CEO Galau

CEO Galau
Episode 32 Memberi bukti bukan janji



Akhirnya Pernikahan yang dimaksudpun terlaksana juga.  Pelaksanaannya agak unik.  Karena diselenggarakan di hari Jumat, pagi


hari pukul delapan, jam kerja, dan lokasinya adalah di ruang serba guna kantor


Gardin.  Pernikahan ini disaksikan oleh


seluruh pegawai Gardin yang ada di Jakarta, kepala cabang dari seluruh


Indonesia, dan para undangan yang merupakan relasi bisnis Gardin. Restoran


Maura ditutup hari ini, karena seluruh pegawainya datang ke acara pernikahan


sang bos. Pastinya ada Pak Mochtar jugalah di acara ini. Kira-kira ada seribu


orang yang hadir di peristiwa itu.  Prosesinya ya pernikahan pada umumnyalah, pengajian, ijab qobul,


penyerahan mahar, dan lainnya.  Hanya


saja tidak ada penanda tanganan surat nikah, karena mereka telah punya surat


nikah sejak empat belas tahun yang lalu.


Yang lucu adalah pernikahannya seperti acara halal bi halal kantor, para pegawai salaman kepada pengantin,


mengambil makanan dan mereka pun kembali bekerja.  Tapi untuk hari ini, para pegawai


dipersilahkan mengambil makanan yang tersaji dari pagi hingga jam makan siang


nanti, artinya makanan tersedia hingga selesai sholat jumat.  Syaratnya kalau mau bawa ke ruangan, jangan


pake piring katering ya. Pihak catering menyediakan container untuk dibawa


kemanapun kok. Kalau para tamu yang bukan pegawai kantor itu, mereka datang


mengikuti prosesi akad, ramah tamah menikmati hidangan dan pulang deh.  Yah, pukul sepuluh para tamu di luar pegawai


kantor ya sudah pulang lagi, kembali dengan aktivitas mereka.  Nggak ada pelaminan, Maura pun nggak memakai make up yang berlebihan layaknya pengantin,


hanya selayaknya nyonya rumah menyambut tamu aja.  Gardin dan Hiro menggunakan baju koko yang telah


disiapkan Maura, senada dengan kebaya Maura.  Acaranya terbilang biasa-biasa saja, nggak romantis, nggak mewah, tapi terkesan


mingle dan nyaman saja buat semua.  Bagaimanapun hari itu merupakan hari yang membahagiakan bagi


keduanya.  Gardin dari tadi banyak senyum


deh menyambut semua orang dengan begitu ramah.


Dalam pidato singkatnya Gardin mengucapkan terima kasih atas segala


dukungan para staffnya selama ini.  Sedangkan


Maura juga memberikan sedikit sambutan untuk meminta para karyawan membantunya


menjaga Gardin dari godaan. Ih mulai kelihatan nih posesifnya.


Arkan dan Angga menghampiri Maura dan Hiro diantara banyaknya tamu.  Gardin sepertinya sedang menemani relasinya


yang lain.


“Selamat ya Mbak.”  Arkan dan


Angga bergantian memeluk Maura.


Maura pun menerima pelukan hangat dari dua orang yang sudah ia


anggap adik itu.


“Makasih ya, tanpa bantuan kalian dan Bang Jason belum tentu nih


kami bersatu lagi.”  Ucapan terima kasih


Maura yang begitu tulus untuk keduanya.


“Such a great honnormbak.”  Jawab Angga.


“Gue sih nggak keberatan sama sekali mbak, jagain elo serasa jagain


kakak ipar.”  Arkan menimpali.


“Betul-betul.” Angga setuju.


“Wah berarti elo nganggap gue abang nih, kalau Maura kakak ipar?”


Tiba-tiba Gardin sudah di samping mereka dan menimpali pembicaraan.


Angga dan Arkan langsung saling pandang.


“Mau lu anggap dia abang?  Udahlah selingkuh, nyia-nyiain istri, terus begitu mau balik bikin repot


lagi.” Tanya Angga.


“Iya, gue sih ogah.” Jawab Arkan.


Gardin langsung emosi, tahu sih dua anak muda ini bercanda.  Dia langsung mengalungkan kedua tangannya


pada kedua leher Angga dan Arkan sambil membentuk kondisi membiting layaknya


kepiting. “Ayo ngomong lagi, gue bikin nggak nafas sekalian.”


