
Ah ternyata Maura begitu berubah, dia bukan lagi perempuan yang mudah diatur. Kata-katanya sekarang jauh
lebih tajam. Dan yang membuat Gardin frustasi apa yang dikatakan Maura tidak hanya menyakitkan tapi juga begitu mengena. Apakah Maura begitu tersakiti, sehingga ia tidak lagi bisa mempercayainya? Dia mengakui kalau dia memang telah menyakiti Maura, tapi kan sekarang Gardin ingin berubah, sangat ingin memperbaiki kesalahannya, ingin Kembali ke Maura, ingin seperti dulu lagi. Mencintai Maura lagi, Apalagi sekarang sudah ada
Hiro, kenapa sekarang malah justru menjadi begitu complicated? Apakah manusia nggak boleh khilaf, Gardin kan
hanya manusia biasa, tak terlepas dari kesalahan, masa sih dia nggak termaafkan?
Dari dulukan Maura memang tahu kalau Gardin tidak pernah mengijinkannya bekerja, kenapa sekarang Maura ngotot ingin punya usaha? Hadeuh mau kemana harga dirinya. Laki-laki mapan dan bergelimpangan harta harus
mengijinkan sang istri, perempuan yang begitu dicintainya jadi ibu kantin? Gardin benar-benar nggak habis fikir. Apa sih yang dicari Maura? Gardin benar-benar merutuk…. Mengacak-ngacak rambutnya. Ih… dia benar-benar geregetan…..
“Bang, elo kenapa?” Angga dan Arkan kebingungan mendapati Gardin sedang duduk di lantai bersandar di pintu depan unit mereka.
“Mbak Maura nggak ngusir elokan?”
Gardin cuma menggeleng, wajahnya suntuk banget. Nggak bisa ia sembunyikan.
Arkan dan Angga kebingungan menghadapi sang big bos. Mau diapain ya? Gimana menghiburnya ini, mukanya
suntuk banget gini. Keduanya begitu kebingungan. Awkward banget deh.
Tiba-tiba Arkan datang dengan idenya. “Kita makan pizza yuk bang!” Ajak Arkan.
“Ha?” Gardin dan Angga bingung.
Apa makan bisa membuat sang bos nggak suntuk lagi. Boleh dicoba sih.
“Dominos di sini buka sampe jam 3 pagi bang. Choco lavanya enak lho bang.” Arkan sedikit promosi.
Iya sih, dari pada suntuk gini, bener juga ide Arkan.
“Dari pada suntuk bang, gue juga laper lagi nih pengen makan pizza.” Angga kali ini yang ngebujuk. Hehehe
padahal nih, tadi Ketika Angga dan Arkan kebingungan Ketika mereka keluar rumah, mereka ke city dan akhirnya nongkrong di restoran Korea yang jual ceker ayam pedes gitu. Terus akhirnya mereka minum hot chocolate, dan sekarang harus makan pizza lagi… waduh… masih ada tempat nggak ya di perut mereka. Tapi demi menghibur big bos ya…
Sekarang pukul 11 malam. Yah… boleh juga sih, Gardin akhirnya nurut. Dia bangkit dari duduknya di lantai yang
dingin itu. Pukul sebelas malam, bulan July, 5 derajat Celsius man… kembung deh tuh perut. Alamat kentut terus tuh bisa-bisa duduk di lantai dingin gini. “Kan, elo ambil sambel dulu gih!”
Ha, sambel? Angga dan Arkan bingung, kok ambil sambel?
“Katanya mau makan pizza, di sini kan pizza nggak ada saos sambelnya kayak di Indonesia, makanya bawa saos sambel dari sinilah.” Gardin heran kok nih dua bocah bingung disuruh bawa sambel.
Arkan garuk-garuk kepala, bener juga ya nih si bos. Suntuk-suntuk kalau urusan perut tetep jalan ya otaknya Hehehe. Arkan pun ke dalam unit mereka untuk mengambil saos sambal. Nggak lama, mereka pun berjalan
kaki menuju dominos.
Dingin bo… Demi menghibur bos, tetep jalan deh.
