CEO Galau

CEO Galau
Episode 23 Kencan yuk !



Sabtu siang, Maura sedang santai nonton TV di ruang tengah sambil mengawasi Hiro yang sedang menikmati susu botolnya di boxnya.  Arkan dan Angga sedang main badminton bersama dengan teman-teman komunitas mahasiswa Indonesia di kampus.  Biarpun nggak lagi jadi mahasiswa masih boleh kok main badminton di kampus dengan teman-teman Indonesia lainnya.


“Ra, cape nggak?”  Tiba-tiba Gardin menghampiri Maura dengan sedikit merayu dengan cara memijit pundak Maura.


Kalau begini sih pasti ada maunya.


“Biasa aja sih, kenapa?”


“Ra, besok kan aku balik.”  Gardin duduk di samping Maura masih terus memijit bahu Maura. “Kesininya


lagi saat kamu wisuda nanti.”


“Terus?”


“Dinner yuk nanti malem, kita keluar berdua.  Mau nggak?”


“Hiro gimana?”


“Tadi aku udah minta tolong sama Arkan dan Angga, mereka mau kok jaga Hiro malam ini.  Ntar lagi mereka


pulang kok.”


“Aku terlalu sering ngerepotin mereka ah.” Maura agak ragu.


“Nggak papa lah, mereka sayang kok sama Hiro.  Mau ya, besok kan aku balik ke Jakarta Ra.”  Gardin begitu memohon.


Maura pun tersenyum tulus dan mengangguk, nggak ada salahnya menyenangkan sang suami yang sudah begitu sabar ini.  Toh dia pun juga akan bahagia kok malam ini.  Maura sangat yakin dengan itu.


Gardin pun tersenyum bahagia.


**


Malam harinya, Maura sudah bersiap, dia berdandan dengan baik.  Cantik banget dengan make up tipis, gaun


sederhana bunga-bunga hitam merah dipadu dengan cardigan winter wol merk channel, dengan Gucci heels leather pump warna coklat, dan handbag Bottega Veneta seri arco 33 berwarna hitam, sentuhan terakhir


tak lupa Maura mengenakan seuntai kalung berlian yang dihadiahi Gardin ketika ia melahirkan Hiro.  Melihat itu semua Gardin bahagia banget, terlihat bahwa Maura menghargai undangan kencannya.  Gardin nggak kalah ganteng kok dengan semi formal Jacket hitam Armani dipadukan dengan Levis jeans dan kemeja biru langitnya


Gucci, Gantengnya Gardin maksimal deh.


“Kunci mobil mana Ngga?” Gardin dan Maura siap berangkat.  Mereka hendak menggunakan mobil untuk kencan


mereka malam itu, makanya minta kunci sama Angga.


Angga yang sedang nonton TV sambil makan Indomie dengan santai menyerahkan kunci mobil ke Gardin.


“Din, yang sopan dong kalau mau pinjem mobil!” Pinta Maura.


Gardin bingung ditegur Maura.


“Itukan mobil omnya Angga. Lupa ya kalau kamu mau minjem?”


Gardin dan Angga pun tersadar bahwa mereka masih bersandiwara mengatakan bahwa mobil itu milik omnya Angga.


“Eh iya.  Pinjem mobil ya Ngga.”  Gardin pun agak kebingungan ngomong yang sopan untuk minjem mobil miliknya sendiri.


“Iya Bang. Nggak papa kok.”  Angga pun nyengir.  Yang punya mobil pamit pinjem lho? Hehehe


Maura pun tersenyum puas mendengar Gardin mampu bersikap sopan.  “Kan, Ngga, titip Hiro bentar ya.” Pintanya


lagi.


Hiro memang sudah tidur, mereka baru keluar pukul delapan malam kok.  Tapi kamar Maura memang sengaja


dibuka, kalau-kalau Hiro terbangun dan bisa terpantau oleh Arkan dan Angga.


“Ok Mbak jangan khawatir.  Have fun ya.”


Maura dan Gardin pun pergi menuju restoran seafood and steak yang ada di Southbank.


Maura itu pencinta seafood terutama udang.  Kalau sudah ada udang di depan mata, mau diapain aja pasti habis deh.  Kayaknya dia akan lupa tuh yang namanya diet atau kolesterol kalau sedang menikmati udang. Sedangkan Gardin dia pencinta steak, makanya dinner malam ini ke tempat yang menyediakan dua makanan favorit mereka.  Malam itu Maura memesan udang bakar berlapis keju mozzarella sedangkan Gardin memesan wagyu steak dengan saus jamur.  Tadi pelayannya menawarkan mereka bir atau wine sebagai teman makan sih, tapi Maura menolak.  Maura memang anti alcohol sedangkan Gardin masih sih sesekali minum kala ada jamuan makan malam dengan koleganya yang berasal dari overseas. Jadi sifatnya hanya untuk menyambut tamu aja, selebihnya dia pun menghindari alcohol.  Berbeda dengan di Eropa, di Australia agak jarang restoran menyediakan non-alcohol


wine or champagne.


