
Gardin sedang duduk menjadi kasir di kantin Maura, ada dua orang perempuan Mbak Hanny dan Mbak Risa asisten Maura yang sedang sibuk melayani pelanggan.
“Mbak Mauranya mana Pak?” Tanya seorang pelanggan. Dia seorang laki-laki muda, mahasiswa UQ. Sepertinya hendak makan bareng teman-temannya.
“Oh lagi bimbingan. Sebentar lagi balik kok.” Jawab Gardin, sepintas dia agak kesel nih anak muda ngapain sih nanya-nanya istrinya. Udahlah manggil Maura dengan sebutan Mbak, sedangkan dirinya dipanggil pak. Memangnya dia setua itu ya?
“Mbak Maura sudah mau lulus ya pak?” Tanya perempuan yang di samping laki-laki muda itu.
Gardin sedang mencoba menebak. Dua anak muda ini masih belia, sepertinya mereka anak-anak mahasiswa S1
deh bukan Master. Wajahnya masih kinyis-kinyis banget. “Iya, rencananya besok dia submit report projectnya
makanya hari ini bimbingan terakhir.”
“Setelah itu, masih buka kantinkan?” Tanya mereka penuh harap.
“Ya nggaklah, pulang ke Indonesia dong. Kantin inikan cuma project masternya aja.” Jawab Gardin santai.
“Apa?” Keduanya kaget hingga berteriak.
Eh busyet, nih bocah pada drama banget sih. Gardin kaget.
“Terus kita gimana?” Anak perempuan itu begitu ketakutan. “Kita makan apa nanti? Siapa yang ngurus
kita? Kitakan nggak bisa masak, makanan di kantin ini nggak ada yang Indonesia, kalau harus makan di restorant terus kita mana punya uang?” Dia bicara begitu bertubi-tubi.
Pemuda di sebelahnya juga nggak kalah menunjukan wajah paniknya. “Waduh masa gue harus makan Indomie tiap hari.”
Lha bodo amat, Gardin bingung. Masa Maura harus ngurusin elo, emang elo siapa? Tanya Gardin dalam hati.
Tiba-tiba sekelompok anak muda datang kepada dua anak muda di hadapan Gardin itu. “Ada apa?” Tanya
salah satu anak yang baru datang. Kesemuanya melirik Gardin. Gardin bingung, waduh jangan-jangan mereka menganggap Gardin ngapa-ngapain nih dua anak yang di hadapannya.
“Mbak Maura sebentar lagi lulus, setelah lulus dia balik ke Indonesia, kantinnya bakal ditutup.”
“Ha? Nggak bisa gitu dong. Kita gimana kalau Mbak Maura tutup.”
“Wah, nggak beres nih. Ayo kita bikin petisi, kita sampein ke UQ union.” Salah satu anak laki-laki yang ada di kelompok itu berinisiatif.
Waduh Gardin panik. Bisa-bisa bini gue nggak pulang ke Jakarta gini caranya.
“Setuju! Siapa aja yang mau tanda tangan?”
“Gue.”
“Aku!”
Ada mungkin sepuluh orang anak-anak muda itu bersemangat.
“Kita cari temen-temen yang lain ya.”
“Siap.”
“Bukan begitu, visa istri saya itu cuma visa student. Begitu studynya selesai ya harus pulanglah.” Gardin berusaha memberikan penjelasan pada anak-anak muda itu.
Mereka langsung menatap tajam pada Gardin.
“Oh bapak suaminya? Kalau gitu apply jadi PR (permanent resident) aja dong pak, usaha mbak Maura kan bagus banget di sini.”
Gardin menatap mereka dengan perasaan begitu takjub, PR nenek lu, perusahaan gue dengan omset triliunan mau diapain? Bela-belain apply PR demi jadi ibu kantin, yang bener aja. Tapi semua hanya dalam hati. Di luarnya, Gardin memberikan senyum penuh kepalsuannya pada anak-anak muda itu. “Belum kepikiran.” Hanya itu
jawabannya dengan senyum sopan yang begitu tertata rapih. Come on children, I need my wife to come home. Pintanya dalam hati, wajahnya begitu memelas.
buat salah apa ya? Kok mereka seperti minta pertanggung jawaban. Maura langsung menatap Gardin dengan wajah menuduh, ketika ia hadir ke tengah-tengah mereka. Gardin nggak mau kalah, expresi wajahnya
menunjukan kalau dia tidak melakukan kesalahan apapun. Akhirnya sekumpulan anak muda itu pun akhirnya
menyampaikan keberatan mereka dengan berbagai cara, termasuk merajuk manja pada Maura. Gardinkan jadi Gemes ya, rasanya cemburu sama bocah-bocah ini. Masa sih dia harus berebutan Maura dengan anak-anak ini.
