolonglah.” Arifin mengangguk mantap. “How long it will take?” Tanya Arifin pada Megan and Melisa.
“Maybe two hours?”
Arifin mengangguk lagi. “Kebetulan di ruangan saya lagi sendiri Mbak, jadi nggak papa kalau dua jam aja kok.”
“Saya jadi ngerepotin Mas Arif dong?” Maura merasa bersalah banget.
“Nggak papa mbak, namanya juga lagi kepepet.”
Maura masih terlihat ragu.
“InshaAllah Hiro aman kok mbak.” Arifin kembali meyakinkan.
Maura pun mengangguk. “Makasih banyak Mas.”
“Susu dan semua perlengkapannya ada di tas ini kan?” Arifin konfirmasi tentang tas bayi yang tercantol di stroller.
Maura pun mengangguk.
“Ya sudah nanti ke ruangan saya aja ya mbak.”
Maura pun mengangguk dan pergi bersama Melisa dan Megan. Ih… tega nggak tega sih meninggalkan Hiro
dengan Arifin. Tapi dia nggak punya banyak pilihan.
Maura mengetuk ruangan mahasiswa HRD (higher research degree) di gedung yang bernama Joyce Ackyord itu. Kok nggak ada yang berespon ya? Maura agak heran. Sekali lagi diketuknya ruangan itu dengan sedikit mengintip kali ini? Hm… sepertinya kosong.
“Eh sudah selesai mbak?” Mas Arifin malah ada di belakangan Maura sedang menggendong Hiro dengan menggunakan gendongan seperti ransel tapi berada di dada. Gendongan itu memang Maura letakan di stroller Hiro.
Hiro dalam gendongan Mas Arifin menghadap ke depan, begitu melihat Maura, Hiro begitu bahagia. Dia
melonjak-lonjak dalam gendongan Arifin.
Maura pun tersenyum melihat pemandangan itu. Lucu aja sih melihat Mas Arifin menggendong Hiro menggunakan gendongan itu. Ah… andai Gardin yang sedang menggendong Hiro tentu saja dia lebih bahagia. Tuh kan menghayal lagi. Eh sepertinya Mas Arifin ini sudah sangat biasa ya menggendong anak.
“Maaf ya mas, jadi ngerepotin.” Maura merasa bersalah.
“Saya malah seneng mbak. Obat rindu.” Jawabnya santai. “Maaf jadi nunggu ya mbak, tadi Hiro nangis,
mungkin bosan di ruangan makanya saya bawa ke taman. Eh sepertinya dia suka di taman. Happy banget.” Arifin pun mengambil kunci dari kantong celananya. “Masuk dulu mbak.” Ajaknya.
Setelah mereka masuk, baru Arifin menyerahkan Hiro pada Maura. Dan kemudian mempersiapan stroller Hiro untuk kembali diserahkan pada Maura.
“Mas Arifin punya anak?”
Arifin tersenyum, tapi terlihat agak getir. “Punya mbak, tapi sudah diambil lagi sama Pemilik alam.”
Maura bingung, tapi sepertinya dia agak curiga kalau dia salah bicara.
Arifin kembali lagi tersenyum. “Istri saya dan anak kami meninggal tiga tahun yang lalu karena demam berdarah mbak.”
“Innalilahi… maaf mas.” Maura begitu merasa bersalah.
“Nggak papa mbak, sudah jalan dari Allah, saat itu saya memang menitipkan anak dan istri saya di
Padang, karena saya sedang ada training di Eropa tiga bulan. Karena anak saya masih kurang dari setahun,
jadi saya takut istri saya kewalahan kalau sendirian, makanya saya menitipkan mereka ke mertua saya selama saya tugas. Ternyata itu terakhir kalinya saya bertemu mereka.” Arifin jadi curhat. Terlihat dia berusaha keras untuk tabah.
Tanpa terasa Maura jadi menitikan air mata. “Maaf ya mas.”
“Nggak papa mbak, makanya melihat Hiro obat kangen saya.” Dia pun tersenyum.
Maura pun hanya bisa tersenyum prihatin. Ternyata beban hidupnya nggak seberapa berat dibandingkan Arifin ya.
“Kalau mbak Maura ada kuliah dan grup work, saya nggak keberatan kok dititipin Hiro lagi.”
“Ini karena flatmate saya lagi banyak assignment juga mas makanya Hiro saya bawa. Biasanya sih
saya titip ke temen-temen saya.”
“Makasih banyak Mas.”
Arifin mengangguk dan tersenyum.
Maura pun berlalu meninggalkan ruangan kerja mahasiswa S3 itu.
**
Hari minggu sore Angga dan Arkan sedang main bulu tangkis dengan teman-teman Indonesia lainnya. Kali ini Maura yang di rumah menemani Hiro. Tadi pagi sih mereka jalan-jalan ke Roma’s Park, iseng aja ngajak Hiro Jalan-jalan. Bayi itu happy banget kalau diajak jalan-jalan apalagi kalau ia bisa menjumpai banyak binatang. Sejauh ini yang dilihatnya sih masih seputar unggas. Maura masih belum mau mengajak Hiro ke kebun binatang, Hiro masih terlalu kecil ah, masih rentan dengan penyakit. Nanti saja kalau sudah lebih dari setahun usianya.