Suasana dinner mereka sangat tenang dan nyaman.  Menyenangkan juga berada dalam situasi seperti ini buat Maura.  Rasanya sudah berabad-abad lamanya Maura tidak merasakan suasana se-rileks sekarang. Makan


malam bersama dengan seorang tersayang, berpakaian baik untuk tanpa harus berlebihan, sedikit merasa cantik dan narsis, dan bonusnya bisa menyenangkan seseorang yang kita cintai luar biasa rasanya.  Gardin pun sangat terlihat bahagia, terpancar dari senyumnya yang selalu ada di wajah charmingnya.  Mareka bahagia


Setelah dinner mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir sungai Brisbane, manikmati suasana kota di waktu malam.  Mereka berjalan pelan dengan bergandengan tangan, sesekalipun Maura menyandarkan kepalanya di bahu Gardin.  Tentu saja Gardin bahagia banget, Maura bersedia bermanja-manja dengan dirinya.  Apakah ini artinya Maura telah memaafkannya?  Sumpah rasanya Gardin nggak mau malam ini cepat berlalu.  Ingin berjalan yang jauh kala Maura ada di sampingnya begini.  Jalan dari southbank ke unit mereka pun dijabanin deh kalau mesranya sebegininya.  Ah nggak kok, Gardin nggak setega itu dengan perempuan yang dicintainya, Southbank ke unit mereka kira-kira 6 Km man.


Mereka pun memutuskan untuk duduk di salah satu kursi taman.  Sambil merangkul Maura, “Dingin nggak?”


Maura menggeleng dan tersenyum. “Hari ini bersahabat ya, nggak sedingin kemarin-kemarin.”


Gardin mengangguk setuju, kalau lihat suhu hari ini dari informasi forecast sih, 17 derajat.  Suhu yang nyamanlah untuk malam yang indah.


“Aku boleh banyak tanya nggak Ra?”


Maura tersenyum, sepertinya memang waktu yang tepat untuk mereka mengobrol.  “Mau tanya apa?”


“Kamu sudah sangat tahu apa mauku, kenapa kita nggak bisa rujuk sekarang Ra? Kalau Masalahnya kuliah kamu dan LDR sementara waktu, aku bisa menerima kok.”


“Jawabannya akan panjang, dan aku berharap bahwa kamu nggak menganggap ini sebagai balas dendamku pada kamu ya.”


Gardin tersenyum. “Kita punya waktu yang panjang malam ini sayang, dan aku dengan senang hati mendengarkan apapun yang akan kamu sampaikan, bahkan umpatan kemarahanmu sekalipun.”


Maura menghela nafas, memang nggak pernah mudah untuk mengungkit kembali luka lamanya. “Pertama kalinya waktu kamu minta aku pergi, aku benar-benar kebingungan mau ke mana.  Yang ada dalam fikiranku saat itu, aku berusaha pergi dan menghapus jejakmu dalam hidupku.  Saat itu aku benar-benar nggak mau minta tolong dengan siapapun yang ada hubungannya dengan kamu.  Tapi pada saat itulah aku makin menyadari bahwa aku nggak punya siapa-siapa dalam hidupku selain kamu.  Kedua orang tuaku sudah nggak ada di dunia ini, dan mereka anak tunggal sama seperti aku.  Praktis aku nggak punya siapa-siapa lagi.  Dan akupun menyadari bahwa selama sepuluh tahun aku bersamamu, aku kehilangan teman-teman lamaku.  Satu-satunya pergaulan yang aku punya adalah jejaringmu.  Sesuatu yang aku hindari saat itu.  Aku benar-benar kebingungan.  Sampai akhirnya bu Siti


kepala rumah tangga kita yang membantu aku mencarikan tempat tinggal.  Apartemen yang kamu datangi di Kelapa Gading itu.”


“Oh, kok Bu Siti nggak ngomong apa-apa sama aku, padahal dia tahu aku sibuk mencari tahu tempat tinggal kamu saat itu.”


“Aku yang minta.” Maura menghela nafas. “Setelahnya Pak Mochtar menghubungi aku, dan dia kekeuh mau menjadi pengacaraku karena amanah dari papa kamu.  Sebenarnya aku menolak saat itu, walaupun akhirnya aku menyerah. Karena aku melihat ketulusannya membantu aku, bagaimanapun aku memang membutuhkan bantuan dia.”


Maura terlihat begitu emosional mengingat itu semua.  Gardin semakin mendekatkan dirinya pada Maura,


berusaha menunjukan betapa menyesalnya dan berusaha memberikan sandaran bagi ungkapan rasa Maura.