Ketika mereka sudah di Dominos St Lucia, dan seafood large Pizza sudah ada di hadapan mereka, ada hot
chocolate (lagi) juga yang membantu mereka menerjang dinginnya winter di Brisbane. Duduk diatas
bangku kayu, restorant ini kecil banget, mungkin baiknya di sebut kedai. Dan yang lebih menyakitkan di winter begini karena, restorant ini nggak punya konsep indoor, semua custumer menikmati pizza secara
“Pelajaran banget ya buat kalian yang muda, pertama, jangan nikah kalau belum siap. Kedua, menikahlah
dengan perempuan yang tepat, dan yang ketiga, kalau elo udah nikah dan hidup elo udah aman, jangan coba-coba memulai keisengan dengan selingkuh. Jangan nyakitin hati perempuan deh intinya. Akibatnya kayak gue gini nih… uring-uringan nggak jelas.” Gardin mulai curhat.
“Sabar bang, mau gimana lagi, udah kejadian.”
“Kurang sabar apa gue, hampir dua tahun gue nunggu maaf Maura. Masih juga gue digantung begini.”
“Nggak ada yang nyuruh elo nunggu bang, kalau nggak sanggup elo bisa cari yang lain.”
“Enak aja lo ngomong. Gue cuma mau Maura.”
“Ya kalau gitu sabar. Elo nggak punya pilihan.”
Gardin hanya diam. Menghela nafas panjang, dengan setengah keinginan dia memakan pizzanya.
“Sebetulnya apa sih yang bikin berantem, kayaknya selama ini Mbak Maura baik-baik aja sama elo. Tinggal nunggu dia lulus, gue yakin dia mau balik ke elo kok. Apalagi sekarang udah ada Hiro?”
“Projeknya itulah. Bayangin aja pengen jadi ibu kantin. Bini gue mau buka kantin coba. Istri CEO, jadi ibu kantin, bisa elo bayangin nggak?”
Arkan bingung. “Masalahnya apa bang?”
Gardin mendadak pengen gigit orang karena gemes. Arkan masih kebingungan dia salah apa. Angga sebenarnya pengen ngakak lihat pemandangan itu. Temennya polos banget, bosnya harga dirinya tinggi bener. Hadeuh… repot ya?
“Kalau gue boleh ikut ngomong nih bang. Gue sih bisa memahami keputusan Mbak Maura. Bagaimanapun
dia itu pernah merasakan terbuang. Dan itu pasti menyakitkan. Makanya nggak heran kalau dia pengen banget mandiri.”
Mendengar itu Gardin diam…. Rasa bersalah itu hadir lagi.
“Bisa dibayangin dong, Ketika dia sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, membangun kepercayaan dirinya untuk bisa mandiri, terus tiba-tiba elo datang lagi. Mengatur hidupnya lagi seakan-akan nggak pernah terjadi masalah antara elo berdua.”
“Jadi menurut elo, gue ganggu dia gitu? Apa gue nggak boleh berusaha untuk membuat dia Kembali lagi?”
“Ya nggak gitu bang. Buat apa elo ngutus gue sama Arkan kemari, kalau gue fikir elo nggak boleh buat balik
sama Mbak Maura?”
Arkan mengamati percakapan Angga dan Gardin. Dalam hatinya berani juga ya Angga yang begitu junior menggurui sang big bos.
“Jadi menurut elo, gue mesti gimana?” Gardin sebenarnya tidak terlalu suka Angga yang dia anggap masih piyik ini berkesan menyetir hidupnya. Tapi sepertinya dia memang butuh untuk bertukar fikiran.
Angga sejenak terdiam, dia menghela nafas, sebenarnya juga mencari jalan agar berkesan tidak menggurui sang big bos. “Seinget gue sih bang, yang namanya perempuan itu nggak bisa dilarang. Kalau makin kekeuh malah makin ribet.” Angga berusaha memberikan pencerahan.
Gardin diam. Betul juga sih.
“Kalau gue boleh ngasih saran sih, dukung ajalah bang, kalau perlu elo ikut terlibat, dampingin dan pelan-pelan ngarahin seperti yang elo mau.”
Gardin menghela nafas. Mungkin ada baiknya begitu, demi bisa membawa Maura dan Hiro pulang, dia
harus banyak melakukan trade-offs. Pusing ya perempuan kalau ada maunya. Mendingan Maura minta beliin Hermes satu milliar deh dibandingkan mau jadi ibu kantin gini. Ah… Tadi Gardin benar-benar tanpa daya.