“Ayah jangan!” Hiro yang ketakutan.


Semuanya tertawa melihat Hiro panik.


“Nggak papa kok, Ayah bercanda sayang.” Maura menenangkan Hiro.


Gardin pun melepas keduanya.


“Tuh, Hiro aja pro kita ya.” Arkan pun melakukan hi five pada Hiro.


Merekapun tertawa bersama merayakan bersatunya kembali Gardin dan


Maura.


Pukul sepuluh pagi, ketika suasana sudah mulai sepi.  Gardin, Maura, Hiro masih duduk manis di


salah satu meja bundar yang ada di sana.  Gardin dan Maura sedang menemani Hiro yang sedang asik makan es krim,


ketika Jason menghampiri mereka.


“Mau sekarang?”  Tanyanya pada


Gardin.


Gardin sepintas mengamati sekeliling, sepertinya memang sudah tidak


ada lagi tamu yang hadir.  Tinggal para


karyawan yang masih menikmati hidangan.  Dia pun mengangguk, kemudian mengajak Maura dan Hiro meninggalkan


ruangan itu menuju ruangannya di lantai 25.


Mereka berempatpun naik lift menuju ruangan Gardin.   Ketika menuju ruangan, mereka melalui Mia yang


sedang ngobrol di mejanya bersama beberapa pegawai perempuan lainnya,


sepertinya mereka masih menikmati hidangan yang tersedia di lantai bawah.


“Mi, titip Hiro bentar ya!” Pinta Gardin.


Sepertinya Mia sudah siap sih karena sebelumnya Gardin juga sudah


bilang kalau dia akan ada pertemuan serius antara dia dan sang istri juga


Jason.  Justru Maura yang nggak tahu


tentang pertemuan ini.


Gardin pun berlutut bicara pada Hiro. “Ayah sama bunda ada di


ruangan itu ya, Hiro di sini sebentar sama tante Mia.”  Gardin menunjukan ruang meeting yang transparan di samping mereka, sehingga Hiro pun bisa


mengamati mereka.


Hiro mengangguk mengerti.


Mereka bertiga memasuki ruangan meeting.  Maura masih bertanya-tanya pertemuan apa sih


ini, kok kayaknya serius ya.


Jason pun menelepon seseorang, sepertinya anak buahnya untuk


dibawakan dokumen.


Nggak lama, Fendi pun datang dengan map berisi dokumen yang kemudian


ia serahkan ke Jason, dan kemudian Fendi pergi lagi meninggalkan mereka kembali


ke ruangannya.


Jason kemudian menyerahkan semua dokumen itu ke Gardin.


Gardin pun tersenyum menatap Maura, “Seharusnya aku melakukan ini


sejak dulu.” Gardin pun satu-satu memberikan dokumen itu pada Maura.  Memintanya membaca pelan-pelan.


Maura pun melakukan apa yang diminta Gardin.  Yang pertama adalah saham perusahaan


Gardin.  Gardin mendapatkan warisan dari


sang ayah berupa 65% saham perusahaan ini.  Tapi sekarang saham itu sudah berkurang menjadi 60% karena 5% telah dia


hibahkan ke Jason.  Secara keseluruhan,


Gardin memiliki saham 60%, sebuah perusahaan tambang dari Norwegia memiliki 30%


saham, selebihnya Pak Mochtar 5% dan Jason 5%.  Nah surat yang sedang dibaca Maura saat ini adalah Gardin menghibahkan


saham yang dimilikinya dengan: 20% untuk Maura, 30% untuk Hiro, jadi untuk dirinya


sendiri sekarang hanya 10% saja.  Maura


sangat kaget membaca dokumen yang di hadapannya itu.


“Sekarang perusahaan ini perusahaan kita Ra, bukan lagi hanya aku


seperti yang dulu kamu katakan.”  Gardin


memberi keterangan.


Belum selesai, Gardin pun menyerahkan dokumen kedua, yaitu


menjelaskan pemindah tanganan beberapa properti diantaranya rumah di pondok


Indah, beberapa unit apartemen mewah yang terletak di Jakarta, Bali, Bandung,


Hongkong, Melbourn, dan Singapore dari nama Gardin menjadi milik Maura.  Belum termasuk unit yang di Brisbane ya,


kalau itukan memang dari awal sudah atas nama Maura.