“Kondisi itu memang menyakitkan buat aku, aku benar-benar putus asa karena nggak tahu aku harus bagaimana.  Sampai dulu aku pernah bertanya, kenapa Tuhan nggak cabut nyawaku aja, kalau memang dia tidak memberikanku anugrah untuk tahu aku harus bagaimana? Sampai aku menyadari ada Hiro di perut aku.  Aku


jadi begitu bergairah untuk hidup.  Saat itu seakan Allah memberi tahu aku bahwa aku harus hidup untuk anak ini.  Tapi di sisi lain, menjalani kehamilan sendirian itu berat banget.  Yang paling menyedihkan ketika dateng ke dokter, banyak ibu-ibu hamil ditemani sang suami, mereka bahagia bersama, dan sang istri bisa bermanja-manja.  Akupun membayangkan bahagianya Lucy kamu damping saat kehamilannya, tapi aku kamu buang.  Pedih banget Din kalau inget itu.”


“Aku kan nggak tahu kalau saat itu kamu hamil juga Ra. Kalau tahu akan lain ceritanya.” Rasa bersalahnya terungkit lagi.


Dari situ akupun berjanji pada diriku sendiri, aku harus mandiri apapun yang terjadi.  Tapi aku nggak


boleh bertindak gegabah, karena kalau salah jalan, bukan hanya aku yang sengsara, tapi juga anak yang ada di perutku saat itu.  Aku menjadi terobsesi untuk membuat rencana yang matang untuk hidupku dan Hiro, agar aku bisa menjalaninya dengan baik.  Saat itu aku merasa harus menjauh dari Jakarta agar aku bisa berfikir jernih.  Yang terfikir adalah sekolah, setelah itu punya usaha kecil agar aku dan Hiro bisa hidup, dan aku harus bisa keluar dari nama besar kamu. Karena hidup dalam bayang-bayang kamu, tapi aku sudah dibuang rasanya begitu melelahkan.”


“Segitu marahnya kamu sama aku Ra?”


“Dulu mungkin iya, sekarang sama sekali nggak aku nggak marah ataupun dendam sama kamu. Terlebih melihat bagaimana kerasnya kamu minta maaf padaku.  Karena pada dasarnya kamu baik kok, dan aku paham kalau kamu dulu puber kedua.  Tapi obsesiku untuk mampu hidup di luar bayang-bayang kamu masih ada.  Aku harus bisa membuktikan aku bisa mandiri. Karena aku masih punya rasa khawatir kamu akan membuangku lagi.”


“Nggak akan mungkin terjadi lagi Maura, aku sudah tahu merananya hidup tanpa kamu.  Nggak akan mungkin aku


mengulang kesalahan yang sama.”


“Nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti Gardin.”


“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?”


“Berdamai dengan obsesiku Gardin.  Ambisi ini lahir karena masa lalu yang menyakitkan.”


Gardin menghela nafas begitu panjang. “Apa yang kamu ingin aku lakukan.”


“Kasih aku kesempatan untuk aku membuat usaha sendiri, tanpa ada iming-iming nama kamu dalam usahaku itu.  Kamu boleh membantu aku dalam ide, atau mengarahkan apa yang harus aku lakukan.  Tapi kamu sama sekali tidak boleh terlibat dalam dana, atau bantuan apapun.  Ijinkan aku mandiri.”


“Itu bisa kamu lakukan di saat kita sudah rujuk.  Aku janji tidak akan menghalangi kamu apabila mau buka usaha, bahkan kalau perlu kamu silahkan mengelola satu dari anak perusahaan kita.”


Maura menggeleng tegas. “Biarkan aku mandiri, ijinkan aku bangga pada diriku sendiri karena mampu berdiri di kakiku sendiri, setelah itu kita bisa rujuk.”


Gardin menghela nafas panjang sekali lagi. “Aku harus menunggu kamu berapa lama lagi Ra?”


“Aku nggak tahu.  Tapi kalau kamu nggak sanggup menanti aku.  InshaAllah Aku ikhlas kok, silahkan kamu cari istri lain.


“Apa kamu nggak lagi mencintai aku lagi Ra?”


Maura menggenggam tangan Gardin.  “Aku cinta kamu, cinta ini terlanjur aku titipkan ke kamu tanpa berniat


mengambilnya lagi walau aku pernah merasa begitu sakit.  Tapi saat ini obsesiku jauh lebih besar dari cinta itu.  Semua ini lahir dari ketakutan aku menghadapi hidup di saat aku pernah benar-benar merasa sendiri.


Tolong pahami aku.”  Maura menangis saat memohon pengertian Gardin.


Gardin hanya bisa memeluk Maura, mencoba memberikan kehangatan dalam penyesalannya yang luar biasa.  Tidak perlu marah-marah ataupun menangis meraung-raung untuk menjelaskan pedih batin yang di rasa Maura.  Pembicaraan dari hati ke hati ini saja telah mampu membuat hati Gardin tercabik-cabik mengetahui dia begitu menyakiti perempuan yang begitu ia cintai.  Nggak ada yang bisa ia lakukan selain sekali lagi menyetujui apa yang jadi rencana hidup Maura.