
Kalau ada yang kepo berapa banyak sih tabungan yang dimiliki Maura? Jawabnya dua juta US dollar. Itu merupakan tabungan selama sepuluh tahun Maura bersama Gardin. Dari itu Maura sebenarnya bingung, kenapa sih Gardin kekeuh banget agar Maura meminta lebih dari apa yang dimilikinya sekarang? Uang segitu jelas banyak bangetlah, cukup kok untuk dia bertahan hidup, dan gaya hidupnya juga nggak suka foya-foya dan dia pun juga bukan shopaholic, makanya dia yakin banget bisa bertahan dengan limpahan rejeki yang dia punya. Masih harus minta hartanya Gardin lagi? Ya nggak perlulah, dia bukan perempuan serakah kok.
Nah untuk hidupnya di Brisbane dia hanya membawa seperempat tabungannya itu. Sisanya ada dalam
rupiah di Jakarta. Dia yakin apa yang dia bawa lebih dari cukup untuk biaya melahirkan dan juga untuk selama ia
menempuh pendidikan masternya. Rencananya, untuk program masternya dia akan mengambil business dan memfokuskan pada food and beverage. Karena rencananya, nanti ia akan melakukan usaha di bidang itu.
Mengawali kehidupannya di Brisbane dengan menjadi siswa di satu kursus bahasa Inggris. Sebenarnya dengan
nilai IELTS yang dia punya dia sudah bisa langsung masuk program master, tapi karena ia akan melahirkan dalam empat bulan ke depan, maka akan lebih mudah baginya untuk kursus bahasa dulu, dan memulai program masternya di semester depan. Yah… kira-kira usia anaknya nanti
akan dua bulan ketika ia mulai kuliah. Sudah bisalah untuk dititipkan ke daycare atau dia akan menyewa baby sitter selama ia kuliah. Masih belum memutuskan… lihat nanti ajalah. Intinya semua sudah dalam rencananya.
Alhamdulilah, semua baik-baik saja, Maura rajin control kandungannya ke midwife dan dokter umum di klinik
kampus, dan melakukan USG tiga bulan sekali. Janinnya sehat dan diapun kuat. Yes...!
**
Angga dan Arkan dorong-dorongan memasuki ruangan Jason. Melihat pemandangan itu Jason berusaha keras
menyembunyikan tawanya. ia berusaha menciptakan suasana kaku dan seakan ia sedang marah pada keduanya. Bahkan Jason sama sekali tidak mempersilahkan keduanya duduk ketika mereka telah berada tepat di hadapan Jason.
“Gue denger kalian mau sekolah lagi?” Jason membuka pembicaraan.
“Eh… anu bang…” Arkan bingung memulai pembicaraan.
“Yang jelas kalau ngomong, elo mau sekolah atau mau anu?”
“Iya bang.” Angga menjawab ketakutan.
“Dapet di mana kalian?”
“Masih belom pasti kok bang, soalnya masih bingung…”
“Gue tanya, kalian dapet mana?” Jason membentak sambil memukul meja
kerjanya.
“UQ bang.” Keduanya menjawab
serentak dengan begitu ketakutan.
“Gitu aja susah. Kapan kalian
berangkat?”
“Eh… itu bang masalahnya.”
“Kenapa?”
“Saya belum dapet beasiswanya bang.” Jawab Arkan.
Jason menatap Angga. “Kalo elo?”
“Masih nunggu pengumuman LPDP bang.” Jawab Angga.
Jason tersenyum. Tuhan Maha
baik, semua memang tidak ada yang kebetulan. Diterimanya kedua anak buahnya yang diam-diam melamar S2 ke UQ justru mempermudah kerjanya. “Gue bayarin mau nggak?”
“Ha?” Bersamaan Angga dan Arkan begitu heran.
“Tuli ya kalian? Bukan gue sih yang bayarin kalian, Perusahaan yang bersedia bayarin semua kebutuhan kuliah kalian di sana, mau nggak?”
“Bayarin apaan bang?”
“Kuliah, biaya hidup, asuransi, terbang ke sana. Kayak beasiswa deh.”
“Serius bang?”
“Memangnya kayak begini nggak serius?”
Angga dan Arkan saling berpandangan.
“Tapi ada syaratnya.”
“Apaan bang?” Keduanya makin
penasaran.
“Pertama, setelah kuliah selesai kalian harus balik kerja di sini
lagi.”
Angga dan Arkan mengerti. “Ada lagi bang?”
Jason mengangguk. “Ini yang paling penting…” dia pun mempersilahkan keduanya duduk dan mulai menjelaskan
duduk persoalannya.
Dengan serius, keduanya menyimak penjelasan yang diberikan Jason pada mereka. Ternyata ada misi penting.
**
“Menurut elo kita ambil nggak tawaran Bang Jason dan Pak Gardin itu?” Angga benar-benar ragu dia butuh pemikiran Arkan. Mereka diberi waktu beberapa jam untuk berfikir oleh Jason. Saat ini mereka telah kembali ke kubik kerja mereka. Duduk sambil dalam keadaan galau, mereka mencoba berdiskusi.
“Jagain bini orang, bininya big bos lagi. Berat euy…” Dua pengacara muda ini benar-benar dalam dilemma.
“Jadi gimana?”
“Menggiurkan banget sih tawarannya, gaji kita di sini tetep jalan walau kita sekolah, udah gitu bulanan selama kita di sana gede banget dibandingkan beasiswa biasa.”
“Makanya. Selain itu, ini tantangan seru lagi, kita jadi detektif gitu.”
“Ah anggap aja kita punya part time job.”
“Part time job kita yang mana? Jagain bini orangnya atau kuliah kitanya?”