Masih belum selesai, Gardin menyerahkan dokumen yang ketiga berupa


pindah tangan tabungan pribadi Gardin ke nama Maura, ada beberapa rekening yang


disampaikan di sana.  Jumlah nolnya itu


bikin pingsan makanya Maura cuma berani mengintip.


“Gardin, ini apa-apaan?” Maura menatap Gardin demikian serius. “Ok


lah kalau kamu mau semua ini atas nama Hiro, tapi bukan nama aku.”


“Aku mau ngasih tahu kamu kali ini aku serius Ra, aku memasrahkan


semuanya sama kamu.  Biar kamu aja yang


pergi dari hidup aku lagi.   Kalau


perusahaan tetap aku yang mengelola, tapi artinya aku bekerja untuk kamu dan


Hiro.  Karena seperti itukan tugas kepala


keluarga.”


“Aku nggak mau menerima ini semua.  Aku cinta kamu, berikan aku sewajarnya, bukan seperti ini!”


Gardin menggeleng. “Ra, terima dong.  Semua ini atas nama kamu agar aku nggak lagi semena-mena terhadap kamu


seperti dulu.  Tapi aku yakin kamu nggak


akan ninggalin aku dengan membawa semua itu kok.  Aku juga akan tetap merasakan itu semua.”


“Din, aku nggak mau.  Aku mau


rumah tangga kita berjalan wajar.  Kita


saling sayang, saling dukung satu sama lain.  Bukan begini.”


“Nggak ada yang berbeda lho.  Semuanya wajar-wajar aja.  Semua


ini agar kejadian lalu nggak terulang lagi.  Sudah itu aja kok.”


“Sebesar apa sih keyakinan kamu kalau aku akan selalu setia pada


kamu?”


Gardin menggeleng. “Aku cinta kamu. Kalau kamu mau balas dendampun aku


pasrah.”


Pertemuan pun berakhir dengan Maura yang begitu kebingungan atas


amanah yang begitu besar.


**


Maura menepati janjinya untuk kembali bersedia diboyong ke Pondok


Indah.  Gardin pun nggak mau menunggu


lama, begitu semua acara telah selesai, setelah Sholat Jumat,  mereka langsung pulang ke Pondok Indah, nggak


ada lagi mampir-mampir ke Bekasi.  Gardin


bilang semua barang-barang mereka di sana sudah di pindahkan oleh timnya.  Bang Jason, titip kantor dulu ya sehari lagi.


Hiro yang kebingungan ketika memasuki rumah mereka di Pondok Indah,


Besar banget, semua fasilitas tersedia lengkap.  Dia pun terheran-heran dengan banyaknya orang yang ada di sana.


“Halo Mas Hiro.  Apa


kabar?”  Sapa bu Siti.  Ini memang pertama kalinya Hiro bertemu


dengan Bu Siti.  Ia pun tersenyum ramah


pada Hiro.


Hiro pun tersenyum, dan mengajak Bu Siti berjabat tangan dengan


sopan.  Nalurinya berkata bahwa perempuan


tua di hadapannya adalah orang yang bisa ia percaya.


Bu Siti pun menggandeng tangan Hiro dan memperkenalkan Hiro dengan


staf lainnya yang memang pekerja di rumah itu, ada dua belas orang. Setelahnya


Bu Siti meminta ijin pada Gardin dan Maura untuk mengajak Hiro berkeliling


rumah.


Gardin pun mengijinkannya.  Dia sangat percaya dengan Bu Siti.  Kepala rumah tangga yang telah mengabdi pada keluarga itu puluhan tahun


lamanya.


Maura dan Gardin pun berjalan ke luar rumah menuju kolam renang, ada


sofa tidak jauh di sana, dulu tempat ini merupakan tempat favorit mereka


menikmati sore dan weekend bersama.  Maura dan Gardin pun duduk di sofa itu, Maura duduk sambil mengamati


wilayah sekitar.  Nggak ada yang berubah,


semua masih sama, nyaman, bersih dan hijau.


“Selamat datang di rumah kamu sayang, aku nebeng ya.”  Gardin tersenyum sambil membelai pipi Maura.


“Apaan sih.” Maura menyenderkan kepalanya ke bahu Gardin dengan


manja.


“Baru lima belas menit kita ada di sini, rasanya nyaman banget kamu


dan Hiro pulang.”


