CEO Galau

CEO Galau
Episode 26 Modus



Empat hari berselang, Gardin datang menghampiri Maura.  Maura sudah menantinya dengan senyum yang


paling manis.  Sudah bisa menduga sih bagaimana reaksi Gardin.


“Kamu apa-apaan sih Ra?” Gardin begitu frustasi.  Dia nggak mungkin keras sama Maura, bisa-bisa nanti malah nggak jadi rujuk.


“Aku kenapa?” Maura pura-pura bingung dengan pertanyaan Gardin.


“Kok nggak pulang ke rumah kita?”


“Kan kita belum rujuk sayang.  Masa sih aku tinggal di sana.”


Gardin memeluk Maura, dalam posisi berlutut, Mauranya duduk manis soalnya. “Pulang dong sayang, aku ingin kita benar-benar jadi keluarga.  Aku kangen kamu, kangen Hiro.”  Gardin begitu memohon.


Maura pun membalas pelukan itu, diciumnya kening Gardin. “Aku pasti pulang sayang, seperti yang aku minta ya, kasih aku waktu untuk bikin usaha aku dulu, baru kita rujuk, yang artinya setelah itu ya aku pasti taat padamu.”


“Kenapa harus tinggal sejauh ini Ra?”


“Karena usaha restoranku akan dibuat di sini.”


“Di mana?”


“Nggak jauh dari sini, di jalan Juanda.  Lokasinya sangat strategis sayang.  Aku sudah membeli dua ruko di wilayah itu.”


“Kapan sih kamu beli rumah ini dan ruko itu?”  Gardin heran aja.


“Enam bulan yang lalu.  Dibantu sama Pak Mochtar. Tapi aku juga sudah cukup tahu lokasi ini.”


Kok dia bisa nggak tahu ya? Gardin bertanya dalam hati.


“Kenapa, dua anak buah kamu nggak ngasih laporan ke kamu mengenai ini, ya karena memang mereka nggak tahu?”


“Dua anak buah?” Gardin heran.


“Angga dan Arkan lah, kamu fikir aku nggak tahu mereka orang-orang suruhan kamu untuk jaga aku?”


“Ha?” Gardin kaget, terlihat hendak berdalih.


“Ayo, janji nggak mau bohong lagi sama aku.”


Gardin tersenyum malu, modusnya terbaca. “Kok bisa tahu Ra?”


“I know you well baby.”


“Sejak kapan kamu tahu?”


“Sejak awal pastinya.  Makanya aku iseng ngerjain kamu sekarang, diam-diam beli rumah ini kamu nggak tahu.  Gantian dong, memangnya cuma kamu yang bisa drama.”  Maura pun mendelik jahil.


Gardin pun akhirnya bangkit. Bener-bener merasa dipermainkan Maura.  Tapi bukan sesuatu yang menyakitkan


kok. “Jadi bener nih belum mau pulang ke rumah kita?”


Maura mengangguk mantap.


“Ya udah aku ngalah.  Aku ke pak RT dulu ya.”  Gardin pun hendak keluar rumah.


“Ha, ngapain?”


“Ngasih photo copy surat nikah kita.  Well legaly we are married.  Kalau kamu nggak mau pulang, ya udah, aku


yang tinggal di sini.”


“What?” Maura yang kaget sekarang.


“Kamu nggak bisa ngelarang aku, karena secara hukum kamu masih istri aku.  Dan aku berhak tinggal sama


kamu.”  Gardin merasa menang sekarang.


“Religiously we are not married anymore.”


Gardin tersenyum. “Jangan khawatir Ra, aku nggak akan lancang, kok.  Aku hanya ingin mengingatkan kamu


kalau kita ini satu keluarga.  Aku akan sabar menanti sampai kita benar-benar rujuk, sementara ini aku akan tidur sama Hiro.”  Gardin pun keluar rumah itu menuju rumah pak RT.


“Kamu tahu rumahnya Pak RT dimana?”


“Ntar aku tanya satpam.”  Jawab Gardin berlalu.


Maura kebingungan. Lha mau ngerjain Gardin, kok malah dia yang sekarang dikerjain?


**


“Ra, tahu nggak?”  Mencoba membuka pembicaraan.


Maura hanya menoleh ke Gardin, menunjukan bahwa ia mempersilahkan Gardin melanjutkan pembicaraannya.


“Aku tuh sudah konsultasi ke banyak ulama tentang status kita.  Ternyata menurut mereka talak yang aku


berikan ke kamu itu nggak sah lho, karena pada saat itu aku nggak tahu kalau kamu sedang hamil.”