Angga bingung dengan pertanyaan Arkan. Iya ya… bisa-bisa kuliahnya yang akan menjadi part time job mereka. Mengingat Pak Gardin kan bos besar nggak mungkin banget jagain istrinya itu merupakan kerjaan sampingan. “Jadi gimana dong?”
Arkan menatap Angga tajam. “Elo mau nggak?”
Angga mengangguk. “Gue mau tapi gue nggak sanggup sendiri.”
Arkan diam sejenak. “Ok deh,
gue mau, tapi janji ya, Susah ataupun gampang kita tanggung bareng-bareng!”
“Siap.”
Arkan mengajak Angga menjabat tangannya. “Deal ya nggak ada yang boleh nyerah!”
“Deal. Kita harus pulang bawa ijasah juga ya.”
“Wajib!” Jawab Arkan mantap.
Dengan kesepakatan yang mereka buat, mereka pun dengan percaya diri melangkah kembali memasuki ruangan Jason.
**
Jason membawa Angga dan Arkan ke ruangan Gardin. Dan memperkenalkan mereka sebagai staff mereka yang akan kuliah di UQ.
“Usia kalian berapa sih?” Gardin heran aja, ini kok yang dibawa Jason unyu-unyu begini.
“Saya 25 pak.” Jawab Angga.
“Saya 26 pak.” Kali ini Arkan juga menjawab.
Setelah saling berjabat tangan, Gardin memperkenalkan ketiganya duduk. “Kalian sudah tahukan tujuan
kalian gue panggil?”
Angga dan Arkan mengangguk.
“Kalian bersediakan bantu gue?”
Angga dan Arkan kembali hanya mengangguk.
“Jangan ngangguk-ngangguk aja, kalian ngertikan apa tugas kalian, jagain istri gue, laporin setiap kegiatannya, terutama yang berhubungan dengan kehamilannya?”
“Iya pak.”
“Kalian panggil gue kayak manggil Bang Jason aja, panggil gue Bang, karena kita akan sering berkomunikasi, aneh kalau kalian masih panggil gue pak!”
“Baik pak… eh… baik Bang.” Arkan masih rikuh memanggil bos besar dengan sebutan Bang, sok akrab banget sih.
“Kapan rencananya kalian berangkat?”
“Awal tahun depan bang, karena kuliah kita mulai bulan February.”
“Nggak bisa!”
“Ha?”
“Kalian harus berangkat dalam tiga minggu ini, paling nggak awal bulan depan, detektif yang gue sewa harus keluar Australia pertengahan bulan depan, kalian harus gantiin dia jagain istri gue!”
“Kita belum ngurus visa bang, lagi pula Surat dari kampus untuk bikin visa juga belum keluar karena kuliah juga masih jauh waktunya.”
“Minta surat bahwa kalian butuh kursus Bahasa Inggris dulu, ntar gue juga tanggung kursus kalian!”
Arkan dan Angga makin bingung.
“Gue udah minta bagian keuangan untuk bikin financial guaranty letter buat kalian, untuk kebutuhan keberangkatan, hari ini juga bakal ditransfer ke rekening gaji kalian. Tution fee kalian langsung ditagihkan ke sini, kalian nggak usah khawatir, allowance kalian di sana bakal ditransfer langsung untuk dua tahun di muka begitu kalian kasih nomer rekening kalian di sana. Tiket bakal di kasih ketika visa udah di tangan. Pokoknya gue mau kalian cepet kerjanya!”
Angga dan Arkan benar-benar gelagapan dengan segala informasi yang mereka terima dari Gardin. Hadeuh… nafas dulu, kenapa seperti lagi sprint begini?
“Tapi bang…” Angga berusaha menghentikan Gardin memberikan informasi untuk dirinya dan Arkan.
Ke semuanya menoleh ke Angga.
“Saya belum siap.”
“Ha?”
“Saya belum ijin orang tua dan tunangan saya bang.”
“Astaga…” Jason dan Gardin langsung tepok jidat.
“Karena saya fikir saya akan berangkat masih empat bulan lagi bang.” Angga menjawab pelan dengan rasa bersalah dan ketakutan.
“Tenang… tenang!” Jason berusaha menenangkan Gardin yang agak emosi. Anak-anak ini nggak sepenuhnya salah, too much information and orders dalam waktu yang begitu singkat. Lagi juga Gardin nggak boleh gegabah marah-marah, kalau tiba-tiba dua anak ini mengurungkan niatnya untuk membantu mereka karena takut, bisa-bisa missi mereka akan terhambat.
“Elo juga belum ijin orang tua sama tunangan juga?” Gardin bertanya pada Arkan. Intonasi Gardin agak menurun setelah ditenangkan Jason.
Arkan menggeleng ketakutan. “Saya jomblo bang, tapi memang belum ijin ibu saya, karena sebenarnya
saya nggak yakin bisa berangkat, saya sampai kemarin belum punya beasiswa.”
Gardin benar-benar gregetan mendengar para unyu-unyu ini bicara. Yah nggak salah juga sih, sebelum hari ini kan mereka benar-benar nggak tahu harus berangkat secepat ini.
“Lagi pun, kuliah kami hanya satu setengah tahun bang, nggak sampai dua tahun.”
“Gue nggak mau tahu, pokoknya kalian harus di sana sampai bini dan anak gue balik lagi ke sini, ngerti!” Gardin kali ini berkeras.
“Iya Bang.” Keduanya menjawab bersamaan. Angga dan Arkan kebingungan kenapa malah sekarang mereka dimarahin ya? Yah… namanya menghadapi bos besar, sah-sah aja deh dia mau ngapain. Dalam hati keduanya begitu pasrah.