Akhirnya Maura berhasil menenangkan mereka dengan menjelaskan, bahwa akan ada yang menggantikan dirinya untuk membuka stall makanan Indonesia di kantin ini ketika ia pulang nanti. Saat ini sedang menjalani negosiasi mengingat calon penggantinya, berniat untuk membeli hak usaha dengan membeli perusahaan kecil Maura beserta ijin usaha, pengalihan sewa stall di kantin dan sebagainya. Walau begitu, Maura pun berjanji untuk membuka warungnya sampai semester ini benar-benar berakhir. Akhirnya setelah ditenangkan Maura puluhan anak-anak muda itu bisa bernafas lega. Mereka pun bubar dengan perasaan tenang.
Maura pun menatap Gardin tajam. “Makanya hati-hati ngasih informasi, jadi hebohkan?”
“Lha, mereka tanya aku jawab. Aku salah apa?” Gardin kebingungan.
Dua jam kemudian.
“Permisi mas, Mbak Mauranya ada?” Seorang laki-laki berhadapan dengan Gardin di depan kasir mencari Maura.
Astaga, apalagi sih nih? Mau nanya kenapa kantin Maura mau tutup lagi? Gardin baru saja hendak mau emosi, tapi begitu diamati laki-laki di hadapannya dia pun terpana. Laki-laki ini tidak seperti anak-anak yang tadi sibuk merengek pada Maura. Laki-laki di hadapannya sangat dewasa, memang terlihat lebih muda dari dirinya sepertinya seusia dengan Maura. Apakah ini ancaman sebenarnya?
Laki-laki manis dengan kulit sawo matang, menggunakan kacamata minus. Dari matanya terpancar kecerdasan
dan keramahan. Kelihatan sih gaya cendikiawan banget. Siapakah dia?
“Ada apa mas?” Gardin langsung galak gitu.
Maura yang sedang membersihkan perlengkapan dapur agak kaget dengan sikap judes Gardin. Sepertinya ada yang mencarinya. Maka dihampirinya Gardin.
“Eh, Mas Arifin… sudah makan mas?” Maura menyambutnya dengan hangat.
Arifin pun tersenyum. “Sudah dapet pesan WA saya mbak?”
“Oh udah mas, wah senangnya sudah submit ya mas. Sudah mau BFG (back for good) aja ya.”
“Bisa dateng mbak?”
Maura mengangguk. “InshaAllah Angga, Arkan, saya dan Hiro dateng kok mas. Perrin park kan?”
Arifin mengangguk. “Jam 4 ya Mbak.” Arifin pun menatap Gardin dengan ramah. “Masnya monggo lho kalau mau dateng juga. Sekalian kenalan sama teman-teman lainnya.”
“Eh jadi lupa lho ngenalin. Ini Gardin mas, Din ini Mas Arifin, tutor aku di beberapa mata kuliah. Bantu banget aku ngerjain assignment lho.”
Arifin dengan ramah menyerahkan tangannya untuk dijabat Gardin.
Gardin hanya tersenyum dan menatapnya tajam tanpa memberikan tangannya. Agak kesal karena Maura tidak
memperkenalkan dia sebagai suaminya pada laki-laki ini.
Arifin jadi salah tingkah. Dia pun menarik tangannya lagi. “Ya sudah, saya permisi dulu, mari Mas, sampai besok minggu ya Mbak.” Arifin pun meninggalkan mereka.
“Siapa Ra?” Gardin nggak tahan dia curiga sangat.
“Kan sudah bilang tutor.” Jawab Maura santai.
“Kok kayaknya akrab banget.”
“Memang akrab kok. Dia juga sayang banget sama Hiro. Terus kenapa?” Tanya Maura menggoda.
“Ra, kok gitu sih?” Gardin benar-benar merasa terancam.
Maura hanya tersenyum dan kembali dengan aktivitasnya lagi.