Maura tersenyum mendengar itu, dia masih bergelayut manja pada


Gardin.


Lima menit mereka duduk di pinggir kolam renang, Rini salah satu


asisten rumah tangga di bawah asuhan Bu Siti menghidangkan dua cangkir teh


hangat untuk Gardin dan Maura beserta kue coklat.  Maura tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Maura pun mengambil teh yang telah tersedia, dia meminumnya sedikit,


berfikir sejenak seperti mengingat sesuatu. “Kayaknya aku kenal deh dengan


aroma teh ini.”


Gardin tersenyum. “Kenal bagaimana?”


Begitu teringat dia langsung kaget. “Jangan bilang teh yang


tergeletak di meja makan itu dari kamu?”


Gardin pun tersenyum simpul.


“Serius, kamu suruh siapa? Jangan bilang Mia kamu suruh ke Brisbane


cuma untuk ngasih aku teh ini?”


Masih nggak mau jawab, masih saja tersenyum.


Maura tertawa sendiri, sambil menggeleng-geleng nggak habis fikir.


“Ya ampun itu Arkan sama Angga hal kecil aja sampai ngadu ke kamu ya.”


“Angga dan Arkan nggak ngomong apa-apa kok.”


“Lho kok bisa tahu?”


“Suami itu punya telepati Ra, jadi pasti tahu kalau istrinya yang


lagi hamil ngidam sesuatu.”  Gardin nggak


berani ngomong kalau ada CCTV di rumah itu.  Bisa-bisa malah nanti Maura menduga hal-hal yang lain lagi.


Sebenarnya Maura penasaran dan tahu banget Gardin berbual tentang


telepati.  Tapi ya sudahlah nggak penting


juga. Saat ini yang dia inginkan menikmati suasana romantis dengan suami


tersayang ajalah. Dia pun kembali menyenderkan kepalanya ke bahu Gardin.  Gardin menerimanya dengan senang hati.


“Sejak kapan sih kamu menginginkan aku kembali, apa sejak kamu tahu


aku hamil?”  Sebenarnya Maura sudah lama


penasaran.  Dia pun sekarang menatap sang


suami.


Gardin menggeleng. “Aku malah nggak tahu kamu hamil pada saat itu.”


“Oh ya? Kapan tuh.  Karena


seingatku dulu kamu mantap banget menceraikan aku. Kok tiba-tiba berubah


fikiran?”


Gardin tersenyum mencoba mengingat kejadian yang sebenarnya tidak


ingin ia ingat.  “Kamu ingat saat kita


bertemu lagi pertama kalinya sejak kamu meninggalkan rumah ini? Ketika kita


membuat kesepakatan kita akan bercerai?”


“Di kantor kamu?” Tanya Maura


Gardin mengangguk.  “Saat kamu


memeluk aku, dan justru mengucapkan terima kasih telah bersedia hidup bersama


kamu.  Saat itulah aku merasa aku melakukan


kesalahan besar melepas kamu.  Nuraniku


terusik menyadari mungkin hanya kamu perempuan di dunia ini yang mampu


mengucapkan terima kasih demikian tulus ketika dalam keadaan tersakiti.”


Maura terkejut. “Aku sama sekali nggak niat membuat kamu berubah


fikiran lho.  Aku memang merasa wajib


berterima kasih pada kamu.”


“You know what?  Itu yang namanya ketulusan Ra, kamu melakukannya


tanpa punya indikasi lain.  Itu pulalah


yang membuat kamu memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain.”  Gardin pun mencium kening Maura, dan kemudian


mendekapnya dalam pelukan terbaiknya.


“Terima kasih bersedia kembali bersama aku sayang.  Aku bahagia bersama kamu.” Maura menikmati


pelukan hangat Gardin.


“Aku yang terima kasih sayang, terima kasih mau memaafkan aku,


terima kasih untuk mau pulang lagi.”


Keduanya menikmati kehangatan yang saling mereka berikan.  Bersantai di sore yang indah, di hari pertama


mereka resmi bersatu lagi, kembali dari awal lagi menjalani hidup bersama.  Ketika logika berjalan, hati bicara, dan


naluri berkata bahwa kamulah belahan jiwa yang Tuhan kirimkan untuk aku


menjalani hidup bersama hingga maut memisahkan, apapun kedepannya pasti akan


dilalui dengan penuh keikhlasan.