“Hi Ga, Kan… apa kabar?” Arifin menyapa keduanya ketika ia baru sampai hendak bergabung main badmindton.
Angga dan Arkan menjawab hanya dengan senyuman ramah.
“Berdua aja?”
Arkan dan Angga bingung sebegini banyak teman-teman yang hadir kok ditanya berdua aja?
“Temen-temen sebanyak ini nggak kelihatan gitu mas?” Arkan yang akhirnya bertanya.
Arifin tersenyum malu. “Maksudnya Maura dan Hiro kok nggak ikut?”
Oh, maksud pertanyaannya ke situ toh. “Hiro tadi tidur mas, jadi
susah buat Mbak Maura ikutan.
“Mbak Maura memang nggak pernah ikutan Mas kalau main badminton, soalnya ribet Hironya.”
“Oh… gitu ya. Salam aja ya buat Hiro.”
Angga dan Arkan pun mengangguk, setelahnya jadi saling pandang. Waduh sepertinya Mas Arifin ada maksud lain
nih dari pertanyaannya.
**
“Hiro nggak dibawa Mbak?” Sapa Arifin saat tutorial selesai.
Maura tersenyum ditanya begitu. “Angga dan Arkan lagi bisa jagain Hiro mas.”
“Oh.” Ada nada kecewa dari cara bicaranya.
“Kenapa mas?”
“Nggak, kangen sama harum surga.”
Maura jadi terenyuh. Kasihan banget sih yang lagi kangen anak. “Kalau mau main ke rumah boleh lho mas. Saya
memang jarang membawa Hiro keluar rumah kalau nggak terpaksa banget. Mungkin cuma ke taman aja biar dia nggak terlalu bosan.”
“Masih takut ya mbak.” Arifin tersenyum, sepintas jadi ingat sang istri. Ibu yang baru punya anak pertama memang lebih over protective.
“Ya gitu deh, masih rentan soalnya mas.”
Arifin mengangguk setuju.
“Gimana kuliahnya mbak? Lancar?”
“Yah… struggle sih mas, soalnya sudah lama nggak kuliah, sekarang kuliah lagi, otak saya masih kaku. Sudah begitu assigmentnya cukup challenging.” Maura jadi curhat.
“Kalau ada yang mau ditanya boleh lho mbak, nggak mesti mata kuliah ini. Yang lain kalau bisa saya bantu,
InshaAllah saya nggak keberatan.”
“Serius mas, memangnya risetnya Mas Arif nggak susah?”
“Hari-hari saya ngutak-ngatik hal yang sama terkadang jenuh juga Mbak, makanya butuh distruction sesekali.”
“Oh gitu. Boleh banget mas, soalnya banyak banget yang sebenarnya saya nggak tahu harus mulai dari mana
ngerjain assigmentnya.”
Arifin pun tersenyum. “Ya udah monggo, kita janjian aja kapan Mbak Maura mau dibantu.”
“Hm… kapan ya? Kalau besok bisa mas?”
Arifin sejenak berfikir. “Sepertinya besok saya hanya mengerjakan thesis seharian sih, bisa aja kapan Mbak Maura mau. Biasanya saya di kampus sejak jam 8 pagi sampai jam 6 sore.”
“Ya udah mas, besok saya sekitar setelah makan siang deh ke tempat Mas Arif, tapi kayaknya saya bawa Hiro, karena besok Angga dan Arkan kuliah.”
Arifin tersenyum. “Even better.”
“Thanks ya mas, sampai besok.”
Keduanya pun berpisah dengan menyisahkan senyum.
Setelah kejadian itu, Maura dan Arifin makin akrab. Dengan adanya Hiro, malah jadi semakin nyaman diantara mereka. Bukan sekali saja Arifin menemani Maura belajar. Mereka lebih sering belajar di perpustakaan. Agar
nyaman untuk banyak pihak Maura sering kali membooking study room sehingga nggak masalah untuknya membawa Hiro karena tidak mengganggu pelajar lainnya. Sebenarnya kala Maura belajar dengan Arifin dia nggak harus selalu membawa Hiro, sering kali Angga dan Arkan bisa membantunya menjaga Hiro di rumah. Tapi Maura justru merasa harus membawa Hiro apabila bertemu Arifin. Terlihat jelas bahwa Hirolah yang sebenarnya yang ditunggu Arifin. Hiro pun sepertinya nyaman bersama Arifin. Melihat Arifin yang sangat menikmati menggendong Hiro, Maura seperti ikut merasakan betapa Hiro mampu mengurangi rasa kangen Arifin kepada anaknya yang sekarang ada di surga.
Nggak papakan membuat orang lain bahagia?