Maura tersenyum, terbaca sih modusnya Gardin. “Jadi?”


“Ya artinya sebenarnya secara agama pun kita nggak pernah bercerai lho.”  Gardin bicara agak hati-hati.  Sangat mengerti bahwa Maura pun paham maksudnya.


“Coba langsung pada pointnya Pak Gardin?”


Gardin pun malu-malu bicara, “Ya, terserah kamu sih, mengartikannya gimana.”


Maura tersenyum. “Mungkin kamu benar.  Kita bisa jadi masih halal satu sama lain.  Tapi perkataan dan perbuatan kamu dulu begitu menyakitkan.”  Dia tidak lagi bercanda dengan perkataannya.


Gardin sangat tahu dengan hal itu.


“Jadi yang aku maksud dengan rujuk bagi kita adalah kemampuan aku untuk memaafkan atas kejadian yang lalu, dan ikhlas menerima kamu kembali.  Dan aku akan merasa kamu bersungguh-sungguh mencintai, menyayangi aku beserta hak dan kewajiban kamu sebagai suami, ketika kamu mengucapkan kembali ijab qobul itu.”


Gardin mengerti dengan semua permintaan Maura. “Aku siap kapan pun kalau kamu menginginkan aku mengulang itu semua.  Tapi kapan Ra, aku sangat membutuhkan kamu sebagai istri.”


Maura menghela nafas. “Enam bulan dari sekarang ya, bahkan kalau memang usahaku tidak berjalan baik, aku akan menyerah dengan segala ambisiku.  Aku akan menepati janjiku untuk bersedia lagi menjadi istri kamu seutuhnya.”


“Bener ya 6 bulan?”


Maura mengangguk.  “Tapi kamu doain usahaku sukses ya, jadi aku menjalani janjiku dengan bahagia.”


“Pastilah aku juga pengen kok kamu sukses, aku selalu ingin kamu bahagia bersama aku.”


“Janji ya, walaupun aku sudah jadi istri kamu seutuhnya kamu nggak akan melarang aku menjalani usahaku.”


Gardin mengangguk mantap. “Iya, aku nggak akan melarang kamu sejauh kamu nggak melupakan keluargamu.”  Gardin pun berjalan ke kalender yang tergantung di salah satu dinding ruangan itu.  dia siap dengan sebuah spidol di tangannya.  Menuliskan kata ‘rujuk’ yang begitu besar di bulan Juni.


Melihat itu, Maura hanya tersenyum


**


Sub section: The cutest Hiro


“Hiro, let’s go to bed.  Tonight you sleep with ayah, ok.”  Gardin mengajak Hiro tidur.


Hiro pun mengangguk, dengan menggenggam susu botolnya, dia pun memeluk sang bunda yang ada di sampingnya. “Good night bunda, See you tomorrow.”  Setelahnya dia pun berjalan menuju sang ayah yang menunggunya di depan pintu kamar.


Gardin dan Hiro pun meninggalkan Maura yang masih di ruang tengah menonton acara malam.


Hari kedua:


“Hari ini Hiro tidur sama bunda ya, bunda kan kangen.” Maura meminta sambil menunjukan wajah manjanya pada sang anak.


Hiro pun mengangguk.


“Lho ayah sama siapa dong?” Gardin nggak mau kalah.


Anak dua tahun itu kebingungan harus memilih.  “Ayah jangan sedih ya, besok aku temenin ayah kok.”  Bujuknya.


Gardin pun tersenyum. Iseng ah, ngerjain anaknya. “Kita tidur bertiga aja yuk!”


Hiro agak bingung, berdasarkan pengalaman masa lalunya itu tidak pernah terjadi.  “Nggak bisa ayah?”


“Why?”


“Tempat tidurnya nggak muat.”  Hanya itu yang terlintas dalam fikiran bocah lucu itu.


Hiro pun bangkit dan duduk di pangkuan sang ayah, dia pun mencium kening sang ayah.  “Don’t you worry ayah, I will sleep with you tomorrow, ok?”  Terlihat sekali anak ini berusaha adil dengan kedua orang tuanya.


So cute,Gardin pun terharu melihat usaha sang anak untuk memperlihatkan keinginannya bahwa ia menyayangi kedua orang tuanya.  Gardin pun mengangguk setuju, nggak ingin sang anak terkukung dalam dilemma yang terlalu drama.  Kasihan Hiro juga sih.


Maura pun menggandeng Hiro menuju kamarnya.


“Cute.” Maura mengucapkan kata itu penuh haru pada Gardin tanpa suara.


Gardin pun tersenyum bangga. “That’s my boy.”